Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi berjanji menghidupkan kembali UMKM di Pasar Burung Dolly yang mangkrak, dengan dukungan pendampingan dan pemberdayaan ekonomi. [359] url asal
Bisnis.com, SURABAYA – Bangunan pasar burung yang berdiri di kawasan eks lokalisasi Dolly, Jalan Kupang Gunung, Kecamatan Sawahan, mangkrak. Banyak dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang sebelumnya berjualan di sana saat ini telah gulung tikar.
Wali Kota Surabay, Eri Cahyadi pun berencana untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut, yang diresmikan sebelumnya oleh Wali Kota Surabaya periode 2010-2020, Tri Rismaharini.
"Nanti kita ramaikan lagi ya [Pasar Burung Dolly] dengan kegiatan UMKM," beber Eri, Rabu (3/12/2025).
Berdasarkan penuturan salah satu warga yang tinggal di kawasan eks lokalisasi Dolly, tempat itu mulai sepi tak lama setelah diresmikan yakni pada sekitar tahun 2021. Aktivitas jual-beli meredup. Perlahan, banyak kios dibiarkan kosong tak terawat hingga muncul wacana pemanfaatan ulang tempat itu menjadi gedung serbaguna.
Selain itu, warga eks lokalisasi Gang Dolly juga menagih janji pemerintah kota untuk memberikan pendampingan dan pemberdayaan ekonomi pasca penutupannya pada 2014 silam. Apalagi beberapa waktu terakhir, ditemukan adanya praktik prostitusi terselubung yang terjadi di sekitar kawasan tersebut.
Eri menegaskan, pihaknya telah memberikan pendampingan dan pemberdayaan kepada warga dan pelaku UMKM di sana. Dirinya menyebut bahwa sejumlah tempat usaha juga terpantau masih melakukan aktivitas ekonomi.
"Kan sudah jalan. Di sana ada [pembuatan] sepatu, ada slipper. Itu kita gerakkan semuanya. Makanya harus masuk ke dalam sana, kalau ada yang ingin dikerjakan ada program apa? Ayo kita bantu," jelasnya.
Namun begitu, sebut Eri, terdapat sejumlah pelaku UMKM yang juga tidak mampu untuk bertahan dalam persaingan bisnis di Kota Pahlawan itu. Akibatnya beberapa lapak usaha harus tutup hingga pegawai yang dirumahkan.
"Biyen sing [dulu UMKM] slipper itu yang sudah berdiri sampai tiga lantai akeh sing melok [banyak yang ikut], mari ngono gak gelem soro, mretel [setelah itu tidak mau susah, akhirnya bubar]. Ya kan gak bisa begitu," tegasnya.
Oleh karena itu, Eri pun berharap para pelaku UMKM dapat konsisten untuk mempertahankan etos kerja maupun kualitas produk. Pemkot Surabaya juga telah bekerja sama dengan sejumlah pihak di sektor pariwisata, dan berkomitmen membantu para pelaku UMKM mencarikan calon konsumen yang tepat dan sesuai.
"Maka siapa yang bergerak ya kita langsung tunjang. Kita nanti seperti hotel-hotel bergerak, ya saya sarankan ke Dolly. Harus berani kerja, jangan cuma menunggu," pungkasnya.
Bisnis.com, SURABAYA - Suasana di Gang Dolly, Surabaya, Jawa Timur terasa berbeda dari kawasan perkampungan lainnya yang berdiri di seantero Kota Pahlawan.
Hal tersebut terjadi bukan karena polusi maupun jenis pencemaran khas urban lainnya yang melanda. Namun, sisa-sisa kenangan di tempat tersebut belum sepenuhnya beranjak dari benak khalayak luas.
Gang Dolly saat ini tampak sepi dan lengang, berbeda 360 derajat bila dibanding dengan keadaan puluhan tahun sebelumnya. Yang sekarang tersisa hanya deretan bangunan yang dahulu pernah berdiri menjadi gelanggang prostitusi, yang sekarang disulap menjadi tempat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Tempat-tempat yang dahulu berdetak liar, saat ini hanya menyisakan keheningan. Di antara deretan bangunan di gang itu, berdiri menantang langit bangunan enam lantai, bernam "Wisma New Barbara".
Bangunan yang dahulu menjadi pusat gemerlap, saat ini diubah jadi pusat produksi dan penelitian UMKM itu tak menggeliat beberapa tahun silam. Nampak dari luar, bangunan itu sepi, dan hanya sekitar dua orang yang berjaga dari luar.
Di samping wisma itu, terdapat pula Pasar Burung Dolly yang pada masa lampau juga menjadi Wisma Barbara, tempat di mana praktik terlarang itu mencapai masa kejayaannya.
