Bisnis.com, JAKARTA — Bukan rahasia lagi bahwa apa yang kita makan akan memengaruhi tubuh kita, terlebih jika makanan yang dimakan tidak sehat.
Kita juga telah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa diet tinggi gula, lemak tidak sehat, dan bahan-bahan lain yang ditemukan dalam makanan ultra-olahan (UPF) dapat dikaitkan dengan masalah kesehatan fisik seperti penyakit jantung dan diabetes.
Namun baru-baru ini, para ilmuwan mulai mengungkap hubungan yang jauh lebih kompleks antara diet kita dan pikiran kita.
Prevalensi makanan olahan ultra (UPF), seperti minuman ringan, camilan kemasan tertentu, dan roti produksi massal, telah meningkat pesat di banyak negara.
Di negara-negara seperti Australia, UPF kini mencakup hampir 40% dari rata-rata diet orang dewasa. Makanan-makanan ini mungkin rendah nutrisi tetapi tinggi kandungan seperti gula tambahan dan lemak tidak sehat.
Meskipun mudah dimasak dan mudah didapat, penelitian baru yang diterbitkan di Frontiers in Nutrition menunjukkan bahwa dampaknya terhadap kesehatan mental kita mungkin lebih tinggi daripada yang kita sadari.
Untuk memahami cakupan masalah tersebut, para peneliti melakukan tinjauan cakupan komprehensif, yaitu analisis sistematis terhadap literatur yang ada untuk memetakan apa yang saat ini kita ketahui tentang topik tertentu.
Tinjauan komprehensif yang diterbitkan di Frontiers in Nutrition ini memberikan wawasan tentang bagaimana makanan ultra-olahan dapat memengaruhi kesehatan mental kita melalui jalur biologis tertentu, khususnya dengan mengganggu cara otak kita memproses lipid.
Dengan menganalisis lebih dari 120 studi, para peneliti menyoroti hubungan yang konsisten antara asupan UPF yang tinggi dan kondisi seperti depresi, kecemasan, dan gangguan makan.
Para peneliti menelusuri basis data medis utama, dengan tujuan menemukan literatur yang menghubungkan tiga konsep inti, yakni makanan ultra-olahan, gangguan kesehatan mental, dan metabolisme lipid (lemak).
Dengan kriteria yang ketat, studi tersebut membandingkan tingkat konsumsi UPF yang tinggi versus rendah dan pengaruhnya terhadap gangguan kejiwaan, atau menyelidiki mekanisme biologis yang menghubungkan UPF dengan disregulasi lipid di otak.
Mereka memasukkan studi pada manusia di semua usia dan demografi, serta studi pada hewan untuk lebih memahami mekanisme biologis yang berperan.
Pada akhirnya, 123 studi dimasukkan dalam tinjauan akhir, memberikan gambaran menyeluruh yang kuat tentang lanskap ilmiah saat ini.
Tinjauan tersebut menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-olahan (UPF) terkait erat dengan peningkatan beban kesehatan mental global.
Secara khusus, studi tersebut menyoroti bahwa asupan UPF yang lebih tinggi dikaitkan dengan risiko yang lebih besar terhadap kondisi kesehatan mental umum yang berkontribusi secara signifikan terhadap beban ini di seluruh dunia, terutama, depresi.
Para penulis studi menjelaskan bahwa depresi saja merupakan sebagian besar tantangan kesehatan mental global, dan bukti terkuat dalam tinjauan tersebut menunjukkan hubungan "tergantung dosis", di mana semakin banyak UPF yang dikonsumsi orang, semakin besar kemungkinan mereka mengalami gejala depresi.
Makanan seperti minuman manis, makanan cepat saji, dan makanan gorengan menunjukkan hubungan paling jelas dengan peningkatan risiko.
Studi ini juga menunjukkan bahwa makanan olahan ultra (UPF) terkait dengan kondisi umum lainnya seperti berikut ini:
- Kecemasan: Meskipun temuan beragam, beberapa studi mengaitkan asupan UPF yang tinggi, terutama dari pemanis buatan dan daging olahan, dengan peningkatan gejala kecemasan.
- Gangguan Makan: Terdapat korelasi yang kuat antara konsumsi UPF dan gangguan makan seperti gangguan makan berlebihan (binge-eating disorder) dan bulimia. Rasa yang sangat lezat dari makanan ini dapat memicu respons penghargaan seperti kecanduan di otak, mirip dengan gangguan penggunaan zat.
Temuan penting dari studi ini adalah mekanisme potensial di balik risiko-risiko tersebut, yakni disregulasi lipid. Otak sebagian besar terbuat dari lemak, dan bergantung pada lipid (lemak) yang sehat untuk integritas membran sel dan pensinyalan. Sedangkan, makanan olahan ultra (UPF) seringkali tinggi lemak trans dan rendah asam lemak omega-3 esensial.
Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan neuroinflamasi (peradangan di otak), stres oksidatif, dan gangguan pada neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin. Pada intinya, tinjauan ini menunjukkan bahwa UPF mungkin secara fisik mengubah struktur dan fungsi sel-sel otak kita.
Namun, meskipun temuan ini penting, perlu untuk melihatnya dari sudut pandang ilmiah. Para penulis ulasan mencatat beberapa keterbatasan.
Pertama, sebagian besar studi yang ditinjau bersifat cross-sectional. Ini berarti mereka mengamati populasi pada satu titik waktu.
Meskipun mereka dapat menunjukkan korelasi (misalnya, orang yang mengonsumsi lebih banyak makanan olahan cenderung lebih depresi), mereka tidak dapat secara definitif membuktikan sebab-akibat (bahwa makanan olahan menyebabkan depresi).
Kedua, terdapat variabel bebas dalam pengklasifikasian makanan. Tidak setiap penelitian menggunakan sistem klasifikasi standar untuk makanan olahan, sehingga perbandingan langsung menjadi sulit.
Selain itu, banyak penelitian bergantung pada data yang dilaporkan sendiri, yang rentan terhadap kesalahan ingatan.
Kemudian, meskipun penelitian pada hewan memberikan bukti kuat untuk mekanisme biologis (seperti disregulasi lipid), temuan pada tikus tidak selalu dapat diterapkan dengan sempurna pada manusia. Studi longitudinal, yang mengikuti orang selama bertahun-tahun tetap diperlukan untuk mengkonfirmasi arah hubungan ini.