Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan tembaga dan emas terbesar Indonesia yang menambang di Grasberg, Papua sudah menghentikan operasi tambang emas dan tembaga sejak bulan September 2025 menyusul kecelakaan besar akibat luncuran material basah berisi batuan dan lumpur dalam volume besar yang terjadi di Grasberg Bloc Cave, salah satu tambang bawah tanah Freeport.
Freeport harus menghentikan semua aktivitas penambangan dan menghentikan pengiriman konsentrat tembaga ke pembeli (buyer) terhitung sejak awal bulan September, 2025 silam. Penghentian itu terjadi menyusul kematian 7 pekerja yang terjebak di Grasberg Bloc Cave akibat luncuran lumpur dalam volume masif tersebut.
Longsor di GBC merusak infrastruktur, memaksa penundaan produksi di area tersebut sampai sekarang dan belum diketahui kapan bisa memulai lagi.
Pasca bencana tersebut, Freeport melakukan investigasi menyeluruh untuk menemukan detail masalah secara rinci mengapa terjadi luncuran material basah dalam skala masif di Bloc Cave, salah satu wilayah operasi tambang dengan produksi terbesar di Grasberg.
Keselamatan pekerja menjadi yang paling prioritas. Namun di sisi lain, dengan kecelakaan itu, Freeport bisa menemukan titik lemah metode penambangan underground (tambang bawah tanah) di Grasberg Block Cave dan penemuan sains dan teknologi apa yang akan digunakan setelah menemukan fakta sesungguhnya dari kecelakaan tersebut.
Pemerintah melalui kementerian ESDM hanya memberikan izin untuk area lain seperti Big Gossan dan Deep Mill Level Zone (DMLZ), tapi belum sepenuhnya berproduksi. Menurut informasi, produksi Freeport dari dua wilayah itu hanya mencapai 30 persen dari rata-rata produksi harian Freeport yang mencapai hampir 170.000 matrik ton per hari.
Dalam laporan teranyar, induk usaha Freeport, Freeport McmoRRan mengeluarkan rilis yang mengatakan bahwa secara akumulatif, produksi emas Freeport Indonesia tahun 2025 turun menjadi 900.000 ons dan tembaga menjadi 1,0 miliar pon atau jauh di bawah tingkat produksi normal yang seharusnya bisa mencapai 1,3 juta ons emas dan 1,7 miliar pon tembaga per tahun.
Dengan begitu, produksi emas Freeport tahun 2025 turun hampir 50 persen dibandingkan produksi tahun 2024 dan produksi tembaga turun 43 persen dari 1,80 1,80 miliar pon pada 2024.
Dalam rilis itu, Freeport memperkirakan pemulihan operasi secara bertahap di Grasberg Block Cave baru akan dimulai pada kuartal kedua tahun 2026 dan produksi normal pulih pada paruh kedua tahun 2026 ini. Dampak insiden tersebut juga merambah ke sektor hilir, yang mana operasi peleburan (smelter) PTFI di Jawa Timur sempat dihentikan sementara pada kuartal keempat 2025 karena minimnya pasokan konsentrat tembaga.
Pengiriman pasokan ke smelter baru diperkirakan baru akan kembali normal pada paruh kedua 2026, bergantung pada keberhasilan pemulihan produksi di hulu.
Risikonya, produksi tembaga dan emas turun. Pendapatan dan laba Freeport terpangkas di tengah pesta harga komoditas emas, perak dan tembaga. Dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham MIND ID (anggota Danantara) dan pemerintah juga turun.
Kontribusi Freeport ke penerimaan negara juga ikut turun. Bukan hanya pemerintah pusat yang berdampak, pemerintah daerah di provinsi Papua Tengah dan kabupaten Mimika, Papua akan terseret akibat penghentian ini. Kabupaten Mimika paling berdampak akibat penghentian operasional ini karena kontribusi Freeport untuk PDRB kabupaten itu mencapai 94 persen.
Meskipun demikian, apalah artinya keuntungan finansial jika operasional tambang mengalama bencana apalagi merenggut nyawa pekerja. Urusan kemanusian dan keselamatan pekerja harus menjadi prioritas.
Era Underground
Era open-pit (tambang terbuka) Grasberg sudah berakhir tahun 2019. Freeport melakukan penambangan di open-pit sejak tahun 1988-2019 dengan rata-rata produksi harian sebesar 160.000 matrik ton.
Sejak tahun 2021, secara definitif, Freeport sudah memasuki era underground atau tambang bawah tanah. Berdasarkan data, cadangan tambang bawah tanah Freeport lebih besar dibandingkan tambang open-pit. Dari keseluruhan cadangan, tambang underground mengontrol hampir 90 persen cadangan ore (biji) Freeport di Grasberg.
Berdasarkan catatan kami, cadangan tambang bawah tanah mencapai 3 miliar ton ore (biji). Biji itu terdiri dari emas, perak dan tembaga. Panjang tambang bawah tanah mencapai 700 KM dan menurut proyeksi sampai penambangan tahun 2041 (masa akhir kontrak Freeport) bisa sepanjang 1000 KM. Tambang underground, mencakup wilayah Kucing Liar, DOZ Block Cave, Big Gosan, Grasberg Blok Cave dan DMLZ Block Cave. Total produksi harian di tambang underground mencapai 170.000 matrik ton per hari-200.000 matrik ton per hari.
Tahun 2023 silam, saya berkesempatan mengunjungi tambang bawah tanah Freeport. Untuk mencapai ke sana, kita harus melewati terowongan bawah tanah yang cukup panjang. Sepanjangan terowongan, kita melihat lampu cukup terang.
