#30 tag 24jam
BRInita Perkuat Pengembangan Kebun Gangnam di Jakut, Jadi Ruang Produktif Warga
Kebun Gangnam di Jakarta Utara bertransformasi dari lahan penuh sampah menjadi pusat urban farming dan edukasi berkat dukungan BRInita BRI Peduli. - Bagian all [1,161] url asal
JAKARTA, iNews.id - Hamparan sayuran hijau yang tumbuh subur di Kebun Pegangsaan Dua Menanam (Gangnam), Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, menyimpan cerita panjang. Kebun tersebut merupakan hasil transformasi lahan telantar menjadi ruang produktif yang bermanfaat bagi masyarakat.
Di atas lahan seluas sekitar 1.330 meter persegi itu, tumbuh berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Warga datang untuk membeli hasil panen, belajar bercocok tanam, hingga mengikuti berbagai kegiatan edukasi lingkungan.
Tak hanya itu, kawasan tersebut juga menjadi bagian dari upaya penanganan stunting melalui budidaya lele yang hasilnya diolah menjadi makanan bergizi bagi balita. Padahal, menurut Lurah Pegangsaan Dua Sarmudi, kondisi kawasan tersebut jauh berbeda beberapa tahun lalu. “Dulu lokasi ini semak belukar, banyak bedeng-bedeng liar, banyak puing-puing, banyak sampah. Pokoknya kalau orang lewat sini melihat ke sini matanya sakit,” kata Sarmudi saat ditemui iNews.id pada Kamis (4/6/2026). Transformasi lahan menjadi Kebun Gangnam dimulai pada September 2023 melalui program penataan kawasan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Berbagai instansi teknis dilibatkan untuk mengubah lahan yang semula tidak produktif itu menjadi area pertanian perkotaan atau urban farming. Sarmudi mengatakan prosesnya tidak mudah. Kondisi tanah yang didominasi bebatuan membuat kawasan tersebut harus diratakan terlebih dahulu menggunakan alat berat sebelum ditimbun tanah yang layak untuk budidaya tanaman. “Dulu tanah bawahnya bebatuan, bukan langsung tanah. Jadi diratakan dulu pakai alat berat, baru di atasnya diberikan tanah merah supaya bisa ditanami,” ujarnya. Setelah penataan kawasan selesai, Kelurahan Pegangsaan Dua bersama kelompok tani mulai mengembangkan berbagai komoditas pertanian. Menurut Sarmudi, Kebun Gangnam memiliki sekitar 70 jenis tanaman yang ditanam secara bergantian sesuai musim dan kebutuhan pasar. “Kalau bulan ini terong, bulan berikutnya cabai. Kalau menjelang Ramadan biasanya kita tanam timun suri. Jadi bergantian,” kata Sarmudi. Meski memiliki banyak jenis tanaman, kangkung dan pakcoi menjadi komoditas yang paling rutin dibudidayakan. Kangkung ditanam langsung di lahan tanah, sementara pakcoi dikembangkan melalui sistem hidroponik. “Kangkung hampir setiap bulan kita tanam. Setelah panen tanahnya digemburkan lagi lalu ditanam kembali,” ujarnya. Hasil panen Kebun Gangnam bahkan sempat disalurkan ke salah satu rumah makan di kawasan Jakarta Utara. Kangkung dan berbagai jenis sayuran lainnya langsung dikirim ke rumah makan tersebut begitu dipanen. Selain itu, hasil panen juga dinikmati masyarakat sekitar. Setiap Jumat, Kelompok Tani Gangnam menggelar program Jumat Berkah yang memungkinkan warga membawa pulang sayuran secara gratis. “Kalau hari Jumat warga yang datang olahraga atau berkunjung boleh ambil sayuran gratis,” ujarnya. Sementara pada hari biasa, warga dapat membeli hasil panen langsung dari kebun. Bahkan pengunjung diperbolehkan memetik sendiri sayuran yang ingin dibeli sebelum ditimbang dan dibayar secara non-tunai menggunakan mesin EDC BRI. “Kalau ada yang mau beli silakan petik sendiri. Setelah itu ditimbang dan bisa bayar non-cash,” katanya. Perkembangan Kebun Gangnam semakin pesat setelah mendapat dukungan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli, yakni BRI Bertani di Kota (BRInita). Menurut Sarmudi, bantuan tersebut tidak hanya berupa sarana dan prasarana, tetapi juga peningkatan kapasitas bagi para pengelola kebun. “Pernah ada pelatihan dari BRI terkait cara menanam, memelihara tanaman, sampai bagaimana menjaga kesuburan tanah setelah panen,” ujarnya. Pelatihan tersebut dinilai penting karena produktivitas lahan tidak hanya ditentukan oleh proses tanam dan panen, tetapi juga bagaimana tanah diregenerasi agar tetap subur. “Nah itu juga ada pelatihannya. Jadi tanahnya tidak terus-menerus dipakai tanpa perawatan karena nanti kesuburannya berkurang,” kata Sarmudi. Selain mendukung kegiatan pertanian, kawasan ini juga berkembang menjadi pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat. Warga maupun anak-anak sekolah yang ingin belajar bercocok tanam dapat mendaftar melalui akun media sosial Kebun Gangnam dan mengikuti kegiatan edukasi secara terjadwal. Di kawasan tersebut juga telah tersedia rumah edukasi yang digunakan sebagai ruang pembelajaran sebelum peserta melakukan praktik langsung di kebun. “Kalau warga atau sekolah mau belajar tentang cara menanam sayuran dan buah-buahan bisa datang ke sini. Bahkan kita kasih bibitnya juga untuk ditanam di rumah,” ujarnya. Sarmudi menilai dukungan BRI memberikan manfaat besar karena membantu memperluas fungsi Kebun Gangnam. Dia mengatakan Kebun Gangnam bukan hanya sebagai tempat produksi pangan, tetapi juga sarana pemberdayaan masyarakat. “Sangat bermanfaat tentunya (dukungan BRI), karena keberadaan Kebun Gangnam ini bisa memberikan dampak bagi warga sekitar. Di Jakarta lahan sangat terbatas, tapi warga bisa belajar memanfaatkan pekarangan sempit untuk bercocok tanam,” katanya. Manfaat program BRInita juga dirasakan langsung oleh Kelompok Tani Gangnam yang sehari-hari mengelola kawasan tersebut. Koordinator Lapangan Kelompok Tani Gangnam Yunus Banul mengatakan bantuan dari BRI mewujudkan sejumlah fasilitas yang belum dimiliki kelompok tani. Menurut dia, bantuan yang diberikan mencakup rak budidaya tanaman, rumah bibit, dan kandang ayam. “Jadi tadinya kita enggak punya rak melon ini. Memang cita-citanya mau ada dan akhirnya dibantu oleh BRI. Alhamdulillah sekarang sudah dua kali panen,” ujar Yunus kepada iNews.id. Fasilitas tersebut diberikan sekitar tujuh bulan lalu setelah kelompok tani mengajukan proposal pengembangan kepada BRI. Tak hanya bantuan fisik, Kelompok Tani Gangnam juga memperoleh berbagai pelatihan teknis yang mendukung peningkatan produktivitas. “Ada pelatihan budidaya lele, pelatihan ternak ayam, sampai pelatihan melon. Jadi dari pembenihan sampai panen diajarkan,” kata Yunus. Berkat dukungan tersebut, Kelompok Tani Gangnam kini mampu mengembangkan berbagai komoditas pertanian dan perikanan yang memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat. Sebagian besar hasil panen dijual kepada warga sekitar dengan harga terjangkau. Kangkung misalnya dijual sekitar Rp15.000 per kilogram, sementara pakcoi sekitar Rp12.000 per kilogram. “Kalau satu ikat biasanya Rp3.000 sampai Rp5.000 tergantung jenis sayurannya,” ujar Yunus. Selain sayuran, Kelompok Tani Gangnam juga mengembangkan melon dan jagung ketan yang cukup diminati masyarakat. “Kalau jagung ketan yang sekarang bahkan sudah dipesan semua sebelum panen,” katanya. Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota kelompok tani maupun masyarakat sekitar. "Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujar Dhanny. Dia menyatakan kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi sekaligus menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah, yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. "Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny. Editor: Rizky Agustian

