Bisnis.com, JAWA BARAT – Otang Marudin (45), kini tidak lagi risau soal musim panas yang terlambat datang ke desanya. Sebagai peternak ikan di bawah gunung Kamojang, Jawa Barat, kondisi cuaca yang dingin kini tidak lagi menjadi gurat di wajah pria beranak dua ini.
Siang itu tengah hari di Desa Kamojang, Jawa Barat, terasa lebih dingin. Musim hujan yang baru saja tiba di desa itu, membuat suasana Desa Kamojang telah ditutupi kabut sebelum adzan maghrib tiba. Namun Otang tidak risau. Sebagai warga asli Kamojang, keberhasilan memanfaatkan ketersediaan panas bumi yang melimpah di bawah kakinya, menjadi asa baru bagi Otang.
Otang hanya peternak ikan sederhana. Di rumahnya, dia melanjutkan upaya orang tuanya untuk membudidayakan ikan, sebagai cara bertahan hidup. Ikan yang dibudidayakan di kolamnya beragam, mulai dari ikan mas hingga nila. Sebab terpentok modal kerja dan cuaca, setiap tahunnya, Otang hanya mampu memanen sekali waktu melalui kolam yang dia kelola di rumahnya.
“Kami kolamnya hanya kolam biasa, yang pakai tanah. Jangka waktu [panen] itu paling per tahun. Makanya, hari raya jadi waktu kami untuk panen,” kata Otang saat ditemui Bisnis, Kamis (6/11/2025).
Upaya itu terus dilakukan Otang selama bertahun-tahun. Beternak ikan menjadi salah satu upaya pria asal Kamojang ini untuk menghidupi keluarganya. Terlambat Otang menyadari, cadangan panas bumi di bawah kakinya, di Kamojang, menyimpan berbagai peluang bagi dirinya dan masyarakat lokal di sana untuk menjalankan profesinya setiap hari.
Baru pada 2024, Otang bergabung dengan program Geothermal Fishery yang digagas oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO). Program ini berupaya memanfaatkan ketersediaan panas bumi yang melimpah di Kamojang, untuk dimanfaatkan masyarakat lokal secara maksimal.
Otang mengaku, hasilnya cukup signifikan. Jika sebelumnya Otang hanya mampu memanen ikan dari hasil kolamnya di rumah sebanyak satu kali selama setahun, keadaannya kini berubah. Otang bahkan mampu melakukan panen sebanyak tiga kali dalam satu tahun.
Program ini memanfaatkan panas bumi yang berada tepat di bawah kaki masyarakat lokal Kamojang. Cuaca yang sebelumnya sangat mampu mempengaruhi suhu di dalam air, sehingga mengubah laju perkembangbiakan ikan di dalam kolam, kini tidak lagi menjadi satu hal yang ditakuti Otang.
Geothermal Fishery memberikan akses air hangat bagi peternakan ikan masyarakat lokal. Air Kamojang yang dingin, kini dimaksimalkan oleh PGEO melalui panas bumi untuk menghangatkan air kolam peternakan milik masyarakat. Alhasil, ikan nila dan mas yang sejatinya memiliki habitat di dataran rendah, kini mampu berkembang biak dengan signifikan di dalam air yang hangat.
Otang bercerita, semula program ini masih banyak menemui aral melintang. PGEO pada mulanya belum memanfaatkan panas bumi untuk mendorong peternakan ikan masyarakat lokal. Pada percobaan pertama, Otang masih merugi Rp300.000 dari semula mengeluarkan modal sebesar Rp900.000.
Baru pada percobaan selanjutnya, PGEO telah memanfaatkan panas bumi sebagai penghangat air kolam ikan. Dari modal yang dia keluarkan sebanyak 40 kilogram ikan nila dan mas, Otang mampu memanen hingga 83 kilogram dalam kurun waktu 43 hari. Dengan harga jual Rp40.000 per kilogram, dalam satu kali panen, Otang bisa mengantongi pendapatan senilai Rp3,32 juta.
