Bisnis.com, JAKARTA – Emiten jasa industri gas, PT Kian Santang Muliatama Tbk. (RGAS) sepanjang Januari-September 2025 membukukan lonjakan pendapatan lebih dari 200%. Kinerja impresif ini seiring dengan fokus pemerintah dalam proyek jaringan gas (jargas) nasional.
Berdasarkan laporan keuangan, RGAS membukukan pendapatan sebesar Rp175,23 miliar, melampaui target yang dipasang perseroan tahun ini sebesar Rp150 miliar-Rp160 miliar. Total pendapatan tersebut melesat 232,28% dibanding pendapatan kuartal III/2024 mencapai Rp52,74 miliar.
Lompatan pendapatan itu didorong oleh segmentasi converter kit yang tercatat sebesar Rp98,72 miliar dan segmen jasa lain-lain sebesar Rp15,42 miliar. Pada periode yang sama di 2023, kedua pos pendapatan tersebut nihil.
Dari segmen lain, pendapatan dari barang dagang tumbuh 19,52% year on year (YoY) dari Rp29,79 miliar menjadi Rp35,61 miliar. Sementara jasa konstruksi meningkat 34,42% YoY dari Rp17,31 miliar menjadi Rp23,26 miliar. Terakhir, pendapatan segmen jasa inspeksi susut 60,62% YoY dari Rp5,64 miliar menjadi Rp2,22 miliar.
Untuk penjualan neto kepada pihak berelasi yang persentasenya melebihi 10% dari total penjualan, ada penjualan kepada PT Pertamina Patra Niaga sebesar Rp98,72 miliar. Penjualan kepada subholding commercial & trading PT Pertamina(Persero) ini pada periode yang sama di 2024 masih nihil.
Kemudian, penjualan kepada PT PGAS Solution sebesar Rp14,98 miliar atau tumbuh 33,92% YoY. Selanjutjnya, penjualan kepada PT National Energy Solution sebesar Rp39,56 juta, atau susut 99,39% YoY.
Dari sisi beban, tercatat beban pokok pendapatan sepanjang kuartal III/2025 juga melonjak 329,91% YoY dari Rp35,04 miliar menjadi Rp150,66 miliar. Namun, laba bruto perseroan tetap naik 38,88% YoY dari Rp17,69 miliar menjadi Rp24,57 miliar.
Dari sisi bottom line, RGAS mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas pemilik induk atau laba bersih sebesar Rp4,01 miliar, atau tumbuh 30,09% YoY dari laba bersih kuartal III/2024 sebesar Rp3,08 miliar.
Sebelumnya, Direktur Utama RGAS, Edy Nurhamid Amin, menyatakan perseroan optimis dapat meraup kinerja pertumbuhan pendapatan yang solid karena didorong oleh fokus perusahaan pada layanan pemasangan jaringan gas rumah tangga yang prospeknya masih besar.
"Target ini realistis dengan strategi kami yang kini lebih fokus ke segmen jaringan gas," ujarnya dalam paparan publik di Jakarta pada Juni lalu, ketika perseroan mengumumkan target pendapatan 2025 sebesar Rp160 miliar.
Untuk mendukung pertumbuhan tersebut, RGAS mengalokasikan belanja modal hingga Rp8 miliar yang digunakan untuk pengadaan alat kerja, kendaraan proyek, software, dan keperluan lainnya. Fokus bisnis perseroan berbeda dengan tahun sebelumnya ketika capex difokuskan pada pembelian tanah dan gedung.
Sejalan dengan fokus perusahaan pada proyek jargas, beberapa proyek yang sudah dikantongi RGAS tahun ini antara lain adalah proyek Jargas di Sleman, proyek Jargas di Tangerang, sampai proyek serupa di wilayah Jakarta Timur.
Asal tahu saja, proyek jargas oleh pemerintah sempat terhenti pada 2023 dan 2024, sebelum di 2025 ini Presiden Prabowo Subianto melanjutkannya kembali. Di bawah komando Presiden Prabowo Subianto itu, Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) mencanangkan 1 juta sambungan rumah (SR) jargas, tambahan dari 115.264 SR yang sudah dibangun di tahap pertama.
Gayung bersambut, program prioritas pemerintah ini menjadi landasan ke mana arah bisnis RGAS melangkah. Melansir prospektus RGAS saat melantai di bursa sejak 2023 lalu, perseroan telah membidik arah kebijakan pembangunan jargas sebagai upaya pemerintah mengurangi impor LPG sebesar 603,7 juta ton per tahun, penghematan subsidi LPG sebesar Rp297,55 miliar per tahun, serta menghemat pengeluaran energi masyarakat Rp386 miliar per tahun.
Selain itu, jargas diyakini juga akan bermanfaat mengurangi defisit neraca perdagangan migas mencapai Rp2,64 triliun per tahun. Dari proyek prioritas tersebut, RGAS mengendus eksekusi program itu akan memerlukan pembiayaan dari pemerintah sekitar Rp800 triliun [nilai 2023], atau sekitar rata-rata Rp20 triliun per tahun.
"Dengan pasar sebesar itu ditambah dengan keinginan manajemen untuk mendiversifikasi produk-produk baru yang relevan dengan hilirisasi dan huluisasi proyek tersebut, melalui kegiatan penciptaan nilai TKDN yang makin meningkat, maka perseroan akan berjalan pada rel yang tepat," tulis prospektus perusahaan.
Adapun di lantai bursa, saham RGAS pada perdagangan Selasa (28/10/2025) secara intraday pukul 13.52 WIB terkoreksi 1,03% ke Rp96. Level harga ini mencerminkan pertumbuhan 1,05% secara year to date (YtD), tetapi terpangkas 20% sejak perseroan tercatat di lantai bursa.