#30 tag 24jam
MoraRepublic Berdiri, DSSA Siap Perkuat Ekosistem Digital RI
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melalui PT Ekamas Mora Republik Tbk mempertegas dukungan terhadap percepatan dan pemerataan ekosistem digital Indonesia. [315] url asal
#dian-swastika-sentosa #morarepublic #ekamas-mora-republik #infrastruktur-digital #ekamas-mora-republik #morarepublic #dewan-komisaris #mora-telematika-indonesia #l-krisna-cahya #timotius-m-sulaiman
(CNN Indonesia - Ekonomi) 25/04/26 21:00
v/202841/
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melalui peresmian anak usahanya, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MoraRepublic), mempertegas dukungan terhadap agenda percepatan dan pemerataan ekosistem digital di Indonesia.
MoraRepublic merupakan hasil penggabungan PT Mora Telematika Indonesia Tbk dan PT Eka Mas Republik, anak usaha DSSA, yang baru berlaku efektif berlaku sejak 22 April 2026.
Dengan sinergi kepemimpinan dan infrastruktur yang lebih kuat, entitas baru ini diharapkan bisa menjawab kebutuhan konektivitas nasional yang terus berkembang.
"Kami melihat kebutuhan konektivitas akan terus tumbuh, dan MoraRepublic diposisikan untuk menjawab kebutuhan tersebut," ujar Presiden Direktur DSSA L Krisna Cahya dalam keterangan resmi, Jumat (24/4).
Setelah bergabung, perusahaan akan menyatukan jaringan backbone berkapasitas tinggi dengan layanan fiberto the home (FTTH) yang menjangkau pelanggan secara langsung.
Sinergi tersebut menggabungkan keunggulan Moratelindo yang memiliki lebih dari 57 ribu km serat optik dan 6data center, dengan MyRepublic Indonesia yang melayani lebih dari 1,52 juta pelanggan ritel dengan kecepatan hingga 1 Gbps.
Dengan penggabungan ini, perusahaan akan menghadirkan jaringan yang lebih stabil, cepat, dan dengan cakupan ekspansi yang lebih luas bagi seluruh segmen pelanggan.
"Ke depan, fokus kami adalah memperluas jangkauan, meningkatkan kualitas layanan, serta memastikan dampak yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia," ujar Krisnan.
Komisaris Utama Independen PT Ekamas Mora Republik Tbk Arsjad Rasjid menambahkan penggabungan tersebut adalah respons nyata terhadap kebutuhan konetivitas Indonesia yang terus berkembang.
"Dewan Komisaris berkomitmen untuk terus bekerja sama agar MoraRepublic dikelola dengan disiplin dan akuntabilitas tinggi, sehingga potensi ini benar-benar diterjemahkan menjadi dampak yang terukur bagi industri dan masyarakat Indonesia," ujarnya.
Lebih lanjut, Direktur Utama MoraRepublic Timotius M Sulaiman berharap penggabungan tersebut akan memperkuat posisi daya saing perusahaan untuk menciptakan nilai tambah bagi pelanggan, karyawan, negara, serta pemegang saham.
"Penggabungan ini membuat posisi PT Ekamas Mora Republik Tbk lebih kuat dan berdaya saing tinggi, sekaligus menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pelanggan, karyawan, negara, dan pemegang saham," ujar Timotius.
DSSA Perkuat Portofolio Bisnis Energi Hijau dan Konektivitas Digital
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menegaskan komitmen untuk mendukung pemerintah dalam transisi energi bersih. [664] url asal
#dssa #dian-swastika-sentosa #energi-hijau #ebt #cnn-climate #llm #medan #dssr-daya-mas-sakti #borneo-indobara #daniel-cahya #prabowo-subianto #kek-kendal #edc #sumatera #sinar-mas #energy-developm
(CNN Indonesia - Ekonomi) 02/04/26 21:00
v/180547/
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menegaskan komitmen untuk mendukung pemerintah dalam transisi energi hijau.
