"Ally" adalah film animasi 3D pertama Bong Joon-ho tentang cumi-cumi piglet yang bermimpi jadi bintang dokumenter. Dirilis 2027, film ini eksplorasi persahabatan dan keberanian. [373] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Seekor cumi-cumi piglet dengan mimpi besar menjadi bintang dokumenter, itulah inti dari Ally, film animasi 3D pertama yang disutradarai Bong Joon-ho.
Proyek ini menandai babak baru dalam karier sineas Korea Selatan tersebut, sekaligus berpotensi menjadi produksi animasi Korea dengan anggaran terbesar yang pernah ada.
Ally mengikuti perjalanan seekor cumi-cumi piglet yang juga bernama Ally, yang hidup jauh di kedalaman Samudra Pasifik Selatan. Di tengah gelapnya lautan, Ally menyimpan satu mimpi besar: mencapai permukaan laut dan tampil dalam sebuah dokumenter satwa liar. Bagi makhluk kecil itu, dunia manusia di atas permukaan adalah sesuatu yang memesona dan penuh misteri.
Namun segalanya berubah ketika sebuah pesawat jatuh ke laut. Peristiwa tak terduga itu mengubah hidup Ally selamanya dan mempertemukannya dengan teman-teman baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari titik inilah petualangan sesungguhnya dimulai, sebuah perjalanan yang mengeksplorasi tema persahabatan, lingkungan, dan keberanian untuk mengejar impian.
Meskipun dikemas dalam format animasi yang lebih ringan dan menggemaskan, Ally tetap menjanjikan kedalaman emosional yang menjadi ciri khas Bong Joon-ho. Pendekatan ini mengingatkan pada gaya bercerita yang ia terapkan dalam Parasite maupun Okja, di mana narasi sederhana menyimpan lapisan makna yang lebih dalam.
Skenario film ini ditulis bersama Jason Yu, sutradara film Sleep (2023) yang merupakan protégé Bong. Kolaborasi ini mencerminkan kebiasaan Bong dalam bekerja bersama talenta muda, seperti yang pernah ia lakukan bersama Han Jin-won dalam penulisan naskah Parasite.
Di balik layar, Ally adalah proyek kolaborasi lintas negara yang luar biasa. Produksi melibatkan tim dari 12 negara, termasuk perusahaan film Prancis Pathé, dan telah melewati proses pengembangan panjang sejak tahun 2019. CJ ENM bertindak sebagai investor sekaligus distributor, memastikan film ini mendapat jangkauan global yang luas.
Anggaran produksi diperkirakan mencapai US$60 juta, sebuah angka yang menempatkan Ally sebagai kandidat kuat produksi animasi Korea dengan bujet terbesar sepanjang sejarah.
Pada April 2026, first look resmi film ini dirilis melalui Variety, memperkenalkan karakter utama cumi-cumi piglet yang langsung mencuri perhatian publik. Film dijadwalkan rampung pada paruh pertama 2027, dengan rilis teatrikal global yang direncanakan berlangsung pada tahun yang sama.
Dengan kombinasi nama besar Bong Joon-ho, tim internasional, dan konsep cerita yang segar, Ally tampaknya siap menjadi salah satu film animasi paling dinantikan dalam beberapa tahun ke depan.
Kementerian Ekonomi Kreatif menegaskan komitmennya dalam mendukung film animasi lokal Garuda di Dadaku melalui strategi promosi berkelanjutan. [487] url asal
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menegaskan komitmennya dalam mendukung film animasi lokal Garuda di Dadaku melalui strategi promosi berkelanjutan.
Intellectual Property (IP) lokal yang diproduksi BASE Entertainment dan KAWI Animation ini dijadwalkan tayang pada momentum libur sekolah dan Piala Dunia 2026.
Hal tersebut disampaikan Menteri Ekraf saat menerima audiensi BASE Entertainment dan KAWI Animation di Kantor Kementerian Ekraf, Jakarta, Senin (20/4/2026).
“Film animasi seperti Garuda di Dadaku punya momentum untuk tayang saat libur sekolah dan awal Piala Dunia 2026 sehingga kita bisa melakukan suatu promosi yang berkelanjutan dengan berbagai pihak,” ucapnya, dikutip dari siaran pers Kemenekraf, Selasa (21/4).
“Selanjutnya, film dengan talenta kreatif Indonesia ini juga bisa diadakan nonton bareng (nobar) dengan jajaran Kabinet Merah Putih dan keluarganya sehingga gaung film bisa dipersiapkan lebih awal sebelum rilis,” lanjut Menteri Ekraf.
Film animasi Garuda di Dadaku dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 11 Juni 2026 mendatang. Peluncuran film yang mengangkat semangat raih mimpi menjadi pesepakbola ini juga menjadi proyek dari hasil kolaborasi lebih dari 550 kreator dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kementerian Ekraf akan memastikan bahwa IP dari film animasi ini tidak berhenti di layar lebar, tetapi bisa berkembang menjadi produk turunan yang bermacam-macam seperti merchandise, konten edukatif, hingga aktivasi di berbagai daerah supaya memberi dampak semakin luas,” lanjut Menteri Ekraf.
Dari sisi industri kreatif, Co-founder BASE Entertainment Ben Soebiakto menyampaikan bahwa proyek animasi ini sudah rampung dan siap menjadi karya strategis yang memperkuat posisi animasi lokal untuk para penonton film Indonesia.
“Proses Film Garuda di Dadaku sudah sampai ujungnya atau selesai setelah selama 3 tahun melalui produksi, editing animasi, hingga dilengkapi mixing sound and music, sampai proses pembuatan Digital Cinema Package (DCP). Film animasi ini sudah ready untuk tayang dengan melibatkan hampir 550 animator dari Batam, Malang, Bogor, Bali, Jogja, dan wilayah lain yang terus mendukung industri film animasi di Indonesia,” ucap Ben Soebiakto.
BASE Entertainment merupakan rumah produksi berbasis di Jakarta dan Singapura dengan karya-karya film sebelumnya seperti Perempuan Tanah Jahanam, Gadis Kretek, Bebas, dan My Annoying Brother. Dalam pertemuan ini, potensi kolaborasi dengan fasilitasi promosi IP Garuda di Dadaku akan berjalan melalui power positioning lintas industri (film-olahraga-edukasi).
Selain fokus pada kualitas cerita dan visual, Film animasi Garuda di Dadaku juga melakukan riset mendalam terkait strategi pemasaran, termasuk penentuan waktu rilis yang disesuaikan dengan kalender pendidikan serta momentum internasional, FIFA World Cup 2026. Berbagai rencana aktivasi juga disiapkan, mulai dari kolaborasi dengan brand, distribusi produk turunan, hingga potensi pemanfaatan IP dalam kegiatan komunitas, ruang, dan transportasi publik.
