Industri satelit Indonesia menjajaki peluang baru di sektor non-konektivitas dan navigasi mandiri untuk mengatasi persaingan asing. Fokus pada solusi inovatif dan kolaborasi global. [800] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pelaku industri satelit nasional mulai memetakan ruang pertumbuhan baru atau blue ocean di tengah sengitnya persaingan pasar konektivitas seiring makin tajamnya penetrasi satelit asing, seperti Starlink, di Tanah Air.
Sektor aplikasi non-konektivitas dan kemandirian sistem navigasi diprediksi menjadi motor pertumbuhan masa depan yang perlu diuji lebih lanjut.
Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Risdianto Yuli Hermansyah mengungkapkan pasar utama satelit saat ini memang masih didominasi oleh layanan konektivitas. Namun, dinamika teknologi dan perubahan ekspektasi pelanggan mendorong operator satelit untuk bergeser dari sekadar penyedia kapasitas (capacity-based) menjadi penyedia solusi (solution-based).
Perubahan ini menuntut operator lebih kreatif dalam menyediakan use case yang relevan dengan kebutuhan pelanggan. Risdianto menilai ketergantungan pada layanan internet satelit konvensional akan menemui titik jenuh seiring berkurangnya wilayah yang tidak terjangkau (unserved) atau kurang terlayani (underserved).
"Ruang pertumbuhannya akan bergeser ke arah aplikasi-aplikasi lain," kata Risdianto dalam ajang Apsat 2026 International Conference, Selasa (12/5/2026).
Salah satu ruang pertumbuhan strategis yang mulai dilirik adalah sistem navigasi mandiri. Risdianto menyoroti tensi geopolitik global yang meningkat telah memberikan kesadaran nasional mengenai pentingnya memiliki sistem navigasi yang berdaulat. Ketergantungan pada pihak asing dalam hal navigasi mengandung risiko besar bagi fungsionalitas berbagai aplikasi dan perangkat di dalam negeri.
“Kaitan dengan geopolitik meningkatkan awareness nasional terhadap situasi di dalam negeri. Peningkatan tensi geopolitik itu juga memberikan arah kepada kita, ternyata kemandirian sistem navigasi itu penting,” tuturnya.
Dia memberikan gambaran apabila sistem navigasi asing yang digunakan saat ini dinonaktifkan secara sepihak, maka banyak aplikasi kritikal di Indonesia tidak akan berfungsi. Kebutuhan untuk memastikan keberlangsungan aplikasi inilah yang memunculkan peluang bisnis baru di luar layanan internet dasar.
Meskipun ukuran pasar konektivitas saat ini masih menjadi yang terbesar, potensi blue ocean tidak dapat dilihat secara parsial. Industri satelit kini mengarah pada ekosistem telekomunikasi menyeluruh yang terintegrasi. Sesuai indikasi standar 3GPP mengenai converging network, satelit diposisikan sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem komunikasi nasional sebagai Non-Terrestrial Network (NTN).
Dalam masa depan yang seamless atau nirkabel tanpa batas, pengguna akhir tidak lagi mempermasalahkan apakah koneksi mereka berasal dari jaringan terestrial, satelit geostasioner (GEO), atau satelit orbit rendah (LEO). Fokus utama pelanggan adalah kualitas layanan internet yang dihasilkan.
Selain itu, arus digitalisasi yang masif di wilayah terpencil mendorong pertumbuhan aplikasi berbasis Internet of Things (IoT). ASSI melihat IoT sebagai salah satu ruang pertumbuhan yang paling menjanjikan di luar bisnis konektivitas murni. Dengan meluasnya digitalisasi, perangkat di berbagai sektor—mulai dari pertanian hingga maritim—membutuhkan dukungan satelit untuk bertukar data secara real-time.
Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Risdianto Yuli Hermansyah
Jatah Penengah
Sekretaris Jenderal Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI) Sigit Jatiputro mengungkapkan industri satelit dalam negeri perlu melampaui persaingan harga dan latensi. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi strategis sebagai penengah di tengah krisis geopolitik global yang menciptakan jarak antar-negara produsen teknologi besar.
Sigit melihat adanya celah atau gap akibat ketegangan perdagangan, misalnya antara Amerika Serikat dan China, atau Jepang dengan China. Ketidakmampuan negara-negara tersebut untuk bertransaksi secara langsung menciptakan peluang bagi Indonesia untuk memposisikan diri sebagai jembatan atau proksi kolaborasi teknologi.
“Jepang tidak mau beli barang China, China juga tidak mau beli barang Jepang. Tapi mereka semua bisa menggunakan Indonesia sebagai proksi. Mengapa kita tidak menjadi proksi tersebut? Kita bisa berkolaborasi dengan AS, Jepang, serta China, dan menjadi tenaga penggerak,” ujar Sigit.
Strategi tersebut, lanjutnya, memerlukan langkah nyata dalam industrialisasi di dalam negeri. Indonesia diharapkan mampu mengintegrasikan berbagai komponen global, seperti cip dari berbagai negara, untuk kemudian dirakit dan dikembangkan menjadi industri ruang angkasa berbasis lokal.
