Pedagang Pasar Beringharjo Yogyakarta kebingungan mencari pelanggan saat Lebaran 2026. Penurunan jumlah transaksi diklaim mencapai 70%-80%. [471] url asal
Bisnis.com, JAWA TENGAH — Sejumlah pedagang di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, mengaku bingung mencari pelanggan di tengah momentum libur Lebaran 2026. Kondisi pembeli saat ini disebut jauh lebih sepi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sri Wasiyadi (73), menjadi salah satu pedagang yang setia menanti kehadiran pembelinya di Pasar Beringharjo. Selama berjam-jam lamanya, perempuan yang kini berdagang seorang diri ini setia menyapa seluruh calon pembelinya.
Rutinitas Sri sejak 1995 di pasar ini selalu sama. Dia setia berdagang sejak pagi hingga pukul 17.00 WIB dalam kondisi pasar ramai maupun sepi pembeli.
"Saya percaya rezeki sudah diatur sama Tuhan," katanya kepadaBisnismengawali pembicaraan, Minggu (22/3/2026).
Sri sekaligus menjadi pedagang yang merasakan sepinya pembeli di pasar ini. Dia bercerita, momentum Lebaran biasanya memberikan peningkatan pendapatan hingga lebih dari 70%. Namun kondisinya berbeda sekarang.
Dari sisi jumlah pengunjung, Sri merasa bahwa total pengunjung yang hadir pada momentum Lebaran 2026, tidak lebih dari separuh realisasi Lebaran 2025. Meskipun begitu, lonjakan pengunjung tetap terjadi jika dibandingkan hari biasanya.
"Lebaran tahun ini turun drastis, enggak seperti Lebaran tahun lalu," katanya.
Bahkan, selama periode puasa sebelum Idulfitri, pakaiannya hanya laku 1–3 potong per harinya. Dia memprediksi, sejumlah kejadian dalam dan luar negeri telah mempengaruhi minat belanja masyarakat.
Beberapa di antaranya seperti bencana Sumatra hingga perang yang terjadi antara AS-Israel dengan Iran belakangan.
Suminah (59) juga merasakan hal serupa. Selama setengah bulan puasa tahun ini, dia hanya mencatatkan penjualan Rp100.000. Kondisinya jauh berbeda ketika tahun lalu dia membukukan pendapatan senilai Rp200.000–Rp300.000 per harinya.
Sementara pada momentum libur Lebaran, yang diharapkan dapat mendorong pendapatan lebih tinggi, justru tidak jauh berbeda.
Penjualan yang biasanya dapat dibukukan senilai Rp1–Rp2 juta per hari pada momentum yang sama tahun lalu, kini kondisinya jauh menyusut menjadi hanya Rp300.000–Rp400.000 per harinya. Artinya, terdapat penurunan hingga 70%–80% dibandingkan tahun lalu.
"Iya kalau tahun ini sering kaliblong. Jualannyaenggaklaku," katanya, Minggu (22/3/2026).
Dia menilai bahwa kehadiran tokoonlinetelah menjadi salah satu faktor lesunya penjualan pada momentum Lebaran. Selain itu, perang Iran hingga bencana Sumatra turut dinilai menjadi faktor lainnya.
"Mungkin juga enggak ada orang yang ke sini. Jadi cuma orang sini [lokal], ya enggak beli lah. Harga apa-apa mahal, buat makan sehari-hari mahal," katanya.
Meskipun begitu, Suminah tidak putus asa. Dia mengaku akan terus menanti kehadiran pelanggan demi dapat melanjutkan hidup di kota pelajar ini. Selain itu, tidak ada pilihan lain baginya.
"Ya harapannya semoga laku ke depannya," tegasnya.
Padahal, data Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) per 21 Maret 2026, mencatat jumlah kendaraan yang masuk ke kota ini mencapai 156.985 unit. Sementara itu, hanya 103.029 kendaraan yang keluar dari Yogyakarta.
Bila diperinci, sebanyak 103.874 kendaraan roda dua masuk ke Yogyakarta pada periode ini, sementara hanya 39.232 kendaraan roda empat yang masuk ke kota ini. Sisanya merupakan bus dan truk.
Menkeu Purbaya menegaskan pasar tradisional, seperti Pasar Beringharjo, tetap ramai dan tidak mati suri, dengan omzet tinggi meski ekonomi baru pulih. [313] url asal
Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pasar tradisional tidak mati suri. Menurutnya, kondisi pasar tradisional masih ramai dengan aktivitas jual beli.
Hal itu disampaikan Purbaya usai mengunjungi Pasar Beringharjo, Yogyakarta bersama Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Selasa (17/3/2026).