“Menariknya, kami melakukan pertemuan hari ini untuk memulai langkah promosi ke satu Indonesia sehingga Film Garuda di Dadaku bisa terbantu secara lisensi karena biar bagaimanapun film animasi ini menjadi IP yang bisa ter-license dengan banyak produk-produk turunan yang lebih kreatif. Nantinya, kami juga ingin ada nonton bareng dengan berbagai komunitas sehingga film ini menjadi keberlanjutan dalam perjalanan film animasi di Indonesia,” tambah Ben Soebiakto.
Bisnis.com, JAKARTA — Menonton film saat libur Lebaran bisa menjadi pilihan hiburan bagi masyarakat yang ingin menghabiskan waktu bersama keluarga di bioskop.
Sejumlah film dari berbagai genre, mulai dari horor, drama keluarga, animasi hingga film aksi Bollywood dijadwalkan tayang di bioskop pada pertengahan Maret 2026.
Beberapa film Indonesia juga hadir dengan cerita yang beragam sehingga bisa dinikmati berbagai kalangan.
Berikut film yang dapat menjadi pilihan tontonan selama libur Lebaran.
1. Danur: The Last Chapter
Film horor yang diproduseri Manoj Punjabi ini kembali mengangkat kisah Risa yang dikenal memiliki kemampuan berkomunikasi dengan makhluk gaib.
Setelah lama berusaha menutup diri dari dunia supranatural, kehidupannya berubah ketika adiknya mulai menunjukkan sikap tidak biasa menjelang pernikahan.
Kejadian-kejadian aneh pun kembali menghampiri Risa hingga dia merasa ada pesan yang ingin disampaikan oleh teman-teman hantunya. Film ini dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 18 Maret 2026.
2. Tunggu Aku Sukses
Film produksi Gope T. Samtani ini akan mulai tayang di bioskop pada 18 Maret 2026 dengan cerita yang dekat dengan kehidupan banyak orang saat Lebaran.
Kisahnya mengikuti Arga, pemuda yang sudah lama menganggur dan sering dibandingkan dengan sepupu-sepupunya yang lebih mapan.
Tekanan keluarga membuat Arga berusaha keras mencari pekerjaan agar bisa membuktikan dirinya mampu sukses. Di saat yang sama, dia juga harus membantu adiknya yang terancam gagal kuliah serta menghadapi tuntutan sang kekasih untuk segera menikah.
3. Senin Harga Naik
Disutradarai oleh Dinna Jasanti, film ini mengangkat konflik antara ibu dan anak yang terpisah karena perbedaan pandangan hidup. Mutia memilih pergi dari rumah demi membuktikan bahwa dia bisa meraih kesuksesan dengan caranya sendiri.
Cerita berubah ketika pekerjaannya di perusahaan properti justru berkaitan dengan usaha roti legendaris milik keluarganya. Film drama keluarga ini mulai hadir di bioskop pada 18 Maret 2026.
4. Pelangi di Mars
Penonton dapat menyaksikan film fiksi ilmiah ini di bioskop mulai 18 Maret 2026. Disutradarai oleh Upie Guava, film ini menghadirkan cerita masa depan saat Bumi mengalami krisis air yang mengancam kehidupan manusia.
Tokoh Pelangi yang lahir di Mars memulai petualangan untuk menemukan mineral langka yang diyakini dapat menyelamatkan masa depan Bumi. Perjalanannya semakin menegangkan karena sebuah korporasi besar juga berusaha menguasai sumber daya tersebut.
5. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa
Film horor garapan Azhar Kinoi Lubis ini menghadirkan cerita balas dendam yang dipenuhi unsur mistis. Suzzanna memutuskan mempelajari ilmu santet setelah ayahnya meninggal akibat perbuatan penguasa desa yang kejam.
Di tengah rencana balas dendam tersebut, dia justru bertemu seorang pria yang membuatnya mempertimbangkan kembali pilihannya. Film ini dijadwalkan menghantui layar bioskop pada 18 Maret 2026.
6. Na Willa
Pada 18 Maret 2026, film keluarga karya sutradara Ryan Adriandhy ini mulai diputar di bioskop. Ceritanya mengikuti kehidupan Willa, seorang anak kecil yang melihat lingkungan tempat tinggalnya sebagai dunia yang penuh keajaiban.
Namun suasana berubah ketika teman-temannya satu per satu mulai masuk sekolah. Dari situ Willa perlahan belajar bahwa tumbuh besar berarti menerima perubahan dalam hidupnya.
7. Dhurandhar: The Revenge
Film Bollywood ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 19 Maret 2026.
Disutradarai oleh Aditya Dhar, cerita bermula pada Hamza yang awalnya menjalankan misi untuk negaranya.
Lalu situasi berubah ketika konflik geng dan pejabat korup membuat misinya berkembang menjadi perang pribadi yang penuh kekerasan di jalanan Lyari.
Film animasi "Hoppers" dari Disney tayang 4 Maret 2026 di Indonesia, menggabungkan hiburan dan pesan lingkungan melalui teknologi "Hopping" dan visual memukau. [302] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Dunia animasi kembali diramaikan dengan kehadiran Hoppers, film terbaru dari Disney yang akan tayang 4 Maret 2026 di seluruh bioskop Indonesia.
Film ini mengajak penonton menatap dunia hewan dengan cara yang belum pernah ada sebelumnya, penuh warna dan detail yang membuat setiap adegan terasa hidup.
Cerita Hoppers tidak hanya soal hiburan. Penonton diajak melihat hubungan manusia dengan hewan dari perspektif yang unik, sambil terselip pesan halus tentang pentingnya menjaga alam. Tanpa mengungkap alur utama, film ini berhasil menyatukan hiburan dengan kesadaran ekologis yang relevan bagi semua usia.
Di tengah maraknya isu lingkungan global, Hoppers menyoroti tanggung jawab manusia terhadap alam melalui teknologi bernama “Hopping”. Dengan kemampuan memindahkan kesadaran manusia ke tubuh hewan robotik, teknologi ini membuka kesempatan untuk menjelajahi petualangan, memahami konflik sosial, dan menyaksikan upaya menjaga kelestarian ekosistem.
Sutradara yang sangat terkenal, Daniel Chong, kembali menunjukkan keahliannya dengan menyutradarai film Hoppers. Chong memadukan humor ringan dan sentuhan emosional, sementara visual futuristik dan karakter hewan robotik menghadirkan pengalaman menonton yang imersif dan memikat.