Suasana di tempat itu bahkan lebih miris, di mana yang sebelumnya digadang-gadang sebagai pusat perekonomian baru di Gang Dolly tersebut malah mangkrak, gerai-gerai di sana banyak yang tutup total. Belakangan tempat tersebut dialihfungsikan menjadi gedung serbaguna untuk melaksanakan berbagai kegiatan warga.
Seorang mantan pedagang yang sempat berjualan di Pasar Burung Dolly pun mengaku saat ini ia telah menutup usahanya karena kondisi yang kian hari kian sepi.
“Udah enggak [jualan], dulu di pasar," ujar pria yang tak berkenan disebut namanya itu.
Penurunan aktivitas ekonomi juga dirasakan warga lainnya. Jarwo, salah seorang pelaku UMKM produk tempe “Tempe Bang Jarwo”. Dirinya menyebut bahwa produksi tempenya semakin merosot bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dibanding tahun lalu saja kita produksi tempe satu hari bisa 25 kilogram kedelai, sekarang hanya 15 kilogram,” katanya.
Jarwo menjelaskan, bukan hanya para pelaku UMKM yang merasakan penurunan produksi maupun omset usaha. Namun, kegiatan tur wisata edukasi Dolly yang dahulu membantu menggerakkan ekonomi warga juga berhenti. Akhirnya warga setempat yang bergeliat di dua aktivitas itu sangat merasakan dampaknya.
Padahal, sebut Jarwo, dirinya dan warga lainnya merasa sangat terbantu dengan paket wisata sehingga UMKM juga merasakan multiplier effect. Paket wisata tersebut sebelumnya dibanderol mulai dari harga Rp20 hingga 150 ribu, yang dikemas dengan beragam aktivitas seperti kunjungan ke berbagai sentra UMKM hingga mengikuti workshop di kawasan eks lokalisasi Gang Dolly.
“Mau adakan trip lagi, tapi tempat oleh-oleh sekarang sudah gak ada. Misalnya UKM Samijali juga sekarang sudah gak produksi, Kampung Orumy juga sekarang gak produksi. DS Poin, yang jadi pusat oleh-oleh di Dolly juga sudah tutup,” jelasnya.
Jarwo menyatakan kondisi tersebut diperparah minimnya pendampingan pemerintah daerah setempat kepada warga maupun para pelaku UMKM yang berdomisili di sekitar kawasan eks lokalisasi Gang Dolly.
“Dari pemerintah ya rasanya kurang adanya pendampingan," tuturnya.
Dirinya juga menyampaikan bahwa dirinya juga telah mengundurkan diri dari Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gang Dolly pada medio 2023 silam karena merasa tidak mendapatkan dukungan.
“Saya Ketua Pokdarwis, mengundurkan diri 2 tahun lalu, tahun 2023, karena capek, kok nggak ada suport dari teman-teman," ungkapnya.
Saat ini, Jarwo pun memilih fokus menjalankan produksi tempe meski hasilnya berbeda jauh bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, ia juga tetap menerima kunjungan dari para mahasiswa yang ingin belajar mengenai UMKM di kawasan eks lokalisasi Dolly, khususnya untuk usaha tempe.
“Saya fokus ke usaha saya, tapi kalau ada mahasiswa kunjungan saya tetap layani," tuturnya.
Pemkot Surabaya Putar Otak
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyatakan pihaknya akan segera memikirkan konsep baru terhadap pusat-pusat pelaku UMKM, termasuk Pasar Burung Dolly. Saat ini, Eri menyebut Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) masih melakukan pendataan dan kajian-kajian terkait.
"Saya sudah menyampaikan kalau sudah sepi maka ubah itu. Berarti apa? Jualannya mungkin yang tidak cocok. Yang rame itu umpamanya terkait dengan pakaian kita jualnya makanan atau sebaliknya. Ramainya makanan, kita jualnya apa? Jadi harus ada evaluasi itu," tegasnya.
Terkait wisata edukasi Dolly yang disebut warga setempat sudah tidak beroperasi, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) itu menegaskan bahwa pihaknya akan menggandeng anak-anak muda yang tinggal di sekitar lokasi eks lokalisasi Gang Dolly untuk membangkitkan kembali wisata tersebut.
"Karang taruna, anak-anak muda maka dia akan menempati tempat-tempat yang ada di Dolly, termasuk wisata edukasinya maka akan digerakkan oleh karang taruna. Karena itulah di 2026 ada anggaran Rp5 juta untuk anak-anak Gen Z itu adalah salah satunya untuk menggerakkan wisata-wisata edukasi yang ada," pungkasnya.
Jarwo, salah satu warga yang tinggal di kawasan eks lokalisasi Gang Dolly, yang saat ini menekuni usaha memproduksi produk olahan kedelai, yakni tempe./Bisnis-Julianus Palermo