Craftote Tembus Pasar 4 Negara lewat Pemberdayaan BRI, Produk Serat Alam Go Global

BRI KPR Solusi Promo hingga Tenor 20 Tahun dan Bunga Mulai 2,50%, Makin Mudah Miliki Properti Impian

Lewat LinkUMKM BRI, Zdrink Kembangkan Minuman Cokelat Instan Berbahan Kakao Khas Lampung


Dukungan BRInita Perkuat Pengembangan Kebun

Fasilitas dari BRInita Tingkatkan Produktivitas Kelompok Tani

Dukungan BRI Dorong Ketahanan Pangan
Dukungan BRI Bantu KWT Mawar 8 Jaga Mutu Panen, Sayuran Makin Berkualitas
KWT Mawar 8 di Kota Tangerang mengutamakan kualitas sayuran hidroponik untuk warga sekitar. - Bagian all [894] url asal
TANGERANG, iNews.id - Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8 di RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, berupaya menjaga kualitas hasil panen kebun hidroponik secara maksimal. Mereka memiliki prinsip agar warga sekitar mendapatkan sayuran segar dengan kualitas terbaik.
Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini, mengatakan kelompoknya selalu mengutamakan kualitas sayuran yang dipasarkan kepada warga sekitar. Karena tanpa menggunakan pestisida kimia, tanaman harus dipantau setiap hari untuk mengantisipasi serangan hama maupun dampak cuaca.
“Pokoknya gak boleh ada yang jelek dikit. Jadi kita kasih yang terbagus,” kata Yuliana saat ditemui iNews.id, dikutip Sabtu (30/5/2026).

Kualitas Panen Jadi Prioritas Utama
Menurut dia, anggota KWT sering memanen tanaman lebih cepat ketika melihat tanda-tanda serangan hama. Langkah itu dilakukan agar kualitas sayuran tetap terjaga saat sampai ke tangan warga. “Kita panen kalau sekiranya mau ada ulat, panen sekarang. Kita jual walaupun belum maksimal untuk menjaga kualitasnya,” ujarnya. Yuliana mengatakan hasil panen KWT Mawar 8 selama ini diprioritaskan untuk masyarakat sekitar. Sayuran dijual dengan harga terjangkau agar bisa dinikmati lebih banyak warga. “Kalau bisa warga semuanya menikmati sayuran yang ada di sini kualitasnya yang bagus, tanpa obat macam-macam,” katanya. Menurut dia, warga sekitar sudah cukup akrab dengan aktivitas panen KWT Mawar 8. Bahkan tak sedikit yang rutin menunggu informasi panen melalui grup WhatsApp lingkungan. Sayuran yang dipanen antara lain pokcoy, caisim, bayam, seledri, hingga sawi pahit. Harga yang ditawarkan pun relatif murah, berkisar Rp10.000 per kemasan. Jika kualitas hasil panen sedikit menurun akibat faktor cuaca, harga akan disesuaikan. “Yang beli senang sih, sayurannya lebih manis, muda. Harganya paling tinggi Rp10.000 satu pak,” kata Yuliana. Komitmen menjaga kualitas tersebut semakin mudah dilakukan setelah KWT Mawar 8 mendapatkan dukungan fasilitas dari program BRI Peduli Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta BRI Bertani di Kota (BRInita). Bantuan tersebut berupa rumah hidroponik, rumah semai, pendopo, hingga perbaikan area kebun yang sebelumnya rawan banjir. Menurut dia, bantuan dari BRI sangat membantu perkembangan kebun hidroponik yang sebelumnya serba terbatas. Berbagai fasilitas yang diberikan BRI, mulai dari rumah semai, pendopo, hingga perbaikan area kebun, mampu menunjang aktivitas kelompoknya. Bahkan, kata Yuliana, perwakilan BRI secara proaktif mencatat dan memenuhi kebutuhan yang dianggap penting untuk menunjang perkembangan kebun KWT Mawar 8. “Pokoknya butuhnya apa yang menunjang kemajuan ini (KWT Mawar 8), okelah,” katanya. Sementara itu, Sekretaris KWT Mawar 8 Lie Vonny menambahkan kelompoknya lebih memilih menjaga kualitas dibanding mengejar volume produksi. Karena itu, sayuran yang dinilai kurang layak dijual biasanya dibagikan kepada warga. “Ada saatnya kita memberi, ada saatnya jual. Kalau sayur kami tidak layak untuk jual, kami bagi,” ujar Vonny. Menurut dia, kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan terbesar dalam budidaya hidroponik. Curah hujan yang tinggi dapat memengaruhi kualitas tanaman dan memicu munculnya hama. “Kemarin agak kuning karena pengaruh cuaca hujan. Tandon air saya kecampuran air hujan terus, mulai datang hama,” katanya. Meski dibagikan secara gratis, Vonny memastikan sayuran tetap dikemas dengan baik sebelum diberikan kepada warga. “Siapa pun yang lewat kami bagi, tapi tetap kami packaging dengan rapi. Gak mau kami mengurangi kualitas,” ujarnya. “Saya kan jual kualitas, bukan jual kuantitas,” tambahnya. Ketua RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, M Amiruddin menilai keberadaan KWT Mawar 8 memberi manfaat nyata bagi warga sekitar. Hasil panen dari KWT Mawar 8 diprioritaskan untuk kebutuhan warga RW 004. Menurut dia, sayuran dijual dengan harga lebih murah dibanding pasar agar bisa dijangkau masyarakat sekitar. “Hasilnya pun dinikmati juga sama warga, harganya pun harga di bawah pasar,” kata Amiruddin. Dia menilai semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan utama yang membuat KWT Mawar 8 mampu bertahan hingga sekarang. Selain anggota KWT, banyak warga ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing. “Memang kegiatan ini dari kita untuk warga semua, dan itu dirasakan sama warga kita,” ujarnya. Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota KWT maupun masyarakat sekitar. "Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujar Dhanny. Dia menyatakan kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi lingkungan hingga menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah, yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. "Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny. Editor: Rizky Agustian
BRI Hadirkan Promo Spesial KKB The Elite, Nasabah Bisa Bawa Pulang Kendaraan Impian dengan Banyak Keuntungan

QRIS BRI Jadi Andalan Warung Asep Layani Pembeli, Tak Perlu Cari Uang Kembalian


KWT Mawar 8 Bersama BRI Beri Manfaat Nyata, Hasil Panen Penuhi Kebutuhan Pangan Warga

Didukung BRI, KWT Mawar 8 Sulap Lahan Semak Belukar di Tangerang Jadi Kebun Hidroponik
Dukungan BRI Bantu Pengembangan Kebun Hidroponik


Hasil Panen Dinikmati Warga Sekitar
BRInita Dukung Ketahanan Pangan Perkotaan
KWT Mawar 8 Bersama BRI Beri Manfaat Nyata, Hasil Panen Penuhi Kebutuhan Pangan Warga
Warga RW 004 Porisgaga Baru, Kota Tangerang merasakan manfaat nyata atas keberadaan KWT Mawar 8. Hasil panen kebun mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. - Bagian all [801] url asal
JAKARTA, iNews.id - Warga RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, merasakan manfaat nyata atas keberadaan Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8. Hasil kebun hidroponik binaan KWT Mawar 8 yang berdiri di atas lahan fasilitas umum (fasum) mampu memenuhi sebagian kebutuhan pangan masyarakat sekitar.
Ketua RW 004 Porisgaga Baru, M Amiruddin mengatakan manfaat keberadaan KWT Mawar 8 dirasakan warganya sejak awal berdiri. Hasil panen dijual dengan harga terjangkau agar warga bisa mendapatkan sayuran segar dengan harga lebih murah dibanding pasar.
“Ini hasilnya pun dinikmati juga sama warga, harganya pun harga di bawah pasar,” kata Amiruddin saat ditemui iNews.id di Batuceper, Kota Tangerang, dikutip Selasa (26/5/2026).

