Bisnis.com, JAKARTA – Dalam era digital, platform pemasaran online, virtual tour, dan pemasaran berbasis data akan mempercepat pertumbuhan sekaligus persaingan di industri jasa broker properti di Indonesia.
CEO Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda mengatakan, prospek bisnis jasa broker properti di Indonesia masih sangat terbuka. Namun, hal itu berlaku hanya bagi pelaku yang mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku pasar.
Ali menilai pertumbuhan kelas menengah, kebutuhan hunian di kawasan urban, serta meningkatnya minat investasi properti tetap menjadi motor utama peningkatan permintaan jasa broker properti dari waktu ke waktu.
Namun, ia menegaskan bahwa pola transaksi kini lebih rasional dan berbasis informasi. Karena itu, peran broker bergeser dari sekadar perantara menjadi konsultan properti yang memberi analisis nilai, risiko, dan potensi investasi.
“Broker yang bertahan adalah yang mampu memberi nilai tambah, bukan hanya menawarkan produk. Konsumen sekarang datang dengan data, sehingga broker harus lebih siap secara pengetahuan, teknologi, dan layanan,” ujarnya dalam podcast LJH Realty, dikutip Rabu (18/2/2026).
Ia juga menyoroti digitalisasi sebagai faktor penentu masa depan industri jasa broker properti. Platform pemasaran online, virtual tour, serta pemasaran berbasis data dinilai akan mempercepat seleksi alam di industri ini.
Perusahaan yang memiliki sistem pelatihan berkelanjutan, standar layanan tinggi, dan strategi pemasaran modern diprediksi memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh.
Meski demikian, Ali menekankan bahwa tantangan utama industri bukan pada permintaan pasar, melainkan pada kualitas sumber daya manusia. Profesionalisme, integritas, dan konsistensi pengembangan diri disebutnya sebagai fondasi utama bagi broker yang ingin bertahan dalam jangka panjang.
“Dengan meningkatnya ekspektasi konsumen dan transparansi informasi, profesionalisme bukan lagi pilihan, melainkan syarat dasar untuk bertahan dalam bisnis jasa pemasaran properti di Indonesia,” imbuhnya.
Direktur LJH Realty, Oka Mahendra, menilai bahwa perubahan perilaku konsumen dan digitalisasi pemasaran menuntut broker properti harus terus meningkatkan kapasitas diri, dengan berorientasi service excellent (layanan prima).
“Pertumbuhan platform digital properti mendorong peningkatan jumlah broker di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya edukasi konsumen, diferensiasi layanan kini menjadi faktor utama kesuksesan dalam persaingan di industri jasa broker properti,” tuturnya.
Mengutip data Real Estat Indonesia (REI), menunjukkan bahwa pertumbuhan transaksi properti di kota besar diikuti peningkatan jumlah broker dan kantor broker properti.
Sementara itu, platform pemasaran seperti Rumah123 dan portal digital lainnya mengungkapkan adanya perubahan cara broker mencari klien, memasarkan unit, dan membangun reputasi.
"Kondisi ini membuat standar profesionalisme broker semakin tinggi, mulai dari kemampuan komunikasi, pemahaman legalitas transaksi, hingga penguasaan digital marketing,” ujar Oka.
Menurut Oka Mahendra, seorang broker profesional seyogyanya memiliki sejumlah karakter dan kompetensi utama. Pertama, konsistensi pengembangan diri. Profesionalisme tidak terbentuk dalam waktu singkat. Broker harus terus belajar, berlatih, dan memperbarui kemampuan pemasaran serta komunikasi.
Kedua, menerapkan standar layanan tinggi. Ketiga, kompetensi pemasaran strategis, dimana broker properti dituntut mampu memahami psikologi konsumen, teknik negosiasi, dan strategi pemasaran berbasis data.
Keempat, sertifikasi dan rekam jejak profesional. Broker properti profesional mengikuti pelatihan berkelanjutan, memiliki sertifikasi kompetensi, serta menunjukkan kinerja yang konsisten.
Kelima, penguasaan teknologi digital, mencakup kemampuan menggunakan media sosial, video edukasi, dan platform digital. Hal itu menjadi bagian penting dari profesionalisme modern.
Oka menambahkan, dalam menghadapi kompetisi industri jasa pemasaran properti yang ketat, broker harus menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai strategi utama keberlanjutan bisnis.