"Kita mau lihat apa betul pasar-pasar tradisional sudah 'mati suri'. Ternyata di sini [Pasar Beringharjo] masih ramai gitu, dan omzetnya juga cukup tinggi, di sini omzetnya sampe Rp2 triliun," ujarnya seperti dilansir laman Kementerian PANBR, Kamis (19/3/2026).
Purbaya mengaku berdialog dengan banyak pedagang di Pasar Beringharjo. "Di sini saya tanya-tanya ke pedagang, hari ini makin rame, makin rame, omzetnya makin naik," tambah Menkeu.
Purbaya menambahkan kondisi serupa juga tampak terlihat di sejumlah pasar tradisional lainnya yang telah ia kunjungi, salah satunya pasar Tanah Abang.
Dia menilai meski perekonomian baru pulih dari perlambatannya beberapa tahun terakhir, namun aktivitas pasar tetap menunjukkan tren yang positif meski belum sepenuhnya merata.
"Saya pikir tidak mati suri. Cuma ini kan kita baru keluar dari perlambatan ekonomi yang sampai triwulan tiga tahun lalu kan, pasti baliknya belum rata gitu," kata Purbaya.
"Tapi kalau saya lihat, saya ke Tanah Abang, rame. Di sini, rame. Di tempat lain juga, Bandung saya tanya orang-orang, rame. Outlet-outlet rame. Jadi sepertinya tidak semati suri yang disebut oleh para pengamat itu," tegasnya kembali.
Selain menjaga kondisi pasar, mantan Ketua Dekom LPS itu juga sempat berbelanja sejumlah produk seperti batik dan pakaian. Ia menilai harga di pasar tradisional Beringharjo relatif kompetitif dibandingkan di Jakarta.
Meski demikian, dia mengakui masih ada sebagian pedagang yang mengeluhkan penjualannya belum sepenuhnya pulih. Sehingga ke depan, dia berharap pemulihan ekonomi dapat mendorong pemerataan pendapatan pedagang.
"Tadi beberapa pedagang bilang kalo bisa dikasih pinjaman murah, tadi saya tanya sama pengelola sini [pasar] udah kerjasama dengan lembaga keuangan, jadi dia bilang uangnya sudah cukup, intinya gini, pasar tetap hidup" imbuh Menkeu Purbaya.
Bisnis.com, SEMARANG — Pasar tradisional masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain berperan sebagai pusat aktivitas ekonomi, pasar-pasar ini juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang masih terjaga hingga saat ini.
Beberapa pasar tradisional di Yogyakarta telah dikenal sebagai pasar legendaris karena sudah ada sejak lama dan masih beroperasi hingga sekarang.
Mulai dari pasar yang terletak di pusat kota hingga area pinggiran, keberadaan pasar-pasar ini menjadi saksi bisu perkembangan sosial dan ekonomi D.I. Yogyakarta.
Berikut daftar 10 pasar tradisional legendaris di Yogyakarta yang bisa Anda Kunjungi
1.Pasar Beringharjo
Pasar Beringharjo merupakan pasar tradisional legendaris dan ikonik di D.I. Yogyakarta. Pasar ini menjadi pasar tertua dengan nilai historis yang berkaitan erat dengan Keraton Yogyakarta. Dilansir dari laman Sonobudoyo, wilayah pasar Beringharjo pada awalnya masih berupa hutan beringin. Setelah berdirinya Keraton Yogyakarta pada tahun 1758, wilayah hutan beringin yang berada di sebelah selatan keraton, mulai menjadi tempat transaksi ekonomi oleh masyarakat Yogyakarta.
Pada tahun 1929 saat masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII, pasar ini diberi nama “Beringharjo” secara resmi. Kata ‘bering’ diambil dari beringin, dan ‘harjo’ diambil dari bahasa Jawa yang berarti kesejahteraan. Setelah puluhan tahun berdiri, pasar Beringharjo masih ramai dikunjungi masyarakat Yogyakarta hingga wisatawan. Di dalam pasar ini, terdapat banyak penjual yang menjajakan barang dagangannya mulai dari bahan dapur, kain-kain batik, hingga makanan khas Yogyakarta. Terletak di Jl. Margo Mulyo No.16, Malioboro, pasar ini buka mulai pukul 08:00-17:00 WIB.
