Bisnis.com, SURABAYA - Suasana di Gang Dolly, Surabaya, Jawa Timur terasa berbeda dari kawasan perkampungan lainnya yang berdiri di seantero Kota Pahlawan.
Hal tersebut terjadi bukan karena polusi maupun jenis pencemaran khas urban lainnya yang melanda. Namun, sisa-sisa kenangan di tempat tersebut belum sepenuhnya beranjak dari benak khalayak luas.
Gang Dolly saat ini tampak sepi dan lengang, berbeda 360 derajat bila dibanding dengan keadaan puluhan tahun sebelumnya. Yang sekarang tersisa hanya deretan bangunan yang dahulu pernah berdiri menjadi gelanggang prostitusi, yang sekarang disulap menjadi tempat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Tempat-tempat yang dahulu berdetak liar, saat ini hanya menyisakan keheningan. Di antara deretan bangunan di gang itu, berdiri menantang langit bangunan enam lantai, bernam "Wisma New Barbara".
Bangunan yang dahulu menjadi pusat gemerlap, saat ini diubah jadi pusat produksi dan penelitian UMKM itu tak menggeliat beberapa tahun silam. Nampak dari luar, bangunan itu sepi, dan hanya sekitar dua orang yang berjaga dari luar.
Di samping wisma itu, terdapat pula Pasar Burung Dolly yang pada masa lampau juga menjadi Wisma Barbara, tempat di mana praktik terlarang itu mencapai masa kejayaannya.
Suasana di tempat itu bahkan lebih miris, di mana yang sebelumnya digadang-gadang sebagai pusat perekonomian baru di Gang Dolly tersebut malah mangkrak, gerai-gerai di sana banyak yang tutup total. Belakangan tempat tersebut dialihfungsikan menjadi gedung serbaguna untuk melaksanakan berbagai kegiatan warga.
Seorang mantan pedagang yang sempat berjualan di Pasar Burung Dolly pun mengaku saat ini ia telah menutup usahanya karena kondisi yang kian hari kian sepi.
“Udah enggak [jualan], dulu di pasar," ujar pria yang tak berkenan disebut namanya itu.
Penurunan aktivitas ekonomi juga dirasakan warga lainnya. Jarwo, salah seorang pelaku UMKM produk tempe “Tempe Bang Jarwo”. Dirinya menyebut bahwa produksi tempenya semakin merosot bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau dibanding tahun lalu saja kita produksi tempe satu hari bisa 25 kilogram kedelai, sekarang hanya 15 kilogram,” katanya.
Jarwo menjelaskan, bukan hanya para pelaku UMKM yang merasakan penurunan produksi maupun omset usaha. Namun, kegiatan tur wisata edukasi Dolly yang dahulu membantu menggerakkan ekonomi warga juga berhenti. Akhirnya warga setempat yang bergeliat di dua aktivitas itu sangat merasakan dampaknya.
Padahal, sebut Jarwo, dirinya dan warga lainnya merasa sangat terbantu dengan paket wisata sehingga UMKM juga merasakan multiplier effect. Paket wisata tersebut sebelumnya dibanderol mulai dari harga Rp20 hingga 150 ribu, yang dikemas dengan beragam aktivitas seperti kunjungan ke berbagai sentra UMKM hingga mengikuti workshop di kawasan eks lokalisasi Gang Dolly.
“Mau adakan trip lagi, tapi tempat oleh-oleh sekarang sudah gak ada. Misalnya UKM Samijali juga sekarang sudah gak produksi, Kampung Orumy juga sekarang gak produksi. DS Poin, yang jadi pusat oleh-oleh di Dolly juga sudah tutup,” jelasnya.
Jarwo menyatakan kondisi tersebut diperparah minimnya pendampingan pemerintah daerah setempat kepada warga maupun para pelaku UMKM yang berdomisili di sekitar kawasan eks lokalisasi Gang Dolly.
“Dari pemerintah ya rasanya kurang adanya pendampingan," tuturnya.
Dirinya juga menyampaikan bahwa dirinya juga telah mengundurkan diri dari Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gang Dolly pada medio 2023 silam karena merasa tidak mendapatkan dukungan.
“Saya Ketua Pokdarwis, mengundurkan diri 2 tahun lalu, tahun 2023, karena capek, kok nggak ada suport dari teman-teman," ungkapnya.
Saat ini, Jarwo pun memilih fokus menjalankan produksi tempe meski hasilnya berbeda jauh bila dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, ia juga tetap menerima kunjungan dari para mahasiswa yang ingin belajar mengenai UMKM di kawasan eks lokalisasi Dolly, khususnya untuk usaha tempe.
“Saya fokus ke usaha saya, tapi kalau ada mahasiswa kunjungan saya tetap layani," tuturnya.
Pemkot Surabaya Putar Otak
Sementara itu, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menyatakan pihaknya akan segera memikirkan konsep baru terhadap pusat-pusat pelaku UMKM, termasuk Pasar Burung Dolly. Saat ini, Eri menyebut Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) masih melakukan pendataan dan kajian-kajian terkait.
"Saya sudah menyampaikan kalau sudah sepi maka ubah itu. Berarti apa? Jualannya mungkin yang tidak cocok. Yang rame itu umpamanya terkait dengan pakaian kita jualnya makanan atau sebaliknya. Ramainya makanan, kita jualnya apa? Jadi harus ada evaluasi itu," tegasnya.
Terkait wisata edukasi Dolly yang disebut warga setempat sudah tidak beroperasi, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) itu menegaskan bahwa pihaknya akan menggandeng anak-anak muda yang tinggal di sekitar lokasi eks lokalisasi Gang Dolly untuk membangkitkan kembali wisata tersebut.
"Karang taruna, anak-anak muda maka dia akan menempati tempat-tempat yang ada di Dolly, termasuk wisata edukasinya maka akan digerakkan oleh karang taruna. Karena itulah di 2026 ada anggaran Rp5 juta untuk anak-anak Gen Z itu adalah salah satunya untuk menggerakkan wisata-wisata edukasi yang ada," pungkasnya.
Jarwo, salah satu warga yang tinggal di kawasan eks lokalisasi Gang Dolly, yang saat ini menekuni usaha memproduksi produk olahan kedelai, yakni tempe./Bisnis-Julianus Palermo