Wakil Presiden DIrektur DSSA Lokita Prasetya mengungkapkan perusahaan tengah memperkuat portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya pada sektor panas bumi dan tenaga surya, untuk menciptakan bauran energi yang lebih seimbang.
"Pendekatan kami adalah menjaga keandalan pasokan energi saat ini, sekaligus secara bertahap mengembangkan sumber energi yang lebih rendah emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang Perseroan," ujar Lokita saat menggelar media gathering di Jakarta, Kamis (2/4).
Komitmen perusahaan salah satunya diwujudkan melalui pengoperasian pabrik panel surya terintegrasi 1 GW di KEK Kendal.
"Ke depan kita akan mengembangkan bisnis solar panel ini, baik dari solar cell, bahkan mungkin kita membuat roadmap ke depan ke arah upstream untuk mendukung transisi energi dan ketahanan energi yang dicanangkan oleh Pak Prabowo (Presiden RI Prabowo Subianto)," terangnya.
Lokita berharap pemerintah memberikan dukungan untuk pengembangan industri panel surya dalam negeri seperti yang dilakukan sejumlah negara, seperti India.
Misalnya, dalam hal pengaturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) hingga pembatasan impor. Dengan demikian, pemain lokal bisa bersaing dan menjadi raja di negeri sendiri.
Selain panel surya, perusahaan juga mengembangkan proyek panas bumi melalui PT DSSR Daya Mas Sakti. Dengan total potensi mencapai 440 MW, Perseroan kini tengah mengakselerasi eksplorasi di enam wilayah strategis-mulai dari Cisolok dan Cipanas di Jawa Barat, hingga Sumatera, Flores, dan Sulawesi Tengah.
Menurut Lokita, langkah ini menjadi strategis mengingat Indonesia memiliki sekitar 40 persen potensi panas bumi global, yang merupakan sumber baseload energi hijau paling andal dalam jangka panjang.
Guna memperkuat kapabilitas teknis dan operasional, perusahaan juga menjalin kemitraan strategis dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia yang merupakan anak usaha Energy Development Corporation (EDC).
Di tempat yang sama, Direktur DSSA Daniel Cahya memperkirakan proyek geothermal itu akan menelan US$2 miliar atau sekitar Rp34 triliun (asumsi kurs Rp17 ribu per dolar AS) hingga 2029.
"Porsi financing-nya 75 persen debt, 25 persen dari equity," ujar Daniel.
Sektor energi sendiri akan tetap menjadi fondasi bisnis anak usaha Sinar Mas ini dengan fokus pada operasional yang efisien dan berkelanjutan.
Strategi ini diwujudkan melalui penguatan sustainable mining practices, mulai dari peningkatan efisiensi energi hingga pengelolaan lingkungan yang terintegrasi.
Langkah nyata ini telah diimplementasikan melalui akselerasi elektrifikasi armada operasional (EV fleets) di PT Borneo Indobara (BIB). Inisiatif tersebut tidak hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga memelopori transisi menuju green mining di sektor pertambangan.
Dengan adopsi teknologi ini, perusahaan memastikan operasional tetap relevan dengan kebutuhan energi masa depan sekaligus secara aktif menekan emisi karbon.
Seiring pertumbuhan ekonomi digital, perusahaan juga terus memperkuat bisnis di sektor infrastruktur digital & teknologi untuk mendukung kebutuhan konektivitas dan pengelolaan data di Indonesia.
Langkah strategis ini diperkuat melalui kemitraan dengan iFLYTEK untuk mengakselerasi transformasi digital berbasis AI di Indonesia, termasuk pengembangan berbagai solusi AI (AI use-case) & kapabilitas analitik berbasis LLM (Large Language Model) SPARK.
