#30 tag 24jam
Perjuangan Teuku Feroz Bantu Anak Aceh Tembus Kampus Top Nasional
Ketimpangan akses pendidikan tinggi di Indonesia masih menjadi tantangan nyata, terutama bagi pelajar dari daerah. Ketimpangan akses pendidikan tinggi di Indonesia... | Halaman Lengkap [894] url asal
#tanoto-foundation #perguruan-tinggi-negeri #aceh #alumni-itb
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 24/05/26 10:22
v/230449/
JAKARTA - Ketimpangan akses pendidikan tinggi di Indonesia masih menjadi tantangan nyata, terutama bagi pelajar dari daerah. Kondisi itu yang mendorong Teuku Feroz Taufan bergerak membantu anak-anak muda di Aceh agar memiliki peluang lebih besar menembus perguruan tinggi negeri (PTN) favorit di Indonesia.Berangkat dari pengalamannya sendiri sebagai siswa asal Aceh yang merasakan ketatnya persaingan masuk kampus ternama, Feroz melihat banyak pelajar di daerah sebenarnya memiliki kemampuan yang tidak kalah. Namun, keterbatasan informasi, strategi belajar, hingga minimnya pendampingan membuat mereka sulit bersaing dengan siswa dari kota-kota besar.
Keresahan tersebut kemudian melahirkan Ekadanta Learning Center pada 2019. Bersama sejumlah rekan alumni, Teuku Feroz Taufan membangun lembaga pendidikan yang fokus memberikan pembinaan intensif bagi siswa SMA dan SMK di Aceh agar lebih siap menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi negeri unggulan.
Feroz masih teringat, pada tahun 2015 ketika ia masuk ITB, hanya ada 19 siswa dari seluruh Provinsi Aceh yang berhasil lolos melalui jalur tes tulis.
Angka tersebut justru terus merosot hingga menyisakan empat orang saja pada saat ia lulus di tahun 2019. Aceh bahkan sempat menjadi sorotan karena mencatatkan nilai ujian kompetensi yang terendah di Sumatra.
“Aceh menjadi provinsi termiskin, dan nilai TKA di pertengahan tahun 2010an itu terendah di Sumatra. Jadi, itu memang cukup memprihatinkan. Jadi, saya merasa ini nih yang perlu dibantu dulu agar lebih banyak anak-anak Aceh yang diterima di kampus negeri papan atas nasional,” ujar dia, melalui siaran pers, dikutip Minggu (23/5/2026).
Melihat kondisi yang memprihatinkan tersebut, Feroz tidak tinggal diam. Berangkat dari latar belakang keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan dan pengalamannya mencicipi beasiswa sejak SMA, ia merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu.
Pada akhir tahun 2019, bersama beberapa rekan sesama alumni ITB, ia menginisiasi berdirinya Ekadanta Learning Center, sebuah lembaga pendidikan yang dirancang khusus untuk menjadi jembatan bagi siswa SMA di Aceh agar mampu menembus PTN favorit.
“Saat itu kami fokus dulu ke Banda Aceh dan inilah yang realistis, yakni mendorong anak-anak SMA atau SMK tembus kampus top,” jelasnya.
Feroz memilih Banda Aceh sebagai focus program karena anak-anak dari berbagai desa di Aceh rata-rata pergi ke kota tersebut untuk menempuh pendidikan yang lebih baik
Perjalanan merintis Ekadanta tentu tidak mudah. Feroz harus melakukan brainstorming, menyusun data, hingga mengetuk pintu rumah para alumni senior asal Aceh di Jakarta untuk menggalang dana awal.
Pada angkatan pertama, program ini berjalan 100% gratis untuk 40 siswa terbaik di Banda Aceh yang disaring ketat melalui jalur tes. Hasilnya pun luar biasa; tingkat siswa asal Aceh yang berhasil masuk ITB melonjak hingga 300% pada tahun tersebut.
Kini, Ekadanta telah memasuki tahun ketujuh dan berjalan secara mandiri. Melalui peta jalan (roadmap) yang matang, Feroz menerapkan sistem subsidi silang dan diversifikasi pendapatan, termasuk menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah untuk melatih para guru agar dampak yang dihasilkan bisa lebih masif dan berkelanjutan.
Di luar dedikasinya yang tinggi untuk tanah kelahirannya, Feroz adalah seorang profesional muda yang memiliki karier cemerlang. Lulus dari Teknik Mesin ITB pada Juli 2019, ia langsung direkrut melalui jalur talent pool kampus sebelum proses wisuda resminya.
Ia memulai kariernya selama empat tahun di EQUITEK, sebuah perusahaan Konsultan Manajemen dan Teknologi, dengan menangani berbagai proyek transformasi untuk BUMN-BUMN besar seperti Pos Indonesia, Krakatau Steel, hingga RSCM.
Kariernya kian melesat saat memutuskan pindah ke Altha Consulting pada Oktober 2023. Di perusahaan keduanya ini, ia fokus pada strategi, transformasi proses bisnis, dan teknologi untuk sektor logistik BUMN.
Berkat kompetensinya, Feroz berhasil mendapatkan promosi ganda, dari posisi Manajer di tahun 2023 menjadi Senior Manager pada September 2025.
Di tengah padatanya jadwal pekerjaan utamanya, termasuk rutinitas bepergian dari Jakarta ke berbagai kota setiap minggu, posisi manajerial ini justru memberinya ruang dan fleksibilitas untuk tetap mengontrol operasional Ekadanta di luar jam kerja.
Keberhasilan Feroz dalam menyeimbangkan karier profesional dan aksi sosialnya diakui tidak lepas dari peran besar Tanoto Foundation. Saat masih berkuliah di tingkat satu, ia berhasil terpilih sebagai penerima beasiswa prestasi yang kala itu bernama National Championship Scholarship (NCS).
Bagi Feroz, Tanoto Foundation memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar bantuan finansial, yakni kurikulum pengembangan diri (Self Development) yang sistematis dan terstruktur.
Selama menjadi penerima beasiswa, Feroz ditempa melalui berbagai program sosial seperti mengajar di panti asuhan, hingga pelatihan kepemimpinan intensif.
