PT EMP Tunas Energi melatih petani hortikultura di Indragiri Hulu, Riau, untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga melalui budidaya jahe merah, cabai, dan terong [449] url asal
Bisnis.com, RIAU - PT EMP Tunas Energi melatih kelompok wanita tani di dua desa sekitar wilayah operasi migas di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, untuk mendorong penguatan ekonomi rumah tangga masyarakat melalui pengembangan hortikultura skala rumahan.
Program yang dijalankan melalui Program Pengembangan Masyarakat (PPM) perusahaan itu dilaksanakan di Desa Beligan, Kecamatan Seberida, dan Desa Talang Suka Maju, Kecamatan Rakit Kulim, pada 7–8 Mei 2026, dengan melibatkan masing-masing 50 peserta dari kelompok masyarakat dan kelompok wanita tani (KWT).
Di Desa Beligan, program diikuti oleh 26 anggota KWT Seroja dan difokuskan pada pembibitan jahe merah. PT EMP Tunas Energi menyerahkan bantuan 500 polybag jahe merah kepada kelompok binaan tersebut. Jahe merah ditargetkan untuk mulai memasuki masa produksi dalam waktu 8 hingga 12 bulan dan dalam jangka panjang diarahkan untuk pengembangan produk olahan berbasis jahe merah.
Sementara di Desa Talang Suka Maju, program diikuti oleh 20 anggota KWT Maju Jaya dengan fokus budidaya cabai rawit dan terong. Dalam program tersebut, perusahaan menyerahkan bantuan 200 bibit cabai rawit dan 200 bibit terong kepada kelompok binaan masyarakat.
Tanaman hortikultura itu diperkirakan mulai memasuki masa panen dalam waktu tiga hingga empat bulan dan diharapkan dapat membantu kebutuhan konsumsi sekaligus mendukung tambahan pendapatan masyarakat desa.
Program pelatihan dan pendampingan dilaksanakan bersama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat sebagai bagian dari penguatan kapasitas budidaya masyarakat di sekitar wilayah operasi energi perusahaan.
CSR Officer PT EMP Tunas Energi, Nor Stiawan, mengatakan pengembangan hortikultura rumah tangga menjadi salah satu upaya perusahaan dalam mendorong aktivitas ekonomi produktif masyarakat desa di sekitar kawasan operasi migas.
Menurutnya, penguatan kapasitas masyarakat diperlukan agar warga sekitar memiliki peluang pengembangan usaha berbasis pertanian yang dapat dijalankan secara mandiri dan berkelanjutan.
“Melalui pelatihan ini, masyarakat diharapkan memiliki keterampilan budidaya yang dapat dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi produktif,” ujar Nor Stiawan.
Kepala Desa Beligan, Juli Suprianto, mengatakan program budidaya jahe merah tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai usaha rumah tangga masyarakat desa karena dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan konsumsi maupun pengembangan produk olahan di masa mendatang.
Dikatakan, pengembangan hortikultura skala rumahan dapat membantu membuka peluang tambahan pendapatan bagi masyarakat di sekitar wilayah pedesaan.
CSR & Communication Division Manager EMP, Iman Soerjasantosa, mengatakan pengembangan program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasi energi perlu diarahkan pada sektor yang memiliki nilai ekonomi dan dapat tumbuh secara berkelanjutan di tingkat rumah tangga masyarakat.
Menurutnya, sektor hortikultura memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai aktivitas ekonomi tambahan masyarakat desa, terutama di wilayah sekitar kawasan operasi migas yang memiliki aktivitas ekonomi cukup dinamis.
“Keberadaan industri energi di daerah diharapkan tidak hanya memberi dampak terhadap operasional, tetapi juga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan,” kata Iman.