Sinergi ini dirancang untuk menghadirkan ekosistem digital yang lebih cerdas dan efisien di berbagai sektor industri terutama di kesehatan (healthcare), pendidikan (education) dan infrastruktur telekomunikasi & digital.
Saat ini, perusahaan mengoperasikan jaringan fiber optic sekitar 57 ribu km, dengan lebih dari 9 juta homepass dan sekitar 1 juta pelanggan broadband melalui MyRepublic Indonesia. Skala ini menjadi fondasi untuk memperluas akses digital di berbagai wilayah.
Penguatan infrastruktur ini juga didukung oleh pengembangan jaringan data center nasional yang mencakup 24 Edge Data Center di 23 pasar strategis dari Medan hingga Manado untuk memastikan pemrosesan data dengan latensi rendah.
Selain itu, perusahaan juga tengah menyiapkan Flagship Hub Jakarta SMX01, sebuah fasilitas Tier-IV AI-ready berkapasitas awal 18 MW di jantung CBD Jakarta yang dijadwalkan mulai beroperasi pada semester II 2026.
Menurut Daniel, peluang pasar masih terbuka besar, dengan sekitar 50 juta masyarakat yang belum terlayani internet secara optimal dan potensi pasar telekomunikasi nasional mencapai sekitar US$29 miliar. Pasar fixed broadband sendiri diproyeksikan tumbuh sekitar 10% setiap tahun dalam beberapa tahun ke depan.
Lebih lanjut, sepanjang 2026, perseroan juga menjalankan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat struktur bisnis, termasuk rencana stock split 1:25 yang akan dieksekusi pada 9 April 2026 mendatang.
Emiten Konglomerat ARCI, DSSA Cs Kejar Cuan Program Listrik Bersih Pemerintah
Pemerintah menargetkan bauran EBT 34,3% pada 2034, membuka peluang bagi DSSA, ARCI hingga FUTR untuk memperluas diversifikasi ke pembangkit listrik hijau. [1,323] url asal
#emiten-konglomerat #program-listrik-bersih #energi-bersih #pembangkit-listrik #diversifikasi-bisnis #energi-baru-terbarukan #panas-bumi #pt-dian-swastika-sentosa #pt-archi-indonesia #pt-futura-energi
(Bisnis.Com - Market) 28/11/25 06:00
v/53216/
Bisnis.com, JAKARTA – Arah kebijakan pemerintah yang makin tegas mendorong transisi menuju pembangkit listrik energi bersih membawa angin segar bagi sejumlah emiten. Tidak hanya pemain lama sektor energi, perusahaan yang berada dalam jaringan konglomerasi besar seperti DSSA hingga ARCI kini mulai mengakselerasi diversifikasi ke lini pembangkit hijau.
Tiga emiten teranyar yang mengumumkan rencana diversifikasi bisnis mereka adalah PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), hingga PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR). Dari ketiga emiten ini, segmentasi pendapatan dari energi baru terbarukan (EBT) masih berkontribusi mini, bahkan belum ada sama sekali.
Dimulai dari DSSA, emiten afiliasi Grup Sinar Mas ini melalui anak usahanya PT DSSR Daya Mas Sakti (DSSR) menjalin kerja sama pembentukan ventura bersama (JV) dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia (FGGI), entitas anak dari Energy Development Corporation (EDC) yang terafiliasi dengan perusahaan EBT raksasa asal Filipina, First Gen Corporation (First Gen).
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan DSSA pada Agustus 2025, kesepakatan pembentukan JV ini akan berfokus pada pengembangan dan pengelolaan sumber daya panas bumi dengan potensi gabungan sekitar 440 megawatt (MW) yang tersebar di enam wilayah strategis, yaitu di Jawa Barat, Flores, Jambi, Sumatra Barat, dan Sulawesi Tengah.
"Tujuan kami adalah memperkuat kapasitas nasional dan memanfaatkan potensi energi panas bumi untuk menghadirkan energi bersih. Bersama EDC, kami ingin memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan," kata Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya, dikutip Kamis (27/11/2025).