Di sanalah ia mengasah soft skill krusial yang digunakannya hingga hari ini: kemampuan melakukan presentasi, bernegosiasi, dan cara memengaruhi orang lain (how to influence people).
Ilmu-ilmu manajemen program dan komunikasi yang ia dapatkan dari Tanoto Foundation-lah yang menjadi pondasi kokoh baginya saat harus meyakinkan dinas pendidikan, kepala sekolah, hingga para donatur alumni demi memajukan Ekadanta.
“Kemampuan seperti ini tidak saya lihat pada program beasiswa lain, yang mungkin lebih berfokus pada pemberian uangnya saja. Di Tanoto Foundation ini, programnya dibuat secara sistematis,” jelas dia.
Sebagai anak muda Aceh yang pernah merasakan langsung tantangan menembus perguruan tinggi terbaik nasional, Teuku Feroz menyimpan harapan besar agar semakin banyak generasi muda dari daerah dapat memiliki kesempatan dan kepercayaan diri untuk bersaing di tingkat nasional.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan semata soal kemampuan akademik, melainkan keterbatasan akses terhadap informasi, pendampingan, serta lingkungan belajar yang mampu mendorong siswa berkembang secara maksimal. Banyak pelajar di Aceh sebenarnya memiliki potensi besar, namun belum mendapatkan arahan dan strategi yang tepat untuk menghadapi persaingan masuk perguruan tinggi favorit.
Karena itu, Feroz menilai pembangunan pendidikan tidak bisa hanya berfokus pada siswa semata, tetapi juga perlu memperkuat kualitas guru, budaya belajar, serta keterlibatan para alumni untuk ikut berkontribusi membantu generasi berikutnya.
Buku Misi untuk Raka Diluncurkan, Edukasi Anak Usia Dini agar Seru Tanpa Gawai
KemenPPPA, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan Tanoto Foundation meluncurkan buku cerita anak berjudul “Misi untuk Raka Kementerian... | Halaman Lengkap [601] url asal
#buku #buku-baru #tanoto-foundation #kementerian-pemberdayaan-perempuan-dan-perlindungan-anak #pendidikan-anak-usia-dini
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 13/05/26 18:54
v/220618/
JAKARTA - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan Tanoto Foundation meluncurkan buku cerita anak berjudul “Misi untuk Raka” pada Rabu (13/5/2026)..Melalui kolaborasi lintas sektor ini, ketiga pihak menghadirkan buku cerita bergambar bagi anak usia 3–8 tahun yang tidak hanya mendorong aktivitas tanpa gawai, tetapi juga menjadi panduan praktis bagi orang tua dalam mendampingi penggunaan gawai secara bijaksana di rumah.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi menegaskan pentingnya penguatan peran keluarga dalam mendampingi anak di era digital.
“Tanpa pengawasan yang jelas dan berorientasi pada kepentingan terbaik anak, penggunaan gawai berlebihan berisiko mengganggu kebutuhan dasar anak akan aktivitas fisik, interaksi sosial, dan pengalaman belajar yang sesuai dengan tahap perkembangannya,” ujar Menteri PPPA, melalui siaran pers, Rabu (13/5/2026).
Menteri PPPA juga menyampaikan buku “Misi untuk Raka” hadir sebagai instrumen edukatif untuk membantu orang tua dan anak membangun dialog dan menemukan kembali kegembiraan dalam aktivitas fisik dan interaksi langsung yang menyehatkan.
“Perlu kolaborasi banyak pihak untuk menjaga pertumbuhan anak Indonesia optimal, bukan hanya dari orang tua, guru, dan pemerintah, namun juga pihak lain yang berkaitan. Inilah mengapa melalui buku ini kami berkolaborasi dengan Kemendikdasmen dan Tanoto Foundation, yang memiliki visi yang sama,” sambung Menteri PPPA.
Di tempat yang sama, Staf Khusus Mendikdasmen Bidang Pendidikan Inklusif dan Pemerataan Pendidikan Daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar Kemendikdasmen, Rita Pranawati menekankan respon yang diberikan harus tepat dengan perkembangan yang ada.
"Di tengah pesatnya era digital yang membawa tantangan seperti adiksi gawai hingga rendahnya literasi digital, pendidikan harus merespons tidak hanya melalui aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter yang fundamental, salah satunya lewat Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dari Kemendikdasmen,” sebut Rita.
Buku ini turut mendukung penguatan karakter, yang juga mengandung nilai-nilai yang senada dengan Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. “Kami menyambut baik buku Misi Untuk Raka, yang menguatkan pilar-pilar Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Melalui cerita, anak-anak memiliki alternatif yang positif sekaligus bermanfaat bagi dirinya”, ujar Rita.
Head of Policy & Advocacy Tanoto Foundation, Eddy Henry, yang turut hadir dalam peluncuran ini mengatakan bahwa penguatan kapasitas pengasuh dan penyediaan alternatif aktivitas tanpa gawai menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
“Teknologi telah menjadi bagian dari kegiatan keseharian keluarga. Namun, anak usia dini tetap membutuhkan ruang untuk bergerak, bermain, membaca, berkarya, dan membangun interaksi sosial secara nyata. Karena itu, melalui buku ini kami ingin menghadirkan pendekatan yang lebih positif, yaitu tidak hanya membatasi penggunaan gawai, tetapi juga memperkenalkan aktivitas alternatif yang menyenangkan dan bermakna bagi anak,” ujarnya.
Tanoto Foundation, organisasi filantropi independen di bidang pendidikan dan kesehatan yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada tahun 1981, sebelumnya telah meluncurkan tiga Buku Cerita Anak SIGAP bersama KemenPPPA dan Kemendikdasmen.
Buku-buku tersebut yaitu “Rubrik Unik Korona” yang menjadi sarana edukasi mengenai pandemi pada tahun 2021, “Saat Noni Datang” yang mengangkat tema edukasi emosi dan perasaan pada 2022, dan “Bisa atau Tidak, Ya?” yang mendorong tumbuhnya kemandirian pada anak sejak usia dini di tahun 2024.
“Buku-buku ini menjadi bukti nyata dari komitmen kami dalam membantu pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan pengasuhan dan literasi anak,” tutup Eddy.