Kegiatan tersebut turut melibatkan pemerintah desa, BPP Kecamatan Seberida dan Rakit Kulim, kelompok wanita tani, serta perwakilan perusahaan.*
REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN – Menyambut bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1447 Hijriah, Pemerintah Kota Medan menggelontorkan 430 ton beras medium dalam program pasar murah yang tersebar di 151 titik kelurahan. Program yang berlangsung sejak 12 Februari hingga 12 Maret 2026 ini mendapat subsidi sebesar Rp4,17 miliar dari pemerintah setempat untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi menjelang hari raya.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Waas menjelaskan bahwa pasar murah menyediakan delapan bahan pokok dengan harga subsidi, di antaranya beras medium Rp11.500 per kilogram, gula pasir Rp15.200 per kg, tepung terigu Rp8.600 per kg, telur Rp1.350 per butir, serta minyak makan Rp17.700 per liter. "Pemerintah terus hadir memberikan kenyamanan dengan melakukan langkah-langkah antisipasi. Kami berharap masyarakat dapat memanfaatkan pasar murah ini untuk memenuhi kebutuhan pokok dengan harga terjangkau," ujar Rico Waas usai membuka kegiatan di Medan, Rabu.
Sementara itu, di wilayah perbatasan, Perum Bulog Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, menyalurkan bantuan pangan (Banpang) kepada 7.321 keluarga untuk periode Februari dan Maret 2026. Jumlah penerima manfaat tahun ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan 2025 yang sebanyak 3.868 keluarga.
Pemimpin Perum Bulog Cabang Natuna, Pencius Siburian, mengatakan pihaknya mendapat penugasan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk menyalurkan bantuan tersebut. Mengacu pada penyaluran 2025, setiap keluarga diperkirakan menerima 10 kilogram beras dan dua liter minyak goreng per periode, sehingga untuk alokasi dua bulan totalnya mencapai 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng.
"Natuna merupakan wilayah kepulauan sehingga penjadwalan distribusi harus disusun cermat untuk mengantisipasi risiko seperti gelombang tinggi. Kami masih menunggu arahan lebih lanjut terkait jadwal penyerahan kepada penerima manfaat," ucap Siburian. Pada penyaluran tahun lalu, Bulog melibatkan pemerintah desa dan PT Pos Indonesia sebagai transporter yang berhasil mendistribusikan bantuan tepat waktu.
Di sisi lain, upaya memperkuat ketahanan pangan nasional juga dilakukan melalui optimalisasi lahan pertanian. Dinas Pertanian Provinsi Maluku menargetkan optimalisasi lahan (Oplah) sawah seluas 3.000 hektare pada 2026, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 2.000 hektare di Kabupaten Seram Bagian Timur dan Maluku Tengah.
Kepala Dinas Pertanian Provinsi Maluku Ilham Tauda menjelaskan, dari total luas baku sawah 17.900 hektare di Maluku, yang berfungsi baru sekitar 10.000 hektare. Program Oplah akan mengaktifkan kembali lahan yang tidak produktif akibat keterbatasan irigasi dan infrastruktur. "Dukungan Kementan berupa alsintan, benih unggul, pupuk bersubsidi, dan perbaikan irigasi menjadi faktor penting mendongkrak produksi," ujarnya di Ambon, Senin.
Berkat program tersebut, produksi beras Maluku mencapai 59 ribu ton pada 2025, naik 13,9 persen dibanding 2024. Capaian luas tambah tanam (LTT) juga melampaui target dari 26 ribu hektare menjadi 28 ribu hektare, dengan produktivitas meningkat dari 33,9 kuintal per hektare pada 2024 menjadi sekitar 51 kuintal per hektare pada 2025. "Tahun 2026 ini, kita berkomitmen dengan semua kabupaten/kota untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas," kata Ilham. Pemerintah daerah optimistis sinergi dengan pusat mampu mengurangi ketergantungan pasokan beras dari luar daerah.
Keceriaan panen bersama di Kebun KWT Baji Minasa, Maros, menunjukkan dukungan Pertamina untuk kemandirian pangan dan pemberdayaan perempuan melalui program CSR. [500] url asal
Suasana penuh keceriaan menyelimuti Kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Baji Minasa di Dusun Pao-Pao, Desa Baji Mangngai, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros.
Di bawah sinar matahari pagi, tawa para anggota KWT dan warga sekitar berpadu dalam kegiatan panen bersama yang digelar Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk "Serunya Menanam, Bahagianya Memanen."