Pada 28 Oktober 2025, perseroan mengumumkan detail bentuk kerja sama tersebut. DSSR dan FGGI akan bersama-sama, mendirikan perusahaan-perusahaan induk, yaitu PT Daya Mas Bumi Sentosa dan PT Daya Mas Eka Sakti.
Keduanya akan menaungi perusahaan-perusahaan non-operator proyek (PT Daya Mas Geopatra Energi, PT Daya Mas Cisolok Energi, PT Daya Mas Nage Energi, PT Daya Graho Sakti Energi, PT Daya Bora Pulu Energi, dan PT Daya Koto Sani Energi), serta menaungi perusahaan operator proyek (PT Daya Mas Geopatra Pangrango, PT Daya Mas Cisolok Geothermal, PT Daya Mas Nage Geothermal, PT EDC Indonesia, PT EDC Panas Bumi Indonesia, dan PT Kotosani Tanjungbingkung Geothermal).
Pendirian perusahaan bersama tersebut dilakukan melalui penyetoran modal berupa aset dan dana tunai. Total nilai kemitraan ini mencapai Rp977,55 miliar. Untuk membentuk kerja sama yang kuat dan saling menguntungkan, kedua pihak memiliki struktur kepemilikan yang setara, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perusahaan-perusahaan tersebut.
Menilik rapor keuangan DSSA sepanjang semester I/2025, pendapatan perseroan yang didapat dari segmen EBT baru US$75.611, atau sekitar 0,005% dari total pendapatan usaha sebesar US$1,32 miliar.
Emiten berikutnya yang juga getol lakukan diversifikasi listrik bersih adalah PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI). Pada keterbukaan informasi 23 Agustus 2024, Emiten Grup Rajawali terafiliasi konglomerat Peter Sondakh itu telah mengumumkan telah membentuk usaha patungan bernama PT Toka Tindung Geothermal (TTG) bersama PT Ormat Geothermal Indonesia (Ormat), sebuah entitas usaha yang menjadi bagian dari perusahaan EBT asal Amerika Serikat Ormat Technologies Inc. Dalam usaha patungan ini, persentase kepemilikan ARCI dan Ormat masing-masing sebesar 5% dan 95%.
Pada 12 November 2025 perseroan memberi kabar terbaru. Perusahaan patungan yang dibentuk telah mengantongi izin panas bumi sejak 13 Juni 2025. Langkah selanjutnya yang dilakukan perusahaan adalah mendapatkan izin persetujuan lingkungan dan melakukan eksplorasi lebih lanjut untuk mengkonfirmasi suhu dan besaran sumber daya.
Targetnya, PT TTG bakal membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas sekitar 40 MW yang terletak di Kota Bitung, Sulawesi Utara.
"Perusahaan usaha patungan sebagaimana telah disebutkan di atas akan memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan usaha perseroan dan entitas anak, di mana kegiatan usaha atas perusahaan usaha patungan tersebut memiliki prospek untuk dapat melakukan produksi dan penjualan tenaga listrik dengan fasilitas panas bumi," tulis manajemen.
Berdirinya PT TTG ini melengkapi jaringan bisnis anak usaha maupun perusahaan asosiasi yang dinaungi ARCI di lintas segmen, yaitu di sektor pertambangan ada PT MSM dan PT TTN, sektor kontraktor jasa pertambangan ada PT GMA, serta sektor pemurnian emas dan produsen emas batangan telah memiliki PT EMAS.
Menilik rapor kinerja keuangan, ARCI sepanjang sembilan bulan pertama 2025 membukukan total pendapatan US$328,70 juta yang masih didominasi dari segmen pertambangan emas, yakni sebesar US$283,51 juta.