Sebagai buku seri keempat, “Misi untuk Raka” mengangkat empat aktivitas utama #SeruTanpaLayar, yaitu bergerak, berbuat baik, membaca, dan berkarya. Buku ini juga dilengkapi tips praktis bagi orang tua melalui prinsip 3S: screen time, screen break, dan screen zone untuk membantu menciptakan lingkungan pengasuhan yang sehat dan seimbang di rumah.
Untuk menjangkau anak-anak dan keluarga di seluruh Indonesia, buku “Misi untuk Raka” tersedia dalam format cetak dan dapat diunduh secara gratis melalui situs resmi Tanoto Foundation
Tanoto Foundation Fellowship 2026 Kembali Dibuka, Cek Persyaratannya
Tanoto Foundation Fellowship 2026 resmi membuka pendaftaran hingga 22 Mei 2026 secara daring. Program ini bertujuan untuk menciptakan pemimpin masa depan Indonesia... | Halaman Lengkap [368] url asal
#tanoto-foundation #beasiswa #beasiswa-luar-negeri
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 17/04/26 19:09
v/194928/
JAKARTA - Tanoto Foundation Fellowship 2026 resmi membuka pendaftaran hingga 22 Mei 2026 secara daring. Program ini bertujuan untuk menciptakan pemimpin masa depan Indonesia di sektor pembangunan sosial dan pendidikan.Para lulusan muda yang terpilih akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman belajar langsung dari para pakar, sambil berkontribusi nyata dalam membangun ekosistem sosial yang lebih baik.
Para peserta terpilih, atau yang dikenal sebagai Tanoto Fellow, akan ditempatkan selama satu tahun di kantor regional Tanoto Foundation di Riau, Sumatra Utara, Jawa Tengah, dan Kalimantan Timur. Tanoto Fellow akan terlibat dalam proyek-proyek yang mendukung pengembangan pendidikan dan peningkatan kapasitas komunitas lokal.
“Program ini memberi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kepemimpinan, inovasi, dan kemampuan kolaborasi di lapangan. Para Tanoto Fellow tidak hanya belajar teori, tetapi dapat langsung menerapkan pengetahuan mereka di lapangan. Mereka akan menghadapi realitas lapangan dan belajar merancang solusi yang dibutuhkan oleh masyarakat,” ujar Yosea Kurnianto, Head of Leadership Development & Scholarship Tanoto Foundation, melalui siaran pers, Jumat (17/4/2026).
Selain pengalaman lapangan, peserta program juga akan mendapatkan:
1. Pembinaan kepemimpinan berbasis proyek yang menantang keterampilan strategis dan manajemen.
2. Bimbingan, coaching, dan mentoring dari pakar pendidikan berpengalaman.
3. Uang saku bulanan yang kompetitif serta dana pengembangan inisiatif sosial di akhir program.
4. Akses ke Tanoto Fellows Network, komunitas alumni yang berfokus pada pembelajaran berkelanjutan dan kolaborasi di sektor pendidikan.
Kriteria Pendaftaran Fellowship Tanoto Foundation 2026
• Warga Negara Indonesia
• Usia maksimal 26 tahun
• Lulusan S1 atau S2 dari berbagai jurusan
• Memiliki motivasi untuk berkontribusi pada sektor Pembangunan sosial di Indonesia
• Bersedia mengikuti program selama satu tahun penuh
Proses Seleksi Fellowship Tanoto Foundation 2026
1. Pendaftaran online melalui website resmi Tanoto Foundation:
bit.ly/TF-Fellowship2026
2. Asesmen potensi kepemimpinan secara daring
3. Studi kasus dan wawancara akhir secara daring
Jadwal Fellowship Tanoto Foundation 2026
1. 6 April – 22 Mei 2026 : Pendaftaran daring
2. 2-3 Juni 2026 : Pengumuman hasil seleksi administrasi
3. 4-12 Juni 2026 : Seleksi asesmen
4. 18-19 Juni 2026 : Pengumuman seleksi asesmen
5. 22-30 Juni 2026 : Seleksi studi kasus dan wawancara
6. 10-17 Juli 2026 : Pengumuman seleksi studi kasus dan wawancara
Bagi generasi muda yang siap menjadi agen perubahan dan pemimpin masa depan dalam pendidikan Indonesia, kesempatan ini terbuka lebar untuk ikut berpartisipasi.
Kemendikdasmen Gandeng Mitra Global Perkuat Literasi dan Numerasi Nasional
Tantangan literasi dan numerasi masih menjadi persoalan mendasar dalam pendidikan Indonesia. Hal inipun menjadi perhatian pemerintah dan juga mitra nasional hingga... | Halaman Lengkap [765] url asal
#pendidikan #tanoto-foundation #literasi #gates-foundation #kemendikdasmen
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 09/04/26 18:58
v/186791/
JAKARTA - Tantangan literasi dan numerasi masih menjadi persoalan mendasar dalam pendidikan Indonesia. Hal inipun menjadi perhatian pemerintah dan juga mitra nasional hingga internasional.Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) bersama Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF menginisiasi Partisipasi Semesta untuk Pendidikan Bermutu: “Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional”.
Program ini juga didukung oleh pemerintah daerah dari sejumlah kabupaten/kota sebagai bagian dari upaya bersama meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.
Kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat implementasi Gerakan Literasi Nasional (GLN) dan Gerakan Numerasi Nasional (GNN) di tingkat satuan pendidikan, khususnya melalui peningkatan kualitas pembelajaran di kelas awal sekolah dasar, penguatan kapasitas guru, serta pemanfaatan data asesmen diagnostik untuk mendukung pembelajaran yang berpusat pada kebutuhan murid.
Selain itu, kolaborasi tersebut direncanakan berlangsung hingga tahun 2029 dengan sasaran siswa kelas awal sekolah dasar yang difokuskan pada penguatan kemampuan dasar siswa di kelas awal sekolah dasar, yang menjadi fondasi penting bagi penguasaan ilmu pengetahuan selanjutnya.
Kemampuan membaca, menulis, dan berhitung tidak hanya menjadi dasar akademik, tetapi juga berperan dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan berpikir siswa.
Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menekankan bahwa berbagai tantangan seperti learning loss, learning poverty, serta capaian literasi dan numerasi yang belum optimal harus menjadi pendorong untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
“Berbagai permasalahan yang kita hadapi bukanlah akhir, melainkan motivasi untuk bekerja lebih baik. Kita harus memastikan bahwa seluruh anak Indonesia mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata,” ujar Muti, melalui siaran pers, Kamis (9/4/2026)
Sementara itu, Head of Learning Environment Department Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati, menegaskan bahwa literasi dan numerasi merupakan fondasi utama dalam menentukan keberhasilan pembelajaran anak. Ia menyampaikan bahwa penguatan kedua aspek tersebut tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kolaborasi multipihak yang saling melengkapi antara pemerintah, mitra pembangunan, dan pemerintah daerah.
“Bagi Tanoto Foundation, literasi dan numerasi bukan sekadar keterampilan akademik, tetapi fondasi yang menentukan apakah seorang anak dapat terus belajar, berpikir kritis, dan berkembang di masa depan,” ujarnya.
Margaretha menyampaikan urgensi penguatan literasi dan numerasi sejak dini melalui pendekatan yang terstruktur dan berbasis data yang akan difokuskan pada penguatan praktik pembelajaran di kelas serta pemanfaatan data untuk memastikan intervensi yang tepat sasaran bagi siswa.
“Kami meyakini bahwa kemajuan tidak dapat dicapai oleh satu pihak saja. Kolaborasi yang kuat, didukung praktik pembelajaran yang efektif dan berbasis data, akan mampu mendorong peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Country Representative UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, menegaskan pentingnya pemenuhan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas melalui kolaborasi multipihak yang kuat. Ia menyampaikan bahwa upaya bersama antara pemerintah, mitra pembangunan, dan pemangku kepentingan pendidikan merupakan investasi krusial bagi masa depan generasi muda Indonesia.
“Setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Upaya kolektif bersama yang kita lakukan hari ini merupakan investasi penting agar anak-anak dapat mencapai masa depannya,” ujarnya.
Maniza menyoroti tantangan krisis pembelajaran yang masih dihadapi secara global maupun nasional, termasuk capaian literasi dan numerasi yang belum optimal. Ia juga menyampaikan apresiasi karena Indonesia telah menunjukkan kemajuan dalam akses pendidikan dasar, penguatan kualitas pembelajaran tetap menjadi prioritas.
Dalam hal ini, UNICEF menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pemerintah Indonesia melalui pendekatan inovatif dan berbasis bukti.
“Dunia saat ini masih menghadapi krisis pembelajaran, yang dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian di tingkat global serta perubahan lanskap kerja sama multilateral. Hampir 7 dari 10 dari setiap anak di Dunia mengalami krisis pembelajaran. Banyak anak belum mampu membaca dan memahami teks sederhana pada usia 10 tahun, sehingga diperlukan upaya kolektif untuk mengatasinya,” tegasnya.
Senada dengan hal itu, Senior Program Officer for Global Education, Gates Foundation India, Satish Menon juga menegaskan bahwa kolaborasi multipihak menjadi kunci dalam memperkuat fondasi literasi dan numerasi secara berkelanjutan di Indonesia.
Melalui inisiatif ini, dukungan akan menjangkau sedikitnya 45.000 siswa dengan pendekatan yang terukur dan berbasis praktik baik global. “Inisiatif ini menunjukkan bahwa kemitraan yang kuat dapat mendorong perubahan nyata.
Dengan kepemimpinan pemerintah, dukungan mitra, dan pemanfaatan data yang efektif, Indonesia memiliki peluang besar untuk menciptakan dampak pendidikan yang berkelanjutan dan bermakna bagi masa depan anak-anak,” ujarnya.
Dalam implementasinya, terdapat tiga fokus utama yang akan dikembangkan. Pertama, penguatan kompetensi melalui pendekatan pembelajaran yang menekankan kemampuan berpikir dasar, termasuk pemahaman teks dan pemecahan masalah secara logis.
Kedua, pembentukan kebiasaan membaca melalui peningkatan reading engagement dan ketersediaan bahan bacaan yang menarik serta mudah diakses. Ketiga, penguatan budaya belajar numerasi yang menekankan pemahaman logika, bukan sekadar hafalan angka.
Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, daerah, dan mitra pembangunan, Kemendikdasmen optimistis dapat mempercepat peningkatan kualitas pendidikan nasional sekaligus mewujudkan generasi Indonesia unggul menuju visi Indonesia Emas 2045.
Profil Faris Budiman Annas, Dosen yang Kampanyekan Literasi Kesehatan Anak Lewat Animasi
Saat ini, penggunaan karya visual dan animasi sebagai strategi komunikasi untuk menyampaikan isu-isu kesehatan kepada anak-anak makin lazim diterapkan. Saat ini,... | Halaman Lengkap [1,501] url asal
#dosen #tanoto-foundation #animasi #kesehatan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/02/26 19:30
v/137087/
JAKARTA - Saat ini, penggunaan karya visual dan animasi sebagai strategi komunikasi untuk menyampaikan isu-isu kesehatan kepada anak-anak makin lazim diterapkan. Misalnya saja langkah-langkah pencegahan penularan Covid-19 di serial animasi "Upin dan Ipin" dan pengenalan tema kesehatan mental di film animasi "Inside Out 2".Faris Budiman Annas, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, menjelaskan, karya-karya visual memang efektif dalam menyampaikan kampanye kesehatan untuk anak-anak.
"Kita berikan literasi kesehatan dan gizi dalam format-format yang menarik seperti video animasi. Jadi anak-anak tidak mereasa membosankan karena kita kemas dan desain programnya sesuai usia mereka," ujarnya.
Menurutnya, seiring perkembangan strategi komunikasi dan pesatnya teknologi informasi, cara-cara kampanye tentang isu kesehatan juga terus berkembang. Karya visual dan animasi kini disebarkan melalui media digital, bahkan dikombinasikan sebagai permainan interaktif.
"Kita implementasikan teknologi dalam literasi gizi dan kesehatan. Jadi tidak pakai cara-cara konvensional," imbuhnya.
