Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membeberkan bahwa minat perusahaan modal ventura (PMV) terhadap sektor financial technology (fintech) kian selektif.
Meski investasi dewasa ini lebih selektif, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman menegaskan sektor fintech tetap menjadi bagian dari ekosistem inovasi keuangan yang strategis.
“Adapun, minat perusahaan modal ventura (PMV) terhadap fintech dipengaruhi antara lain pertimbangan risiko, prospek pertumbuhan, dan profil pengembalian investasi,” katanya dalam lembar jawaban RDK November 2025, Rabu (17/12/2025).
Lebih jauh, Agusman menuturkan per Oktober 2025 portofolio PMV sebagian besar difokuskan pada sektor perdagangan, yakni mencapai Rp7,86 triliun atau setara dengan 46,48%.
“Diikuti sektor penyewaan Rp2,17 triliun atau 12,85%, serta sektor informasi dan komunikasi Rp1,81 triliun 10,68%. Ini menunjukkan alokasi investasi yang masih terdiversifikasi,” tegasnya.
Sebab demikian, dia menilai industri modal ventura tahun depan berpotensi tumbuh positif meskipun terbatas, dengan peluang fokus pada startup yang sudah profitable, ekspansi ke sektor hilirisasi, dan peningkatan investasi syariah.
“Industri ini perlu mewaspadai tekanan akibat tech winter, dinamika perekonomian, dan keterbatasan sumber pendanaan,” ucap Agusman.
Sebagai informasi, OJK mencatat pembiayaan modal ventura per Oktober 2025 mencapai Rp16,30 triliun. Angka ini turun 0,12% year on year (YoY) dari Rp16,29 triliun. Adapun, nilai asetnya mencapai Rp26,88 triliun.
Diberitakan sebelumnya, Asosiasi Fintech Indonesia atau Aftech mengeklaim saat ini sedang tidak banyak modal ventura yang berinvestasi di dunia financial technology alias fintech.
Ketua Umum Aftech, Pandu Sjahrir menuturkan justru kini yang menariknya banyak perusahaan fintech yang berhasil bertahan atau survive di kondisi ekonomi saat ini.
“Memang market-nya untuk dunia fintech itu memang lagi tidak banyak venture capital investasi di dunia fintech,” tuturnya dalam konferensi pers peluncuran Bulan Fintech Nasional (BFN) 2025, di Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Pandu menambahkan, menurut asosiasinya perusahaan fintech bukan hanya sebatas bertahan saja, mereka juga berhasil membesarkan pendapatannya dan bahkan mencapai profitabilitas.
Dia melihat bahwa fintech bukan lagi sebagai industri yang sedang dalam fase rintisan (startup) dan fase pertumbuhan (growth stage), melainkan sudah masuk tahap kematangan bisnis alias maturing.
“Maturing maksudnya mereka sudah bukan lagi anak kecil, sudah menjadi sedikit dewasa dalam melihat segala hal dan memang sekarang tidak ada lagi cerita seperti dulu growth and all cost. Sekarang malah sangat fokus gimana mencapai profitabilitas,” jelas Pandu.