Dalam film ini terdapat Mabel, sebagai karakter utama yang membawa penonton berkelana ke dunia hewan dengan cara yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Setiap interaksi, warna, dan detail visual terasa hidup, membuat penonton seakan berada di tengah petualangan.
Selain hiburan, Hoppers menanamkan pesan tentang empati terhadap makhluk hidup dan tanggung jawab manusia terhadap alam. Film ini mengingatkan kita bahwa setiap keputusan manusia bisa memengaruhi ekosistem, namun penyampaiannya tetap ringan dan menyenangkan untuk diikuti.
Selain itu, visual yang atraktif, narasi emosional, dan humor ringan menjadikan film ini cocok dinikmati keluarga. Pesan moralnya tersampaikan dengan halus tanpa terasa menggurui, membuat penonton ikut merenung sambil tertawa.
Dengan konsep kreatif dan animasi yang memanjakan mata, Hoppers bukan sekadar film animasi.
Film ini memberikan pengalaman menonton berbeda yang menghibur sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk lebih peduli terhadap hewan dan lingkungan di sekitar kita.
Film 5 Centimeters Per Second hadir dalam versi live action di Indonesia mulai 30 Januari 2026, dibintangi Hokuto Matsumura dan Mitsuki Takahata. [307] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Film 5 Centimeters Per Second bakal hadir dalam versi live action di bioskop Indonesia. Dibintangi Hokuto Matsumura sebagai Takaki dan Mitsuki Takahata sebagai Akari, film ini dijadwalkan tayang mulai 30 Januari 2026.
Karya ini merupakan adaptasi dari film animasi legendaris Makoto Shinkai, diproduksi CoMix Wave Inc., dengan desain karakter oleh Takayo Nishimura, visual latar oleh Takumi Tanji dan Akiko Majima, serta musik digubah Tenmon.
Versi animasinya dikenal sebagai drama romance klasik yang dicintai penonton, sekaligus mendefinisikan perjalanan karier Shinkai. Kini, kisah Takaki dan Akari dihidupkan kembali dengan sudut pandang baru yang tetap menyentuh.
Makoto Shinkai mengaku awalnya skeptis saat menonton versi live action. “Awalnya saya merasa tidak nyaman dengan cara yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti menyerahkan tongkat estafet kepada kreator yang lebih muda, namun masih belum sempurna,” ujarnya.
Namun visual film membuat Shinkai terhanyut. “Yang mengejutkan saya, saya menangis,” kata dia, menekankan betapa kuatnya kesan yang ditimbulkan versi terbaru karya sutradara sekaligus fotografer asal Jepang itu.
5 Centimeters Per Second Live Action disutradarai Yoshiyuki Okuyama, dengan screenplay oleh Ayako Suzuki. Menurut Okuyama, proyek ini menjadi pengalaman personal yang membuatnya mencurahkan waktu dan energi selama dua tahun terakhir.
“Proses pembuatan film memberi pengalaman baru dalam bekerja bersama tim. Setiap kontribusi anggota terasa sangat berarti,” ujar Okuyama.
Okuyama menambahkan, pembuatan film ini dilakukan dengan sepenuh hati. Baginya, menciptakan sesuatu bersama tim bukan sekadar pekerjaan, tetapi sebuah dedikasi kreatif.
“Inilah pertama kalinya saya benar-benar merasakan makna sejati dari kolaborasi, dengan menciptakan sesuatu bersama tim dalam pembuatan karya,” imbuhnya.
Selain Matsumura dan Takahata, film ini uga dibintangi Nara Mori, Yuzu Aoki, Mai Kiryu, Haruto Ueda, Noa Shiroyama, Takashi Okabe, Seina Nakata, Kentaro Tamura, dan Junki Tozuka.
Deretan pemain lainnya termasuk Sho Hasumi, Naoki Matayoshi, Keiko Horiuchi, Himi Sato, Ayana Shiramoto, Aoi Miyazaki, dan Hidetaka Yoshioka, yang turut menghidupkan kisah Takaki dan Akari dalam versi live action ini.
Zootopia 2 melampaui film Pixar “Inside Out 2”, dengan pendapatan US$1,7 miliar atau setara dengan Rp287,6 triliun setelah delapan pekan tayang di bioskop. [714] url asal
Bisnis.com, JAKARTA -- Setelah delapan pekan, film animasi Disney “Zootopia 2” berhasil mencetak rekor baru sebagai film animasi terlaris dari studio Hollywood dengan pendapatan kotor global sebesar US$1,7 miliar.
Capaian tersebut melampaui film animasi terlaris sebelumnya, “Inside Out 2”, milik Pixar untuk menempati posisi kedua dalam daftar film animasi terlaris sepanjang masa sebelum inflasi, di belakang film hit China “Ne Zha 2.”
Selain itu, “Zootopia 2” juga akan menjadi film terlaris Hollywood tahun 2025, mengalahkan film Disney lainnya, “Avatar: Fire and Ash,” yang mungkin akan tergeser di bawah film animasi yang sukses ini di tangga lagu akhir pekan depan.
Pada akhir pekan panjang di AS, “Fire and Ash” diproyeksikan menghasilkan total pendapatan sekitar US$17 juta pada akhir pekan kelima (4 hari), sementara “Zootopia 2” telah menghasilkan US$12 juta pada akhir pekan kedelapan.
Di pasar domestik AS, “Zootopia 2” telah melampaui angka US$400 juta dan diperkirakan akan mencapai US$423 juta dengan performa yang lebih kuat selama 2-3 minggu ke depan. Dengan demikian, film ini akan melampaui “A Minecraft Movie” dan remake “Lilo & Stitch” untuk menduduki posisi teratas di pasar domestik di antara film-film yang dirilis pada tahun 2025.
Sebelum Zootopia, Disney telah merilis tiga film animasi Hollywood terlaris sepanjang masa, dan empat film terlaris jika remake CGI termasuk sebagai film animasi, seperti "The Lion King" (US$1,66 miliar).
Di antara film-film tersebut adalah "Frozen II," yang menghasilkan US$1,45 miliar, sementara film animasi Hollywood non-Disney terlaris adalah "The Super Mario Bros. Movie" karya Illumination dengan US$1,36 miliar.
Yang menarik dari kesuksesan sekuel ini adalah bahwa di AS, "Zootopia 2" masih diperkirakan akan menghasilkan sekitar US$200 juta, lebih sedikit daripada "Inside Out 2," yang menghasilkan hampir US$653 juta pada musim panas 2024.
Namun hal itu diimbangi oleh kesuksesan bersejarah sekuel Disney ini di China, di mana film ini hampir melampaui "Avengers: Endgame" sebagai film Amerika terlaris di negara tersebut dengan US$619 juta.