Program Pekarangan Pangan Lestari yang diinisiasi Pertamina Patra Niaga Sulawesi melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin ini menjadi bukti nyata dukungan perusahaan terhadap kemandirian pangan, pemberdayaan ekonomi perempuan, dan pelestarian lingkungan di tingkat masyarakat.
Melalui pemanfaatan lahan pekarangan secara produktif dan berkelanjutan, warga kini dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus memperoleh tambahan penghasilan.
Di kebun seluas beberapa are tersebut, tumbuh subur berbagai jenis sayuran seperti kangkung, bayam, sawi, selada, cabai, dan bawang.
Dengan sistem tanam organik dan perawatan rutin, kebun ini kini menjadi contoh inspiratif tentang bagaimana pekarangan rumah dapat disulap menjadi sumber pangan sekaligus ruang kebersamaan warga.
Ketua KWT Baji Minasa, Syamsiah menyampaikan rasa syukurnya atas manfaat besar yang dirasakan oleh para anggota kelompok.
"Kami sangat bersyukur. Berkat arahan dan bantuan CSR Pertamina AFT Hasanuddin, sekarang kami bisa memenuhi kebutuhan dapur sendiri. Dulu pekarangan kami kosong, sekarang jadi tempat berkumpul, berbagi, dan bahkan menambah penghasilan keluarga," ujarnya penuh semangat.
Sementara itu, Aviation Fuel Terminal Manager Pertamina Patra Niaga AFT Hasanuddin, Andreas Yanuar Arinawan menyampaikan apresiasinya terhadap semangat warga dan KWT Baji Minasa.
Menurutnya, kegiatan panen ini merupakan bukti nyata bahwa masyarakat dapat mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya melalui pengelolaan lahan yang produktif.
"Kami di Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi sangat bangga dapat berkolaborasi dengan masyarakat dalam memperkuat ketahanan pangan dan pemberdayaan perempuan desa. Semoga keberhasilan ini menginspirasi kelompok lain untuk melakukan hal serupa," ujar Andreas.
Acara panen bersama ini juga dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Desa Baji Mangngai, penyuluh pertanian BPP Mandai, Tim Penggerak PKK, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas.
Setelah panen, para peserta menikmati hasil sayur segar sambil berbagi cerita seputar pengalaman bercocok tanam, mempererat kebersamaan, dan menumbuhkan semangat gotong royong di tengah masyarakat.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi, T. Muhammad Rum, mengatakan bahwa inisiatif ini sejalan dengan komitmen Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama:
Dengan semangat "Serunya Menanam, Bahagianya Memanen," masyarakat Desa Baji Mangngai bersama Pertamina Patra Niaga Sulawesi membuktikan bahwa kemandirian pangan dapat dimulai dari rumah sendiri - langkah sederhana yang menghadirkan manfaat besar bagi keluarga, lingkungan, dan masa depan yang berkelanjutan.
Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengatakan Pertamina terus melakukan inovasi dalam berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJLS) terutama untuk mendukung target Asta Cita Pemerintah mencapai swasembada energi dan pangan.
"Pertamina berkomitmen mendukung kemandirian bangsa melalui swasembada pangan dan energi sebagai salah satu pilar penting dalam Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto," ujar Fadjar.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Pertamina Patra Niaga Sulawesi serta produk dan layanan Pertamina, masyarakat dapat mengakses situs mypertamina.id, mengikuti media sosial @pertaminasulawesi dan @mypertamina, atau menghubungi Pertamina Call Center 135.
Titi Nuryati (34) dulu tak pernah meneguk kopi. Baginya, minuman itu terlalu getir, hanya layak bagi para lelaki tua di desanya. Bahkan dirinya pernah ... [1,625] url asal
Kuningan (ANTARA) - Titi Nuryati (34) dulu tak pernah meneguk kopi. Baginya, minuman itu terlalu getir, hanya layak bagi para lelaki tua di desanya. Bahkan dirinya pernah mengernyit saat mencium aromanya.
Namun, hidup kerap berkelindan tak terduga. Dari rasa yang pernah ditolak, Titi malah jatuh hati pada biji kopi, yang kemudian membawanya jadi sosok penggerak sekaligus Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi.
