Emiten konsumer seperti MYOR dan ICBP diproyeksikan meraih manfaat dari lonjakan belanja Lebaran 2026, didukung stimulus pemerintah dan peningkatan konsumsi. [781] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten konsumer seperti PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), dan sejumlah saham sektor barang konsumsi lainnya diproyeksikan menjadi penerima manfaat utama lonjakan belanja masyarakat pada momentum Lebaran 2026. Kombinasi stimulus pemerintah dan peningkatan indikator keyakinan konsumen memperkuat prospek pertumbuhan penjualan emiten sektor ini pada kuartal pertama tahun ini.
Ekspektasi tersebut sejalan dengan tren konsumsi domestik yang mulai menunjukkan perbaikan. Data Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2026 yang naik ke level 127 tertinggi dalam setahun terakhir, menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat mulai pulih, sehingga membuka ruang akselerasi kinerja emiten ritel, makanan-minuman, hingga produk kebutuhan harian selama periode Ramadan–Idulfitri.
Produsen Ultra Milk PT Ultra Jaya Milk Industry & Trading Company Tbk. (ULTJ) misalnya, menaruh harapan yang cukup besar terhadap penjualan perseroan pada momentum Lebaran Idul Fitri kali ini. Salah satu faktor yang mendasari ekspektasi itu adalah peningkatan konsumsi masyarakat.
”Kami memandang positif prospek permintaan dan penjualan produk selama Ramadhan-Idul Fitri, sejalan dengan peningkatan konsumsi masyarakat. Kami berharap terdapat peningkatan signifikan dari momen ini, sehingga optimalisasi jaringan distribusi dan logistik menjadi hal penting yang diperhatikan,” kata Corporate Secretary ULTJ Helina kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).
Sementara itu, kalangan analis tidak memiliki pandangan yang jauh berbeda. Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi, memprediksi kombinasi momentum Lebaran dan stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah, bakal mampu mendorong konsumsi rumah tangga 15—20% dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Pemerintah sendiri berencana menyerap APBN mencapai Rp809 triliun pada kuartal I/2026. Angka itu mencerminkan 21% dari total belanja negara pada tahun ini. Dari total Rp809 triliun, sebesar Rp13 triliun bakal digelontorkan untuk stimulus ekonomi.
Wafi menilai, stimulus yang akan digelontorkan pemerintah ini dapat menjadi instrumen stabilisasi yang krusial bagi ekonomi masyarakat. Kebijakan ini dinilai efektif menjaga psikologi pasar di tingkat menengah—bawah, sehingga Wafi memprediksi IKK pada triwulan pertama 2026 akan berada di level optimis.
”Dampaknya ke laporan keuangan kuartal I/2026 akan terasa di pertumbuhan top-line emiten konsumer, terutama di segmen makanan olahan dan ritel modern. EPS sektor konsumer bisa tumbuh rata-rata 8,6% YoY di 2026, didukung pemulihan volume penjualan dan efisiensi biaya input yang mulai stabil,” kata Wafi kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).
Selain itu, percepatan belanja yang dilakukan pemerintah, turut menjadi sinyal kuat bagi sektor konsumer untuk mampu bottoming out. Bahkan, dengan karakter sektor yang defensif dan memiliki leverage tinggi saat festive season, dinilai berpotensi menjadikan sektor ini kandidat pemimpin penguatan IHSG pada triwulan pertama.
Kombinasi Lebaran dan Belanja Agresif Pemerintah
Senada, Retail Research Analyst Sinarmas Sekuritas Cindy Alicia Ramadhania, menilai momentum Lebaran yang dikombinasikan dengan belanja pemerintah yang cukup agresif pada tahun ini, bakal berdampak positif pada sektor FMCG, ritel, hingga kebutuhan rumah tangga.
Kendati stimulus ekonomi hanya mencerminkan 1,6% dari total Rp809 triliun, Cindy menilai stimulus ini bakal mampu mendorong konsumsi jangka pendek masyarakat, terutama jika realisasinya dilakukan sebelum Lebaran pada Maret 2026.
”Kami melihat stimulus ini cukup efektif untuk mendorong konsumsi jangka pendek, terutama karena momentumnya berdekatan dengan Lebaran, di mana belanja masyarakat biasanya meningkat. Namun, ini lebih bersifat dorongan sementara, bukan perbaikan secara berkelanjutan,” kata Cindy kepada Bisnis, Rabu (18/2/2026).