Didukung BRI, KWT Mawar 8 Sulap Lahan Semak Belukar di Tangerang Jadi Kebun Hidroponik
Tak hanya dijual, sebagian hasil panen juga rutin dibagikan kepada petugas lingkungan. Amiruddin menilai semangat berbagi itu menjadi salah satu nilai plus KWT Mawar 8.
“Memang kegiatan ini dari kita untuk warga semua, dan itu dirasakan sama warga kita,” katanya.

Ditopang KUR BRI, Depot Mirah Bulungan Tetap Eksis Hampir 2 Dekade
Gotong Royong Warga dan Dukungan BRI Perkuat KWT Mawar 8
Amiruddin menjelaskan, setelah kepengurusan RW dibenahi, pihaknya mulai lebih serius mendukung pengembangan KWT Mawar 8. Dukungan diberikan mulai dari tambahan pendanaan hingga pembenahan manajemen kelompok agar lebih tertata.
“Kita support tambahan dana, teman-teman di sini juga aktif semua,” ujarnya.

KUR BRI Dorong Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas, dari Trotoar Kini Sewa Ruko

Dia menilai keberhasilan KWT Mawar 8 tidak lepas dari semangat gotong royong warga. Selain anggota kelompok tani, banyak masyarakat ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing.
“Alhamdulillah semua pihak di sini warga yang punya relasi terlibat untuk lingkungan,” katanya.

Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI
Di tengah proses pengembangan itu, Amiruddin juga berupaya mencari dukungan tambahan agar kebun hidroponik bisa berkembang lebih besar. Salah satunya dengan menjalin komunikasi bersama salah satu warga bernama Budi untuk menghubungkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI Peduli ke lingkungan RW 004.
“Kebetulan ada warga kita, Pak Budi, saya dekati beliau, saya bilang, ‘Tolong jangan urus lingkungan orang saja, masukkan ke sini CSR-nya BRI,’” ujarnya.
Permintaan tersebut akhirnya mendapat respons positif. Bantuan dari BRI melalui program BRI Bertani di Kota (BRInita) kemudian diberikan dalam bentuk fasilitas penunjang kebun hidroponik senilai Rp50 juta.
“Bantuan dalam bentuk fasilitas, sekitar Rp50 juta dalam bentuk barang,” kata Amiruddin.

Menurut dia, bantuan itu sangat membantu pengembangan kebun, terutama karena area tersebut sebelumnya rawan banjir. Lahan kemudian ditinggikan menggunakan tanah merah agar tanaman tidak mudah rusak saat hujan turun.
Selain itu, berbagai fasilitas penunjang dari BRI seperti rumah semai, pendopo, hingga area pembibitan juga ikut dibangun untuk mendukung aktivitas anggota KWT.
“Ini tadinya daerah banjir, jadi diuruk semua kemarin mungkin ada 10 truk tanah merah,” ujarnya.
Tak Hanya Panen Sayur, Juga Berbagi ke Warga
Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini mengatakan keberadaan fasilitas baru membuat aktivitas menanam menjadi lebih maksimal. Dia mengaku awalnya tidak memiliki pengalaman di bidang pertanian saat mulai mengelola lahan kosong tersebut.
“Hobinya sebenarnya bukan menanam, saya dulu hobinya mengajar,” katanya.

Yuliana bersama sejumlah warga kemudian belajar menanam secara autodidak. Awalnya mereka hanya menanam kangkung dan beberapa jenis sayuran sederhana sebelum akhirnya berkembang menjadi kebun hidroponik.
“Pertama kali kami menanam kangkung dulu, hidroponik ini belum ada,” ujarnya.
Kini KWT Mawar 8 menanam berbagai jenis sayuran seperti caisim, pokcoy, bayam, seledri hingga sawi pahit. Hasil panen tersebut menjadi salah satu sumber pemasukan kelompok sekaligus membantu memenuhi kebutuhan warga sekitar.
Sekretaris KWT Mawar 8, Lie Vonny mengatakan keberadaan rumah hidroponik bantuan BRI membuat kapasitas produksi sayuran meningkat dibanding sebelumnya.
Meski sudah berkembang, Vonny menegaskan KWT Mawar 8 tetap mempertahankan semangat sosial dan kebersamaan antarwarga.
“Kalau panen selalu izin, ‘Bu, boleh gak kami bagi posyandu? Bu, boleh gak kami bagi security?’ jadi kita berbagi,” ujarnya.
BRInita Dorong Ketahanan Pangan
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota KWT maupun masyarakat sekitar.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujar Dhanny.
Dia menyatakan kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi hingga menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah, yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
Didukung BRI, KWT Mawar 8 Sulap Lahan Semak Belukar di Tangerang Jadi Kebun Hidroponik
Didukung BRI melalui program BRInita, ibu-ibu KWT Mawar 8 di Tangerang berhasil menyulap lahan kosong menjadi kebun hidroponik yang bermanfaat bagi warga. - Bagian all [1,178] url asal
JAKARTA, iNews.id - Di tengah permukiman padat RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, berdiri deretan tanaman hijau yang tertata rapi dalam instalasi hidroponik. Siapa sangka, kawasan yang kini menjadi kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 8 itu dulunya hanyalah lahan semak belukar yang tak terurus.
Ketua KWT Mawar 8, Yuliana Sri Prihantini masih mengingat betul bagaimana awal mula dirinya bersama beberapa warga mencoba mengubah lahan fasilitas umum (fasum) tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Dia menyulap lahan tak terpakai itu sebagai lokasi bercocok tanam di lingkungan perkotaan atau urban farming.
“Pada mulanya ini semak belukar ya, tanamannya banyak sekali yang tinggi-tinggi. Benar-benar tidak ada yang ngurus,” kata Yuliana saat ditemui iNews.id, dikutip Kamis (21/5/2026).

KUR BRI Dorong Sate Ayam Barokah Mayestik Naik Kelas, dari Trotoar Kini Sewa Ruko
Dia bersama warga lain bernama Endang berinisiatif mengelola lahan kosong tersebut. Kegiatan itu dimulai sejak pandemi Covid-19 merebak pada 2020-2021. Meski tak memiliki latar belakang pertanian, Yuliana nekat mencoba belajar menanam secara autodidak.
“Hobinya sebenarnya bukan menanam, saya dulu hobinya mengajar,” ujarnya sambil tertawa.