Perempuan ini mampu melambungkan jenama kopi robusta asal Desa Cibeureum, Kuningan, Jawa Barat, dari kafe lokal hingga konsumen mancanegara.
“Setelah ikut memetik, menjemur, sampai menyangrai, ternyata rasanya lain ketika kopi lahir dari tangan sendiri,” tutur Titi Nuryati kepada ANTARA, suatu sore di bulan Oktober.
Sembari menatap hamparan jemuran biji yang berkilau disapu cahaya sore, Titi mengingat kilas balik saat memutuskan terjun pada dunia kopi.
Ia menghabiskan masa mudanya di Jakarta, bekerja di industri rumahan pembuat kue kering. Setelah menikah pun, tangan terampilnya tetap bergulat dengan loyang.
Meski begitu, hidupnya tak berhenti di industri ini. Sebab, Titi menemukan arah baru ketika melihat kopi di kampungnya yang lama terabaikan.
Ada peluang
Semua itu bermula dari ketidaksengajaan, yakni gegara 10 kg kopi yang tertinggal di gudang rumahnya pada 2016.
Niat hati, kopi itu hendak dibawa ke Jakarta sebagai buah tangan untuk saudaranya. Tapi, karung berisi kopi itu lupa dimasukkan ke dalam mobil.
Pada saat bersamaan, di Desa Cibeureum sedang berlangsung Jagakali International Art Festival. Kebetulan pula rumahnya jadi tempat berkumpul para seniman.
Daripada terbuang, biji kopi tersebut akhirnya diolah, lalu diseduh untuk tamu yang datang silih berganti.
Selama dua bulan penuh, aroma kayu bakar selalu menyeruak di dapur rumahnya. Cangkir kopi yang disuguhkan pun ludes, disesap oleh para tamu.
Anggota KWT Srikandi saat menyortir biji kopi robusta di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Banyak tamu yang menyatakan kepincut dengan cita rasa otentik dari minuman hasil racikan Titi. Tamu penting dari Keraton Kanoman Cirebon lantas bertanya, tentang asal kopi yang dinikmati tadi.
“Dari sini, dari Cibeureum,” jawab Titi spontan saat itu. Ucapan tersebut menancap di benaknya. Ia pun sadar kopi bisa menjadi identitas sekaligus motor penggerak ekonomi masyarakat.
Ia memberanikan diri memberi sampel kopi ke sejumlah kedai pada 2017. Setahun penuh, bersama suaminya berkeliling mencari pasar. Jalannya tak mudah, kadang ada penolakan sampai produk kopinya tak dilirik sama sekali.
Alasannya beragam seperti biji kopi belum disortir dengan baik maupun tampilan kurang menarik. Alih-alih menyerah, Titi menjadikan kritik itu sebagai pelajaran.
Titi mempelajari seluk-beluk kopi setelah bertemu seorang dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dari situlah, dirinya tahu Kuningan sebenarnya merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di Jawa Barat dengan produksi mencapai 1.700 ton per musim.
Mengejutkannya lagi, kopi asal desanya sudah lama dipakai oleh kedai-kedai ternama di Bandung karena rasanya lebih nikmat dibanding robusta dari daerah lain.
Fakta itu semakin memicu tekadnya, jika kopi mereka sudah diakui, mengapa tidak mengelolanya sendiri?
Melepas belenggu
Selama menekuni proses tersebut, ia paham harga kopi di tingkat petani terlalu rendah, hanya Rp12 ribu per kg. Padahal dari hulu sampai hilir industri ini, sekitar 40 persennya merupakan jerih payah petani.
Titi mengulik lebih dalam soal distribusi. Ternyata, dari petani ke pembeli besar, penyerapan kopi harus melewati tiga perantara. Artinya setiap tengkulak mengambil selisih harga.
Ketua KWT Srikandi Titi saat menyuguhkan sajian kopi robusta dengan cita rasa "wine" di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Kalau bisa memangkas dua tengkulak saja, harga untuk petani bisa naik sekitar Rp4 ribu per kg. Selisih segitu sudah besar bagi mereka.
