JAKARTA, KOMPAS.com — Eropa menghadapi ancaman krisis energi baru setelah gangguan pengiriman gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) melalui Selat Hormuz berlangsung berbulan-bulan.
Dikutip dari Reuters, Senin (25/5/2026), perusahaan energi asal Norwegia, Equinor, memperingatkan stok gas Eropa bisa memasuki level kritis jika jalur pelayaran strategis tersebut tetap terganggu selama satu hingga tiga bulan ke depan.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Kawasan ini menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas global.
WIKIMEDIA COMMONS/GORDON LEGGETT Ilustrasi kapal tanker LNG.Konflik yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah membuat lalu lintas tanker LNG dan minyak terganggu, sehingga memicu lonjakan kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.
Reuters melaporkan, tingkat penyimpanan gas Eropa saat ini hanya sedikit di atas 35 persen. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata musiman yang biasanya mendekati 50 persen pada periode yang sama.
Kondisi ini juga masih jauh dari target Uni Eropa yang menginginkan kapasitas penyimpanan mencapai 90 persen sebelum musim dingin tiba.
Senior Vice President Gas and Power Market Equinor, Helle Ostergaard Kristiansen, mengatakan Eropa masih memiliki peluang memperbaiki situasi apabila gangguan segera berakhir.
Namun, risiko akan meningkat drastis jika krisis berkepanjangan.
“Jika konflik berakhir sekarang, kami mungkin masih bisa mencapai sekitar 75 persen kapasitas penyimpanan,” ujar Kristiansen.
PEXELS/TOM FISK Ilustrasi fasilitas LNG.Namun, ia menambahkan, apabila gangguan berlangsung satu hingga tiga bulan lagi, situasi dapat berubah menjadi kritis bagi kawasan Eropa.
Stok gas Eropa menipis
Kondisi penyimpanan gas Eropa memang sudah berada di bawah tekanan bahkan sebelum konflik memanas.
Musim dingin yang lebih panjang dan permintaan energi yang tetap tinggi membuat cadangan gas terkuras lebih cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Data yang dikutip GMK Center menunjukkan tingkat penyimpanan gas Uni Eropa pada awal April 2026 berada di kisaran 28 persen, level yang disebut lebih rendah dibanding tiga tahun terakhir dan mendekati kondisi sebelum krisis energi Eropa sebelumnya.
Di sisi lain, proses pengisian ulang penyimpanan gas juga tidak berjalan optimal. Reuters melaporkan harga kontrak gas musim dingin saat ini justru lebih murah dibanding musim panas.
Kondisi tersebut membuat perusahaan energi tidak memiliki insentif ekonomi yang kuat untuk menyimpan gas dalam jumlah besar.
Selain itu, pasokan LNG global juga semakin ketat akibat tingginya permintaan dari Asia.
Gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz membuat Eropa harus bersaing lebih keras dengan negara-negara Asia untuk mendapatkan kargo LNG.
Oilprice.com melaporkan kombinasi antara gangguan pasokan LNG, tingginya permintaan Asia, dan struktur harga gas yang tidak menguntungkan telah membuat pengisian penyimpanan gas di Eropa menjadi jauh lebih sulit dan mahal.
Harga gas terancam melonjak
Tekanan terhadap pasokan membuat harga gas Eropa berpotensi meningkat lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
SHUTTERSTOCK/KLOTR Ilustrasi pipa gas.Equinor memperkirakan harga acuan Dutch TTF dapat melonjak hingga 90 euro per megawatt hour (MWh) apabila gangguan terus berlanjut.
Sebagai perbandingan, harga gas Eropa saat ini berada di sekitar 50 euro per MWh setelah sempat menyentuh 74 euro per MWh pada Maret lalu.
Lonjakan harga tersebut diperkirakan akan memaksa industri mengurangi konsumsi energi. Equinor menyebut mekanisme pasar kemungkinan akan “mengoreksi” situasi melalui kenaikan harga yang menekan permintaan.