Kisah Thio Bangun Craftote, Olah Eceng Gondok Jadi Produk Ekspor lewat Dukungan BRI
Yuliana yang sehari-hari mengajar di sekolah kawasan Muara Karang, Jakarta Utara itu mengaku awalnya hanya ingin mengisi waktu dengan kegiatan yang berguna bagi warga sekitar. Dari situ, dia mulai mencoba menanam kangkung, bayam, hingga kundur di lahan kosong tersebut.
Tak disangka, hasil panen saat itu cukup berhasil. Bahkan dia mengaku pernah memanen hingga ratusan kilogram buah kundur.

Hari Pendidikan Nasional, BRI Peduli Gelar Kelas Inspirasi di SDN 104 Langensari Bandung
“Di situ kami sungguh bahagia banget,” ujarnya.
Belajar Hidroponik dari Nol
Yuliana mengatakan, KWT Mawar 8 terbentuk tanpa direncanakan pada awal 2025. Dia mengaku terpilih menjadi ketua karena ditunjuk langsung oleh para anggota KWT.
“Tiba-tiba saya tidak ada A, I, U, E, O, langsung dikasih stempel, 'Ibu jadi ketua,' kaget saya,” katanya.
Yuliana menuturkan, perjalanan KWT Mawar 8 tidak selalu mudah. Setelah mulai berkembang, organisasi yang dinaunginya mendapat bantuan fasilitas hidroponik. Namun, bantuan itu justru sempat membuatnya panik karena belum memahami cara pengelolaannya.
“Lalu dikasihlah hidroponik, waduh tambah pusing saya. Gimana caranya,” ujarnya.

Namun perlahan, Yuliana mulai belajar bersama anggota lain. Dia juga dibantu beberapa warga yang memiliki pengalaman menanam. Kini, kebun hidroponik KWT Mawar 8 sudah menanam berbagai jenis sayuran seperti caisim, pokcoy, bayam, seledri, hingga sawi pahit.
Menurut Yuliana, sosok penting di balik perkembangan kebun tersebut adalah Lie Vonny yang kini menjabat sebagai sekretaris KWT Mawar 8. Dia mengatakan Vonny adalah orang yang paling aktif mengurus hidroponik di kebun tersebut setiap hari.
Yuliana bahkan menyebut Vonny sebagai "maskot" KWT Mawar 8 karena hampir seluruh aktivitas kebun dijalani dengan penuh totalitas.
“Sampai saya masih tertidur jam 5 (pagi), dia sudah di kebun untuk panen,” ujarnya.
Dukungan BRI Bantu Kebun Berkembang
Perkembangan KWT Mawar 8 ternyata menarik perhatian banyak pihak, termasuk BRI. Bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) itu memberikan dukungan melalui program BRI Peduli Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) serta BRI Bertani di Kota (BRInita).
Tak hanya berupa pendampingan, Yuliana dan anggota KWT Mawar 8 juga menerima berbagai fasilitas penunjang untuk memperbesar kapasitas kebun.
“Ternyata luar biasa sekali, sampai Bank BRI melirik kami,” kata Yuliana.

Menurut dia, bantuan dari BRI sangat membantu perkembangan kebun hidroponik yang sebelumnya serba terbatas. Berbagai fasilitas yang diberikan BRI mulai dari rumah semai, pendopo, hingga perbaikan area kebun mampu menunjang aktivitas kelompoknya.
“(Bantuan untuk) kami dari BRI, tanah merah, lalu ini kita diperbaiki (pendopo) yang tadinya sudah mau roboh, lalu ada penambahan (rumah semai), jadinya tambah banyak,” ujarnya.
Bahkan, kata Yuliana, perwakilan BRI secara proaktif mencatat dan memenuhi kebutuhan yang dianggap penting untuk menunjang perkembangan kebun olahan KWT Mawar 8.
“Pokoknya butuhnya apa yang menunjang kemajuan ini, okelah,” katanya.
Hasil Panen untuk Warga
Meski sudah berkembang, KWT Mawar 8 tetap memprioritaskan warga sekitar sebagai penerima manfaat utama. Hasil panen dijual dengan harga terjangkau dan sebagian juga dibagikan kepada warga maupun petugas lingkungan.
“Kalau panen selalu izin, ‘Bu, boleh gak kami bagi posyandu? Bu, boleh gak kami bagi security?’ jadi kita berbagi,” kata Yuliana.
Menurutnya, kualitas sayuran juga dijaga dengan serius agar warga mendapat hasil terbaik.

“Cara memberikan sayurannya tidak boleh ada yang kotor, tidak boleh ada ulatnya,” ujarnya.
Sementara itu, Lie Vonny menambahkan KWT Mawar 8 saat ini mampu memperoleh pemasukan sekitar Rp2 juta per bulan dari hasil penjualan sayur. Meski belum besar, hasil tersebut sudah cukup memberi tambahan penghasilan bagi anggota kelompok.
“Awalnya keuangan kami (KWT) zero (nol), bahkan minus,” kata Vonny.
Kini, kelompok tersebut menjadi satu-satunya KWT yang masih aktif bertahan di Kelurahan Porisgaga Baru. Sebab menurut Vonny, banyak kelompok serupa yang akhirnya berhenti di tengah jalan karena sulit menjaga konsistensi.
“Untuk mendirikan suatu KWT itu tidak mudah ya,” katanya.
Menurut dia, mengelola hidroponik membutuhkan ketekunan tinggi karena kegagalan panen bisa datang kapan saja akibat cuaca maupun serangan hama.
“Sudah capek semai ada serangan hama, ada serangan macam-macam, rasa kekecewaan itu pasti ada,” ujarnya.
Meski begitu, Vonny bersama Yuliana dan anggota KWT Mawar 8 lainnya memilih tetap bertahan. Mereka memandang kebun kecil di tengah permukiman itu sebagai ajang untuk berbagi dengan sesama sekaligus menjaga semangat kebersamaan warga.
"Belum sempurna tapi paling tidak menuju kesempurnaan. Pasti bisa dong ya, apalagi kalau banyak yang dukung ya," tutur Vonny.
Datangkan Manfaat bagi Warga Sekitar
Ketua RW 004 Kelurahan Porisgaga Baru, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, M Amiruddin menilai keberadaan KWT Mawar 8 memberi manfaat nyata bagi warga sekitar. Hasil panen dari KWT Mawar 8 memang diprioritaskan untuk kebutuhan warga RW 004.
Menurut dia, sayuran dijual dengan harga lebih murah dibanding pasar agar bisa dijangkau masyarakat sekitar.
“Hasilnya pun dinikmati juga sama warga, harganya pun harga di bawah pasar,” kata Amiruddin.
Dia menilai semangat gotong royong menjadi salah satu kekuatan utama yang membuat KWT Mawar 8 mampu bertahan hingga sekarang. Selain anggota KWT, banyak warga ikut membantu sesuai kemampuan masing-masing.
“Memang kegiatan ini dari kita untuk warga semua, dan itu dirasakan sama warga kita,” ujarnya.
BRInita Dorong Ketahanan Pangan
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan. Menurut dia, hasil dari kegiatan urban farming dapat memberikan manfaat bagi anggota KWT maupun masyarakat sekitar.
"Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujar Dhanny.
Dia menyatakan kegiatan urban farming yang didukung BRI Peduli diharapkan dapat mengurangi polusi lingkungan hingga menambah keasrian lingkungan. Pelaksanaan BRInita juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
"Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," ucap Dhanny.
Editor: Rizky Agustian
KWT Buaran Citra Lestari, Perempuan Berdaya Lewat Program BRInita
Urban farming oleh kelompok tani Buaran Citra Lestari mengubah lahan tidur menjadi produktif, mendukung ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat. [763] url asal
#brinita #pemberdayaan-perempuan #bri #bbri #bri-peduli #pemerintah-daerah #citra-lestari #maggot-bsf #kelompok-wanita-tani-kwt-buaran-citra-lestari #teh-bunga-telang #jakarta-timur #indonesia
(CNN Indonesia - Ekonomi) 16/04/26 14:57
v/193388/
Urban farming menjadi salah satu solusi nyata mendukung ketahanan pangan masyarakat kota di tengah padatnya kawasan perkotaan. Urban farming memanfaatkan lahan terbengkalai menjadi ruang hijau produktif.
Semangat itu dijalankan kelompok tani Buaran Citra Lestari yang beranggotakan warga RT 09/RW 13 Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur. Lahan tidur milik Pemerintah Daerah seluas sekitar 1.500 meter persegi yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, kini disulap menjadi area pertanian urban berbasis hidroponik.
Tak hanya menghadirkan ruang hijau di tengah kota, kawasan ini juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar.
Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Buaran Citra Lestari, Lydwina atau yang akrab disapa Ina, menceritakan keberadaan urban farming ini bermula dari inisiatif lingkungan sekitar yang ingin memanfaatkan lahan kosong agar lebih produktif.
"Pada saat itu urban farming di kota sedang ramai. Akhirnya, di tahun 2021 mulai dibangun secara bertahap fasilitas yang terkait. Pertama kita bikin kolam ikan dulu, ada yang bioflok, ada yang konvensional. Lalu ada ruang hidroponiknya juga, hingga akhirnya diresmikan pada Desember 2022," ucap Ina.
Karena luasnya area yang dikelola, warga kemudian membentuk beberapa kelompok tani. Salah satunya adalah kelompok Buaran Citra Lestari yang kini aktif mengelola berbagai aktivitas pertanian di lahan tersebut.
Seiring waktu, urban farming Buaran Citra Lestari terus berkembang. Beragam komoditas kini dibudidayakan, mulai dari sayuran seperti bayam, pakcoy, kangkung, tomat, seledri, kacang panjang, hingga cabai rawit. Selain itu, kelompok ini juga membudidayakan ikan lele dan nila dengan sistem bioflok.
Tak berhenti pada hasil panen segar, kelompok ini juga mengembangkan produk turunan dari hasil pertanian mereka. Salah satu yang cukup dikenal adalah teh bunga telang yang diolah langsung oleh para anggota kelompok.
Seluruh hasil panen maupun produk olahan dipasarkan kepada warga sekitar. Keuntungan yang diperoleh kemudian digunakan kembali untuk mendukung operasional dan pengembangan urban farming tersebut.
Perkembangan urban farming Buaran Citra Lestari semakin terasa sejak mendapat dukungan dari program tanggung jawab sosial dan lingkungan BRI Peduli dalam program BRInita (BRI Bertani di Kota).
"Tahun 2025 lalu kita mendapatkan dukungan juga dari program BRInita. Jadi kita dapat bantuan greenhouse dan ruang untuk pengelolaan maggot. Selain itu, kami juga mendapatkan pelatihan-pelatihan seperti pelatihan hidroponik, pelatihan pengolahan ikan lele, pelatihan pengolahan makanan dan minuman juga," ujar Ina.
Memasuki 2026, dukungan tersebut terus berlanjut melalui berbagai pelatihan dan penguatan kapasitas kelompok. Di antaranya pelatihan budidaya anggur, pelatihan olahan pascapanen seperti nugget bayam, pelatihan pembuatan kerajinan ecoprint dari daun, hingga pelatihan packaging dan pemasaran produk.
Selain peningkatan keterampilan, program BRInita juga memberikan dukungan sarana dan prasarana. Mulai dari renovasi ruang anggur, pembaruan pintu masuk dan plang kawasan, pemberian benih ikan nila, set benih serta media tanam, hingga kemasan produk untuk hasil pelatihan.
Bagi Ina dan para anggota kelompok, salah satu manfaat terbesar dari program ini adalah keberadaan greenhouse yang membantu meningkatkan kualitas hasil panen. Lebih dari sekadar kegiatan bertani, urban farming ini juga menjadi ruang aktivitas sosial bagi para anggotanya, yang sebagian besar merupakan pensiunan.
"Kalau sisi positif yang benar-benar dirasakan, kebanyakan anggota kita kan pensiunan, jadi bisa menyalurkan hobi. Kita bisa lebih produktif mengisi waktu kosong, hasilnya juga benar-benar bermanfaat. Kita juga lebih sehat karena pagi-pagi sudah melihat yang hijau-hijau dan berkegiatan di lahan," ungkap Ina.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan BRI melalui aktivitas Corporate Social Responsibility (CSR) BRI Peduli mengambil bagian dalam mendukung peran perempuan melalui berbagai program pemberdayaan yang secara nyata mampu mendorong kesejahteraan perempuan Indonesia melalui Program BRInita (BRI Bertani di Kota).
Dalam program ini, BRI Peduli menyalurkan bantuan berupa pembangunan infrastruktur fisik seperti rumah tanaman atau greenhouse yang dapat diaplikasikan dalam tiga model urban farming seperti metode vertikultur, metode hidroponik, dan metode wall gardening.
Tidak hanya itu, BRI Peduli juga melakukan pembinaan bagi anggota kelompok berupa pelatihan pengelolaan urban farming dengan menggandeng tenaga ahli/instansi terkait serta melakukan monitoring kegiatan dan pengembangan hasil sehingga mampu menambah nilai ekonomi.
"Program ini diharapkan dapat mendorong kaum perempuan untuk mengambil peran lebih besar tidak hanya di lingkungan keluarga, tetapi juga berkarya di lingkungan sosial dan masyarakat luas sesuai dengan semangat Kartini yaitu semangat untuk terus maju, mengubah keterbatasan menjadi kekuatan, dan menjadikan perempuan sebagai pusat dari perubahan yang bermakna," ujar Dhanny.
