Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap hidup sehat dan bahan pangan natural, permintaan madu berkualitas terus melonjak. Peluang ini dimanfaatkan Bali Honey, UMKM madu premium asal Bali yang berada di bawah naungan corporate brand Honey Republic.
Berkat inovasi berbasis perlebahan dan program pemberdayaan desa, Bali Honey kini menjadi salah satu produsen madu premium yang mulai menembus pasar internasional didukung berbagai program pembinaan Pertamina, termasuk melalui ajang Pertamina SMEXPO.
Pendiri Bali Honey, Ismail Marzuki tidak memiliki latar belakang dalam bidang peternakan dan kehutanan. Dia lulusan ekonomi dengan fokus pariwisata dan sempat menjalankan bisnis restoran hingga beternak sapi perah untuk memproduksi keju dan yoghurt.
“Namun setelah menghadapi tantangan biaya pakan, saya menemukan usaha lebah sebagai bisnis dengan risiko kecil namun berpotensi besar,” ujarnya ditemui disela Pertamina SMEXPO yang berlangsung di BXC Mall 2, 25 hingga 30 November 2025.
Dari situ dia mulai mempelajari budidaya lebah secara serius dan melihat peluang usaha yang risikonya lebih kecil serta permintaannya stabil hingga akhirnya dia memulai bisnis peternakan lebah dan penjualan madu pada 2016, yang kemudian melahirkan brand Bali Honey pada 1 Juli 2017.
“Fokus kami adalah perlebahan dan produksi madu, termasuk edukasi serta pembinaan peternak agar kualitas madu mereka lebih higienis, murni, dan terstandarisasi, serta membangun ekosistem peternakan lebah,” tuturnya.
Selain memproduksi madu, Bali Honey juga menghasilkan beeswax, propolis, royal jelly, hingga bipolen. Produk-produk tersebut telah dikembangkan menjadi beragam turunan seperti salep dingin, pomade berbasis beeswax, serta kosmetik herbal bekerja sama dengan sejumlah mitra.
Lebih dari sekadar diversifikasi, Bali Honey mengembangkan dua program unggulan yang membedakannya di industri madu lokal yakni B-Sanctuary Program dan B-Adoption Program.
“Melalui B-Sanctuary Program, kami bekerja sama dengan hotel-hotel di Bali, Lombok, dan Nusa Penida untuk memelihara lebah tidak menyengat di area hotel. Program ini membantu menjaga ekosistem lebah sekaligus menjadi nilai tambah bagi hotel yang menerapkan prinsip keberlanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, B-Adoption Program menjadi respons atas menyusutnya habitat lebah akibat penggunaan kimia dalam pertanian serta kerusakan hutan. Melalui program ini, masyarakat dapat mengadopsi koloni lebah yang kemudian dirawat oleh anak-anak muda desa. Mereka dilatih sesuai standar Bali Honey sehingga dapat memulai usaha perlebahan tanpa harus pindah ke kota. Hasil panen mereka pun diserap kembali oleh Bali Honey.
“Pasar madu di Indonesia ini sangat besar. Pada 2022 saja, Indonesia kekurangan 6.750 ton madu,” ungkapnya.
Minimnya literasi budidaya lebah dan metode yang masih tradisional membuat banyak peternak kesulitan memenuhi standar mutu. Karena itu, melalui Honey Republic, Bali Honey aktif membina peternak untuk meningkatkan kualitas sesuai SNI. Langkah ini penting agar pasar domestik tidak dibanjiri madu palsu atau produk impor berkualitas rendah.
Keunikan Bali Honey juga terletak pada karakter madu Bali yang memiliki keragaman flora. Madu mente menjadi salah satu favorit karena berasal dari 1.200 hektare kebun mente di Bali.
Ada pula madu kaliandra yang ringan dan fruity, madu akasia, mangga, rambutan, wildflower dari hutan Bali Barat, hingga madu sonokeling. “Madu kaliandra paling diminati, sedangkan madu akasia biasanya banyak digunakan hotel dan restoran sebagai bahan salad dressing,” ucapnya.
“Setiap bulan kami memproduksi sekitar 1–1,2 ton madu dalam berbagai ukuran mulai yang 30 gram hingga 30 kg untuk kebutuhan hotel. Kami juga memiliki signature product berupa kemasan set enam jenis madu dalam satu kotak sangat diminati market internasional,” tuturnya.
Adapun varian harganya mulai dari Rp25.000 untuk kemasan 30 gram hingga Rp250.000 untuk botol 850 gram. Signature box enam varian madu dijual sekitar Rp200.000 dan menjadi produk yang sangat diminati wisatawan dan buyer luar negeri.
Saat ini, sebagian produk Bali Honey masih dijual di pasar domestik untuk kebutuhan hotel dan restaurant. Tersedia juga di di bandara internasional Bali, daily store premium, healthy store, hingga hotel-hotel besar. Penjualan offline masih mendominasi dengan porsi lebih dari 80%, sementara online kurang dari 20%.
“Kami juga sudah ekspor ke berbagai negara seperti India, Korea, hingga negara di Eropa,” ungkapnya.
Perkembangan bisnis Bali Honey ini sendiri tidak lepas dari peran serta Pertamina. Bali Honey bergabung sebagai Mitra Binaan Pertamina sejak akhir 2018. Sejak itu, menurut Ismail, dampaknya sangat terasa.
“Pertamina membantu kami mulai dari pelatihan go online, go modern, hingga pendampingan bisnis. Yang paling besar adalah dukungan untuk ikut pameran, termasuk Pertamina SMEXPO,” ujarnya.
Lewat SMEXPO dan pameran lainnya, Bali Honey mendapatkan akses buyer baru, memperluas jaringan ekspor, serta mempromosikan produk ke pasar yang lebih luas tanpa biaya promosi yang terlalu berat untuk UMKM.
Bali Honey merupakan salah satu mitra binaan Pertamina dan didukung penuh untuk terus berkembang hingga menembus pasar global.