Edi Permadi, dari penjual kacang, kini Direktur Utama J Resources. Lahir dari keluarga sederhana, Edi sukses berkat etos kerja dan pendidikan tinggi. [1,007] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Terlahir dari keluarga veteran sederhana di Jakarta pada 10 Februari 1970, siapa sangka Edi Permadi pernah dipercaya menduduki jabatan direktur pada usia 29 tahun.
Namun, bagi Edi tak ada yang tidak mungkin. Sejak usia delapan tahun, Edi telah membantu perekonomian keluarga setelah ayahnya meninggal dunia dengan berjualan kacang dan makanan ringan.
Perjalanan hidup yang penuh tantangan tersebut tidak menghalanginya untuk meraih pendidikan tinggi. Edi bahkan berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Elektro di Universitas Indonesia pada 1997.
Berbekal ketangguhan hidup dan kemampuan berpikir sistematis sebagai seorang insinyur, Edi kemudian meniti karier di industri pertambangan hingga dipercaya menjabat Director of External Relations di PT International Nickel Indonesia (Inco), yang kini dikenal sebagai PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), pada usia yang belum genap 30 tahun.
Kariernya terus berkembang. Setelah berkiprah di Vale Indonesia, Edi kemudian bergabung dengan PT J Resources Asia Pasifik Tbk., perusahaan tambang emas.
Sejak Maret 2020, Edi bahkan dipercaya menduduki posisi Direktur Utama perusahaan tambang emas berkode saham PSAB tersebut.
Selain aktif di dunia korporasi, Edi juga terlibat dalam berbagai pemikiran strategis terkait dengan pembangunan nasional, penguatan ketahanan negara, dan pengelolaan sumber daya alam Indonesia.
Saat ini, Edi juga dipercaya sebagai Tenaga Profesional Bidang Sumber Kekayaan Alam di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Republik Indonesia.
Perjalanan hidup dan karier Edi Permadi, seorang profesional yang meniti karier dari latar belakang sederhana hingga dipercaya menjadi direktur pada usia 29 tahun, kini diabadikan dalam buku berjudul “Edi Permadi Direktur di Usia 29 Tahun”.
Buku tersebut resmi diluncurkan di Sekolah Master (Masjid Terminal), Depok pada Senin (1/6/2026). Peluncuran buku ini mendapat apresiasi dari berbagai tokoh nasional, akademisi, kalangan bisnis, serta keluarga dan kolega yang hadir.
Di mata rekan sekaligus mentornya, Eddie Arsyad, sosok Edi Permadi memiliki karakter kuat, semangat belajar, dan kemampuan berkembang yang menjadi modal penting dalam perjalanan kariernya.
Potensi tersebut kemudian terus diasah melalui pengalaman dan peningkatan kompetensi hingga mengantarkannya ke posisi puncak di industri pertambangan. “Ketika Edi masih berada di grup Human Capital yang saya pimpin, kami sudah melihat adanya potensi besar dalam dirinya. Pada akhirnya, keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh keinginannya sendiri untuk terus mengembangkan dan mengisi potensi yang ada dalam dirinya,” katanya.
Eddie Arsyad yang kini menjabat sebagai Director & Principal Advisor PT Quintave Kinerja Mulia, menilai pencapaian Edi Permadi menjadi direktur pada usia 29 tahun merupakan hasil dari potensi dan kapasitas kepemimpinan yang telah terlihat sejak awal kariernya.
Menurut dia, jabatan strategis tidak ditentukan oleh usia, melainkan oleh kemampuan seseorang dalam mengembangkan potensi yang dimiliki. “Ada anggapan bahwa seseorang harus mencapai usia tertentu untuk menjadi direktur. Menurut saya, itu hanyalah mitos. Yang menentukan bukanlah usia, melainkan potensi yang dimiliki individu tersebut,” ujar Arsyad.
Setali tiga uang, Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Budi Santoso menilai, Edi Permadi sebagai sosok profesional yang memiliki kombinasi kemampuan yang jarang dimiliki seorang engineer.
Menurut dia, meski berlatar belakang Teknik Elektro, Edi mampu membangun komunikasi dan hubungan yang kuat dengan berbagai pemangku kepentingan melalui pendekatan yang humanis dan penuh empati.
“Cara beliau membawa diri, berkomunikasi, dan membangun hubungan dengan berbagai pihak sangat humanis. Pendekatan profesional yang beliau lakukan selalu dibalut dengan sentuhan personal dan empati yang kuat. Saya bahkan sempat berpikir tidak mungkin ini seorang engineer,” ujar Budi.