Sejak diluncurkan pada 2022, program BRInita telah memberdayakan 40 kelompok di 40 titik ruang terbuka hijau dan melibatkan 1.351 jiwa. Program ini secara nyata berkontribusi 47% dalam peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya perempuan.
Selain itu, program ini juga telah berkontribusi bagi lingkungan dengan menghasilkan 25.828 tanaman sayuran, 12.120 liter pupuk organik cair, 2.315 liter enzim ramah lingkungan, 70 produk olahan pupuk, 100 kg maggot BSF, dan 645,7 kg CO2-eq yang berkontribusi bagi efisiensi emisi gas rumah kaca dari penanaman sayuran hidroponik.
BRI Raih Dua Penghargaan CSR Internasional, Komitmen Berdayakan Rakyat
BRI raih dua penghargaan internasional untuk program keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat yang mendukung pembangunan sosial-ekonomi. [395] url asal
#bri #csr #penghargaan-internasional #program-brinita #desa-brilian #bank-rakyat-indonesia #dhanny #cita #london #farming #pemerintah #the-grand-hotel-taipei #asta #taiwan #international-csr-excell
(CNN Indonesia - Ekonomi) 28/11/25 12:32
v/53664/
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali memperoleh pengakuan global atas pelaksanaan program keberlanjutan dan pemberdayaan masyarakat. Pada 2025, BRI meraih dua penghargaan internasional, yakni Global Corporate Sustainability Awards (GCSA) dan International CSR Excellence Awards, yang menilai efektivitas kontribusi sosial, lingkungan, dan ekonomi perusahaan.
Pada ajang GCSA 2025 yang diselenggarakan di The Grand Hotel Taipei, Taiwan, Selasa (26/11), BRI meraih kategori Excellence untuk dua program, yaitu BRInita (BRI Bertani di Kota) dan Desa BRILiaN. Penghargaan ini diberikan kepada organisasi yang dinilai mampu menjalankan inisiatif keberlanjutan dengan dampak yang terukur dan berkelanjutan.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyampaikan bahwa pengakuan internasional tersebut memperlihatkan peran BRI dalam pembangunan sosial-ekonomi Indonesia, selain menjalankan fungsi bisnis perbankan.
"Penghargaan ini menunjukkan bahwa BRI tidak hanya fokus pada bisnis perbankan semata, tetapi juga secara nyata mendukung pembangunan sosial-ekonomi berbasis komunitas melalui program-program pemberdayaan seperti urban farming (BRINita) dan pengembangan desa/UMKM (Desa BRILiaN)," ujar Dhanny.
Sebagai informasi, Program BRInita merupakan kegiatan urban farming yang memanfaatkan ruang terbatas di kawasan perkotaan, seperti halaman sempit, gang, hingga atap rumah. Program ini diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan literasi lingkungan, serta membuka peluang pendapatan tambahan bagi masyarakat, terutama kelompok perempuan.
Adapun Desa BRILiaN merupakan program inkubasi desa yang bertujuan memperkuat kemandirian desa melalui pendampingan intensif. Melalui program ini, BRI mendukung pengembangan potensi lokal, UMKM, serta pemanfaatan layanan keuangan dan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas ekonomi desa.
Selain capaian tersebut, BRI juga memperoleh penghargaan pada International CSR Excellence Awards 2025 yang digelar di St Paul's Cathedral, London, pada 30 Juni 2025. BRI meraih Gold Category untuk program Ini Sekolahku, BRInita, dan AURA (Aspire to Uplift, Revive and Achieve). Sementara itu, Silver Category diberikan untuk program Cegah Stunting Itu Penting dan Klaster Unggulan.
Penilaian pada ajang ini mencakup aspek efektivitas, inovasi, kesinambungan, serta dampak sosial dan lingkungan dari program-program yang berada di bawah payung BRI Peduli, sebagai bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan.
Dhanny menambahkan, program seperti BRInita dan Desa BRILiaN berkontribusi pada isu strategis, mulai dari ketahanan pangan perkotaan, pemberdayaan perempuan, inklusi keuangan, hingga penguatan ekonomi desa. Program-program tersebut juga berkaitan dengan upaya pemerintah dalam mencapai target pembangunan nasional (Asta Cita).
"Berbagai penghargaan internasional yang diterima BRI menjadi bukti bahwa pendekatan perusahaan terhadap keberlanjutan, baik dari sisi sosial, lingkungan, maupun ekonomi telah diakui dunia sebagai model yang inovatif, berdampak dan dapat direplikasi," pungkas dia.
BRI Peduli Gelar Panen Raya BRInita di Hari Pangan Sedunia
PT BRI meluncurkan Program BRInita untuk memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming, Kegiatan ini mendukung keberlanjutan dan edukasi masyarakat. [674] url asal
#bri #bbri #bri-peduli #urban-farming #hari-pangan-sedunia #kebun-agro-wisata-kampung-berkebun-pajajaran #jawa-barat #bandung #panen-raya-brinita #sustainable-development-goals #pemerintah #hari-pa
(CNN Indonesia - Ekonomi) 20/10/25 11:47
v/9401/
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk terus menggencarkan upaya memperkuat ketahanan pangan di wilayah perkotaan melalui Program BRInita (BRI Bertani di Kota). Program ini memanfaatkan lahan sempit di kawasan padat pemukiman untuk kegiatan pertanian warga sebagai bagian dari konsep urban farming.
Urban farming dinilai menjadi inovasi penting dalam mengoptimalkan lahan tidak terpakai di perkotaan. Dengan memanfaatkan ruang terbatas, masyarakat dapat bertani dan berkebun sekaligus berkontribusi menjaga ketersediaan pangan.
Sebagai payung program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), BRI Peduli menegaskan kembali komitmennya mendorong perbaikan ekosistem lingkungan dan ketahanan pangan melalui BRInita.
Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2025, BRI Peduli melaksanakan kegiatan Panen Raya BRInita yang dilaksanakan di Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran, Bandung, Jawa Barat.
Kegiatan ini melibatkan Kelompok Karang Taruna, anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta warga masyarakat setempat.
Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran merupakan salah satu lokasi penyaluran program BRInita dari BRI Peduli.
Tidak hanya penyaluran bantuan infrastruktur berupa rumah tanaman (green house) dan bibit tanaman urban farming, BRI juga memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat agar bisa mengelola lahan urban farming-nya sendiri.
Berbagai macam aktivitas dilaksanakan dalam kegiatan Panen Raya BRInita antara lain kegiatan sosialisasi program BRInita yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya bercocok tanam dan menfaatkan lahan di sekitar.
Selain itu terdapat juga kegiatan edukasi budidaya buah-buahan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam membudidayakan buah-buahan secara tepat, agar mampu menghasilkan produk pertanian yang berkualitas, bernilai gizi, dan bernilai ekonomi.
Tidak luput juga dilakukan kegiatan Panen Raya yang tidak hanya untuk merayakan keberhasilan hasil pertanian masyarakat, tetapi juga untuk mempererat kebersamaan, menumbuhkan semangat gotong royong, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ketahanan pangan lokal.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa peringatan Hari Raya Pangan Sedunia tidak hanya menjadi momentum bagi BRI untuk terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya inovasi dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, terutama di tengah laju pertumbuhan kota yang pesat.
"Melalui kegiatan ini, masyarakat ikut langsung panen sehingga merasa memiliki hasilnya. Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi," ujarnya.
Kegiatan urban farming yang diinisiasi oleh BRI Peduli ini juga diharapkan dapat mereduksi polusi lingkungan, menambah keasrian, serta mengurangi sampah rumah tangga. Di sisi lain, sekaligus menjadi perwujudan kontribusi positif masyarakat bagi keseimbangan lingkungan.
Dhanny juga menegaskan bahwa urban farming diharapkan dapat menjadi pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan. Pelaksanakan BRInita ini juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
"Di Hari Pangan Sedunia 2025 ini, mari kita dukung dan kembangkan urban farming sebagai bagian dari solusi modern menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim. Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," imbuhnya.