Selanjutnya, emiten ketiga yang tengah melebarkan sayap di portofolio pembangkit listrik EBT adalah PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR). Pada 7 Oktober 2025, manajemen mengumumkan bahwa perseroan bersama pengendali baru sedang bersiap melaksanakan studi kelayakan bisnis sektor EBT untuk ekspansi.
Sebagaimana diketahui, usai diakuisisi oleh PT Aurora Dhana Nusantara (Ardhantara), FUTR akan dipersiapkan menjadi holding energi terbarukan yang menggawangi proyek-proyek EBT melalui entitas anak usahanya, yaitu PT Hexa Putra Mekanikal (HPM) dan PT Futura Energi Prima (FEP).
Untuk memperluas portofolionya, Futura Energi telah menandatangani Nota Kesepakatan (MoU) pada tanggal 21 Oktober 2025 dengan Zhejiang Energy PV-Tech Co., Ltd dan PT Hypec International terkait pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bali berkapasitas 130 MW.
Sementara pada pengendali baru perseroan, PT Aurora Dhana Nusantara telah memiliki aset pembangkit listrik panas bumi PLTP Gunung Slamet melalui anak usaha, yaitu PT Sejahtera Alam Energy (SAE). SAE saat ini telah mengantongi kontrak perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan kapasitas 220 MW dan berdurasi 30 tahun setelah beroperasi komersial (commercial operation date/COD).
Untuk mengembangkan konsesi geothermal di Gunung Slamet, FUTR telah menyusun timeline rencana proyek, yakni pada 2025 ini dilakukan pemilihan mitra kerja untuk melakukan pengeboran (drilling), kemudian pada 2026 akan dilakukan pengeboran dengan target penambahan kapasitas 20 MW, selanjutnya pada 2027 akan dilaksanakan pengeboran lanjutan dan target COD.
Manajemen menghitung keperluan untuk mengeksekusi rencana tersebut akan membutuhkan investasi awal sebesar lebih dari US$85 juta atau sekitar Rp1,5 triliun. Sumber pendanaan proyek ini berasal dari kas internal, mitra kerja dan pihak ketiga lainnya. Selain itu, perseroan juga berencana melakukan right issue pada 2026.
Direktur Utama Futura Energi Global Tonny Agus Mulyantono percaya bahwa segmen EBT ke depan akan menjadi driven utama pendapatan perseroan.
"Sesuai dengan rencana kerja, perseroan akan mendapatkan pendapatan terbesar dari bisnis energi terbarukan melalui entitas anak usaha," ungkap Tonny.
Adapun, selama sembilan bulan pertama 2025 Futura Energi membukukan pendapatan neto sebesar Rp33,94 miliar. Pendapatan tersebut bersumber dari segmen perdagangan dan jasa penunjang konstruksi senilai Rp31,95 miliar, dan segmen konsultasi, periklanan, gudang kreatif dan lainnya mencapai Rp2,27 miliar, serta ada faktor diskon senilai Rp289,91 juta.
Dorongan Pemerintah
Research Analyst MNC Sekuritas, Christian Sitorus dalam risetnya yang terbit 18 November 2025, mengatakan saat ini partisipasi IPP dalam pengembangan pembangkit listrik energi bersih semakin banyak seiring dengan komitmen dan arah kebijakan pemerintah.
Sebagaimana diketahui, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 mencanangkan target bauran energi baru dan terbarukan pembangkit listrik di Indonesia pada akhir 2034 mencapai 34,3%.
Dalam skenario dasar (RE Base) pemerintah menargetkan kapasitas terpasang pembangkit listrik energi bersih sebesar 27.370 MW pada 2034, atau sebesar 42.569 MW dalam perhitungan skenario terbaik (ARED).
"Total potensi energi terbarukan Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 443 giga watt (GW) yang didominasi oleh tenaga surya dan tenaga air. Tingkat pemanfaatan yang masih rendah menunjukkan ruang pertumbuhan besar, terutama seiring penurunan biaya teknologi dan meningkatnya keekonomian penyimpanan energi," ujar Christian.