Titi mulai menjual langsung ke pengepul besar, menampung kopi dari petani, membawa ke pasar. Setelahnya langsung membayar hasilnya.
Harga kopi pun mulai merangkak naik. Nilainya mencapai Rp20 ribu per kg pada 2021. Setahun kemudian menjadi Rp25 ribu-Rp30 ribu. Angka tertinggi menembus Rp60 ribu per kg hingga Mei 2025.
Ia cuma pegang dua modal yakni nekat dan kepercayaan. Hal inilah yang membuat petani semakin yakin kepadanya.
Ilmu dari kebun
Jika ditarik ke belakang, jejak kopi di Desa Cibeureum sudah ada sejak lama. Bahkan dapat dilacak hingga zaman penjajahan.
Aktivitas perkebunan kopi di Cibeureum mulai bergeliat lagi setelah banyak warga desa ikut transmigrasi ke Lampung pada 1970-an.
Mereka belajar menanam kopi di sana, lalu pulang membawa bibit ke Kuningan sekitar 1980-an.
Tantangan pengembangan kopi masih membentang. Dari hama penggerek batang, embun jelaga, hingga iklim yang kian sulit ditebak.
Petani kadang enggan menerima cara baru untuk budidaya kopi, karena lebih nyaman dengan pola jadul.
Meski begitu, Titi tak menyerah untuk mengedukasi petani agar mempraktikkan teknik budidaya kopi yang efisien.
Ketua KWT Srikandi Titi saat menunjukkan bibit robusta varietas Tugu Ijo di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Perjalanan kopi dari kebun hingga menjadi minuman tidaklah singkat. Sebab, pohon robusta membutuhkan tiga tahun untuk tumbuh sampai memasuki masa panen pertama.
Pohon kopi yang sudah produktif itu hanya dipanen sekali setahun, tepatnya bulan Juni-Agustus.
Ia menerapkan teknik penyambungan batang, lalu mengembangkan pembibitan varietas robusta unggul seperti Tugu Ijo dan Borbor Brasil yang pertumbuhannya cukup baik.
Kondisi lahan kopi sempat rusak karena penggunaan pupuk kimia berlebihan. Akibatnya terjadi penurunan pH tanah hingga mencapai 3,5.
Kelompok binaan Titi lalu memanfaatkan limbah kulit kopi sebagai pupuk organik. Upaya ini mampu menaikkan pH tanah menjadi 4 dan terakhir mencapai 5.
Berdaya untuk mendunia
Geliat produksi kopi robusta di Desa Cibeureum tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran perempuan yang sejak lama diberdayakan.
Akhir 2018, Titi menggagas KWT Srikandi. Awalnya fokus ke sayur pekarangan, tapi pandemi COVID-19 membuat usaha itu mandek. Ia kemudian mengajak ibu-ibu desa untuk menguatkan sektor kopi.
Puluhan wanita desa yang tergabung dalam KWT Srikandi saling bahu-membahu dengan kelompok tani setempat untuk memproduksi robusta berkualitas. Bahkan mereka menanam pohon kopi di pekarangan rumah.
Total lahan garapan kopi yang dikelola mereka sekitar 11,5 hektare dengan produktivitas rata-rata 21 ton. Kemudian ada perluasan 10 hektare, sebagian telah ditanami biji robusta.
Ketua KWT Srikandi Titi saat menyortir biji kopi robusta di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Proses pengolahan kopi di Cibeureum memiliki ciri khas karena menggunakan metode natural. Buah kopi dipetik saat matang, lalu dijemur sekitar satu bulan sebelum digiling menjadi green bean.
Untuk mempercepat produksi, kelompok itu mendapat sokongan dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) VI Balongan, berupa Solar Dryer Dome yang dapat memangkas proses pengeringan kopi menjadi 10 hari.
Ada pula keunikan yang diterapkan KWT Srikandi dalam proses pasca-panen. Setelah dijemur biji kopi disekap atau disimpan dalam wadah tertutup selama empat hingga tujuh hari.
Proses ini menciptakan fermentasi alami dan memberikan rasa asam ringan pada kopi, berbeda dari robusta yang umumnya cenderung pahit atau bold.