Namun popularitas tersebut juga meluas ke pasar-pasar utama Asia lainnya, khususnya Jepang, di mana film ini termasuk dalam 5 film terlaris tahun 2025 bersama dengan film-film seperti “Demon Slayer: Infinity Castle” dan “Kokuho” karena diperkirakan akan menghasilkan pendapatan US$100 juta di sana dengan total pendapatan US$83 juta dan terus bertambah.
Sebagai perbandingan, “Avatar: Fire and Ash” hanya menghasilkan pendapatan US$13 juta dan terus bertambah di Jepang. Jumlah itu tak sampai setengah dari pendapatan US$32,9 juta yang diperoleh film pendahulunya tahun 2022, “The Way of Water.”
Dengan pencapaian ini, “Zootopia 2” kini berada di antara 10 film terlaris sepanjang masa, sebelum penyesuaian inflasi, dan menempati posisi ke-9 di belakang “Spider-Man: No Way Home” dengan pendapatan US$1,92 miliar.
Sinopsis Zootopia 2
Zootopia 2 kembali mengikuti kisah kelinci polisi Judy Hopps bersama rekan barunya, si rubah lick Nick Wilde untuk kembali mengungkap kejahatan di kota Zootropolis ternyata tetap tak bisa hidup tenang.
Setelah Judy Hopps dan Nick Wilde resmi menjadi mitra...
Setelah Judy Hopps dan Nick Wilde resmi menjadi mitra di Departemen Kepolisian Zootopia (ZPD), mereka harus bekerja sama memecahkan kasus-kasus kejahatan dan membantu melindungi dan menjaga kehidupan hewan di mana semua orang setara dan rukun, kecuali reptil, subkelompok yang telah dilarang masuk ke kota selama beberapa generasi.
Namun, karena kepribadian mereka yang bertolak belakang, mereka terus-menerus mempersulit pekerjaan mereka sendiri untuk memecahkan misteri dengan rapi.
Di tengah pengejaran kasus penyelundupan, fokus Judy berubah ketika dia menemukan serpihan kulit ular yang terkelupas di sebuah truk besar. Hewan yang sudah lama tak terlihat wujudnya di Zootopia.
Semakin dilacak, Judy semakin yakin bahwa kalangan ular masih ada, dan salah satunya berkeliaran di Zootopia.
Dari petunjuk yang dia temukan, dia mengetahui bahwa ular itu mungkin ada di Gala Zootenial, perayaan ulang tahun ke-100 berdirinya kota tersebut, yang diselenggarakan oleh keluarga Lynx yang disebut-sebut sebagai pendiri Zootopia, Ebenezer Lynxley.
Benar saja, di Gala tersebut, Nick memperhatikan sosok berkerudung yang ternyata adalah ular viper bernama Gary De'Snake. Saat semua orang panik, Gary mencuri jurnal lama yang merinci pembuatan dinding cuaca dan pembagian kota Zootopia.
Judy akhirnya bisa meyakinkan Gary untuk melindunginya dan memecahkan masalahnya alih-alih menangkapnya dan mengusirnya kembali ke luar zootopia.
Keduanya kemudian mulai mengungkap konspirasi rumit yang mengungkap asal-usul kota yang kelam dan telah lama hilang.
Bisnis.com, JAKARTA — Film animasi legendaris 5 Centimeters Per Second akan kembali tayang di bioskop Indonesia mulai 16 Januari 2026. Pemutaran ulang ini menjadi momen penting bagi penggemar karya Makoto Shinkai sekaligus penanda perjalanan salah satu film paling berpengaruh dalam sejarah anime modern.
Terlebih, pada tahun ini, 5 Centimeters Per Second juga resmi diangkat ke layar lebar dalam versi live action yang disutradarai oleh Yoshiyuki Okuyama. Versi tersebut telah dirilis di Jepang pada Oktober 2025 dan direncanakan akan segera menyapa penonton di jaringan bioskop Indonesia.
Dirilis pertama kali pada 2007, film ini dikenal lewat pendekatan emosional yang sunyi dan reflektif. Kisah Takaki dan Akari, dua sahabat yang terpisah oleh jarak dan waktu, telah melekat kuat di ingatan penonton lintas generasi.
Namun, sorotan kali ini tak hanya tertuju pada kembalinya film ke layar lebar, tetapi juga pada pandangan terbaru Makoto Shinkai terhadap karyanya sendiri. Dalam wawancara khusus yang akan diputar bersama penayangan film, ia menyebut 5 Centimeters Per Second sebagai karya yang tak mungkin lagi ia buat pada fase hidupnya sekarang.
“Menurut saya, ini adalah karya yang sangat tidak mungkin bisa saya buat dengan diri saya yang sekarang,” kata Shinkai. Ia menilai film tersebut lahir dari bagian dirinya yang kini sudah tidak ada lagi.
Shinkai menambahkan, 5 Centimeters Per Second tersusun dari perasaan dan cara pandang yang hanya ia miliki pada masa itu. Karena itu, karya ini tak bisa direplikasi, bahkan oleh penciptanya sendiri, sebab terikat erat pada waktu, pengalaman, dan kondisi batin tertentu.
Kini, ketika Shinkai dikenal luas lewat film-film berskala besar seperti Your Name dan Suzume, ia juga memandang 5 Centimeters Per Second sebagai karya yang tak terulang. “Saya sendiri sudah menjadi orang yang berbeda dibanding saat film ini dibuat,” imbuhnya.
Diproduksi oleh CoMix Wave Inc., film ini menampilkan desain karakter karya Takayo Nishimura, tata artistik latar oleh Takumi Tanji dan Akiko Majima, serta musik dari Tenmon. Kombinasi tersebut membangun atmosfer melankolis yang menjadi ciri kuat film ini hingga kini.
Antusiasme penggemar juga terlihat dari digelarnya agenda Fan Screening sebelum penayangan reguler. Acara ini berlangsung pada 10 Januari 2026 di Cinema XXI Gandaria City dan 11 Januari 2026 di CGV Grand Indonesia.
Dari sisi cerita, film ini mengikuti perjalanan Takaki yang berusaha menemui kembali Akari setelah lama terpisah. Dalam perjalanan kereta menuju pertemuan itu, kenangan masa lalu mengalir, memunculkan pertanyaan tentang apakah perasaan yang tertinggal masih bisa disampaikan.
Film animasi "5 Centimeters per Second" tayang ulang di bioskop mulai 16 Januari 2025, menampilkan behind the scene dari 20 tahun lalu. Film ini menggambarkan kisah cinta dan perjuangan jara [343] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Film animasi yang mengadaptasi komik, 5 Centimeters per Second, kembali hadir di bioskop setelah sebelumnya dirilis pada 2007.
