Pemkot Surabaya melarang kos-kosan campur untuk cegah prostitusi di eks Gang Dolly. Warga non-Surabaya terlibat akan dipulangkan. Perda kos-kosan disusun. [387] url asal
Bisnis.com, SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mempertegas komitmennya untuk terus memperketat pengawasan di kawasan eks lokalisasi Gang Dolly dan Moroseneng guna mengantisipasi praktik prostitusi terselubung.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan bahwa penindakan praktik asusila yang baru-baru ini terjadi bukan berada pada area inti eks lokalisasi Dolly, melainkan di rumah kos yang terletak di sekitar kawasan tersebut.
"Gang Dolly-nya clear, aman karena di sana sudah ada tempat-tempat usaha yang berjalan, seperti sentra sepatu. Ini [penindakan praktik asusila] adanya di kos-kosan," tegas Eri Cahyadi di Balai Kota Surabaya, Senin (24/11/2025).
Dirinya juga mengungkapkan bahwa terduga pelaku prostitusi yang terjaring razia sebagian besar bukan merupakan warga Surabaya. Mereka yang terbukti terlibat dan tidak mengantongi KTP Surabaya akan segera dipulangkan usai menjalani pembinaan di shelter milik Pemkot.
"Apabila terbukti sebagai warga Surabaya akan dilakukan pembinaan supaya tidak melalukannya kembali, tapi kalau bukan orang Surabaya maka akan kami koordinasikan dengan daerah asal,” tegasnya.
Guna mengantisipasi aktivitas berbau negatif, Eri menyatakan pihaknya DPRD Kota Surabaya tengah menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang Rumah Kos dan Kos-kosan.
Aturan baru tersebut, sebut Eri, nantinya akan berisi larangan untuk menyewakan kamar kos campur antara penghuni laki-laki dan perempuan di wilayah pemukiman agar moral dan ketertiban lingkungan tetap terjaga.
"Kalau di permukiman, kos-kosannya tidak boleh bercampur. Kalau campur, itu nanti bisa ditiru anak-anak kecil. Ini yang tidak boleh. Jadi, kos laki-laki harus laki-laki semua, perempuan harus perempuan, kalau rumah tangga harus beda lagi areanya,” jelasnya.
Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) ini juga menekankan pentingnya partisipasi dari segenap warga untuk menjaga lingkungannya masing-masing. Pemilik rumah kos diimbaunya untuk tidak menyewakan kamar kepada orang yang dicurigai dan segera melaporkan aktivitas yang mencurigakan kepada pihak berwajib.
“Jadi, kami meminta warga juga aktif menjaga kampungnya dan melaporkan pada petugas apabila ada gelagat mencurigakan [praktik prostitusi terselubung],” ucapnya.
Selain melakukan pengawasan, Pemkot Surabaya saat ini juga tengah melakukan kajian dan evaluasi agar sentra UMKM dan wisata edukasi di eks lokalisasi Dolly dapat hidup kembali, sehingga warga sekitar dapat mendapat ruang untuk dapat melakoni kegiatan yang positif serta produktif.
“Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag), saya perintahkan untuk mengevaluasi semua Sentra Wisata Kuliner (SWK) dan UMKM. Jika tempatnya sepi, maka jenis dagangan [komoditas] harus diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar,” pungkas Eri.
Bisnis.com, SURABAYA - Suasana di Gang Dolly, Surabaya, Jawa Timur terasa berbeda dari kawasan perkampungan lainnya yang berdiri di seantero Kota Pahlawan.
Hal tersebut terjadi bukan karena polusi maupun jenis pencemaran khas urban lainnya yang melanda. Namun, sisa-sisa kenangan di tempat tersebut belum sepenuhnya beranjak dari benak khalayak luas.
Gang Dolly saat ini tampak sepi dan lengang, berbeda 360 derajat bila dibanding dengan keadaan puluhan tahun sebelumnya. Yang sekarang tersisa hanya deretan bangunan yang dahulu pernah berdiri menjadi gelanggang prostitusi, yang sekarang disulap menjadi tempat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Tempat-tempat yang dahulu berdetak liar, saat ini hanya menyisakan keheningan. Di antara deretan bangunan di gang itu, berdiri menantang langit bangunan enam lantai, bernam "Wisma New Barbara".
Bangunan yang dahulu menjadi pusat gemerlap, saat ini diubah jadi pusat produksi dan penelitian UMKM itu tak menggeliat beberapa tahun silam. Nampak dari luar, bangunan itu sepi, dan hanya sekitar dua orang yang berjaga dari luar.
Di samping wisma itu, terdapat pula Pasar Burung Dolly yang pada masa lampau juga menjadi Wisma Barbara, tempat di mana praktik terlarang itu mencapai masa kejayaannya.