Di lain pihak, Ketua Kelompok Wanita (KWT) Buruan Sae Pajajarah Hegar, Neni mengungkapkan bahwa Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran merupakan salah satu wadah urban farming yang dimanfaatkan oleh anggota kelompok untuk kegiatan positif sekaligus sebagai sebagai solusi ketersedian pangan bagi anggota kelompok.
"Tadinya kami tidak punya lokasi untuk menaman, sekarang sudah ada wadahnya. Kami sangat gembira tentunya, bisa menikmati hasil panen bersama", ungkapnya.
Sebagai informasi, sejak diluncurkan pada 2022, program BRINita telah dilaksanakan di 31 titik dan telah memberikan manfaat bagi 1.160 jiwa. Program ini juga telah berkontribusi bagi 86,48% Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara umum serta 20,16% IPM Perempuan.
Selain itu, program ini juga secara nyata telah menghasilkan 9.544,33 Kg tanaman sayuran hasil panen, 112 tanaman obat-obatan keluarga (Toga) dan berkontribusi 11,27% terhadap penurunan stunting.
Program ini juga telah berkontribusi bagi lingkungan dengan menghasilkan 3.982 kg pupuk organik cair, 2.218 liter eco enzim, 64 produk olahan pupuk, 80 kg maggot BSF dan 238,61 kg C02-eq yang berkontribusi bagi efisiensi emisi gas rumah kaca dari penanaman sayuran hidroponik.
Peringati Hari Pangan Sedunia, BRI Peduli Gelar Panen Raya BRInita
BRI Peduli luncurkan program urban farming BRInita untuk tingkatkan ketahanan pangan di kota. Kegiatan Panen Raya rayakan keberhasilan dan edukasi masyarakat. [751] url asal
#bri-peduli #hari-pangan-sedunia #urban-farming #ketahanan-pangan #panen-raya-brinita #pertanian-perkotaan
(CNBC Indonesia - News) 18/10/25 17:32
v/8187/
Jakarta, CNBC Indonesia - Seiring dengan pesatnya perkembangan kawasan perkotaan, konsep urban farming hadir sebagai inovasi penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan yang tidak terpakai. Lahan sempit pun bisa dimanfaatkan untuk bertani dan berkebun, pada akhirnya langkah ini dapat mendorong ketahanan pangan di wilayah perkotaan.
BRI Peduli selaku payung dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari BRI kembali menegaskan komitmen dalam mendorong perbaikan ekosistem lingkungan dan mendorong ketahanan pangan. Salah satunya melalui Program BRInita (BRI Bertani di Kota), yaitu konsep bertani dengan memanfaatkan lahan sempit di wilayah padat pemukiman.
Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2025, BRI Peduli melaksanakan kegiatan Panen Raya BRInita yang dilaksanakan di Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran, Bandung, Jawa Barat yang melibatkan Kelompok Karang Taruna, anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta warga masyarakat setempat.
Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran merupakan salah satu lokasi penyaluran program BRInita dari BRI Peduli. Tidak hanya penyaluran bantuan infrastruktur berupa rumah tanaman (green house) dan bibit tanaman urban farming, BRI juga memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat agar bisa mengelola lahan urban farming-nya sendiri.
Berbagai macam aktivitas dilaksanakan dalam kegiatan Panen Raya BRInita antara lain kegiatan sosialisasi program BRInita yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya bercocok tanam dan menfaatkan lahan di sekitar.
Selain itu, terdapat juga kegiatan edukasi budidaya buah-buahan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam membudidayakan buah-buahan secara tepat, agar mampu menghasilkan produk pertanian yang berkualitas, bernilai gizi, dan bernilai ekonomi.
Tidak hanya untuk merayakan keberhasilan hasil pertanian masyarakat, Panen Raya juga menjadi ajang untuk mempererat kebersamaan, menumbuhkan semangat gotong royong, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ketahanan pangan lokal.
Corporate Secretary BRI, Dhanny menjelaskan, peringatan Hari Raya Pangan Sedunia tidak hanya menjadi momentum bagi BRI untuk terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya inovasi dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, terutama di tengah laju pertumbuhan kota yang pesat.
"Melalui kegiatan ini, masyarakat ikut langsung panen sehingga merasa memiliki hasilnya. Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi," ujar dia dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/10/2025).
Dia melanjutkan, kegiatan urban farming yang diinisiasi oleh BRI Peduli ini juga diharapkan dapat mereduksi polusi lingkungan, menambah keasrian, serta mengurangi sampah rumah tangga. Di sisi lain, sekaligus menjadi perwujudan kontribusi positif masyarakat bagi keseimbangan lingkungan.
Lebih lanjut, Dhanny menegaskan, urban farming diharapkan dapat menjadi pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan. Pelaksanakan BRInita ini juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
"Di Hari Pangan Sedunia 2025 ini, mari kita dukung dan kembangkan urban farming sebagai bagian dari solusi modern menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim. Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi", imbuh Dhanny.
Di lain pihak, Ketua Kelompok Wanita (KWT) Buruan Sae Pajajarah Hegar, Neni mengungkapkan, bahwa Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran merupakan salah satu wadah urban farming yang dimanfaatkan oleh anggota kelompok untuk kegiatan positif sekaligus sebagai sebagai solusi ketersedian pangan bagi anggota kelompok.
"Tadinya kami tidak punya lokasi untuk menaman, sekarang sudah ada wadahnya. Kami sangat gembira tentunya, bisa menikmati hasil panen bersama", ungkapnya.
Sebagai informasi, sejak diluncurkan pada 2022, program BRINita telah dilaksanakan di 31 titik dan telah memberikan manfaat bagi 1.160 jiwa. Program ini juga telah berkontribusi bagi 86,48% Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara umum serta 20,16% IPM Perempuan. Selain itu, program ini juga secara nyata telah menghasilkan 9.544,33 Kg tanaman sayuran hasil panen, 112 tanaman obat-obatan keluarga (Toga) dan berkontribusi 11,27% terhadap penurunan stunting.
Asal tahu saja, program tersebut telah berkontribusi bagi lingkungan dengan menghasilkan 3.982 kg pupuk organik cair, 2.218 liter eco enzim, 64 produk olahan pupuk, 80 kg maggot BSF dan 238,61 kg C02-eq yang berkontribusi bagi efisiensi emisi gas rumah kaca dari penanaman sayuran hidroponik.
(bul/bul)
[Gambas:Video CNBC]
Peringati Hari Pangan Sedunia, BRI Peduli Dukung Ketahanan Pangan Melalui Panen Raya BRInita
Penting, inovasi dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan. [666] url asal
#bri #bbri #bri-peduli #brinita #urban-farming #hari-pangan-sedunia
REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Seiring dengan pesatnya perkembangan kawasan perkotaan, konsep urban farming hadir sebagai inovasi penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan yang tidak terpakai.
Lahan sempit bisa dimanfaatkan untuk bertani dan berkebun yang pada akhirnya dapat mendorong ketahanan pangan di wilayah perkotaan.
BRI Peduli selaku payung dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari BRI kembali menegaskan komitmen dalam mendorong perbaikan ekosistem lingkungan dan mendorong ketahanan pangan.
Salah satunya melalui Program BRInita (BRI Bertani di Kota), yaitu konsep bertani dengan memanfaatkan lahan sempit di wilayah padat pemukiman.
Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2025, BRI Peduli melaksanakan kegiatan Panen Raya BRInita yang dilaksanakan di Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran, Bandung, Jawa Barat yang melibatkan Kelompok Karang Taruna, anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta warga masyarakat setempat.
Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran merupakan salah satu lokasi penyaluran program BRInita dari BRI Peduli.
Tidak hanya penyaluran bantuan infrastruktur berupa rumah tanaman (green house) dan bibit tanaman urban farming, BRI juga memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat agar bisa mengelola lahan urban farming-nya sendiri.
Berbagai macam aktivitas dilaksanakan dalam kegiatan Panen Raya BRInita antara lain kegiatan sosialisasi program BRInita yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya bercocok tanam dan menfaatkan lahan di sekitar.
Selain itu terdapat kegiatan edukasi budi daya buah-buahan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam membudidayakan buah-buahan secara tepat, agar mampu menghasilkan produk pertanian yang berkualitas, bernilai gizi, dan bernilai ekonomi.