Metode ini bukan hanya menarik minat anak-anak. Orang tua pun dapat lebih memahami isu-isu kesehatan melalui penyampaian yang atraktif dan tak membosankan. Pada gilirannya, strategi komunikasi ini diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan, seperti perbaikan gizi dan pencegahan stunting.
Sebagai pengajar, Faris tak sekadar mengacu teori di literatur ilmu komunikasi dalam menyampaikan perkembangan tersebut. Hal itu ia buktikan sendiri berkat keterlibatannya sebagai relawan di Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia yang dikenal juga sebagai Yayasan Balita Sehat, sebuah lembaga nirlaba yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup dan kesehatan ibu dan anak.
"Kita punya beberapa project di daerah-daerah tertinggal seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT). Supaya anak-anak di sana melek terkait kesehatan dan gizi, pertumbuhan mereka bagus, dan mencegah stunting," paparnya.
Hingga kini, NTT memang tergolong daerah dengan angka stunting tinggi di Indonesia, yakni mencapai 37 persen pada 2023-2025. Kondisi tersebut tak lepas dari gizi buruk, kemiskinan, dan sulitnya akses air bersih di sana.
Sejak 2019, Faris terjun ke NTT untuk melakukan misi sosial dalam penanganan masalah kesehatan di daerah itu. Memanfaatkan skill-nya di bidang komunikasi, ia bertugas sebagai fotografer dan videografer yang merekam dokumentasi dan menyiapkan materi kampanye.
Pada perkembangannya, sebagai akademisi dan Sekretaris FMCH Indonesia, Faris turut memberikan arahan, menggelar brainstorming, hingga melakukan monitoring terhadap kampanye-kampanye kesehatan yang dikembangkan FMCH Indonesia. Bukan hanya di NTT, dukungan lembaga tersebut juga mencakup sejumlah wilayah di Jakarta dan Bogor.
Faris turut mengembangkan perpustakaan keliling, pertunjukan boneka, permainan interaktif, hingga seri animasi ‘Aku Bisa Hadapi Ini’ yang disebarkan di media sosial. Berbagai strategi ini dikembangkan dengan satu tujuan, yakni perbaikan gizi dan kualitas hidup anak-anak di daerah rentan tersebut.
"Kalau anak-anak ini dan orang tua mereka literasi gizinya bagus, ujung-ujungnya adalah tingkat stuntingnya menurun," tandasnya.
Mengasah Kepekaan Sosial
Tak banyak akademisi muda yang mau bersusah payah untuk terjun langsung ke lapangan menerapkan ilmunya, apalagi di bidang kerelawanan. Keterlibatan Faris untuk bergabung dengan lembaga nirlaba di ranah kesehatan ini tak lepas dari keaktifannya di berbagai kegiatan, baik akademik, bisnis, hingga sociopreneurship.
Pada 2009, Faris menempuh studi S1 Ilmu Komunkasi di Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah menjadi sarjana, pemuda asal Gorontalo, Sulawesi Utara ini sempat terjun sebagai praktisi dengan menjadi jurnalis. Faris juga mengembangkan sejumlah usaha dan startup, termasuk kafe Secangkir Kopi dan agensi media Qonten Indonesia.
Tahun 2015, Faris memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia (UI), di sinilah ia mengetahui adanya dukungan pendidikan lewat beasiswa yang diberikan lembaga filantropi Tanoto Foundation.
Tertarik, Faris pun mendaftar, mengikuti serangkaian seleksi, dan dinyatakan lolos. Tak hanya menjadi penerima beasiswa, sosoknya yang aktif membuatnya terlibat di berbagai program Tanoto Foundation yang bertujuan untuk mengasah kepemimpinan para Tanoto Scholar (penerima beasiswa).
“Kita bikin beberapa kali kegiatan, seperti menjadikan taman sebagai ruang dan program sosial di Museum Batik, Jakarta, dengan memberikan edukasi soal batik," paparnya.
Menurut Faris, Tanoto Foundation bukan hanya memberikan dukungan pendanaan pendidikan kepada mahasiswa. Beasiswa ini juga memperluas wawasan dan jejaring para penerima beasiswa dengan banyak pihak, terutama dari para alumni peraih beasiswa yang telah menyebar di berbagai bidang profesional.
"Alumni gatheringnya ini keren. Jadi kita tidak hanya dapat benefit secara ekonomi, tapi dari sisi networking dan pengalaman kita bisa dapatkan dari beasiswa Tanoto Foundation ini. Gara-gara pertemuan-pertemuan ini kita juga bisa berkolaborasi," imbuhnya.
Namun yang paling berkesan, menurut Faris, berbagai program dan pelatihan di Tanoto Foundation memberikan dampak besar baginya secara personal.
"Kepekaan terhadap isu-isu sosial itu terpantik gara-gara aktif waktu dulu dapat beasiswa. Makanya sampai sekarang, saat sudah jadi alumni pun, saya masih aktif di kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan. Kalau saya flashback, salah satu momentum yang membangkitkan insting saya untuk punya kepekaan sosial ya di program Tanoto Scholar," ujarnya.
Dengan dukungan beasiswa Tanoto Foundation, gelar master diraih Faris pada 2017. Setahun kemudian, ia mulai mengajar ilmu komunikasi di Universitas Paramadina. Ia mengaku memiliki darah sebagai seorang pendidik dari kakek yang seorang dosen dan neneknya yang menjadi guru, sementara sang ayah adalah peneliti di bidang pertanian.
"Seru aja gitu melihat orang meneliti kayaknya belajar terus. Waktu saya kecil yang saya lihat ilmuwan-ilmuwan Albert Einstein dan Thomas Alva Edison kayaknya menarik," katanya seraya tertawa.
Komitmen untuk menjadi pengajar dilandasi keyakinan Faris bahwa pendidikan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Apalagi dari sejumlah pengalamannya, ia menyaksikan sendiri perjuangan seseorang untuk mengangkat harkat hidup lewat pendidikan. Salah satunya dari mahasiswa saat ia sempat mengajar di Gorontalo.
