Jakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta Profesor Angel Damayanti menyoroti pentingnya kesiapan rencana penandatanganan "Agreement on Reciprocal Tariff" (ART) antara Indonesia dengan Amerika Serikat (AS).
"Ke depan harus dibahas secara rinci. Apakah 19 persen itu sudah menguntungkan, atau masih perlu negosiasi lagi. Bisa saja ada sektor tertentu yang tarifnya lebih rendah, sementara yang lain berbeda," katanya di Kampus UKI, Jakarta Timur, Jumat.
Angel menyebutkan, penandatanganan perjanjian tarif tersebut sebagai langkah strategis yang penting bagi perekonomian nasional.
Namun, dia menekankan bahwa kesiapan regulasi dan pelaku usaha dalam negeri menjadi faktor kunci keberhasilan kesepakatan tersebut.
Menurut Angel, kesepakatan tersebut menjadi penting karena Indonesia tidak bisa berdiri sendiri dalam menghadapi dinamika ekonomi global. AS merupakan salah satu pasar strategis bagi produk-produk Indonesia.
"Secara ekonomi, kita butuh banyak negara lain. Amerika adalah pasar yang sangat penting sehingga hubungan perdagangan harus terus dibina," ujar Angel.
Selain itu, Angel mengingatkan bahwa Indonesia sebelumnya sempat terkena tarif impor sebesar 32 persen pada 2025. Kebijakan tersebut dinilai berdampak besar terhadap pelaku usaha nasional.
"Tarif 32 persen itu tentu memukul banyak pengusaha di Indonesia. Maka perlu banyak negosiasi dan akhirnya diturunkan menjadi sekitar 19 persen," katanya.
Meski demikian, Angel menilai tarif 19 persen juga masih perlu dikaji secara mendalam. Pemerintah perlu memastikan apakah besaran tarif tersebut benar-benar menguntungkan industri dalam negeri.
Selain itu, Angel menilai substansi perjanjian bukanlah satu-satunya faktor penentu keberhasilan ART. Yang jauh lebih penting adalah kesiapan pemerintah dalam mempersiapkan pelaku usaha dan masyarakat di dalam negeri.
"Yang paling penting sebenarnya bukan hanya perjanjiannya, tetapi bagaimana pemerintah mempersiapkan konstituen di dalam negeri, terutama pengusaha agar siap menghadapi tarif, persaingan dagang dan perubahan pasar," katanya.
Angel menilai arah perdagangan global saat ini menunjukkan ketertarikan besar terhadap Indonesia, khususnya terkait sumber daya alam strategis.
"Dunia sekarang kelihatannya sedang mengincar Indonesia karena kita punya banyak mineral kritis, seperti nikel, tembaga dan lainnya yang dibutuhkan untuk mobil listrik dan semikonduktor," katanya.
Kondisi tersebut, menurut Angel, membuka peluang besar bagi Indonesia, tetapi juga menuntut kesiapan yang matang agar tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah.
Selain itu, Angel menyebutkan, pemerintah perlu menyiapkan setidaknya tiga aspek utama untuk mendukung implementasi ART. Pertama, regulasi yang jelas dan berpihak pada kepentingan nasional.
Kedua, penguatan kapasitas pelaku usaha dalam negeri agar mampu bersaing. Ketiga, memastikan manfaat ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Regulasinya harus siap, pengusahanya juga harus siap, dan yang paling penting masyarakat Indonesia harus menikmati manfaatnya," tegas Angel.
Angel berharap kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga mendorong industrialisasi, penciptaan lapangan kerja serta peningkatan daya saing produk nasional.
"Kalau semua disiapkan dengan baik, ART ini bisa memperkuat posisi tawar Indonesia dalam hubungan dagang global," katanya.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan akan ada penandatangan ART dengan AS berbarengan dengan kunjungan Presiden Prabowo Subianto pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Board of Peace (BoP).
"Bapak Presiden rencananya akan menghadiri acara pada tanggal 19 (Februari), dan di sekitar tanggal tersebut juga akan ada rencana penandatanganan ART, Agreement on Reciprocal Tariff," kata Prabowo di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (11/2).
Airlangga mengatakan, dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo, dibahas terkait pembaruan perundingan antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Hingga saat ini Indonesia masih mendapat tarif resiprokal sebesar 19 persen. Tim perunding resiprokal telah melakukan upaya terbaik untuk mendapat kesepakatan.
Ia mengatakan, pemerintah masih menunggu keputusan akhir sebelum terjadinya penandatangan tarif resiprokal.
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Sri Muryono
Copyright © ANTARA 2026