Vice President Gas and Power Trading Equinor, Peder Bjorland, mengatakan konsumsi gas untuk pembangkit listrik saja bisa turun hingga 10 miliar meter kubik apabila harga naik ke kisaran 60 hingga 70 euro per MWh.
Penurunan konsumsi tersebut dapat terjadi melalui pengalihan penggunaan energi ke sumber lain, termasuk energi terbarukan maupun bahan bakar alternatif.
Risiko terhadap industri Eropa
Krisis gas berpotensi memperbesar tekanan terhadap industri Eropa yang dalam beberapa tahun terakhir sudah menghadapi biaya energi tinggi. Industri manufaktur, baja, pupuk, hingga petrokimia menjadi sektor yang paling rentan terhadap lonjakan harga gas.
Atlantic Council menyebut konflik Iran telah menghentikan sebagian besar lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz, sehingga mengganggu pasokan minyak dan LNG global.
Kondisi tersebut membuat Eropa kembali berada dalam posisi rentan terhadap guncangan energi eksternal. Apalagi setelah berkurangnya ketergantungan pada gas Rusia dalam beberapa tahun terakhir, LNG menjadi salah satu sumber utama pasokan energi Eropa.
Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) juga mencatat harga gas acuan Dutch TTF Eropa telah naik lebih dari 45 persen sejak akhir Februari hingga awal Mei 2026 akibat terganggunya lalu lintas energi di Selat Hormuz.
NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.Kenaikan harga energi tersebut tidak hanya memukul industri, tetapi juga berpotensi meningkatkan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi kawasan.
Pasar berharap Selat Hormuz kembali normal
Meski risiko masih tinggi, pasar energi global mulai menunjukkan optimisme terhadap kemungkinan membaiknya situasi geopolitik di Timur Tengah.
Pasar saham Eropa menguat setelah muncul optimisme terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Optimisme serupa juga terlihat di pasar gas Eropa. Wall Street Journal melaporkan harga gas Eropa turun sekitar 5 persen setelah muncul harapan kemajuan pembicaraan antara AS dan Iran.
Namun, analis menilai risiko belum sepenuhnya hilang. Penurunan harga gas justru dapat menjadi tantangan baru bagi Eropa karena membuat kawasan tersebut kurang menarik dibanding Asia dalam perebutan pasokan LNG global.
ING dalam laporan yang dikutip Wall Street Journal menyebut selisih harga antara pasar LNG Asia dan Eropa semakin melebar. Situasi itu dapat membuat lebih banyak kargo LNG dialihkan ke Asia ketimbang Eropa.
IEA peringatkan pasar energi memasuki “zona merah”
Tidak hanya pasar gas, pasar minyak global juga mulai menghadapi tekanan serius akibat terganggunya Selat Hormuz.
IEA memperingatkan pasar minyak dunia bisa memasuki “zona merah” pada Juli atau Agustus 2026 akibat menyusutnya pasokan global.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan kombinasi antara tingginya permintaan musim panas, menipisnya stok minyak, dan berkurangnya ekspor energi dari Timur Tengah membuat situasi semakin berisiko.
AFP/FRED TANNEAU Komandan Perancis Thomas Scalabre saat menunjuk posisi kapal-kapal di Selat Hormuz, dalam layar di MICA (Maritime Information and Cooperation Awareness) di Brest, Perancis, 27 April 2026.Menurut IEA, gangguan di Selat Hormuz telah menghilangkan lebih dari 14 juta barrel per hari pasokan minyak global, yang disebut sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia.
Untuk meredam tekanan pasar, negara-negara anggota IEA telah melepaskan sekitar 400 juta barrel cadangan strategis minyak.
Namun, Birol menilai langkah tersebut hanya bersifat sementara dan tidak cukup apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali.
Reuters dalam analisisnya juga menyebut cadangan energi global terus terkuras seiring berlanjutnya gangguan pasokan. Jika situasi tidak berubah, pasar energi dunia diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar pada paruh kedua tahun ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang