Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Ciputra Indonesia atau Ciputra Life mencatat hampir 80% pendapatan premi perusahaan berasal dari kontribusi produk asuransi kumpulan, khususnya dari produk asuransi jiwa kredit.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Ciputra Life Listianawati Sugiyanto kala menanggapi pengaruh masih dominannya persentase pekerja informal di RI yang mencapai 57,80% dan menurunnya jumlah pengangguran pada Agustus 2025.
“Pendapatan premi Ciputra Life hampir 80% berasal dari kontribusi produk Asuransi Jiwa Kredit [yang merupakan premi asuransi kumpulan], baik untuk melindungi nasabah yang mengambil kredit KPR maupun kredit kendaraan bermotor,” ungkapnya kepada Bisnis, dikutip Selasa (11/11/2025).
Dengan demikian, Listianawati menjelaskan untuk menjaring pekerja informal menjadi pemegang polis, perusahaannya fokus meningkatkan akses, memudahkan layanan, dan mengembangkan produk yang lebih sederhana sehingga mudah dipahami masyarakat.
“Kami juga melakukan beberapa kampanye edukasi yang berkelanjutan dan berkolaborasi dengan berbagai pihak dan juga berkolaborasi dengan beberapa komunitas lokal,” tutur dia.
Adapun, realisasi pengembangan produk telah dilakukan Ciputra Life pada pertengahan tahun 2024, ketika perusahaan meluncurkan asuransi Ciputra Medical Insurance dengan menyasar segmen korporasi.
Listianawati berujar produk asuransi ini ditujukan untuk memberikan perlindungan kesehatan kepada karyawan dan keluarga karyawan serta dapat melengkapi perlindungan BPJS yang telah dimiliki.
“Sehingga korporasi atau perusahaan dapat memberikan keamanan dan kenyamanan kepada karyawan dalam bekerja dan meningkatkan produktivitas karyawan,” ucapnya.
Lebih lanjut, dia berpendapat ada pergeseran preferensi antara produk perorangan (individu) dan kumpulan dalam 1—2 tahun terakhir. Menurutnya, pertumbuhan yang signifikan saat ini berada pada produk asuransi kumpulan.
Dirinya menilai demikian lantaran merujuk data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), jumlah tertanggung industri asuransi jiwa mengalami lonjakan yang didorong oleh pertumbuhan signifikan segmen asuransi kumpulan.
Menilik data AAJI, pendapatan premi kumpulan per semester I/2025 mencapai Rp17,68 triliun atau tumbuh 4,68%. Sementara itu, premi perorangan turun 2,35% menjadi 69,92 triliun.
“Perlambatan ekonomi global dan domestik serta pelemahan daya beli masyarakat juga berpengaruh kepada prospek industri asuransi. Dalam kondisi ini, asuransi kumpulan yang umumnya ditawarkan melalui perusahaan atau organisasi dengan premi yang relatif lebih efisien menjadi pilihan yang menarik,” jelas Listianawati.
Lebih jauh, dia menyebut pendapatan premi dari Januari 2025 hingga September 2025 Ciputra Life mencapai Rp365 miliar. Nilai ini setara dengan 83% dari pendapatan premi per September 2025. Artinya, premi per kuartal III/2025 ini terkontraksi sebesar 16,63%.
Meski begitu, dia menegaskan bahwa laba komprehensif per September 2025 di perusahaannya tersebut berhasil meningkat sebesar 99,87% menjadi Rp77,79 miliar.
Pengangguran Berkurang Tak Otomatis Dorong Pertumbuhan Asuransi Jiwa
Pakar asuransi dan praktisi senior Julian Noor berpendapat penurunan tingkat pengangguran RI per Agustus 2025 menjadi 7,46 juta orang dari 7,47 juta orang pada Agustus 2024 belum tentu akan berpengaruh langsung terhadap peningkatan premi atau kinerja industri asuransi jiwa.
Pasalnya, menurut dia kontribusi terhadap pasar asuransi jiwa lebih banyak datang dari kelompok pekerja formal, bukan pekerja informal yang justru jumlahnya saat ini masih dominan dalam pasar tenaga kerja RI.
“Nah yang berpengaruh terhadap asuransi jiwa tuh pekerja formal sebetulnya, karena di pekerja formal ini satu ya, mereka [perusahaan] tuh kan harus kemudian menanggung asuransi kesehatan sebetulnya,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Selasa (11/11/2025).
Sebab demikian, dia menekankan jumlah pengangguran dari Agustus 2024 ke Agustus 2025 yang menurun sebanyak 4.000 orang tidak serta-merta memberikan peluang di industri asuransi jiwa.
“Nah kalau menurut saya kesimpulan itu mesti dilihat dulu nih, yang kemudian turun ini pekerja formal atau pekerja informal sebetulnya. Yang punya opportunity untuk menjadi pasarnya asuransi jiwa adalah pekerja formal sebetulnya,” tutupnya.
Sebagai informasi, jumlah pengangguran pada Agustus 2025 tercatat sebanyak 7,46 juta orang atau turun tipis dari Agustus 2024 sebanyak 7,47 juta orang. Dengan demikian, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pun turun.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan jumlah pengangguran dari Agustus 2024 ke Agustus 2025 sebanyak 4.000 orang. Penurunan angka pengangguran itu terjadi di tengah tingginya juga angka pemutusan hubungan kerja (PHK).
Di satu sisi pula proporsi penduduk bekerja sebagai buruh, karyawan, atau pegawai turun berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025. Pada periode tersebut, BPS melaporkan bahwa jumlah penduduk bekerja sebanyak 146,54 juta orang.
Sebesar 38,74% di antaranya berstatus sebagai buruh/karyawan/pegawai. Dengan demikian, persentase pekerja informal masih dominan dalam pasar tenaga kerja RI. Hal itu ditunjukkan dari persentase pekerja informal yang masih sebesar 57,80%.