Efisiensi logistik akan berdampak langsung pada biaya produksi industri. Ketika distribusi barang menjadi lebih efektif maka rantai pasok nasional juga akan bergerak lebih kompetitif
Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) memperkuat angkutan logistik berbasis rel guna menekan biaya distribusi nasional, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta mendukung pertumbuhan ekonomi dan produk domestik bruto.
"Penguatan angkutan logistik berbasis rel menjadi penting mengingat biaya logistik Indonesia saat ini masih berada di kisaran 15 hingga di atas 20 persen terhadap produk domestik bruto, sementara standar global berada di kisaran 7–8 persen," kata Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang efisiensi yang sangat besar bagi sektor logistik nasional. Semakin efisien biaya distribusi, semakin besar peluang industri nasional meningkatkan daya saing produk di pasar domestik maupun global.
“Efisiensi logistik akan berdampak langsung pada biaya produksi industri. Ketika distribusi barang menjadi lebih efektif maka rantai pasok nasional juga akan bergerak lebih kompetitif,” ujar Anne.
Adapun KAI mencatat pertumbuhan positif pada layanan angkutan ritel sepanjang Januari-April 2026. Selama periode tersebut, volume angkutan ritel KAI mencapai 82.129 ton, meningkat 4,86 persen dibanding periode yang sama pada 2025 sebesar 78.323 ton.
Dia menyebutkan jika dibandingkan Januari-April 2024 sebesar 66.654 ton, volume angkutan ritel tumbuh 23,22 persen. Khusus pada April 2026, KAI melayani angkutan ritel sebesar 21.844 ton, meningkat 22,87 persen dibanding April 2025 sebesar 17.778 ton.
Anne mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan pelaku usaha terhadap layanan distribusi barang yang efisien, terukur, dan mampu menjangkau berbagai wilayah secara lebih optimal.
“Kereta api semakin dipilih sebagai moda distribusi barang karena memiliki kapasitas besar, waktu tempuh yang lebih terukur, serta mendukung efisiensi biaya logistik dalam rantai pasok nasional,” ucap Anne.
KAI saat ini terus memperkuat kapasitas angkutan barang melalui peningkatan kemampuan sarana dan pengembangan pola distribusi berbasis rel.
Anne menuturkan saat ini KAI mengoperasikan dengan kapasitas rata-rata 50 ton per gerbong, yang kemudian sedang ditingkatkan menjadi 70 ton. Dengan satu rangkaian hingga 60 gerbong, kapasitas angkut dapat mencapai 4.200 ton dalam satu perjalanan.
Selain penguatan kapasitas, KAI juga terus mendorong integrasi layanan logistik dengan kawasan industri, pergudangan, dan pelabuhan agar distribusi barang dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.
Di sisi lain, Pulau Jawa masih menjadi pusat utama aktivitas logistik nasional. Sekitar 60 persen aktivitas logistik Indonesia berada di Pulau Jawa, dengan nilai biaya logistik yang diperkirakan mencapai Rp2.400 triliun–Rp2.500 triliun per tahun.
"Efisiensi sebesar 30 persen saja diperkirakan dapat menghasilkan penghematan hingga sekitar Rp1.000 triliun," ucap Anne.
Dia menilai angkutan barang berbasis rel memiliki peluang besar untuk memperkuat efisiensi tersebut karena mampu mengangkut barang dalam volume besar secara lebih stabil dan minim hambatan lalu lintas jalan raya.
“Dengan jaringan operasional yang luas dan kapasitas angkut yang besar, kereta api memiliki potensi besar untuk mendukung distribusi logistik nasional yang lebih efisien, aman, dan berkelanjutan,” jelas Anne.
KAI akan terus memperkuat pengembangan layanan angkutan barang guna mendukung pertumbuhan industri dan konektivitas logistik nasional.
Optimalisasi distribusi berbasis rel diharapkan dapat mendorong efisiensi ekonomi sekaligus memperkuat daya saing Indonesia ke depan.
“Semakin besar porsi distribusi barang yang berpindah ke kereta api, semakin besar juga peluang efisiensi yang dapat dirasakan oleh dunia usaha dan masyarakat luas,” kata Anne.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026