Bisnis.com, JAKARTA – Arah kebijakan pemerintah yang makin tegas mendorong transisi menuju pembangkit listrik energi bersih membawa angin segar bagi sejumlah emiten. Tidak hanya pemain lama sektor energi, perusahaan yang berada dalam jaringan konglomerasi besar seperti DSSA hingga ARCI kini mulai mengakselerasi diversifikasi ke lini pembangkit hijau.
Tiga emiten teranyar yang mengumumkan rencana diversifikasi bisnis mereka adalah PT Dian Swastika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI), hingga PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR). Dari ketiga emiten ini, segmentasi pendapatan dari energi baru terbarukan (EBT) masih berkontribusi mini, bahkan belum ada sama sekali.
Dimulai dari DSSA, emiten afiliasi Grup Sinar Mas ini melalui anak usahanya PT DSSR Daya Mas Sakti (DSSR) menjalin kerja sama pembentukan ventura bersama (JV) dengan PT FirstGen Geothermal Indonesia (FGGI), entitas anak dari Energy Development Corporation (EDC) yang terafiliasi dengan perusahaan EBT raksasa asal Filipina, First Gen Corporation (First Gen).
Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan DSSA pada Agustus 2025, kesepakatan pembentukan JV ini akan berfokus pada pengembangan dan pengelolaan sumber daya panas bumi dengan potensi gabungan sekitar 440 megawatt (MW) yang tersebar di enam wilayah strategis, yaitu di Jawa Barat, Flores, Jambi, Sumatra Barat, dan Sulawesi Tengah.
"Tujuan kami adalah memperkuat kapasitas nasional dan memanfaatkan potensi energi panas bumi untuk menghadirkan energi bersih. Bersama EDC, kami ingin memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, ekonomi, dan lingkungan," kata Wakil Presiden Direktur DSSA, Lokita Prasetya, dikutip Kamis (27/11/2025).
Pada 28 Oktober 2025, perseroan mengumumkan detail bentuk kerja sama tersebut. DSSR dan FGGI akan bersama-sama, mendirikan perusahaan-perusahaan induk, yaitu PT Daya Mas Bumi Sentosa dan PT Daya Mas Eka Sakti.
Keduanya akan menaungi perusahaan-perusahaan non-operator proyek (PT Daya Mas Geopatra Energi, PT Daya Mas Cisolok Energi, PT Daya Mas Nage Energi, PT Daya Graho Sakti Energi, PT Daya Bora Pulu Energi, dan PT Daya Koto Sani Energi), serta menaungi perusahaan operator proyek (PT Daya Mas Geopatra Pangrango, PT Daya Mas Cisolok Geothermal, PT Daya Mas Nage Geothermal, PT EDC Indonesia, PT EDC Panas Bumi Indonesia, dan PT Kotosani Tanjungbingkung Geothermal).
Pendirian perusahaan bersama tersebut dilakukan melalui penyetoran modal berupa aset dan dana tunai. Total nilai kemitraan ini mencapai Rp977,55 miliar. Untuk membentuk kerja sama yang kuat dan saling menguntungkan, kedua pihak memiliki struktur kepemilikan yang setara, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam perusahaan-perusahaan tersebut.
Menilik rapor keuangan DSSA sepanjang semester I/2025, pendapatan perseroan yang didapat dari segmen EBT baru US$75.611, atau sekitar 0,005% dari total pendapatan usaha sebesar US$1,32 miliar.
Emiten berikutnya yang juga getol lakukan diversifikasi listrik bersih adalah PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI). Pada keterbukaan informasi 23 Agustus 2024, Emiten Grup Rajawali terafiliasi konglomerat Peter Sondakh itu telah mengumumkan telah membentuk usaha patungan bernama PT Toka Tindung Geothermal (TTG) bersama PT Ormat Geothermal Indonesia (Ormat), sebuah entitas usaha yang menjadi bagian dari perusahaan EBT asal Amerika Serikat Ormat Technologies Inc. Dalam usaha patungan ini, persentase kepemilikan ARCI dan Ormat masing-masing sebesar 5% dan 95%.
Pada 12 November 2025 perseroan memberi kabar terbaru. Perusahaan patungan yang dibentuk telah mengantongi izin panas bumi sejak 13 Juni 2025. Langkah selanjutnya yang dilakukan perusahaan adalah mendapatkan izin persetujuan lingkungan dan melakukan eksplorasi lebih lanjut untuk mengkonfirmasi suhu dan besaran sumber daya.
Targetnya, PT TTG bakal membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) berkapasitas sekitar 40 MW yang terletak di Kota Bitung, Sulawesi Utara.
"Perusahaan usaha patungan sebagaimana telah disebutkan di atas akan memberikan dampak positif terhadap keberlangsungan usaha perseroan dan entitas anak, di mana kegiatan usaha atas perusahaan usaha patungan tersebut memiliki prospek untuk dapat melakukan produksi dan penjualan tenaga listrik dengan fasilitas panas bumi," tulis manajemen.
Berdirinya PT TTG ini melengkapi jaringan bisnis anak usaha maupun perusahaan asosiasi yang dinaungi ARCI di lintas segmen, yaitu di sektor pertambangan ada PT MSM dan PT TTN, sektor kontraktor jasa pertambangan ada PT GMA, serta sektor pemurnian emas dan produsen emas batangan telah memiliki PT EMAS.