Film animasi 5 Centimeters per Second ditulis dan disutradarai oleh Makoto Shinkai. Judul 5 Centimeters per Second diambil dari kecepatan jatuhnya kelopak bunga sakura, dengan kelopak sebagai representasi metaforis dari manusia.
Film ini pertama kali diputar di bioskop Jepang pada tanggal 3 Maret 2007. Namun, kini tayang ulang di bioskop untuk menyambut versi live-action, yang sudah tayang di Jepang sejak Oktober 2025, tapi baru akan hadir di layar lebar Indonesia tahun ini.
Versi tayang ulangnya akan mulai diputar di bioskop pada 16 Januari 2025, berdurasi 77 menit dan diikuti dengan soundtrack "One More Time, One More Chance" dan 15 menit post-credit scene.
Post-credit scene tersebut berisi behind the scene, cerita Makoto dalam pembuatan film animasinya sekitar 20 tahun lalu.
Dalam ceritanya, Makoto mengatakan bahwa film ini seperti "serpihan dirinya" pada masa tersebut. Didasarkan pada kisahnya sendiri, di mana dia harus menempuh jarak yang jauh dan kesulitan menghubungi pasangannya.
Review 5 Centimeters per Second
Film ini terdiri dari tiga bagian episode yang masing-masing mengikuti periode dalam kehidupan tokoh utama Takaki Tōno dalam menjaga hubungan dan perasaannya pada Akari, temannya sejak SD, dan hubungannya dengan gadis-gadis di sekitarnya hingga ia dewasa.
Sebagai film yang tayang hampir 20 tahun lalu, dan berlatar 1990-an, film ini masih sukes bikin galau dengan kisah romansanya yang pasti relate dengan banyak orang.
Film ini begitu cerdas menggambarkan latar waktu kala itu, ketika belum ada telepon genggam, dan bagaimana sulitnya menjalin hubungan hanya dengan bersurat.
Lewat gambar-gambar latar di sepanjang film, Makoto juga bisa membawa penonton "keliling Jepang" karena digambar berdasarkan lokasi asli, mulai dari stasiun, gedung sekolah dan ruang kelas, lingkungan rumah, pohon sakura besar, dan pemandangan lainnya.
Meskipun dengan kisah yang menggantung di akhir, cukup membuat penonton gagal move on dan tak sabar untuk bisa segera menyaksikan versi live-actionnya.
Film karya Makoto Shinkai ini memberikan pandangan realistis tentang perjuangan yang harus dihadapi banyak orang, soal waktu, ruang, orang, dan cinta.
Bisnis.com, JAKARTA — Bicara soal film animasi, pasti tak ketinggalan produksi dari Pixar, yang awalnya merupakan bagian dari Lucasfilm. Pixar saat ini dianggap sebagai salah satu perusahaan animasi terbesar di dunia.
Pada tahun 1995, mereka mencetak sejarah dengan merilis Toy Story, film CGI pertama yang sepenuhnya menggunakan CGI, yang memulai rantai domino yang mengakibatkan animasi 2D digantikan oleh 3D di Barat.
Film-film Pixar dicintai karena kemampuannya menggali emosi dan pengalaman manusia untuk menyampaikan cerita mendalam yang disukai oleh penonton dari segala usia.
Berikut ini adalah daftar film-film Pixar terbaik berdasarkan warisan, pencapaian, dan kontribusi mereka terhadap sinema modern:
'Monsters, Inc.' (2001)
James P. Sullivan (John Goodman) dan sahabatnya, Mike Wazowski (Billy Crystal), adalah duo monster dari dunia paralel yang menggunakan teknologi pintu untuk memasuki kamar tidur anak-anak dan memanen jeritan mereka untuk mendapatkan energi.
Sayangnya, dengan kemajuan teknologi, anak-anak manusia semakin sulit ditakuti, dan bos mereka, Henry J. Waternoose III (James Coburn), khawatir perusahaan akan bangkrut karena produksi energi yang rendah.
Keadaan semakin buruk ketika seorang anak manusia yang Sully beri julukan Boo (Mary Gibbs) memasuki dunia monster, karena manusia diyakini beracun, dan kedatangannya dikaitkan dengan konspirasi gelap yang melibatkan saingan duo tersebut, Randall Boggs (Steve Buscemi).
Monsters, Inc. adalah film pertama Pixar di tahun 2000-an dan menggunakan teknologi baru yang inovatif untuk memberikan detail yang lebih baik pada bulu dan pakaian, membuat karakter terasa lebih realistis.
Dunia monster juga merupakan salah satu dunia paling kreatif Pixar, penuh dengan detail kecil yang unik dan meningkatkan kualitas hidup, seperti kursi berbentuk cangkir untuk monster yang lebih bulat untuk duduk, dan beragam desain yang memastikan tidak ada dua monster yang terlihat sama persis.
Sementara itu, untuk ceritanya sulit untuk tidak jatuh cinta pada karakter-karakternya karena betapa menggemaskan mereka, dan film ini menceritakan kisah yang solid tentang korupsi perusahaan, mengatasi rasa takut, dan bahaya prasangka.
'Finding Nemo' (2003)
Setelah kehilangan istri dan semua anaknya kecuali satu akibat serangan barracuda, Marlin (Albert Brooks), si ikan badut, mengabdikan dirinya untuk melindungi anak terakhirnya, Nemo (Alexander Gould).
Nemo membangkang dan berenang…
Namun, karena dia terlalu protektif, menyebabkan Nemo membangkang, dan berenang menuju perahu dan mengakibatkan dia ditangkap oleh seorang penyelam manusia yang bermaksud memberikannya kepada keponakannya, Darla (LuLu Ebeling), sebagai hadiah ulang tahun.
Bekerja sama dengan ikan tang biru kerajaan yang pelupa bernama Dory (Ellen DeGeneres), Marlin memulai perjalanan penuh hiu, ubur-ubur, dan paus untuk menemukan putranya.
Film Finding Nemo mengukuhkan kemampuan Pixar untuk menciptakan lingkungan 3D yang hidup dan bernapas melalui rekreasi lautan dan semua lingkungannya yang luar biasa. Efek airnya masih tetap menakjubkan, dan berbagai lokasi menangkap ukuran dan keagungan lautan, menyoroti keindahan dan misterinya secara seimbang.
Film ini juga penuh dengan karakter ikonik dan tak terlupakan, mulai dari kepribadian Marlin dan Dory yang bertentangan yang menghasilkan banyak lelucon hebat dan pelajaran moral, hingga sekelompok ikan peliharaan dengan kepribadian unik yang berusaha membantu Nemo bertahan hidup.