Kelompoknya tak berhenti bereksperimen. Tahun lalu, mereka mencoba metode wine processing untuk robusta, walaupun gagal pada praktik pertama.
Pada tahun ini, mereka berhasil. Rasa dan aromanya mulai terbentuk, bahkan cukup mirip seperti arabika.
Kegiatan KWT Srikandi setiap tahun meliputi penyortiran hingga pengemasan kopi. Terdapat enam orang yang menjadi karyawan tetap di unit usaha Sekarwangi. Jika volume pesanan tinggi, produksi dapat dilakukan hingga dua kali dalam sebulan.
Di Kuningan, metode penyangraian kopi dengan kayu bakar dan kuali tanah liat sudah jarang digunakan. Namun, kelompoknya tetap mempertahankan cara usang tersebut.
Ketua KWT Srikandi Titi saat menunjukkan produk kopi robusta di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Tak semua orang mampu menyangrai manual. Salah sedikit, biji bisa gosong di luar tapi mentah di dalam. Itulah sebabnya metode lama kian langka, namun justru menjadikan kopi Cibeureum sebagai primadona.
Tradisi ini terus dirawat oleh Titi, karena diwariskan dari mendiang ibunya, yang sejak dulu menyangrai kopi secara manual.
Produk dari KWT Srikandi yakni kopi bubuk, green bean, kopi susu, hingga kopi saset sangat laris di toko oleh-oleh dan kalangan reseller.
Permintaan pasar terus berdatangan. Sebuah swalayan besar pernah meminta pasokan 10 ton per bulan, namun kelompoknya tak sanggup memenuhinya karena keterbatasan modal.
Kendati begitu, omzet tetap mengalir. Musim panen bisa menghasilkan cuan hingga Rp650 juta, meski marginnya tipis.
Di luar panen, pendapatan rutin Rp5 juta-Rp10 juta per bulan sudah cukup membuat roda ekonomi Titi dan petani berputar.
Kopi dari tanah Cibeureum pun telah menembus pasar internasional. KWT Srikandi pernah mengirim green bean ke Prancis, Belgia, Italia, Australia, Turki, Belanda, dan Malaysia.
Meski ongkos kirim mahal yakni sekitar Rp1 juta untuk 5-10 kg, respons dari konsumen luar negeri sangat positif. Artinya kopi Cibeureum diakui memenuhi standar kualitas global.
Titi tahu perjalanan ini belum selesai. Harga bisa naik turun, musim bisa berganti, tetapi semangat perempuan Desa Cibeureum tak mudah tumbang untuk berdikari lewat secangkir kopi.
Pesat
Hasil panen kopi di Kuningan terus menunjukkan perkembangan positif. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) setempat mencatat, total produksi komoditas ini selama Januari-September 2025 mencapai 1.217 ton.
Dari total produksi tersebut, sebanyak 63,61 ton berasal dari jenis arabika, sedangkan 1.154,38 ton lainnya merupakan robusta.
Jumlah tersebut melonjak dari hasil panen pada 2024 sebanyak 775,8 ton, dengan rincian 724,04 ton robusta dan 51,76 ton arabika.
Ketua KWT Srikandi Titi saat menunjukkan produk kopi robusta hasil olahan di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah mengemukakan angka itu mencerminkan hasil kerja keras para petani, terutama di lereng Gunung Ciremai yang menjadi pusat penghasil kopi utama daerah tersebut.
Potensi lahan kopi di Kuningan masih sangat luas, dengan permintaan yang terus meningkat dari berbagai daerah.
Wilayah sekitar Gunung Ciremai menjadi kawasan ideal untuk pengembangan kopi, karena memiliki tanah vulkanik yang subur serta iklim sejuk.
Pemerintah daerah berupaya memperkuat daya saing petani kopi dengan pelatihan, pembinaan, dan pendampingan teknis agar mutu serta produktivitas semakin meningkat.
Pada intinya, biji kopi hasil budidaya para petani di lereng Gunung Ciremai, termasuk KWT Srikandi, sudah dicap sebagai komoditas unggulan, yang siap bersaing di pasar nasional maupun global.