Melalui dana tersebut, Otang kembali memutar otak untuk membelikan pakan dan bibit ikan baru lainnya. Otang berharap, dia bisa membeli kolam ikan baru lainnya untuk memperbesar pendapatan dari praktik pemanfaatan panas bumi ini. Tidak lupa, dia juga menabung sisa pendapatannya untuk keluarga dan masa depan anaknya.
“Anak saya masih kecil, kelas 6 SD. Berhubung kemarin ada hasilnya, saya coba ditabungin ke anak. Alhamdulillah, berkat ada air panas, mungkin ini jadi berkembang,” kata Otang.
Secara teknis, praktik ini disebut sebagai pemanfaatan panas bumi secara langsung, selain dari praktik PGEO memanfaatkan panas bumi sebagai pembangkit listrik atau PLTP. Artinya, PGEO melakukan pemanfaatan langsung panas bumi tanpa mengubah energi panas menjadi jenis energi lainnya.
Dalam program ini, PGEO menyediakan sejumlah alat yang dibutuhkan oleh peternak ikan, mulai dari pemanas air, alat produksi makan ikan atau pelet, hingga pelatihan pemanfaatan panas bumi bagi peternak ikan di Kamojang.
“Pelatihan kemarin juga ada. Saya kebetulan kelompok sendiri, jadi saya mau mengembangkan sama teman-teman supaya ikut program ini, karena hasilnya juga lumayan,” kata Otang.
Asa Berdikari
Sebagai perusahaan yang mendorong pemanfaatan panas bumi secara langsung oleh masyarakat lokal, PGEO menegaskan posisinya sebagai perusahaan yang berupaya, tidak sekadar memberikan bantuan bagi masyarakat, tetapi turut membangun komunitas lokal.
Pjs. GM PGEO Area Kamojang Hendrik K. Sinaga, menerangkan bahwa upaya PGEO untuk memberikan inovasi terhadap masyarakat lokal, didasarkan pada mimpi besar perseroan untuk membuat masyarakat mampu berdikari.
“Karena konsepnya community development, bukan charity. Kami enggak mau cuma-cuma. Kami berharap, semua mimpi kita ini, ujungnya bisa lepas, bisa mandiri,” tegasnya saat ditemui di Kamojang, Kamis (6/11/2025).
Dengan kata lain, PGEO berupaya membangun kemandirian ekonomi di masyarakat melalui pelbagai program yang telah dibuat oleh perseroan. Terlebih, pemanfaatan panas bumi mampu dimanfaatkan menjadi berbagai hal, selain memberikan ketersediaan listrik bagi masyarakat.
Bahkan, dalam menjalankan berbagai program sosial, PGEO disebut telah bekerja sama dengan berbagai stakeholder, termasuk akademisi hingga masyarakat lokal yang lebih memahami praktik di lapangan.
“Jadi mereka [akademisi] yang menerjemahkan, sebenarnya secara ilmu termodinamika, secara ilmu fisika bagaimana. Tetapi outputnya tetap dari local hero,” katanya.
Di Kamojang, selain program Geothermal Fishery, sejumlah upaya sosial lain juga dilakukan oleh PGEO Kamojang, seperti Geothermal Dry House, Geothermal Empowerment for Maximizing Agriculture through Kamojang Responsible and Sustainable Farming, hingga bekerjasama dengan BBKSDA Jawa Barat untuk melestarikan populasi elang jawa.
Dengan begitu, Kamojang yang sekaligus menjadi wilayah kerja panas bumi (WKP) tertua PGEO, tidak sekadar memberikan ketersediaan listrik bagi 260.000 masyarakat di Jawa, Madura, dan Bali, tetapi juga berupaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di masyarakat.
Tercatat, PGEO Kamojang telah memberdayakan 2.647 masyarakat dari kelompok rentan melalui pertanian berkelanjutan berbasis energi panas bumi, melepasliarkan 153 elang jawa dari total 392 ekor yang telah dikonservasi sejak 2014, hingga memberikan peluang pasar baru bagi petani kopi lokal, di pasar internasional.
“Melalui berbagai program pemberdayaan, kami ingin memastikan bahwa setiap langkah pengembangan energi panas bumi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan komunitas lokal,” kata GM PGEO Kamojang I Made Budi Kesuma Adi Putra, dikutip Senin (10/11/2025).
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.