Budi mengaku pernah bekerja bersama dengan Edi di J Resources dan menyaksikan langsung bagaimana Edi menangani berbagai persoalan bisnis yang kompleks. Menurut dia, Edi selalu mengedepankan keputusan yang berbasis data dan analisis yang matang, tetapi tetap mampu menjaga hubungan baik dengan semua pihak.
Kombinasi antara kompetensi teknis, kepemimpinan, dan kemampuan membangun relasi inilah yang membuat Edi berhasil menempati berbagai posisi strategis di industri pertambangan. “Yang saya kagumi, seluruh keputusan dibuat dengan perhitungan yang sangat matang dan disiplin. Namun dalam proses diskusi maupun penyampaiannya kepada berbagai pihak, beliau tetap mengedepankan empati dan hubungan personal yang baik. Bagi saya, itulah yang membuat Pak Edi menjadi sosok yang lengkap,” tuturnya.
Peluncuran buku berjudul “Edi Permadi Direktur di Usia 29 Tahun” di Sekolah Master (Masjid Terminal), Depok pada Senin (1/6/2026). /Istimewa
Fondasi Penting Keberhasilan Edi
Dalam sambutannya, Edi mengungkapkan bahwa buku berjudul “Edi Permadi Direktur di Usia 29 Tahun” lahir dari dorongan para sahabat dan kolega yang meminta dirinya mendokumentasikan berbagai pengalaman hidup dan karier yang selama ini tersebar dalam catatan pribadi maupun tulisan-tulisan terpisah.
“Buku ini lahir dari dorongan banyak sahabat yang meminta saya menuliskan pengalaman dan perjalanan hidup yang selama ini tersebar dalam berbagai catatan, tulisan, maupun kenangan. Akhirnya saya mencoba mengumpulkannya menjadi satu karya yang dapat dibaca dan dipelajari bersama,” kata Edi.
Dia menjelaskan, buku tersebut dibagi menjadi tiga fase perjalanan hidup, yakni sebagai profesional, entrepreneur, dan warga negara yang ingin memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.
Salah satu gagasan utama yang diangkat dalam buku tersebut adalah konsep "Tujuh E", yang menurut Edi menjadi fondasi penting dalam mencapai keberhasilan. Ketujuh nilai tersebut meliputi Ethos (etos kerja), Effectiveness (efektivitas), Efficiency (efisiensi), Empathy (empati), Ethics (etika), Eling (mengingat Tuhan Yang Maha Esa), dan Emak (keberkahan ibu).
“Etos kerja merupakan fondasi utama keberhasilan. Saya melihat bahwa keberhasilan tidak datang secara kebetulan, melainkan melalui kerja keras yang dilakukan secara konsisten,” katanya.
Edi juga menekankan pentingnya integritas dan etika dalam perjalanan karier seseorang. “Keberhasilan tanpa etika tidak akan bertahan lama. Karena itu, integritas harus menjadi fondasi dalam setiap tindakan dan keputusan yang kita ambil,” ujarnya.
Selain itu, dia meyakini bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu semata, tetapi juga oleh dukungan keluarga dan doa orang tua. “Doa seorang ibu memiliki kekuatan yang luar biasa. Restu dan keberkahan orang tua, khususnya ibu, merupakan salah satu faktor penting yang mendukung perjalanan hidup seseorang. Saya percaya bahwa keberhasilan bukan hanya hasil kerja keras pribadi, tetapi juga hasil dari doa, dukungan, dan pengorbanan orang tua yang selalu menyertai langkah kita,” tutur Edi.
Melalui buku ini, Edi mengaku tidak bermaksud memberikan resep sukses kepada pembaca. Sebaliknya, dia ingin berbagi pengalaman, pelajaran, kegagalan, dan proses panjang yang membentuk perjalanan hidupnya.
“Saya hanya ingin berbagi pengalaman, pelajaran, kegagalan, dan proses yang saya jalani selama ini. Jika ada manfaat yang dapat dipetik oleh generasi muda maupun para profesional dari kisah yang saya tuliskan, maka tujuan buku ini telah tercapai,” ujarnya.
Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian Vidi Aldiano, musisi yang bernama lengkap... | Halaman Lengkap [227] url asal
JAKARTA - Departemen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Indonesia ( FTUI ) menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian Vidi Aldiano . Musisi yang bernama lengkap Oxavia Aldiano itu berpulang pada Sabtu (7/3/2026).
Ucapan duka cita tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi Departemen Teknik Elektro FTUI, @dteftui. Dalam unggahannya, pihak departemen menyampaikan doa sekaligus penghormatan kepada keluarga almarhum.
“Departemen Teknik Elektro FTUI turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Oxavia (Vidi) Aldiano bin Harry Aprianto,” tulis akun tersebut, dikutip Senin (9/3/2026).