'Ratatouille' (2007)
Remy (Patton Oswalt) adalah seekor tikus muda yang memiliki hasrat memasak, yang membuat ayahnya, Django (Brian Dennehy), frustrasi.
Django mendorong Remy untuk makan demi bertahan hidup dan memperingatkannya agar tidak terlalu akrab dengan manusia. Ketika koloni tikus terpaksa meninggalkan sarang mereka, Remy terpisah dari mereka dan berakhir di Paris, di mana ia menuju ke bekas restoran idolanya, Chef Gusteau (Brad Garrett).
Sumber foto: pixar.com
Setelah dia tertangkap sedang membuat sup oleh petugas kebersihan baru restoran tersebut, Alfredo Linguini (Lou Romano), keduanya membentuk kemitraan yang tak terduga untuk menjadi duo kuliner, sambil menghindari kecurigaan pemilik baru restoran, Chef Skinner (Sir Ian Holm).
Kisah Ratatouille relatif lebih realistis dibandingkan kebanyakan film Pixar, yang menguntungkan karena memungkinkan banyak fokus tertuju pada karakter-karakternya.
Remy adalah protagonis yang hebat berkat keinginannya yang mudah dipahami untuk mengejar mimpinya, betapa pun mustahilnya mimpi itu, dan film ini menjadi cerdas dengan menampilkan hantu Gusteau dalam pikiran Remy untuk menyemangatinya ketika ia sedang sedih.
Dari segi animasi, penggambaran Paris dan berbagai hidangan membuat Anda merindukan hal yang sebenarnya, dan naskahnya berisi beberapa kutipan terbaik Pixar, terutama satu yang disampaikan di klimaks oleh Peter O'Toole.
'Inside Out' (2015)
Berada di dalam pikiran Riley Andersen (Kaitlyn Dias), personifikasi Joy (Amy Poehler) memimpin empat emosi lainnya, Anger (Lewis Black), Fear (Bill Hader), Disgust (Mindy Kaling), dan Sadness (Phyllis Smith), dalam membantu Riley menjalani hidup, meskipun dia menjaga jarak dengan Sadness.
Setelah keluarganya pindah dari Minnesota ke San Francisco, Riley menangis di depan kelas barunya, menciptakan Core Memory yang menyedihkan. Ketika Joy mencoba membuangnya, dia, Sadness, dan sisa core memory Riley terlempar keluar dari ruang kendali, dan mereka harus kembali dengan cepat sebelum Riley terjerumus terlalu dalam ke dalam depresi.
Inside Out adalah salah satu film Pixar yang paling emosional..
Inside Out adalah salah satu film Pixar yang paling emosional, melalui personifikasi emosi dan konsep abstrak seperti pikiran, film ini mampu menyampaikan kisah yang sangat menyentuh dan dewasa tentang kesulitan tumbuh dewasa dan bagaimana kita seringkali harus meninggalkan sebagian dari diri kita sendiri.
Namun, film ini tidak menyampaikan pesan tersebut secara negatif, melainkan menyoroti bagaimana hal itu mengarah pada pengalaman baru yang bekerja sama untuk membangun rasa diri kita.
Film ini juga menekankan pentingnya kesedihan dan bahaya membiarkannya, atau emosi apa pun, diabaikan.
'The Incredibles' (2004)
Setelah superhero dilarang, Mr. Incredible (Craig T. Nelson) dan Elastigirl (Holly Hunter) menikah dan menetap sebagai Robert dan Helen Parr untuk membesarkan tiga anak, Violet (Sarah Vowell), Dashiell (Spencer Fox), dan Jack-Jack (Eli Fucile dan Maeve Andrews).
Namun, Bob merasa hidupnya tidak terpenuhi dan ingin merebut kembali masa kejayaannya. Suatu malam, dia dihubungi oleh seorang wanita bernama Mirage (Elizabeth Peña), yang merekrutnya untuk menghentikan robot yang mengamuk yang terkait dengan konspirasi gelap melawan superhero.
The Incredibles secara konsisten masuk dalam peringkat film superhero terbaik berkat kemampuannya dalam menyindir dan memuji klise klasik serta mengeksplorasi gagasan tentang keluarga superhero.
Sumber foto: pixar.com
Di antara adegan pertarungan yang keren dan para pahlawan yang memutar mata saat para penjahat berbicara, terdapat percakapan yang menyentuh hati yang terasa seperti berasal dari keluarga sungguhan, yang menambah unsur komedi selama adegan aksi.
Film ini juga sarat dengan tema-tema yang sangat kuat, seperti kerja tim, bahaya hidup di masa lalu, kapan harus menyesuaikan diri dengan harapan masyarakat dan kapan harus menjadi individu.
'WALL-E' (2008)
WALL-E (Ben Burtt) adalah robot terakhir yang masih berfungsi dan bertugas membersihkan bumi yang sangat tercemar, dan telah menjalankan tugasnya begitu lama sehingga dia mengembangkan kepribadian.
Suatu hari, dia bertemu dengan sebuah wahana antariksa bernama EVE (Elissa Knight) dan menunjukkan kepadanya sebuah tanaman yang ia temukan.
Hal ini menyebabkan Eve dan WALL-E dibawa ke pesawat ruang angkasa Axiom, di mana tanaman tersebut dapat digunakan untuk membawa umat manusia kembali ke bumi.
WALL-E adalah film yang sempurna untuk menunjukkan kekuatan animasi karakter Pixar. Karakter robot memiliki dialog yang sangat terbatas dan wajah dengan fitur minimalis, sehingga fakta bahwa Anda selalu dapat mengetahui emosi apa yang mereka rasakan karena penempatan yang halus adalah sebuah keajaiban.
Adapun ceritanya, film ini menyajikan pesan lingkungan yang sangat kuat, yang menekankan bahaya terlalu bergantung pada teknologi, yang sangat relevan di dunia saat ini dengan penggunaan AI yang merajalela.
'Toy Story' (1995)
Untuk ulang tahunnya, Andy Davis (John Morris) dihadiahi figur aksi Buzz Lightyear (Tim Allen), yang dengan cepat menjadi mainan favoritnya.
Hal ini membuatnya iri pada Woody (Tom Hanks), boneka koboi kesayangan Andy dan pemimpin mainan-mainannya yang lain. Persaingan ini akhirnya menyebabkan Woody dan Buzz tersesat bersama, dan mereka harus mengesampingkan perbedaan mereka untuk kembali ke Andy sebelum ia pindah ke rumah baru.
Toy Story adalah salah satu film animasi terpenting dalam sejarah berkat bagaimana film ini benar-benar merevolusi genre tersebut, dan meskipun efeknya agak ketinggalan zaman menurut standar saat ini, cerita dan karakternya tetap abadi.