Bukan cuma di RUPTL 2025-2034 saja, komitmen pemerintah di energi bersih juga tertuang dalam Green Taxonomy 2.0 atau Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI versi 2).
Christian menilai prioritas pemerintah ini dapat mendukung bankability serta menurunkan biaya modal untuk proyek energi bersih yang selama ini menjadi tantangan utama. Apalagi, komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) yang dijalin Indonesia dengan negara-negara maju senilai US$21,4 miliar juga dinilai dapat mendukung dari sisi pendanaan.
"Kami mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor energi terbarukan, ditopang oleh pipeline proyek yang meningkat dan minat investor yang semakin besar terhadap aset hijau. Sektor ini diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba yang solid, didorong oleh estimasi investasi kumulatif sekitar US$30 miliar dan komitmen US$21,4 miliar dari JETP," pungkasnya.
________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Jejak Diversifikasi ARCHI-FUTR Cs dan Godaan Cuan Listrik Bersih
Perusahaan seperti DSSA, ARCI, dan FUTR diversifikasi ke energi bersih, memanfaatkan potensi besar sektor ini di Indonesia, sejalan dengan komitmen pemerintah. [1,306] url asal
#energi-bersih #listrik-energi-bersih #diversifikasi-bisnis #pt-dian-swastika-sentosa #pt-archi-indonesia #pt-futura-energi-global #energi-baru-terbarukan #panas-bumi #pembangkit-listrik-tenaga-panas-b
(Bisnis.Com - Market) 27/11/25 15:01
v/52477/
Bisnis.com, JAKARTA – Komitmen pemerintah menuju pembangkit listrik energi bersih direspons semarak oleh perusahaan-perusahaan terbuka dengan memulai diversifikasi bisnis mereka. Analis memperkirakan ada potensi pendapatan yang besar di sektor listrik energi bersih, sejalan dengan blueprint yang ditetapkan negara.
Tiga emiten teranyar yang mengumumkan rencana diversifikasi bisnis mereka adalah PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), hingga PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR). Dari ketiga emiten ini, segmentasi pendapatan dari energi baru terbarukan (EBT) masih berkontribusi mini, bahkan belum ada sama sekali.
Dimulai dari DSSA, emiten afiliasi Grup Sinar Mas ini melalui anak usahanya PT DSSR Daya Mas Sakti (DSSR) menjalin kerja sama pembentukan ventura bersama (JV) dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia (FGGI), entitas anak dari Energy Development Corporation (EDC) yang terafiliasi dengan perusahaan EBT raksasa asal Filipina, First Gen Corporation (First Gen).
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan DSSA pada Agustus 2025, kesepakatan pembentukan JV ini akan berfokus pada pengembangan dan pengelolaan sumber daya panas bumi dengan potensi gabungan sekitar 440 megawatt (MW) yang tersebar di enam wilayah strategis, yaitu di Jawa Barat, Flores, Jambi, Sumatra Barat, dan Sulawesi Tengah.
"Tujuan kami adalah memperkuat kapasitas nasional dan memanfaatkan potensi energi panas bumi untuk menghadirkan energi bersih. Bersama EDC, kami ingin memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan," kata Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya, dikutip Kamis (27/11/2025).
Pada 28 Oktober 2025, perseroan mengumumkan detail bentuk kerja sama tersebut. DSSR dan FGGI akan bersama-sama, mendirikan perusahaan-perusahaan induk, yaitu PT Daya Mas Bumi Sentosa dan PT Daya Mas Eka Sakti.
Keduanya akan menaungi perusahaan-perusahaan non-operator proyek (PT Daya Mas Geopatra Energi, PT Daya Mas Cisolok Energi, PT Daya Mas Nage Energi, PT Daya Graho Sakti Energi, PT Daya Bora Pulu Energi, dan PT Daya Koto Sani Energi), serta menaungi perusahaan operator proyek (PT Daya Mas Geopatra Pangrango, PT Daya Mas Cisolok Geothermal, PT Daya Mas Nage Geothermal, PT EDC Indonesia, PT EDC Panas Bumi Indonesia, dan PT Kotosani Tanjungbingkung Geothermal).