Suasana di tempat itu bahkan lebih miris, di mana yang sebelumnya digadang-gadang sebagai pusat perekonomian baru di Gang Dolly tersebut malah mangkrak, gerai-gerai di sana banyak yang tutup total. Belakangan tempat tersebut dialihfungsikan menjadi gedung serbaguna untuk melaksanakan berbagai kegiatan warga.
Seorang mantan pedagang yang sempat berjualan di Pasar Burung Dolly pun mengaku saat ini ia telah menutup usahanya karena kondisi yang kian hari kian sepi.
“Udah enggak [jualan], dulu di pasar," ujar pria yang tak berkenan disebut namanya itu.
Penurunan aktivitas ekonomi juga dirasakan warga lainnya. Jarwo, salah seorang pelaku UMKM produk tempe “Tempe Bang Jarwo”. Dirinya menyebut bahwa produksi tempenya semakin merosot bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dibanding tahun lalu saja kita produksi tempe satu hari bisa 25 kilogram kedelai, sekarang hanya 15 kilogram,” katanya.
Jarwo menjelaskan, bukan hanya para pelaku UMKM yang merasakan penurunan produksi maupun omset usaha. Namun, kegiatan tur wisata edukasi Dolly yang dahulu membantu menggerakkan ekonomi warga juga berhenti. Akhirnya warga setempat yang bergeliat di dua aktivitas itu sangat merasakan dampaknya.
Padahal, sebut Jarwo, dirinya dan warga lainnya merasa sangat terbantu dengan paket wisata sehingga UMKM juga merasakan multiplier effect. Paket wisata tersebut sebelumnya dibanderol mulai dari harga Rp20 hingga 150 ribu, yang dikemas dengan beragam aktivitas seperti kunjungan ke berbagai sentra UMKM hingga mengikuti workshop di kawasan eks lokalisasi Gang Dolly.
“Mau adakan trip lagi, tapi tempat oleh-oleh sekarang sudah gak ada. Misalnya UKM Samijali juga sekarang sudah gak produksi, Kampung Orumy juga sekarang gak produksi. DS Poin, yang jadi pusat oleh-oleh di Dolly juga sudah tutup,” jelasnya.
Jarwo menyatakan kondisi tersebut diperparah minimnya pendampingan pemerintah daerah setempat kepada warga maupun para pelaku UMKM yang berdomisili di sekitar kawasan eks lokalisasi Gang Dolly.
“Dari pemerintah ya rasanya kurang adanya pendampingan," tuturnya.
Dirinya juga menyampaikan bahwa dirinya juga telah mengundurkan diri dari Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gang Dolly pada medio 2023 silam karena merasa tidak mendapatkan dukungan.
“Saya Ketua Pokdarwis, mengundurkan diri 2 tahun lalu, tahun 2023, karena capek, kok nggak ada suport dari teman-teman," ungkapnya.
Saat ini, Jarwo pun memilih fokus menjalankan produksi tempe meski hasilnya berbeda jauh bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, ia juga tetap menerima kunjungan dari para mahasiswa yang ingin belajar mengenai UMKM di kawasan eks lokalisasi Dolly, khususnya untuk usaha tempe.
“Saya fokus ke usaha saya, tapi kalau ada mahasiswa kunjungan saya tetap layani," tuturnya.
Pemkot Surabaya Putar Otak
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyatakan pihaknya akan segera memikirkan konsep baru terhadap pusat-pusat pelaku UMKM, termasuk Pasar Burung Dolly. Saat ini, Eri menyebut Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) masih melakukan pendataan dan kajian-kajian terkait.
"Saya sudah menyampaikan kalau sudah sepi maka ubah itu. Berarti apa? Jualannya mungkin yang tidak cocok. Yang rame itu umpamanya terkait dengan pakaian kita jualnya makanan atau sebaliknya. Ramainya makanan, kita jualnya apa? Jadi harus ada evaluasi itu," tegasnya.
Terkait wisata edukasi Dolly yang disebut warga setempat sudah tidak beroperasi, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) itu menegaskan bahwa pihaknya akan menggandeng anak-anak muda yang tinggal di sekitar lokasi eks lokalisasi Gang Dolly untuk membangkitkan kembali wisata tersebut.
"Karang taruna, anak-anak muda maka dia akan menempati tempat-tempat yang ada di Dolly, termasuk wisata edukasinya maka akan digerakkan oleh karang taruna. Karena itulah di 2026 ada anggaran Rp5 juta untuk anak-anak Gen Z itu adalah salah satunya untuk menggerakkan wisata-wisata edukasi yang ada," pungkasnya.
Jarwo, salah satu warga yang tinggal di kawasan eks lokalisasi Gang Dolly, yang saat ini menekuni usaha memproduksi produk olahan kedelai, yakni tempe./Bisnis-Julianus Palermo