Dinamika persaingan menjadi sahabat antara Woody dan Buzz sangat brilian..
Dinamika persaingan menjadi sahabat antara Woody dan Buzz sangat brilian, berkat pengisi suara Hanks dan Allen, tetapi juga karena alur cerita mereka yang universal.
Bagi Woody, ini tentang menerima keniscayaan perubahan, bahkan jika itu berarti melepaskan sorotan, sementara Buzz harus bergulat dengan identitas dan harga dirinya ketika ia menyadari bahwa ia bukanlah penjaga luar angkasa seperti yang ia bayangkan.
'Toy Story 2' (1999)
Tepat sebelum menuju ke perkemahan koboi, Andy secara tidak sengaja merobek lengan Woody, dan Woody tertinggal sambil bergulat dengan kenyataan bahwa Andy suatu hari nanti akan tumbuh lebih besar darinya.
Selama penjualan barang bekas, Woody dicuri oleh kolektor mainan serakah Al McWhiggin (Wayne Knight), dan Buzz Lightyear memulai misi penyelamatan untuk mendapatkannya kembali.
Di rumah Al, Woody bertemu Jessie (Joan Cusack), Bullseye (Frank Welker), dan Stinky Pete (Kelsey Grammer), yang memberitahunya bahwa ia adalah barang koleksi dari acara TV yang sama dengan mereka, "Woody's Roundup," dan bahwa Al berencana untuk menjualnya ke museum di Tokyo.
Toy Story 2 memukau penonton, melampaui standar tinggi yang ditetapkan oleh pendahulunya dengan menghadirkan lebih banyak tawa dan air mata melalui ceritanya yang mendalam.
Tema sentral kali ini adalah akhir yang tak terhindarkan dari sebuah hubungan, dan apakah lebih baik menikmati hidup saat ini, mengetahui bahwa segala sesuatu akan berakhir, atau menutup diri dari hubungan agar tidak pernah terluka oleh kehilangan tersebut.
Di antara tema-tema berat ini terdapat banyak lelucon hebat, terutama yang melibatkan Buzz Lightyear kedua (Tim Allen), yang juga percaya bahwa dialah Buzz Lightyear yang asli.
'Up' (2009)
Setelah secara tidak sengaja melukai seorang pekerja konstruksi, Carl Fredricksen (Ed Asner) memutuskan untuk mewujudkan impian mendiang istrinya, Ellie (Elie Docter), dengan mengikat ribuan balon ke rumahnya dan terbang ke Paradise Falls di Amerika Selatan.
Namun, ternyata hal itu lebih rumit dari yang dia bayangkan ketika seorang pramuka bernama Russell (Jordan Nagai) secara tidak sengaja ikut serta, dan mereka berdua bertemu dengan seekor anjing yang bisa berbicara bernama Doug (Bob Peterson) dan seekor burung langka yang diberi nama Kevin oleh Russell (Peter Docter).
Sumber foto: pixar.com
Pemilik Doug ternyata adalah pahlawan masa kecil Carl, Charles Muntz (Christopher Plummer), yang telah menjadi gila karena berusaha menangkap Kevin dan tidak akan membiarkan siapa pun menghalangi jalannya.
Up dihormati sebagai film animasi CGI pertama yang dinominasikan untuk Academy Award untuk Film Terbaik, dan film animasi kedua yang menerima nominasi tersebut setelah Beauty and the Beast.
Alasan mengapa film ini begitu indah dapat ditemukan hanya dalam 10 menit pertama, saat kehidupan Carl dan Ellie tersaji di hadapan kita tanpa dialog, melainkan mengandalkan musik yang indah dan visual yang memukau untuk menunjukkan semua keindahan, kehilangan, kesulitan, dan kebahagiaan yang mereka alami bersama.
Sisa filmnya pun sama indahnya, ketika Carl dan Russell mengembangkan hubungan yang baik yang membantunya mengingat kebahagiaan hidup, Doug sangat lucu, dan Muntz berperan sebagai cerminan antagonis yang sempurna bagi Carl, menekankan tema terjebak di masa lalu dan pentingnya memproses kesedihan.
'Toy Story 3' (2010)
Saat Andy bersiap untuk kuliah, ibunya secara tidak sengaja membuang tas berisi mainan yang akan dibuang ke loteng bersama sampah, menyebabkan mainan-mainan itu mengira Andy membuangnya.
Kisahnya kali ini mengikuti Barbie (Jodi Benson) milik saudara perempuan Andy di dalam kotak sumbangan ke Sunnyside Daycare, meskipun Woody berusaha menjelaskan bahwa itu adalah kesalahan.
Sayangnya, Sunnyside ternyata adalah negara polisi yang dijalankan oleh Lots-O'-Huggin' Bear (Ned Beatty) yang tirani, yang memaksa mainan-mainan itu masuk ke Ruang Ulat tempat mereka dimainkan oleh anak-anak yang terlalu kecil untuk menanganinya dengan aman.
Toy Story 3 adalah puncak perjalanan emosional franchise ini, dan hingga saat ini, film animasi ketiga dan terakhir yang dinominasikan untuk Film Terbaik. Film ini berakhir dengan pesan tragis namun menyentuh tentang bagaimana tidak apa-apa untuk melepaskan, karena akhir dari satu bab adalah awal dari bab lainnya.
Sisa film ini merupakan perjalanan emosional yang penuh gejolak, dengan banyak momen sulit yang intens, seperti kisah masa lalu Lots-O dan perjalanan geng ke tempat pembakaran sampah, tetapi juga beberapa momen yang benar-benar lucu, sebagian besar melibatkan pasangan Barbie, Ken (Michael Keaton).
Nikmati liburan Desember dengan 5 film keluarga seru: Avatar, Agak Laen, SpongeBob, Zootopia 2, dan Comic 8. Cocok untuk kebersamaan hangat! [599] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Bulan Desember identik dengan liburan anak sekolah dan liburan keluarga yang menjadi momen tepat untuk beristirahat dari rutinitas serta menikmati kebersamaan bersama orang-orang terdekat.
Salah satu kegiatan yang kerap dipilih adalah menonton film bersama. Aktivitas ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu mempererat kebersamaan melalui cerita yang ringan dan penuh pesan positif.
Film anak dan keluarga umumnya menghadirkan petualangan seru, humor segar, serta nilai-nilai tentang persahabatan dan kasih sayang. Tayangan yang ramah usia membuat semua anggota keluarga dapat menikmati cerita tanpa rasa khawatir.
Jadi, memilih tontonan yang tepat menjadi bagian penting dalam mengisi liburan akhir tahun.
Berikut rekomendasi film yang bisa ditonton anak-anak dan keluarga selama liburan akhir tahun untuk menemani waktu kebersamaan yang hangat dan menyenangkan.