Menilik rapor kinerja keuangan, ARCI sepanjang sembilan bulan pertama 2025 membukukan total pendapatan US$328,70 juta yang masih didominasi dari segmen pertambangan emas, yakni sebesar US$283,51 juta.
Selanjutnya, emiten ketiga yang tengah melebarkan sayap di portofolio pembangkit listrik EBT adalah PT Futura Energi Global Tbk. (FUTR). Pada 7 Oktober 2025, manajemen mengumumkan bahwa perseroan bersama pengendali baru sedang bersiap melaksanakan studi kelayakan bisnis sektor EBT untuk ekspansi.
Sebagaimana diketahui, usai diakuisisi oleh PT Aurora Dhana Nusantara (Ardhantara), FUTR akan dipersiapkan menjadi holding energi terbarukan yang menggawangi proyek-proyek EBT melalui entitas anak usahanya, yaitu PT Hexa Putra Mekanikal (HPM) dan PT Futura Energi Prima (FEP).
Untuk memperluas portofolionya, Futura Energi telah menandatangani Nota Kesepakatan (MoU) pada tanggal 21 Oktober 2025 dengan Zhejiang Energy PV-Tech Co., Ltd dan PT Hypec International terkait pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Bali berkapasitas 130 MW.
Sementara pada pengendali baru perseroan, PT Aurora Dhana Nusantara telah memiliki aset pembangkit listrik panas bumi PLTP Gunung Slamet melalui anak usaha, yaitu PT Sejahtera Alam Energy (SAE). SAE saat ini telah mengantongi kontrak perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) dengan kapasitas 220 MW dan berdurasi 30 tahun setelah beroperasi komersial (commercial operation date/COD).
Untuk mengembangkan konsesi geothermal di Gunung Slamet, FUTR telah menyusun timeline rencana proyek, yakni pada 2025 ini dilakukan pemilihan mitra kerja untuk melakukan pengeboran (drilling), kemudian pada 2026 akan dilakukan pengeboran dengan target penambahan kapasitas 20 MW, selanjutnya pada 2027 akan dilaksanakan pengeboran lanjutan dan target COD.
Manajemen menghitung keperluan untuk mengeksekusi rencana tersebut akan membutuhkan investasi awal sebesar lebih dari US$85 juta atau sekitar Rp1,5 triliun. Sumber pendanaan proyek ini berasal dari kas internal, mitra kerja dan pihak ketiga lainnya. Selain itu, perseroan juga berencana melakukan right issue pada 2026.
Direktur Utama Futura Energi Global Tonny Agus Mulyantono percaya bahwa segmen EBT ke depan akan menjadi driven utama pendapatan perseroan.
"Sesuai dengan rencana kerja, perseroan akan mendapatkan pendapatan terbesar dari bisnis energi terbarukan melalui entitas anak usaha," ungkap Tonny.
Adapun, selama sembilan bulan pertama 2025 Futura Energi membukukan pendapatan neto sebesar Rp33,94 miliar. Pendapatan tersebut bersumber dari segmen perdagangan dan jasa penunjang konstruksi senilai Rp31,95 miliar, dan segmen konsultasi, periklanan, gudang kreatif dan lainnya mencapai Rp2,27 miliar, serta ada faktor diskon senilai Rp289,91 juta.
Dorongan Pemerintah
Research Analyst MNC Sekuritas, Christian Sitorus dalam risetnya yang terbit 18 November 2025, mengatakan saat ini partisipasi IPP dalam pengembangan pembangkit listrik energi bersih semakin banyak seiring dengan komitmen dan arah kebijakan pemerintah.
Sebagaimana diketahui, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 mencanangkan target bauran energi baru dan terbarukan pembangkit listrik di Indonesia pada akhir 2034 mencapai 34,3%.
Dalam skenario dasar (RE Base) pemerintah menargetkan kapasitas terpasang pembangkit listrik energi bersih sebesar 27.370 MW pada 2034, atau sebesar 42.569 MW dalam perhitungan skenario terbaik (ARED).
"Total potensi energi terbarukan Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 443 giga watt (GW) yang didominasi oleh tenaga surya dan tenaga air. Tingkat pemanfaatan yang masih rendah menunjukkan ruang pertumbuhan besar, terutama seiring penurunan biaya teknologi dan meningkatnya keekonomian penyimpanan energi," ujar Christian.
Bukan cuma di RUPTL 2025-2034 saja, komitmen pemerintah di energi bersih juga tertuang dalam Green Taxonomy 2.0 atau Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI versi 2).
Christian menilai prioritas pemerintah ini dapat mendukung bankability serta menurunkan biaya modal untuk proyek energi bersih yang selama ini menjadi tantangan utama. Apalagi, komitmen Just Energy Transition Partnership (JETP) yang dijalin Indonesia dengan negara-negara maju senilai US$21,4 miliar juga dinilai dapat mendukung dari sisi pendanaan.
"Kami mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor energi terbarukan, ditopang oleh pipeline proyek yang meningkat dan minat investor yang semakin besar terhadap aset hijau. Sektor ini diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba yang solid, didorong oleh estimasi investasi kumulatif sekitar US$30 miliar dan komitmen US$21,4 miliar dari JETP," pungkasnya.
________
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.