Mahasiswa tersebut menjadi sopir becak motor (bentor) sepulang kuliah. Kini, setelah lulus, mahasiswa itu mengembangkan usaha video pernikahan di kampung halamannya berkat ilmu videografi yang diajarkan di bangku kuliah.
"Masuk kampus jadi salah satu medium saya buat berbagi ilmu dengan banyak orang, baik itu mahasiswa maupun kolega lainnya. Ilmu yang bermanfaat bisa dipakai buat kerja, dapat penghasilan, terus improve-lah kehidupannya. Pendidikan salah satu bentuk katalis untuk menaikkan level kehidupan seseorang," katanya.
Tak hanya di kelas, kiprah Faris juga menjangkau kalangan akar rumput yang lebih luas. Seperti yang dikatakannya, hal itu tak lepas dari relasi dan silaturahmi dengan komunitas alumni penerima beasiswa Tanoto Foundation yang tak pernah putus hingga membuka jejaring lebih luas.
Dari komunitas ini, Faris menerima informasi adanya kebutuhan peneliti untuk sebuah riset tentang pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kepulauan Seribu, Jakarta.
Faris pun tertarik untuk bergabung, kendati pihak perekrut melihat kualifikasi sang dosen terlalu tinggi.
"Waktu itu saya sudah kelar S2 dan mengajar, mereka kaget kenapa mau bantu. Takutnya enggak sesuai ekspektasi benefitnya. Saya pun bilang, memang saya pengin bantu, enggak ngincer timbal balik. Memang pengin cari pengalaman," ujarnya.
Kinerja Faris dalam riset tersebut menuai apresiasi. Sejumlah pihak yang terlibat di penelitian itu kemudian mengajaknya untuk bergabung di Yayasan Balita Sehat (Foundation for Mother and Child Health Indonesia) untuk menangai program-program komunikasi di bidang kesehatan. Ia pun langsung mengangguk setuju.
"Sifatnya ini probono. Sukarela," tegas Faris yang baru saja meraih gelar doktor dari Universitas Paramadina.
Satu Persen Kebaikan per Hari
Terjun ke ranah kampanye sosial membuat Faris sadar bahwa Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah dalam menghadapi tantangan kesehatan ibu dan anak. "Perlu banyak kerja keras," tandasnya.
Ia menggarisbawahi bahwa pihak yang perlu diedukasi lebih intens adalah orang tua. Hal ini berkaitan dengan kemampuan parenting orang tua yang memprihatinkan.
"Banyak orang tua yang tidak paham terkait stunting. Nutrisi anak juga mereka anggap fine-fine aja, tapi impact-nya ketika mereka melihat pertumbuhan anak terhambat dan terjadi stunting," ujarnya.
Apalagi muncul sejumlah kasus terkait kesehatan anak yang membuat banyak pihak mengelus dada, seperti kematian seorang bocah dengan temuan cacing pita di tubuhnya. "Kita bisa melihat bahwa itu sebenarnya sampel-sampel bahwa ternyata banyak anak-anak yang enggak diperhatikan kebersihannya," ujar Faris.
Menurutnya, sering kali kita salah paham bahwa kondisi-kondisi abainya masalah kesehatan anak hanya terjadi di daerah terpencil. Padahal problem kesehatan anak juga ditemukan di perkotaan bahkan di kota-kota besar. Mulai dari aspek kebersihan hingga asupan makanan yang tak terjaga, seperti konsumsi ultra processed food.
"Banyak juga orang yang tinggal di kawasan urban yang memang literasi mereka terkait gizi dan kesehatan itu perlu ditingkatkan," katanya.
Untuk itu, Faris berharap semua pihak dapat berpartisipasi untuk mengatasi masalah kesehatan anak ini dan mencegahnya supaya tidak bertambah parah. Kontribusi dapat dilakukan lewat berbagai macam cara. Seperti dirinya, Faris mengajak para praktisi komunikasi untuk menghasilkan konten-konten kampanye kesehatan dan pencegahan stunting.
Apalagi ia melihat perkembangan teknologi digital dan kecerdaan buatan (AI) dapat membantu langkah ini. Para kreator konten bisa menghasilkan karya-karya visual yang makin atraktif dan kreatif sebagai media sosialisasi kesehatan.
Upaya ini sekaligus menepis anggapan dan membuktikan bahwa teknologi digital AI lebih banyak mudaratnya dalam ranah komunikasi. "Kita enggak bisa melihat itu sebagai suatu ancaman, tapi justru kita beradaptasi dan menjadi alat bantu supaya kita lebih produktif dan lebih efisien," katanya.
Melalui langkah ini pula, Faris hendak menunjukkan bahwa semua pihak dapat berperan dan punya andil dalam mengatasi berbagai masalah bangsa. Sekecil apapun sumbangsih itu. Ini sesuai dengan prinsip hidupnya: satu persen kebaikan setiap hari.
"Tujuannya adalah bisa berkembang setiap hari meskipun hanya sedikit, satu persen. Itu kecil banget, tapi kalau setiap hari dalam satu tahun, 365 hari, improve-nya sudah dua kali lipat lebih. Dari small step, tiap hari kita bikin improvement - improvement kecil yang lama-lama akumulasinya akan jadi besar," ujar Faris optimistis.
Mengenal Grisna Anggadwita, Dosen Telkom University Pejuang Inklusi Disabilitas
Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia masih tergolong besar, namun belum sepenuhnya diiringi dengan kesempatan ekonomi yang setara. Jumlah penyandang disabilitas... | Halaman Lengkap [847] url asal
#disabilitas #penyandang-disabilitas #tanoto-foundation #dosen #telkom-university-telu
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/01/26 17:49
v/118807/
JAKARTA - Jumlah penyandang disabilitas di Indonesia masih tergolong besar, namun belum sepenuhnya diiringi dengan kesempatan ekonomi yang setara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat, terdapat sekitar 22,97 juta penyandang disabilitas di Tanah Air.Dari jumlah tersebut, sekitar 17 juta berada pada usia produktif, tetapi hanya sekitar 45 persen yang terserap di dunia kerja. Ironisnya, mayoritas dari mereka, sekitar 83 persen, bekerja di sektor nonformal, sehingga potensi ekonomi yang belum tergarap diperkirakan mencapai 66,7 persen.