Departemen Teknik Elektro FTUI juga mendoakan agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
“Semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT, diampuni segala dosanya, diterima amal ibadahnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Aamiin,” lanjut pernyataan tersebut.
Departemen Teknik Elektro FTUI juga menulis bahwa Vidi Aldiano adalah putra dari Harry Aprianto, alumni Departemen Teknik Elektro FTUI angkatan 1981. Harry Aprianto dikenal sebagai bagian dari keluarga besar alumni Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Seperti diketahui, Vidi Aldiano meninggal dunia pada Sabtu, 7 Maret 2026, setelah berjuang melawan kanker ginjal selama sekitar tujuh tahun. Kepergian penyanyi yang dikenal lewat sejumlah lagu populer ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, serta para penggemarnya.
Jenazah Vidi Aldiano kemudian dimakamkan di TPU Tanah Kusir. Kepergian Vidi di usia 35 tahun pun memicu gelombang ucapan duka dari berbagai kalangan, termasuk komunitas akademik.
Berapa biaya kuliah jurusan Teknik Elektro ITB yang merupakan almamater Menkeu Purbaya akan diulas di artikel berikut ini. Calon mahasiswa baru ITB, cek informasinya.... | Halaman Lengkap [421] url asal
JAKARTA - Berapa biaya kuliah jurusan Teknik Elektro ITB yang merupakan almamater Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa akan diulas di artikel berikut ini. Informasi ini menjadi panduan penting untuk calon mahasiswa baru yang ingin kuliah di jurusan yang sama dengan Purbaya.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa tengah menjadi sorotan publik belakangan ini. Sosoknya dikenal tak hanya karena kebijakan fiskalnya yang tegas dan sering mengejutkan pelaku ekonomi, tetapi juga karena gaya komunikasinya yang lugas dan cenderung “koboi”.
Banyak yang belum tahu bahwa Purbaya merupakan lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu kampus teknik terbaik di Indonesia. Latar belakang inilah yang dinilai ikut membentuk karakter dan cara berpikirnya sebagai Menkeu.
Anak Teknik ITB di Kursi Menkeu
Purbaya Yudhi Sadewa memperoleh gelar Sarjana dari jurusan Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB), memperoleh gelar Master of Science (MSc) dan gelar Doktor di bidang Ilmu Ekonomi dari Purdue University, Indiana, Amerika Serikat.
Purbaya menempuh pendidikan S1 di Teknik Elektro ITB sebelum melanjutkan karier akademik dan profesionalnya di bidang ekonomi. Kombinasi ilmu teknik dan kebijakan publik membuat pendekatannya berbeda dari menteri-menteri keuangan sebelumnya. Ia dikenal analitis, sistematis, dan tak ragu menyampaikan pandangan secara blak-blakan, bahkan jika dianggap tidak populer.
Beberapa pengamat menilai gaya koboinya lahir dari pola pikir anak teknik yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan pendekatan teknis dan langsung ke inti persoalan. Tidak banyak basa-basi, tidak mengulur waktu, dan cenderung suka tantangan. Hal ini terlihat dari caranya merespon isu fiskal, utang negara, subsidi, hingga efisiensi anggaran.
Purbaya juga kerap menyampaikan pandangan ekonomi dalam kalimat sederhana, lugas, dan tanpa bahasa normatif khas birokrasi. Gaya bicara seperti ini membuatnya dekat dengan publik namun kadang membuat sebagian lawan bicara kelabakan.
Berapa Biaya Kuliah Teknik Elektro ITB Saat Ini?
Sebagai calon mahasiswa yang ingin kuliah di jurusan Teknik Elektro ITB, banyak yang penasaran berapa biaya kuliah di jurusan tersebut sekarang. ITB menggunakan sistem UKT (Uang Kuliah Tunggal) untuk mahasiswa jalur SNBP, SNBT, dan sebagian seleksi tertentu.
Berikut rinciannya:
UKT 1: Rp500.000
UKT 2: Rp1.000.000
UKT 3: Rp4.500.000
UKT 4: Rp6.500.000
UKT 5: Rp8.500.000
UKT 6: Rp10.500.000
UKT 7: Rp12.500.000
Mahasiswa jalur seleksi mandiri wajib membayar uang pangkal (IPI/Institusi Pengembangan Institusi) selain UKT. Kategorinya sebagai berikut:
IPI 1: Rp55 juta
IPI 2: Rp65 juta
IPI 3: Rp75 juta
IPI 4: Rp85 juta
Besaran IPI ditentukan berdasarkan kemampuan ekonomi calon mahasiswa. Dengan angka-angka tersebut, biaya kuliah Teknik Elektro ITB saat ini jauh berbeda dari masa kuliah Purbaya Yudhi Sadewa puluhan tahun lalu.