Bisnis.com, PADANG - Harga sejumlah komoditas di pasar terpantau mengalami kenaikan pasca bencana alam yang terjadi di 16 kabupaten dan dan di Provinsi Sumatra Barat pada November 2025 dan kondisi menjadi perhatian serius tim pengendali inflasi daerah (TPID).
Salah seorang warga Padang, Mifta mengatakan harga cabai merah saat ini di pasar mencapai Rp70.000 per kilogram dan harga bawang merah Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram. Harga ini mengalami kenaikan yang cukup tinggi,dibandingkan momen sebelum terjadi bencana alam.
“Dulu itu cabai merah kisaran Rp50.000 per kilogram dan bawang merah Rp25.000 per kilogram. Jadi kondisi harga sembako ini memang terasa naiknya semenjak terjadi bencana alam,” katanya, Jumat (5/12/2025).
Menanggapi kondisi ini, Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir mengatakan sebagai upaya memperkuat sinergi pengendalian inflasi, dimana akan tiba momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) seiring adanya bencana alam yang melanda sebagian besar wilayah Sumbar, penting untuk melakukan sejumlah langkah strategis agar inflasi benar-benar terkendali.
“Kami telah rapat bersama Bank Indonesia untuk membahas sejumlah upaya agar inflasi tetap terjaga. Apalagi bencana alam ini dampaknya sangat dirasakan dari sektor ketersediaan pasokan pangan serta komoditas lainnya. Kalau tidak terkendali, inflasi penutupan tahun 2025 ini tidak sesuai harapan,” ujarnya.
Berdasarkan data BPS, inflasi Kota Padang secara kumulatif hingga November 2025 sebesar 3,38% (ytd), berada di batas atas sasaran inflasi. Mencermati kondisi tersebut, pengendalian inflasi Kota Padang difokuskan pada ketersediaan dan stabilitas pasokan komoditas pangan.
Banjir bandang dan longsor telah menyebabkan kerusakan lahan dan terganggunya distribusi, sehingga harga cabai merah dan bawang merah meningkat cukup signifikan di Kota Padang. Namun, sejalan dengan pemulihan jalur distribusi yang terus dilakukan, harga berbagai komoditas berangsur turun.
“BMKG juga memperkirakan kondisi cuaca ke depan cenderung lebih kondusif. Kondisi ini dapat mendukung pemulihan pasokan komoditas hortikultura. Kami berharap ada kabar baik kedepannya,” ucap dia.
Selain itu, Bulog dan Dinas Pangan Provinsi Sumbar mengungkapkan bahwa stok beras dan komoditas pangan lainnya dalam kondisi mencukupi. Bantuan pangan juga terus mengalir ke masyarakat dengan proses distribusi yang terus diakselerasi.
Begitu pun Perum Bulog, dari data yang ada terlihat pasokan tambahan telah disiapkan guna mengantisipasi potensi lonjakan permintaan. Sementara itu, Pertamina juga menyatakan bahwa stok BBM dan LPG cukup aman, serta mengutamakan penyaluran LPG ke daerah-daerah yang terdampak bencana.
Menurutnya salah satu cara yang bisa dilakukan dalam waktu dekat adalah kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) yang perlu dilakukan secara intensif, termasuk melalui kerja sama dengan Bapanas untuk membantu mengendalikan harga pangan dan menjaga daya beli masyarakat.
“Pasokan cabai merah dari Jawa serta produksi dari sentra lokal, seperti Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar, diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat,” jelas Maigus.
Dikatakannya TPID Kota Padang dan seluruh stakeholders berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan Kota Padang, melalui berbagai langkah strategis, yakni menjaga ketersediaan pasokan dan harga komoditas pangan serta membuka opsi penambahan pasokan dari provinsi lain.
Selain itu, TPID Kota Padang juga terus berkoordinasi dengan Pertamina, Bulog, serta dinas terkait, untuk memastikan stok bahan pokok, BBM, dan LPG tetap aman dan terdistribusi merata.
Melalui berbagai upaya tersebut, TPID Kota Padang optimis bahwa inflasi Kota Padang pada akhir tahun 2025 akan tetap terjaga dan berada dalam koridor sasaran 2,5% atau 1%.