Gambaran yang lebih suram juga dirilis International Labour Organization (ILO). Hingga Desember 2024, hampir 90 persen penyandang disabilitas di Indonesia tercatat tidak bekerja atau masih aktif mencari pekerjaan.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian serius Grisna Anggadwita, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University . Selama bertahun-tahun, Grisna aktif melakukan riset sekaligus pendampingan terhadap kelompok minoritas, termasuk penyandang disabilitas.
“Potensi penyandang disabilitas itu sangat besar, tetapi sering kali tidak tergali. Tantangan utama mereka sebenarnya soal akses. Kemampuan mereka bisa setara dengan siapa pun, tinggal apakah diberi kesempatan yang sama atau tidak,” ujar Grisna.
Berangkat dari temuan risetnya, Grisna tak memilih diam. Ia merancang platform pembelajaran khusus bagi penyandang disabilitas, dengan tujuan meningkatkan motivasi dan keterampilan praktis. Upaya tersebut juga diperluas melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi dan berbagai lembaga untuk membangun strategi pemberdayaan yang lebih menyeluruh.
“Pemberdayaan kaum minoritas idealnya melibatkan banyak pihak, bukan berjalan sendiri-sendiri,” katanya.
Konsisten Mengkaji Dunia Kaum Minoritas
Ketertarikan Grisna pada isu kelompok rentan bermula sejak menempuh studi Magister Sains Manajemen di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2013. Saat itu, ia meneliti kewirausahaan perempuan dan menemukan bahwa kesetaraan gender yang kerap digaungkan belum sepenuhnya terwujud di lapangan.
“Perempuan wirausaha masih menghadapi tantangan besar, tidak hanya ekonomi, tetapi juga dari lingkungan sosial, budaya, hingga aspek keagamaan,” tuturnya.
Penelitian tersebut kemudian dipublikasikan dalam jurnal internasional Journal of Entrepreneurship in Emerging Economies dengan judul Socio-cultural Environments and Emerging Economy Entrepreneurship: Women Entrepreneurs in Indonesia. Dari sana, Grisna semakin menyadari bahwa perempuan masih termasuk kelompok rentan di Indonesia.
Minat risetnya lalu berlanjut pada kelompok yang lebih jarang tersentuh, yakni perempuan mantan warga binaan lembaga pemasyarakatan. Ia sempat melakukan penelitian di lapas di Lampung dan Bandung, meski harus berhadapan dengan tantangan birokrasi serta kuatnya stigma sosial.
“Banyak dari mereka sebenarnya punya potensi besar, tapi terpinggirkan,” ujarnya.
Fokus pada Pemberdayaan Penyandang Disabilitas
Titik balik Grisna menuju isu disabilitas terjadi ketika ia bertemu seorang wirausaha perempuan penyandang disabilitas di Yogyakarta yang memasarkan produk komunitas disabilitas. Dari situ, Grisna melihat langsung besarnya potensi ekonomi, terutama di wilayah pedesaan.
Sebagai alumni Program Doktor Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Grisna kemudian melakukan berbagai penelitian kolaboratif. Ia bekerja sama dengan Prof. Nurul Indarti (UGM), Rochmat Aldy Purnomo (Universitas Muhammadiyah Ponorogo), hingga Richard Tomlins dari Coventry University.
Kolaborasi tersebut melahirkan riset tentang kewirausahaan sosial dalam pemberdayaan penyandang disabilitas di Yogyakarta dan Ponorogo yang dipublikasikan di Journal of Social Entrepreneurship. Penelitian lain juga dikembangkan dalam bentuk book chapter terbitan Springer berjudul Gender in Digital Entrepreneurship: Recent Issues in Emerging Countries.
Dari rangkaian riset tersebut, Grisna menemukan satu benang merah: penyandang disabilitas membutuhkan pendampingan yang spesifik dan berkelanjutan, karena setiap individu memiliki kondisi dan tantangan yang berbeda.
“Jenis disabilitas itu sangat beragam, tidak hanya fisik, tapi juga intelektual dan lainnya. Pendekatannya tidak bisa disamaratakan,” jelasnya.
Menurut Grisna, stigma negatif masih menjadi tantangan terbesar. Pandangan bahwa penyandang disabilitas memiliki kemampuan terbatas kerap memengaruhi kepercayaan diri mereka sendiri.
“Mereka seperti terpenjara oleh pikiran sendiri. Mindset ini yang akhirnya menghambat pengembangan potensi,” katanya.
Memotivasi Lewat Cerita dan Teknologi
Pengalaman Grisna sebagai tenaga ahli di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada 2014 turut membekalinya dalam pengembangan solusi berbasis digital. Saat ini, bersama tim riset Telkom University, ia tengah mengembangkan aplikasi pembelajaran jarak jauh bagi penyandang disabilitas.
Aplikasi tersebut memuat materi praktis seperti pembukuan sederhana dan model usaha, yang dipadukan dengan pendekatan storytelling. Cerita-cerita sukses penyandang disabilitas digunakan untuk membangun motivasi dan kepercayaan diri.
“Storytelling itu menggugah. Dari riset kami, kelompok yang mendapat paparan cerita mengalami peningkatan motivasi,” ujarnya.
Selain itu, Grisna juga menginisiasi pengembangan inkubator usaha khusus disabilitas bekerja sama dengan Lembaga Pemerhati dan Pemberdayaan Penyandang Disabilitas (LPPPD) di Yogyakarta. Program ini diharapkan mendapat dukungan hibah dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Dukungan serupa juga datang dari Universitas Telkom, yang tengah membangun pusat disabilitas bagi mahasiswa. Hal ini membuat upaya Grisna semakin terlembaga dan berkelanjutan.
Mengajak Semua Pihak Terlibat
Sebagai penerima National Champion Scholarship Tanoto Foundation 2013, Grisna menilai dukungan beasiswa tersebut berperan besar dalam perjalanan akademiknya. Menurutnya, semangat inklusivitas dan kesetaraan juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Ia pun mengajak semua pihak untuk terlibat dalam pemberdayaan penyandang disabilitas, tidak melulu melalui bantuan finansial, tetapi juga pendampingan, pembinaan, dan pembukaan akses.
