Bisnis.com, JAKARTA — Pasar seni rupa Indonesia kini semakin ditopang oleh karya dengan harga lebih terjangkau yang bergerak lebih cepat di pasaran. Di tengah melambatnya penjualan karya bernilai tinggi, segmen ini justru menjadi motor utama transaksi galeri.
Perwakilan Jagad Gallery, Sahril, mengatakan karya dengan harga puluhan juta rupiah kini lebih aktif terserap kolektor dibanding karya mahal. Bahkan, karya di kisaran harga terendah menunjukkan perputaran paling cepat.
“Yang jalan sekarang justru karya-karya di harga Rp6 juta sampai Rp7,5 juta. Variasinya tipis, tapi lebih cepat diserap pembeli,” ujarnya.
Menurutnya, pembeli pada segmen ini didominasi kolektor baru yang mulai masuk ke pasar seni rupa Indonesia. Mereka umumnya tidak berasal dari jaringan kolektor lama yang selama ini menjadi basis utama galeri.
Perubahan itu ikut menggeser pola transaksi pasar seni rupa. Jika sebelumnya transaksi lebih banyak ditopang pembelian bernilai besar, kini pasar bergerak melalui penjualan dengan nominal lebih kecil tetapi frekuensi lebih tinggi.
Founder Nadi Gallery, Biantoro Santoso, menilai kondisi tersebut merupakan bagian dari penyesuaian pasar terhadap tekanan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir. Perlambatan, menurutnya, tidak hanya terjadi di industri seni rupa.
“Kalau kita ngomong beberapa tahun terakhir memang ada stagnan, tapi sebenarnya bukan hanya di lukisan. Semua bisnis sekarang juga terdampak kondisi ekonomi,” ujarnya.
Direktur Artsociates, Andonowati, juga melihat perubahan mulai terasa sejak pertengahan tahun lalu ketika kolektor senior mengurangi aktivitas pembelian karya. Dampaknya langsung terasa pada struktur pasar yang kehilangan penopang utama di segmen premium.
“Jumlah karya yang terjual lumayan banyak, tapi value-nya tidak setinggi waktu established collector masih aktif membeli,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pasar seni rupa Indonesia tetap bergerak dalam volume transaksi, tetapi melemah dari sisi nilai. Penjualan karya lebih sering terjadi, namun dengan nominal yang lebih kecil dibanding periode ketika kolektor mapan masih agresif berburu karya mahal.
Fenomena serupa dirasakan sejumlah galeri yang sebelumnya bergantung pada pembeli kelas atas. Karya bernilai tinggi kini membutuhkan waktu lebih lama untuk terjual, mencerminkan melemahnya daya serap di segmen premium.
Sementara itu, Direktur Artistik Art Jakarta, Enin Supriyanto, menilai kondisi ini tidak lepas dari stagnasi harga karya seni dalam satu dekade terakhir. Menurutnya, harga karya cenderung bergerak datar tanpa lonjakan signifikan yang mampu mendorong minat beli besar.
“Fluktuasinya itu 10 tahun terakhir, harga karyanya segitu aja sebenarnya,” ujarnya.