Tidak luput juga dilakukan kegiatan Panen Raya yang tidak hanya untuk merayakan keberhasilan hasil pertanian masyarakat, tetapi juga untuk mempererat kebersamaan, menumbuhkan semangat gotong royong, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ketahanan pangan lokal.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan, peringatan Hari Raya Pangan Sedunia tidak hanya menjadi momentum bagi BRI untuk terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan, juga sebagai pengingat akan pentingnya inovasi dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, terutama di tengah laju pertumbuhan kota yang pesat.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat ikut langsung panen sehingga merasa memiliki hasilnya. Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujarnya dalam keterangan Sabtu (18/10/2025).
Kegiatan urban farming yang diinisiasi BRI Peduli ini juga diharapkan mereduksi polusi lingkungan, menambah keasrian, serta mengurangi sampah rumah tangga. Di sisi lain, sekaligus menjadi perwujudan kontribusi positif masyarakat bagi keseimbangan lingkungan.
Dhanny menegaskan, urban farming diharapkan menjadi pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan. Pelaksanakan BRInita ini juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
“Di Hari Pangan Sedunia 2025 ini, mari kita dukung dan kembangkan urban farming sebagai bagian dari solusi modern menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim. Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi”, imbuhnya.
Di lain pihak, Neni, Ketua Kelompok Wanita (KWT) Buruan Sae Pajajarah Hegar mengungkapkan bahwa Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran merupakan salah satu wadah urban farming yang dimanfaatkan oleh anggota kelompok untuk kegiatan positif sekaligus sebagai sebagai solusi ketersedian pangan bagi anggota kelompok.
“Tadinya kami tidak punya lokasi untuk menaman, sekarang sudah ada wadahnya. Kami sangat gembira tentunya, bisa menikmati hasil panen bersama”, ungkapnya.
Sebagai informasi, sejak diluncurkan pada 2022, program BRINita dilaksanakan di 31 titik dan memberikan manfaat bagi 1.160 jiwa. Program ini berkontribusi bagi 86,48 persen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara umum serta 20,16 persen IPM Perempuan.
Selain itu, program ini secara nyata telah menghasilkan 9.544,33 kg tanaman sayuran hasil panen, 112 tanaman obat-obatan keluarga (Toga) dan berkontribusi 11,27 persen terhadap penurunan stunting.
Program ini berkontribusi bagi lingkungan dengan menghasilkan 3.982 kg pupuk organik cair, 2.218 liter eco enzim, 64 produk olahan pupuk, 80 kg maggot BSF dan 238,61 kg C02-eq yang berkontribusi bagi efisiensi emisi gas rumah kaca dari penanaman sayuran hidroponik.
Hari Pangan Sedunia, BRI Peduli Dukung Ketahanan Pangan melalui BRInita
BRI Pedulimendorong perbaikan ekosistem lingkungan danketahanan panganmelalui Program BRI Bertani di Kota (BRInita). - Bagian all [678] url asal
#bank-bri #bri-peduli #brinita #program-brinita #bri-bertani-di-kota #inews-id-stories
BANDUNG, iNews.id - Seiring dengan pesatnya perkembangan kawasan perkotaan, konsep urban farming hadir sebagai inovasi penting untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan-lahan yang tidak terpakai. Lahan sempit bisa dimanfaatkan untuk bertani dan berkebun yang pada akhirnya dapat mendorong ketahanan pangan di wilayah perkotaan.
BRI Peduli selaku payung dari Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari BRI kembali menegaskan komitmen dalam mendorong perbaikan ekosistem lingkungan dan mendorong ketahanan pangan. Salah satunya melalui Program BRInita (BRI Bertani di Kota), yaitu konsep bertani dengan memanfaatkan lahan sempit di wilayah padat pemukiman.
Dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada 16 Oktober 2025, BRI Peduli melaksanakan kegiatan Panen Raya BRInita yang dilaksanakan di Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran, Bandung, Jawa Barat yang melibatkan Kelompok Karang Taruna, anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) serta warga masyarakat setempat.
Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran merupakan salah satu lokasi penyaluran program BRInita dari BRI Peduli. Tidak hanya penyaluran bantuan infrastruktur berupa rumah tanaman (green house) dan bibit tanaman urban farming, BRI juga memberikan pelatihan pemberdayaan masyarakat agar bisa mengelola lahan urban farming-nya sendiri.
Berbagai macam aktivitas dilaksanakan dalam kegiatan Panen Raya BRInita antara lain kegiatan sosialisasi program BRInita yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya bercocok tanam dan menfaatkan lahan di sekitar.
Selain itu terdapat juga kegiatan edukasi budidaya buah-buahan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam membudidayakan buah-buahan secara tepat, agar mampu menghasilkan produk pertanian yang berkualitas, bernilai gizi, dan bernilai ekonomi.
Tidak luput juga dilakukan kegiatan Panen Raya yang tidak hanya untuk merayakan keberhasilan hasil pertanian masyarakat, tetapi juga untuk mempererat kebersamaan, menumbuhkan semangat gotong royong, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ketahanan pangan lokal.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengungkapkan bahwa peringatan Hari Raya Pangan Sedunia tidak hanya menjadi momentum bagi BRI untuk terus menegaskan komitmennya dalam mendukung keberlanjutan dan keberpihakan pada lingkungan, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya inovasi dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan, terutama di tengah laju pertumbuhan kota yang pesat.
“Melalui kegiatan ini, masyarakat ikut langsung panen, sehingga merasa memiliki hasilnya. Panen bisa dipakai untuk pangan keluarga, dijual untuk tambah penghasilan, atau ditukar dalam program sosial sebagai apresiasi,” ujarnya.
Kegiatan urban farming yang diinisiasi oleh BRI Peduli ini juga diharapkan dapat mereduksi polusi lingkungan, menambah keasrian, serta mengurangi sampah rumah tangga. Di sisi lain, sekaligus menjadi perwujudan kontribusi positif masyarakat bagi keseimbangan lingkungan.
Dhanny juga menegaskan bahwa urban farming diharapkan dapat menjadi pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan yang inklusif dan berkelanjutan. Pelaksanakan BRInita ini juga mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs).
Program ini juga mendukung Asta Cita Pemerintah yaitu memantapkan sistem pertahanan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru.
“Di Hari Pangan Sedunia 2025 ini, mari kita dukung dan kembangkan urban farming sebagai bagian dari solusi modern menghadapi krisis pangan dan perubahan iklim. Bersama, kita wujudkan kota yang sehat dan berkelanjutan, demi masa depan pangan yang lebih baik untuk seluruh generasi," katanya.
Di lain pihak, Neni, selaku Ketua Kelompok Wanita (KWT) Buruan Sae Pajajarah Hegar mengungkapkan bahwa Kebun Agro Wisata Kampung Berkebun Pajajaran merupakan salah satu wadah urban farming yang dimanfaatkan oleh anggota kelompok untuk kegiatan positif sekaligus sebagai sebagai solusi ketersedian pangan bagi anggota kelompok.
“Tadinya kami tidak punya lokasi untuk menaman, sekarang sudah ada wadahnya. Kami sangat gembira tentunya, bisa menikmati hasil panen bersama," ucapnya.
Sebagai informasi, sejak diluncurkan pada 2022, program BRINita telah dilaksanakan di 31 titik dan telah memberikan manfaat bagi 1.160 jiwa. Program ini juga telah berkontribusi bagi 86,48 persen Indeks Pembangunan Manusia (IPM) secara umum serta 20,16 persen IPM Perempuan.
Selain itu, program ini juga secara nyata telah menghasilkan 9.544,33 Kg tanaman sayuran hasil panen, 112 tanaman obat-obatan keluarga (Toga) dan berkontribusi 11,27 persen terhadap penurunan stunting.
Program ini juga telah berkontribusi bagi lingkungan dengan menghasilkan 3.982 kg pupuk organik cair, 2.218 liter eco enzim, 64 produk olahan pupuk, 80 kg maggot BSF dan 238,61 kg C02-eq yang berkontribusi bagi efisiensi emisi gas rumah kaca dari penanaman sayuran hidroponik.
Editor: Rizqa Leony Putri
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)