“Isu kesetaraan semakin menguat. Akan sangat baik jika semua pihak ikut berperan memberdayakan kaum minoritas,” katanya.
Pengalaman Grisna sebagai visiting researcher di Prancis dan pengamatannya di Swiss juga membuatnya menyadari bahwa fasilitas bagi penyandang disabilitas di Indonesia masih perlu ditingkatkan. Namun, keterbatasan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup peluang.
“Setiap berinteraksi dengan penyandang disabilitas, saya justru banyak belajar. Mereka berjuang luar biasa dengan keterbatasan yang ada,” pungkasnya.
176 Mahasiswa dari 10 Kampus Ternama Resmi Jadi Penerima Beasiswa Teladan 2026
Tanoto Foundation secara resmi mengukuhkan 176 Tanoto Scholars (sebutan untuk penerima beasiswa TELADAN) baru angkatan 2026 yang berasal dari 10 universitas mitra... | Halaman Lengkap [594] url asal
#tanoto-foundation #beasiswa #beasiswa-teladan #beasiswa-populer
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 23/01/26 14:29
v/112125/
JAKARTA - Tanoto Foundation secara resmi mengukuhkan 176 Tanoto Scholars (sebutan untuk penerima beasiswa TELADAN ) baru angkatan 2026 yang berasal dari 10 universitas mitra Tanoto Foundation.10 kampus tersebut adalah yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, IPB University, Universitas Riau, Universitas Sumatra Utara, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Mulawarman.
Tanoto Scholars baru ini terpilih dari 9.283 pendaftar dari 10 perguruan tinggi mitra di seluruh Indonesia melalui proses seleksi berlapis yang berlangsung dari Juli hingga November 2025.
Selama 7 semester, Tanoto Scholars akan dibentuk menjadi calon pemimpin masa depan Indonesia yang memiliki sembilan karakter utama, yaitu self-awareness, driven, innovative, continuous learning, care for others, empower others, grit, integrity, dan entrepreneurial spirit.
Wakil Gubernur Jakarta, Rano Karno yang hadir mengisi sesi inspirational talk pada acara pengukuhan ini mendukung upaya Tanoto Foundation dalam menciptakan kesetaraan peluang bagi masyarakat melalui pendidikan.
“Beasiswa ini adalah amanah dari seseorang yang percaya bahwa pendidikan mampu mengubah nasib, bahkan mengubah arah perjalanan sebuah bangsa. Suatu hari nanti, ketika saudara berdiri di titik hidup yang penting, di ruang rapat, ruang kelas, di desa, di kota, bahkan di panggung ini, ingatlah hari ini bahwa saudara pernah mendapatkan kesempatan yang lebih dibanding orang lain. Karenanya, jadilah teladan dari sikap hidup dan manfaat saudara bagi lingkungan,” sebut Wagub Rano Karno, melalui siaran pers, Jumat (23/1/2026).
“Nasib baik tidak diwariskan tetapi harus diperjuangkan. Ingatlah satu hal penting, beasiswa ini bukan hanya untuk dinikmati sendirian, bukan untuk hidup nyaman sendirian melainkan untuk membuka jalan bagi yang lain. Inilah makna sejati dari Program TELADAN, menjadi cahaya dan berdampak bagi banyak orang,” sambung Wagub Rano Karno.
CEO Tanoto Foundation, Benny Lee, menambahkan bahwa Program TELADAN merupakan bagian dari komitmen jangka panjang Tanoto Foundation dalam menyiapkan generasi pemimpin masa depan Indonesia yang tidak hanya handal dalam akademik tapi juga berkarakter.
“Kami percaya, pemimpin masa depan Indonesia harus memiliki integritas, empati, dan kemampuan untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Benny.
Ia juga mendorong para Tanoto Scholars untuk memanfaatkan kesempatan ini dengan berkontribusi nyata bagi masyarakat sekitar melalui semangat pay it forward, yaitu meneruskan manfaat yang diperoleh kepada masyarakat dan komunitas yang lebih luas.
“Dari ribuan pendaftar, Anda terpilih sebagai bagian dari Tanoto Scholars. Namun, pencapaian ini tidak untuk disikapi dengan rasa puas diri. Tapi, jadikan kesempatan ini sebagai sarana untuk belajar dan bertumbuh dengan rendah hati, serta memberi dampak bagi masyarakat yang lebih luas,” ujar Benny.
Program TELADAN dirancang dalam tiga fase pengembangan selama tiga setengah tahun, yaitu lead self (semester dua hingga empat), lead others (semester lima hingga enam), dan professional preparation (semester tujuh hingga delapan).
Melalui tahapan ini, Tanoto Scholars memperoleh berbagai kesempatan pengembangan, mulai dari pengabdian kepada masyarakat, berjejaring dengan Tanoto Scholars dari seluruh Indonesia, pengalaman magang, pengembangan diri hingga tingkat global, serta persiapan karier.
Setelah lulus, Tanoto Scholars kemudian akan menjadi bagian dari jaringan alumni lintas negara, sebuah komunitas kepemimpinan untuk terus belajar, berkolaborasi, dan memberi dampak positif.
Berdasarkan Laporan Evaluasi Program TELADAN: Meningkatkan Kapasitas Kepemimpinan dan Daya Saing Lulusan di Indonesia yang dikeluarkan tahun 2025, menunjukkan bahwa alumni penerima Program TELADAN memiliki peluang 27% lebih tinggi untuk mendapatkan pekerjaan dan probabilitas 36% lebih besar untuk memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi dibanding mahasiswa yang tidak menerima program.
Selain itu, laporan evaluasi tersebut juga menyebutkan Program TELADAN meningkatkan peluang alumni untuk mencapai peningkatan mobilitas sosial hingga dua kali lipat lebih besar. Beberapa di antaranya menyamai atau bahkan melampaui tingkat pendapatan orang tua mereka hanya dalam satu tahun pengalaman kerja.
Para pemberi kerja juga menilai para alumni memiliki kemampuan yang tinggi dalam beradaptasi, kepemimpinan, dan keterampilan komunikasi mereka.
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)