2. Pasar Ngasem
Pasar yang terletak di Jl. Polowijan No.11, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, dulunya dikenal sebagai pasar hewan khususnya burung. Dilansir dari laman Sonobudoyo, pasar ini diketahui telah berdiri sejak tahun 1809 dengan adanya bukti berupa foto yang menampilkan pasar Ngasem dengan isi dagangan berupa burung. Namun, baru pada tahun 1960-an, pasar Ngasem resmi menjadi “Pasar Burung” setelah para penjual burung dari Beringharjo pindah ke pasar ini.
Setelahnya, pada tahun 2010, pedagang burung resmi dipindahkan ke PASTY di Dongkelan agar kawasan wisata taman sari tidak terganggu dan bisa dikembangkan lebih baik. Dari pemindahan tersebut, pasar Ngasem mulai bertransformasi menjadi pasar pusat kuliner, ruang publik, hingga tempat kumpul warga. Di pasar ini, wisatawan maupun masyarakat bisa membeli kuliner khas, berbelanja oleh-oleh, hingga mengikuti aktivitas seni. Pasar Ngasem dibuka setiap hari mulai pukul 07:00-16:00 WIB.
3. Pasar Gamping
Pasar Gamping merupakan salah satu pasar tradisional terbesar dan tertua di Kabupaten Sleman. Dilansir dari laman Sonobudoyo, pasar Gamping telah menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat sejak masa Kerajaan Mataram Lama. Selain itu, pasar ini juga diperkirakan telah ada sebelum pembagian Kerajaan Mataram menjadi dua kerajaan. Pasar Gamping telah berkembang menjadi sentra buah segar eceran dengan harga yang lebih murah.
Selain buah, pasar ini juga berisi penjual kebutuhan rumah tangga, sayur-sayuran, pakaian, hingga perkakas. Bentuk pasar ini terdiri dari tiga blok dengan pembagian seperti blok depan untuk tempat penjualan sembako, alat rumah tangga, sandang, hingga aksesoris. Sementara itu, blok tengah digunakan untuk tempat penjualan pakaian, sepatu, sandal, dan aksesoris, sedangkan blok belakang menjadi tempat penjualan buah, sayur-sayuran, daging, dan bumbu dapur. Terletak di JL Wates KM 4, Gamping, Kabupaten Sleman, pasar ini buka selama 24 jam.
4. Pasar Kranggan
Pasar Kranggan merupakan pasar tradisional legendaris yang berada dekat dengan Tugu Yogyakarta. Dilansir dari laman Sonobudoyo, pasar Kranggan diketahui telah berdiri sejak abad ke-19 di zaman kolonial. Nama “Kranggan” dari pasar ini diambil dari gelar kebangsawanan Raden Tumenggung Rangga Prawirasantika, pejabat Kesultanan Yogyakarta yang konon menjadi pendiri dari pasar ini. Kata ‘Ka-Rangga-an’ kemudian melekat menjadi Kranggan.
Pada awalnya, pasar Kranggan telah dikenal sebagai pasar tempat belanja kebutuhan pokok. Namun, seiring dengan perubahan, pasar Kranggan kini lebih dikenal sebagai pusat kuliner tradisional. Saat datang ke pasar ini, pengunjung bisa menjumpai berbagai macam kuliner tradisional mulai dari clorot, pisang goreng keju, lupis, cenil, hingga jenang. Selain kuliner, terdapat juga penjual bunga tabur, emas, bumbu dapur, pakaian, alat rumah tangga, hingga sayur-sayuran. Terletak di Jl. Poncowinatan, Jetis, pasar Kranggan buka mulai pukul 04:00-12:00 WIB.
5. Pasar Legi Kotagede
Pasar Legi Kotagede merupakan pasar tradisional bersejarah dan legendaris yang telah berdiri sejak abad ke-16. Dilansir dari laman Sonobudoyo, pasar ini didirikan pada tahun 1549 oleh Ki Ageng Pamanahan. Tanah tempat pasar ini berdiri merupakan hadiah yang diberikan Raja Pajang, Sultan Hadiwijaya sebagai perhargaan karena Ki Ageng Pamanahan berhasil menumpas pemberontakan Arya Penangsang.
Pada awalnya, pasar Legi Kotagede dikenal sebagai Sargdhe atau pasar Gede, bukan dalam artian mewah, melainkan penting. Masih berdiri kokoh hingga saat ini, Pasar Legi Kotagede ramai dikunjungi wisatawan atau masyarakat karena menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, mulai dari bahan pokok, pakaian, kain batik, kerajinan tangan, hingga tanaman hias. Namun, selain itu, pasar ini juga menjual jajanan tradisional seperti Kipo, Yangko, Kue Kembang, Klepon, Geplak, dan lain-lain. Pasar yang berada di JL Mondorakan, Kotagede ini buka mulai pukul 05:00-12:00 WIB.