Data IKK yang tinggi secara berkelanjutan, tegas Cindy, mesti didorong oleh perbaikan pendapatan masyarakat serta stabilitas harga kebutuhan pokok. Dengan begitu, Cindy menilai bahwa beragam sentimen positif pada triwulan pertama ini, tidak serta merta mengonfirmasi fase bottoming out sektor konsumer.
Terhadap kinerja fundamental perusahaan konsumer misalnya, Cindy menilai kendati momentum ini mampu mendorong pertumbuhan pendapatan yang lebih baik dibandingkan periode sebelumnya, tetapi margin keuntungan akan sangat dipengaruhi oleh harga bahan baku.
”Meski ada stimulus dan momentum Lebaran, beberapa risiko tetap perlu diperhatikan, di antaranya daya beli kelas menengah belum sepenuhnya pulih, tekanan harga bahan baku, potensi pelemahan rupiah, serta risiko keterlambatan realisasi anggaran,” katanya.
Produk Mayora Indah (MYOR)
Hal serupa juga disampaikan oleh KISI, bahwa kendati kombinasi stimulus dan momentum Lebaran dapat mendorong penjualan, tetapi tantangan akan datang dari volatilitas harga bahan baku yang mampu menekan margin, risiko inflasi pangan lantaran ketidakpastian cuaca, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah.
KISI merekomendasikan investor saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Mayora Indah Tbk. (MYOR), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT), PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), dan PT Indosat Tbk. (ISAT).
Sementara Sinarmas Sekuritas merekomendasikan saham MYOR dengan target harga Rp2.440 per saham, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk. (RALS) dengan target harga Rp550, dan saham PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) dengan target harga Rp2.050 per saham. Ketiga saham itu direkomendasikan speculative buy.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Imlek dan Ramadan berdekatan di 2026, berpotensi dorong konsumsi, terutama sektor poultry. Saham JPFA direkomendasikan, sementara sektor ritel hadapi tantangan. [386] url asal
Bisnis.com, JAKARTA —Kiwoom Sekuritas merekomendasikan investor untuk mencermati emiten sektor ritel dan perunggasan di tengah sentimen Imlek yang berdekatan dengan awal Ramadan 2026.
Equity research Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz mengatakan perayaan Imlek secara historis kerap menjadi katalis peningkatan konsumsi masyarakat. Namun, dalam 2 tahun terakhir, tren konsumsi cenderung melemah sehingga menekan kinerja sektor ritel dan barang konsumsi.
Oleh karena itu, Aziz cenderung memproyeksikan saham-saham sektor konsumsi yang berkaitan dengan poultry lebih berpotensi meningkatkan kinerja. Pasalnya, permintaan daging ayam dan produk turunannya dinilai akan meningkat seiring naiknya kebutuhan konsumsi rumah tangga selama rangkaian Imlek hingga Lebaran.
“Kami merekomendasikan saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. [JPFA] dengan rating buy dan target harga Rp3.110, seiring ekspektasi kenaikan volume penjualan yang lebih berkelanjutan dibanding sektor konsumsi lainnya,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).
Sementara itu, lanjutnya, sektor ritel dinilai masih menghadapi tantangan struktural akibat daya beli yang belum sepenuhnya pulih. Dampak positif Imlek terhadap emiten ritel diperkirakan bersifat jangka pendek sehingga lebih cocok untuk strategi spekulatif.
Analis merekomendasikan speculative buy untuk saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPA) dengan target harga Rp715–Rp725, serta area support di kisaran Rp650–Rp660. Katalis utama tetap bergantung pada peningkatan trafik belanja selama periode perayaan, yang berpotensi cepat mereda setelahnya.
Secara keseluruhan dia menilai perayaan musiman Imlek dan Ramadan dapat menjadi penopang konsumsi awal tahun, tetapi investor disarankan tetap selektif dengan fokus pada sektor yang memiliki visibilitas permintaan lebih kuat dan berkelanjutan.
Sebelumnya, Survei Bank Indonesia terbaru mencatat Indeks Keyakinan Konsumen pada Januari 2026 tetap berada di level optimistis yaitu sebesar 127. Posisi tersebut meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang berada di level 123,5.
Meningkatnya keyakinan konsumen pada Januari 2026 ditopang oleh peningkatan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK).
Berdasarkan laporan BI, seluruh komponen pembentuk IKE mengalami peningkatan. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) meningkat menjadi 123,7 dari 120,2 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, Indeks Pembelian barang Tahan lama/Durable Goods (IPDG) meningkat menjadi 111,8 dari 107,6 pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, IEK yang meningkat menjadi 138,3 mencerminkan bahwa ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi 6 bulan ke depan diprakirakan meningkat.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.