Pendirian perusahaan bersama tersebut dilakukan melalui penyetoran modal berupa aset dan dana tunai. Total nilai kemitraan ini mencapai Rp977,55 miliar. Untuk membentuk kerja sama yang kuat dan saling menguntungkan, kedua pihak memiliki struktur kepemilikan yang setara, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perusahaan-perusahaan tersebut.
Menilik rapor keuangan DSSA sepanjang semester I/2025, pendapatan perseroan yang didapat dari segmen EBT baru US$75.611, atau sekitar 0,005% dari total pendapatan usaha sebesar US$1,32 miliar.
Emiten berikutnya yang juga getol lakukan diversifikasi listrik bersih adalah PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI). Pada keterbukaan informasi 23 Agustus 2024, ARCI mengumumkan telah membentuk usaha patungan bernama PT Toka Tindung Geothermal (TTG) bersama PT Ormat Geothermal Indonesia (Ormat), sebuah entitas usaha yang menjadi bagian dari perusahaan EBT asal Amerika Serikat Ormat Technologies Inc. Dalam usaha patungan ini, persentase kepemilikan ARCI dan Ormat masing-masing sebesar 5% dan 95%.
Pada 12 November 2025 perseroan memberi kabar terbaru. Perusahaan patungan yang dibentuk telah mengantongi izin panas bumi sejak 13 Juni 2025. Langkah selanjutnya yang dilakukan perusahaan adalah mendapatkan izin persetujuan lingkungan dan melakukan eksplorasi lebih lanjut untuk mengkonfirmasi suhu dan besaran sumber daya.
Targetnya, PT TTG bakal membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas sekitar 40 MW yang terletak di Kota Bitung, Sulawesi Utara.
"Perusahaan usaha patungan sebagaimana telah disebutkan di atas akan memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan usaha perseroan dan entitas anak, di mana kegiatan usaha atas perusahaan usaha patungan tersebut memiliki prospek untuk dapat melakukan produksi dan penjualan tenaga listrik dengan fasilitas panas bumi," tulis manajemen.
Berdirinya PT TTG ini melengkapi jaringan bisnis anak usaha maupun perusahaan asosiasi yang dinaungi ARCI di lintas segmen, yaitu di sektor pertambangan ada PT MSM dan PT TTN, sektor kontraktor jasa pertambangan ada PT GMA, serta sektor pemurnian emas dan produsen emas batangan telah memiliki PT EMAS.
Menilik rapor kinerja keuangan, ARCI sepanjang sembilan bulan pertama 2025 membukukan total pendapatan US$328,70 juta yang masih didominasi dari segmen pertambangan emas, yakni sebesar US$283,51 juta.
Selanjutnya, emiten ketiga yang tengah melebarkan sayap di portofolio pembangkit listrik EBT adalah PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR). Pada 7 Oktober 2025, manajemen mengumumkan bahwa perseroan bersama pengendali baru sedang bersiap melaksanakan studi kelayakan bisnis sektor EBT untuk ekspansi.
Sebagaimana diketahui, usai diakuisisi oleh PT Aurora Dhana Nusantara (Ardhantara), FUTR akan dipersiapkan menjadi holding energi terbarukan yang menggawangi proyek-proyek EBT melalui entitas anak usahanya, yaitu PT Hexa Putra Mekanikal (HPM) dan PT Futura Energi Prima (FEP).
Untuk memperluas portofolionya, Futura Energi telah menandatangani Nota Kesepakatan (MoU) pada tanggal 21 Oktober 2025 dengan Zhejiang Energy PV-Tech Co., Ltd dan PT Hypec International terkait pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bali berkapasitas 130 MW.