Lanjutan 10 pasar tradisional legendaris di Yogyakarta
6. Pasar Senthir
Berbeda dengan pasar-pasar sebelumnya yang biasa menjual kuliner hingga bahan pokok, Pasar Senthir merupakan pasar loak atau barang bekas legendaris di D.I. Yogyakarta. Nama “Senthir” dari pasar ini diambil dari lampu minyak kecil atau teplok yang disebut senthir yang digunakan oleh para pedagang pada zaman dahulu untuk penerangan saat berjualan. Sebagai pasar loak, pasar Senthir menjual barang-barang bekas mulai dari kaset, uang koin kuno, gawai, sepatu, buku, barang elektronik, dan lain-lain. Terletak di Jl. Pabringan Selatan, Gondomanan, Pasar Senthir buka mulai pukul 19:00-24:00 WIB.
7. Pasar Lempuyangan
Pasar Lempuyangan merupakan pasar tradisional legendaris yang terletak dekat dengan Stasiun Lempuyangan. Pasar ini diketahui menjadi pasar relokasi dari pasar Reksonegaran pada tahun 1984. Pasar Lempuyangan telah dikenal sebagai pusat kuliner tradisional yang banyak dikunjungi wisatawan atau masyarakat Yogyakarta. Pasar ini menjadi pilihan pasar untuk mencari kuliner khas hingga jajanan tradisional. Adapun kuliner yang dijual di pasar ini terdiri dari soto, tongseng, jenang, pukis, bakmi, gule kambing, lupis, dan jajanan pasar lainnya. Terletak di Jl. Hayam Wuruk, Lempuyangan, pasar ini buka mulai pukul 05:00-17:00 WIB.
8. Pasar Telo Karangkajen
Pasar Telo Karangkajen merupakan pasar tradisional legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1857. Sesuai namanya, pasar ini menjadi pasar satu-satunya di Yogyakarta yang secara khusus menjual berbagai jenis singkong (telo). Pasar ini juga sering disebut sebagai pusat kuliner ketela di Yogyakarta. Di pasar Telo Karangkajen, pengunjung atau masyarakat dapat membeli berbagai varian ketela, seperti tela madu, tela meni, tela pohung, ubi jalar, dan lain-lain. Selain menjual ketela dalam bentuk mentah, di pasar ini juga dijual olahan makanan dari telo, seperti keripik telo hingga getuk. Terletak di Jl. Karangkajen, Mergangsan, pasar ini buka mulai pukul 06:00-15:00 WIB.
9. Pasar Prawirotaman
Pasar Prawirotaman merupakan pasar tradisional legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1943 silam. Pada awal berdiri, pasar ini hanya menjadi pasar tradisional sederhana yang menjual bahan pokok kebutuhan sehari-hari. Setelah puluhan tahun berdiri, pada tahun 2019 lalu, pasar ini direvitalisasi dengan fokus untuk perbaikan dan penambahan ruang publik. Setelah direvitalisasi, pasar ini memiliki wajah baru dan terlihat lebih bersih dan rapi.
Kini, pasar Prawirotaman tidak hanya menjadi pasar sederhana, melainkan sudah bertransformasi menjadi pusat ekonomi yang modern dengan berdampingan langsung bersama food court dan tenant ekonomi kreatif. Di Pasar Prawirotaman, masyarakat atau pengunjung bisa membeli bahan-bahan pokok, beragam kuliner tradisional, hingga bisa bersantai di area rooftop pasar. Terletak di Jl. Parangtritis No. 36, Brontokusuman, pasar ini buka mulai pukul 06:00-16:00 WIB.
10. Pasar Imogiri
Pasar Imogiri salah satu pasar tradisional yang berada di Kabupaten Bantul dan diperkirakan sudah berdiri sejak abad ke-17. Pada tahun 2006, pasar ini pernah mengalami kerusakan parah akibat bencana gempa yang membuat pasar tidak lagi bisa menampung semua pedagang. Namun, satu tahun setelahnya, pada tahun 2007, pasar Imogiri kembali dibangun di atas lahan seluas 4 hektar milik Pemerintah Desa Imogiri.
Selain menjadi pasar tradisional, Pasar Imogiri juga disebut sebagai pasar hewan. Di dalam pasar ini, dijual berbagai macam kebutuhan sehari-hari, mulai dari bahan pangan, pakaian, hewan ternak, peralatan rumah tangga, hingga kuliner tradisional. Terletak di Jl. Imogiri Timur, Kabupaten Bantul, Pasar Imogiri buka mulai pukul 05:00-13:00 WIB.