Bisnis.com, JAKARTA —PT Blue Bird Tbk. (BIRD) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kinerja tetap stabil di tengah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi yang berlaku per Senin (4/5/2026).
Perseroan mengandalkan efisiensi operasional hingga percepatan diversifikasi armada berbasis energi alternatif seperti kendaraan listrik (EV) dan compressed natural gas (CNG).
Direktur Utama BIRD Adrianto Djokosoetono mengatakan kenaikan harga BBM menjadi salah satu dinamika operasional yang terus diantisipasi perusahaan secara terukur. Menurutnya, Bluebird telah menyiapkan berbagai langkah penyesuaian agar kualitas layanan tetap terjaga di tengah tekanan biaya operasional.
"Kami melihat potensi kenaikan harga BBM sebagai bagian dari dinamika operasional yang perlu diantisipasi secara terukur. Pengelolaan dampak dilakukan melalui penyesuaian strategi operasional dan penguatan efisiensi biaya, sehingga perusahaan tetap dapat menjaga stabilitas layanan,” ujarnya kepada Bisnis dikutip, Minggu (17/5/2026)
Saat ini, Andre, sapaan akrabnya mengatakan seluruh armada internal combustion engine (ICE) milik perseroan masih menggunakan BBM subsidi. Armada tersebut mencakup layanan taksi, rental mobil, bus, hingga shuttle.
Perseroan menilai langkah diversifikasi energi menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM konvensional.
Perseroan, lanjutnya, terus memperkuat penggunaan armada berbasis CNG dan kendaraan listrik. Strategi ini dinilai dapat membantu menekan sensitivitas perusahaan terhadap gejolak harga BBM sekaligus mendukung agenda keberlanjutan bisnis.
Selain diversifikasi energi, Bluebird juga mengoptimalkan strategi operasional melalui penyesuaian kapasitas dan penempatan armada secara lebih presisi berdasarkan titik permintaan pelanggan. Perseroan memanfaatkan sistem monitoring terintegrasi guna menjaga utilisasi armada tetap optimal.
“Kami memastikan layanan tetap berada pada level optimal, sehingga kinerja perusahaan dapat tetap terjaga di tengah dinamika yang terjadi,” imbuhnya.
Di sisi lain, pengembangan armada listrik tetap menjadi bagian dari arah strategis jangka panjang Bluebird. Namun implementasinya dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan ekosistem kendaraan listrik, kebutuhan pasar, hingga kelayakan investasi di masing-masing wilayah operasional.
Bluebird menilai pendekatan bertahap tersebut penting agar pengembangan armada tetap sejalan dengan kebutuhan layanan masyarakat, sekaligus menjaga keseimbangan antara efisiensi operasional, kualitas layanan, dan keberlanjutan bisnis.
Emiten taksi milik keluarga Djokosoetono tersebut membukukan pendapatan sebesar Rp1,45 triliun pada kuartal I/2026, meningkat sebesar 11,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp1,3 Triliun.
Namun demikian kinerja pendapatan tersebut tidak berbanding lurus dengan kinerja laba bersih. Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan hingga 31 Maret 2026, BIRD membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk senilai Rp155,5 miliar.
Laba bersih ini turun 6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu senilai Rp165,4 miliar.