1. Avatar: Fire and Ash
Avatar: Fire and Ash menceritakan perjalanan keluarga Sully yang kembali diuji oleh kehilangan, konflik, dan ancaman baru di Pandora. Beberapa minggu setelah kematian Neteyam, Jake Sully dan keluarganya masih diliputi duka, Neytiri dipenuhi amarah terhadap manusia, Lo’ak menyalahkan dirinya sendiri, sementara Jake mulai meragukan keyakinannya pada Eywa demi keselamatan keluarganya.
Saat berusaha menata kembali hidup bersama Klan Metkayina, mereka justru menghadapi bahaya baru ketika diserang oleh suku Na’vi agresif Mangkwan atau Ash People yang dipimpin Varang. Serangan ini memisahkan keluarga Sully dan memaksa Jake bekerja sama dengan Quaritch untuk menyelamatkan anak-anak, sementara Kiri menunjukkan kekuatan unik yang menghubungkannya langsung dengan kehidupan Pandora.
Ancaman semakin membesar ketika RDA terus memperluas kekuasaannya dan berupaya memanfaatkan Spider untuk kepentingan manusia. Dalam pertempuran besar yang melibatkan berbagai klan Na’vi, makhluk Pandora, dan kekuatan Eywa, Jake kembali bangkit sebagai Toruk Makto untuk melindungi Pandora, menyatukan keluarganya, serta menegaskan bahwa pengorbanan dan keseimbangan alam menjadi kunci masa depan mereka.
2. Agak Laen: Menyala Pantiku!
Agak Laen: Menyala Pantiku! menceritakan bahwa setelah berulang kali gagal menjalankan misi, detektif Bene, Boris, Jegel, dan Oki mendapat satu kesempatan terakhir untuk menebus kegagalan mereka.
Mereka ditugaskan menyamar dan menyusup ke sebuah panti jompo untuk menangkap buronan yang terlibat dalam kasus pembunuhan anak wali kota, menghadirkan berbagai situasi lucu sekaligus menegangkan.
3. The SpongeBob Movie: Search for SquarePants
Berawal dari kehidupan ceria di Bikini Bottom, The SpongeBob Movie: Search for SquarePants mengajak penonton menyelami petualangan yang jauh lebih dalam dan menegangkan. Perjalanan SpongeBob membawa kisah dari rutinitas sederhana menuju dunia laut yang penuh misteri dan tantangan tak terduga.
Dalam penjelajahannya ke kedalaman samudra, SpongeBob harus berhadapan dengan hantu Flying Dutchman serta berbagai rintangan berbahaya. Dari petualangan tersebut, ia tidak hanya mengungkap rahasia dunia laut, tetapi juga belajar tentang keberanian, keteguhan hati, dan arti persahabatan sejati.
4. Zootopia 2
Di tengah hiruk-pikuk kota Zootopia yang tak pernah tidur, Zootopia 2 membuka kisah dengan tantangan baru yang mengguncang keseimbangan kota. Judy Hopps kembali bersatu dengan Nick Wilde untuk menyelidiki sebuah kasus misterius yang membawa mereka ke situasi penuh risiko.
Seiring penyelidikan berlangsung, keduanya harus menembus lapisan bahaya dan intrik yang semakin kompleks. Kasus ini bukan hanya menguji kemampuan mereka sebagai penegak hukum, tetapi juga memperdalam arti kepercayaan, keberanian, dan persahabatan yang telah terjalin.
5. Comic 8 Revolution Santet K4bIn3t
Didorong oleh dendam masa lalu, sepasang dukun sakti Ki Bagus dan Ni Gendis menyusun rencana gila untuk menguasai negara melalui santet yang menargetkan presiden beserta jajaran kabinet. Berbekal tengkorak sakti, mereka berhasil melumpuhkan seorang wakil menteri, namun gagal menembus pertahanan presiden sehingga membutuhkan delapan tumbal agar rencana tersebut terwujud.
Ancaman itu membuat negara menurunkan Pakde Indro dan Oki dari Badan Intelejen Republik (BIR) untuk menghentikan aksi berbahaya tersebut. Keduanya kemudian merekrut delapan agen rahasia yang disusupkan sebagai asisten rumah tangga ke kediaman Ki Bagus dan Ni Gendis demi menggagalkan rencana dari dalam. (Angel Rinella)
Bisnis.com, JAKARTA - Kreator KPop Demon Hunters dengan tegas menolak film animasi tersebut dibuat dalam versi live-action.
Maggie Kang, sang kreator, baru-baru ini mengatakan kepada BBC bahwa ia tidak ingin film animasi Netflix yang memecahkan rekor tersebut dibuat dalam versi live-action.
"Ada begitu banyak elemen dalam nada dan komedi yang sangat cocok untuk animasi. Sangat sulit membayangkan karakter-karakter ini di dunia live-action. Rasanya terlalu membumi. Jadi, sama sekali tidak cocok untuk saya," kata Kang kepada BBC, dikutip dari The Variety.
Kang juga ikut menulis serta menyutradarai film tersebut. Di mana animasi ini berpusat pada grup K-pop wanita yang sangat populer bernama Huntr/x, yang ketiga anggotanya juga merupakan pejuang iblis rahasia.
Ketidaksetujuan KPop Demon Hunters dibuat menjadi live-action juga dikatakan oleh Chris Appelhans yang merupakan rekan sutradara Kang.
"Salah satu hal hebat tentang animasi adalah Anda dapat membuat gabungan atribut-atribut yang luar biasa hebat," kata Appelhans.
Ia kemudian menceritakan karakter Rumi yang bisa dibuat secara bebas berekspresi dalam segi cerita dan gambar.
"Rumi bisa menjadi komedian konyol, lalu bernyanyi dan melakukan tendangan berputar sedetik kemudian, lalu terjun bebas di langit,"
Diketahui sejak tayang perdana pada Juni, KPop Demon Hunters telah menjadi fenomena budaya sebagai film Netflix yang paling banyak ditonton sepanjang sejarah.
Soundtrack film ini menduduki puncak tangga lagu Billboard dan mengukir sejarah sebagai album soundtrack pertama yang memiliki empat lagu di 10 besar Billboard Hot 100.
Single utama "Golden" telah bertahan selama delapan minggu dan terus berlanjut di No. 1. Versi sing-a-long dari film ini dirilis di bioskop pada akhir Agustus dan meraup keuntungan sebesar $18 juta dalam satu minggu.
Film produksi Sony Pictures dan Netflix ini pun turut memicu antusiasme besar, setelah berhasil menduduki peringkat teratas dalam daftar global platform streaming.