Bisnis.com, MATARAM – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menargetkan realisasi investasi pada 2026 mencapai Rp64 triliun atau meningkat Rp2,9 triliun dari realisasi 2025 yang mencapai Rp61,10 triliun.
Realisasi investasi di NTB pada 2025 masih didominasi oleh sektor tambang, kemudian pariwisata dan ekonomi kreatif. Berdasarkan lokasi, investasi paling besar terealisasi di Kabupaten Sumbawa Barat yang merupakan kawasan tambang dengan realisasi mencapai Rp46 triliun, kemudian di Kabupaten Lombok Tengah dan Kota Mataram.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Irnadi Kusuma menjelaskan target investasi tersebut cukup tinggi dan harus direalisasikan melalui strategi yang tepat.
Salah satu strategi Pemprov NTB adalah dengan aktif melakukan promosi investasi melalui berbagai kanal, baik pameran investasi, forum investasi nasional maupun internasional, hingga kolaborasi lintas sektor seperti Dinas Pariwisata dan Bank Indonesia.
"Bersama Dinas Pariwisata, kami membentuk wadah promosi bersama karena sektor pariwisata juga tidak bisa tumbuh tanpa investasi. Selain itu, kami banyak memanfaatkan forum investasi nasional," jelas Irnadi kepada Bisnis, Minggu (5/4/2026).
Pemprov NTB juga membidik negara baru sebagai sumber Penanaman Modal Asing (PMA) seperti negara di kawasan Eropa, Oseania, Asia Timur, dan beberapa negara di Asia Tenggara.
Hal ini berbeda dari sebelumnya, di mana Pemprov NTB banyak menargetkan negara Timur Tengah sebagai sumber investasi asing atau PMA.
Menurut Irnadi, perang Timur Tengah antara Iran vs AS-Israel telah membuat pihaknya mau tak mau mencari investor PMA baru di negara-negara luar Timur Tengah.
Untuk memudahkan investor, Pemprov NTB telah menyiapkan profil investasi dalam satu dokumen yang disebut Investment Project Ready to Offer (IPRO). Dokumen tersebut berisi 7 sektor unggulan NTB, termasuk lokasi yang sudah clear & clear.
Irnadi mengakui bahwa terbatasnya anggaran promosi akibat investasi menjadi tantangan promosi investasi langsung ke luar negeri maupun mengikuti banyak forum.
"Karena keterbatasan anggaran, kami juga memanfaatkan kanal-kanal digital," kata Irnadi.
BI Dukung Masuknya Investasi ke NTB
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB Hario K. Pamungkas, menjelaskan bahwa BI aktif mendorong masuknya investasi melalui Regional Investment Relation Unit (RIRU), sebuah lembaga fungsional yang mempromosikan proyek investasi di NTB dan mendukung sektor prioritas nasional secara targeted dan berbasis market intelligence.
Salah satu upaya yang akan dilakukan pada tahun 2026 adalah melakukan sinergi dan kolaborasi dengan pemerintah daerah melalui Sasambo Investment Challenge, yaitu platform kurasi, pendampingan, serta promosi proyek investasi daerah. Adapun rangkaian kegiatan Sasambo Investment Challenge adalah capacity building, incubator, dan summit yang bekerja sama dengan OPD terkait.
"Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menjaring dan meningkatkan kualitas proyek-proyek investasi potensial yang berasal dari Pemda, BUMD, maupun pemilik proyek lainnya agar siap ditawarkan kepada investor nasional maupun global. Selain hal tersebut, secara berkala KPw BI Provinsi NTB juga mempublikasikan berbagai proyek investasi potensial di NTB melalui presentation book yang dapat diakses melalui website Sasambo," kata Hario kepada Bisnis.
Hario menjelaskan sektor prioritas investasi berdasarkan market intelligence, antara lain sektor energi baru terbarukan (EBT). Proyek EBT di Provinsi NTB, misalnya, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Timur, Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah, serta Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang berlokasi di Kebun Kongok, Lombok Barat.
Kemudian, sektor industrialisasi dan hilirisasi, pengembangan industrialisasi, dan hilirisasi di Provinsi NTB diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan daerah, baik di sektor pertambangan maupun sektor pertanian.
Kemudian BI juga menawarkan investasi di sektor Infrastruktur strategis yang meliputi proyek Jalan Bypass – Mandalika, Pelabuhan Gili Mas yang dikelola oleh PT Pelindo serta proyek Infrastruktur Strategis lainnya
NTB juga memiliki objek pariwisata utama seperti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika (termasuk sirkuit), Gili Tramena, Wisata Paus Hiu, Gunung Rinjani yang memiliki daya tarik masing-masing. Salah satunya diarahkan melalui quality tourism.
Menurut Hario, selama ini sektor yang paling diminati oleh investor di Provinsi Nusa Tenggara Barat antara lain energi terbarukan (renewable energy), pariwisata, serta industri pengolahan berbasis sumber daya lokal.
Minat terhadap sektor energi terbarukan terus meningkat, sejalan dengan komitmen transisi energi dan potensi NTB yang besar, khususnya pada pengembangan PLTS dan proyek energi berbasis limbah (waste-to-energy)/Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
"Dalam konteks ini, proyek PLTSa Kebun Kongok, Lombok Barat telah menarik minat investor dari beberapa negara seperti Singapura, Turki, dan Belanda," kata Hario.
Di sektor pariwisata, investasi masih terkonsentrasi pada pengembangan destinasi unggulan dan kawasan strategis pariwisata, termasuk pengembangan akses, fasilitas, dan atraksi pendukung yang mengarah pada pariwisata berkelanjutan dan berkualitas.
Sektor hilirisasi dan pengolahan hasil perikanan serta komoditas unggulan daerah juga mulai menunjukkan peningkatan minat (udang vanamei, tuna, dan rumput laut) sejalan dengan upaya mendorong nilai tambah dan ekspor daerah.
Ekonom Universitas Mataram Firmansyah menjelaskan untuk lebih menarik minat investor, pemerintah harus menyiapkan insentif serta perangkat kebijakan yang memudahkan investor.
"Pemerintah perlu menyiapkan perangkat kebijakan yang mempermudah investasi secara menyeluruh.Lalu petakan kawasan investasi beserta insentif bagi investor," kata Firmansyah.