Sementara pada pengendali baru perseroan, PT Aurora Dhana Nusantara telah memiliki aset pembangkit listrik panas bumi PLTP Gunung Slamet melalui anak usaha, yaitu PT Sejahtera Alam Energy (SAE). SAE saat ini telah mengantongi kontrak perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan kapasitas 220 MW dan berdurasi 30 tahun setelah beroperasi komersial (commercial operation date/COD).
Untuk mengembangkan konsesi geothermal di Gunung Slamet, FUTR telah menyusun timeline rencana proyek, yakni pada 2025 ini dilakukan pemilihan mitra kerja untuk melakukan pengeboran (drilling), kemudian pada 2026 akan dilakukan pengeboran dengan target penambahan kapasitas 20 MW, selanjutnya pada 2027 akan dilaksanakan pengeboran lanjutan dan target COD.
Manajemen menghitung keperluan untuk mengeksekusi rencana tersebut akan membutuhkan investasi awal sebesar lebih dari US$85 juta atau sekitar Rp1,5 triliun. Sumber pendanaan proyek ini berasal dari kas internal, mitra kerja dan pihak ketiga lainnya. Selain itu, perseroan juga berencana melakukan right issue pada 2026.
Direktur Utama Futura Energi Global Tonny Agus Mulyantono percaya bahwa segmen EBT ke depan akan menjadi driven utama pendapatan perseroan.
"Sesuai dengan rencana kerja, perseroan akan mendapatkan pendapatan terbesar dari bisnis energi terbarukan melalui entitas anak usaha," ungkap Tony.
Adapun, selama sembilan bulan pertama 2025 Futura Energi membukukan pendapatan neto sebesar Rp33,94 miliar. Pendapatan tersebut bersumber dari segmen perdagangan dan jasa penunjang konstruksi senilai Rp31,95 miliar, dan segmen konsultasi, periklanan, gudang kreatif dan lainnya mencapai Rp2,27 miliar, serta ada faktor diskon senilai Rp289,91 juta.
Research Analyst MNC Sekuritas, Christian Sitorus dalam risetnya yang terbit 18 November 2025, mengatakan saat ini partisipasi IPP dalam pengembangan pembangkit listrik energi bersih semakin banyak seiring dengan komitmen dan arah kebijakan pemerintah.
Sebagaimana diketahui, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 mencanangkan target bauran energi baru dan terbarukan pembangkit listrik di Indonesia pada akhir 2034 mencapai 34,3%.
Dalam skenario dasar (RE Base) pemerintah menargetkan kapasitas terpasang pembangkit listrik energi bersih sebesar 27.370 MW pada 2034, atau sebesar 42.569 MW dalam perhitungan skenario terbaik (ARED).
"Total potensi energi terbarukan Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 443 giga watt (GW) yang didominasi oleh tenaga surya dan tenaga air. Tingkat pemanfaatan yang masih rendah menunjukkan ruang pertumbuhan besar, terutama seiring penurunan biaya teknologi dan meningkatnya keekonomian penyimpanan energi," ujar Christian.
Bukan cuma di RUPTL 2025-2034 saja, komitmen pemerintah di energi bersih juga tertuang dalam Green Taxonomy 2.0 atau Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI versi 2).
Christian menilai prioritas pemerintah ini dapat mendukung bankability serta menurunkan biaya modal untuk proyek energi bersih yang selama ini menjadi tantangan utama. Apalagi, komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) yang dijalin Indonesia dengan negara-negara maju senilai US$21,4 miliar juga dinilai dapat mendukung dari sisi pendanaan.
"Kami mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor energi terbarukan, ditopang oleh pipeline proyek yang meningkat dan minat investor yang semakin besar terhadap aset hijau. Sektor ini diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba yang solid, didorong oleh estimasi investasi kumulatif sekitar US$30 miliar dan komitmen US$21,4 miliar dari JETP," pungkasnya.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)