Terlihat beberapa generator yang cukup besar untuk mendukung kelistrikan di dalam terowongan. Begitupun dengan alat-alat berat lainnya. Itu yang membuat tambang bawah tanah Freeport menjadi tambang terbesar dan tercanggih di dunia. Dengan kompleksitas operasi di Grasberg Block Cave (GBC), Deep Mill Level Zone (DMLZ) dan Big Gossan, Freeport menjadikan keselamatan pekerja sebagai prioritas utama dalam setiap tahap kegiatan penambangan.
Freeport telah lama menjadi benchmark global dalam praktik keselamatan tambang bawah tanah dengan menjadi anggota International Council on Mining and Metals (ICMM) dan juga Copper Mark. Masuk menjadi anggota ICMM menjadi kerangka kerja penilaian yang memvalidasi praktik-praktik pertambangan tembaga yang bertanggung jawab dengan standar global Keselamatan & Kesehatan Kerja di seluruh dunia.
Hal ini terlihat dari penerapan teknologi mutakhir, mulai dari sistem monitoring real-time geoteknik, seismik, ventilasi, peralatan otomatisasi seperti loader dengan kendali jarak jauh (remote loader) dan autonomous train atau kereta tanpa awak, serta keberadaan refuge chamber untuk tempat perlindungan darurat.
Lantas apa tugas pekerja di tambang bawah tanah jika semua dikontrol dari pusat kontrol yang jauh? Meskipun teknologi sudah canggih, namun, pekerja fisik masih dibutuhkan.
Di tambang bawah tanah, pekerja bukan bertugas menggali bijih dari batuan besar. Namun, pekerjaanya lebih beragam, seperti pemeliharaan dan pengawasan kondisi area kerja. Ada juga tim keselamatan untuk memantau aktivitas tambang sesuai standar lingkungan atau tidak dan menganalisis area aman untuk melanjutkan pekerjaan.
Meskipun sistem keselamatan telah sesuai dengan standar internasional, ternyata alam di Grasberg tetap mampu membobol kekuatan teknologi secanggih apapun. Tambang bawah tanah memiliki karakteristik yang kompleks dan penuh ketidakpastian. Risiko geoteknik, fenomena wet muck atau lumpur basah, hingga faktor alam seperti gempa bumi dan curah hujan ekstrem, adalah potensi ancaman yang tidak selalu bisa diprediksi di tambang Grasberg, Papua.
Musibah yang yang terjadi blok Grasberg Block Cave September 2025 menjadi bukti nyata bahwa bahkan dengan infrastruktur keselamatan berstandar internasional tak mampu menjinakkan luncuran material basah dengan volume sangat besar yang menimbulkan tragedi kemanusian.
Kasus ini memperlihatkan batas kemampuan teknologi prediktif. Sistem real-time monitoring, remote control room, hingga block caving automation mampu menekan risiko, namun tidak sepenuhnya menghilangkan kemungkinan terjadinya bencana. Pengalaman PTFI ini juga selaras dengan berbagai insiden global di industri pertambangan, di mana standar ketat dan teknologi modern pun tetap memiliki celah terhadap peristiwa luar dugaan.
Investigasi
Investigasi menyeluruh atas kasus luncuran lumpur masif di GBC ini sangat penting. Team investigator benar-benar menemukan fakta mengapa luncuran material basah ini muncul dalam volume sangat besar. Penemuan fakta ini penting sebagai langkah agar bisa menemukan inovasi dan sistem teknologi seperti apa yang bisa benar-benar meminimalisir risiko bagi pekerja tambang bawah tanah ke depan. Manajemen tak bisa melakukan terobosan-terobosan baru jika belum menemukan penyebab sesungguhnya dari musibah ini.
Jika memang semua pekerjaan ditambang underground dikontrol dari jauh dengan menggunakan teknologi, apakah bisa semua pekerjaan yang sekarang dilakukan manusia atau para pekerja diambil-alih teknologi ke depan? Ini penting mengingat risiko tambang bawah tanah di Grasberg cukup besar. Dengan curah hujan tinggi dan batuan besar dalam tanah, risiko luncuran material dalam volume besar seperti ini bisa saja terjadi ke depan.
Maka, teknologi pengambil-alihan pekerjaan yang dilakukan oleh pekerja tambang yang saat ini dilakukan mungkin bisa membantu. Ini boleh jadi berisiko pada hilangnya pekerjaan yang dilakukan manusia, namun, pekerja-pekerja itu bisa dialihkan ke tempat lain agar tak terjadi pristiwa kemanusian berikutnya.
Tragedi ini sekaligus menegaskan bahwa setiap insiden harus menjadi pembelajaran bagi Freeport dan perusahaan tambang lainnya. Investigasi menyeluruh terhadap penyebab luncuran material basah menjadi langkah penting, tidak hanya untuk memperbaiki sistem internal, tetapi juga untuk memberi kontribusi terhadap pengembangan standar keselamatan tambang global.
Sebagaimana pengalaman industri pertambangan dunia menunjukkan, setiap musibah sering kali menjadi lahirnya standar baru atau protokol kerja baru, adopsi teknologi yang lebih adaptif, dan peningkatan mitigasi risiko berbasis data. Freeport dengan reputasinya sebagai operator tambang kelas dunia, berpotensi menjadi pionir dalam merumuskan pendekatan keselamatan baru pasca-insiden ini.