Langkah ini juga mencakup pemanfaatan Kecerdasan Buatan (AI) yang disesuaikan dengan kebutuhan domestik. Sigit berpendapat Indonesia dipandang sebagai jembatan yang mampu menyatukan dua pihak yang saling berseberangan secara geopolitik, sehingga akses terhadap inovasi global seharusnya lebih terbuka bagi industri nasional.
Dari sisi teknis, Sigit menyoroti pentingnya operator satelit nasional untuk keluar dari "permainan" standar yang didominasi oleh pemain LEO global. Jika hanya mengandalkan Quality of Service (QoS) seperti latensi rendah atau kecepatan uplink yang tinggi, satelit geostasioner (GEO) milik nasional akan sulit bersaing secara langsung dengan Starlink.
Sebagai solusi, industri harus bergeser ke arah Quality of Experience (QoE) yang lebih mengerti karakter konsumen lokal. Salah satu poin krusial adalah kemudahan akses pembiayaan dan metode pembayaran yang lebih merakyat.
“Kita masuk ke Quality of Experience. Bisa tidak kita sangat Indonesia di sisi pembiayaan? Jika sekarang pembayaran hanya bisa via kartu kredit, kita tahu persis ini tidak bisa menjangkau semua lapisan. Bisa tidak operator Indonesia menyediakan pembayaran yang bisa dilakukan di warung atau di mana saja?” tuturnya.
Sigit mencontohkan kasus di wilayah terpencil seperti Miangas atau wilayah perbatasan lainnya. Di daerah tersebut, penetrasi kartu kredit sangat rendah, sehingga model bisnis satelit asing yang kaku pada metode pembayaran digital tertentu akan menemui hambatan. Dengan menyediakan mekanisme pembayaran bulanan yang lebih fleksibel dan sesuai dengan ekosistem keuangan lokal, operator satelit Indonesia dapat menciptakan pasar unik yang sulit dimasuki pemain global.
Industri satelit global fokus pada masa depan satelit GEO di tengah persaingan dengan LEO seperti Starlink. Konferensi APSAT bahas regulasi dan peluang pasar Indonesia. [381] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Industri satelit dunia menaruh perhatian mengenai masa depan satelit GEO (Geostationary Earth Orbit) atau satelit orbit Geostationary, di tengah persaingan ketat menghadapi satelit orbit rendah (low earth orbit/LEO) yang makin berkembang pesat.
Dalam Asia Pacific Satellite Conference (APSAT) ke-22, pelaku ekosistem industri satelit akan membawa beberapa isu besar mengenai masa depan satelit GEO.
Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), Risdianto Yuli Hermansyah, menjelaskan penyelenggaraan konferensi ini menjadi momentum krusial untuk menyelaraskan arah industri satelit domestik dengan tren global. Sebagai orkestrator industri, ASSI berupaya menjembatani kebutuhan pemerintah dengan solusi teknis dari para operator.
"ASSI berharap terjadi penggabungan peluang konkret antara kebutuhan industri dan agenda pemerintah," ujar Risdianto, Kamis (7/5/2026).
Indonesia, menurutnya, menjadi magnet di Asia Pasifik bagi perusahaan satelit global. Wilayah Indonesia yang luas dan memiliki ribuan pulau menjadi pasar yang segar bagi industri satelit. Namun, pesatnya minat pasar juga membawa tantangan baru, terutama terkait masuknya konstelasi satelit orbit rendah atau Low Earth Orbit (LEO) seperti Starlink.
Risdianto mengakui industri satelit domestik saat ini menghadapi tekanan hebat dari pemain global yang mulai merambah pasar Tanah Air. Kondisi ini memicu kebutuhan mendesak akan penataan regulasi yang lebih adil bagi para pelaku usaha lokal maupun pemain lama di orbit GEO (Geostationary Earth Orbit).
"Muncul tantangan regulasi dan kebutuhan kebijakan yang adil atau level playing field," ucapnya.
Menurutnya, model perhitungan biaya hak penggunaan (BHP) spektrum saat ini perlu dievaluasi. LEO menambah kapasitas dengan memperbanyak jumlah satelit, sehingga idealnya pertimbangan biaya merefleksikan jumlah satelit yang berada di atas wilayah Indonesia dalam satu waktu saat memberikan layanan.
Di sisi lain, masa depan telekomunikasi diprediksi menuju konvergensi antara jaringan terestrial dan non-terestrial (NTN) dalam era 6G. Satelit tidak lagi dipandang sebagai kompetitor seluler, melainkan bagian dari jaringan seamless. Implementasi Fixed Mobile Convergence (FMC) memungkinkan satelit berperan sebagai backhaul untuk layanan akses nirkabel tetap (fixed wireless access) di wilayah sulit seperti Papua.
ASSI juga mendorong pemerintah mengorkestrasi konstelasi LEO menjadi sistem nasional yang terintegrasi, dengan jaminan data tetap mendarat (landing) di Indonesia. Terkait teknologi Direct-to-Device (D2D), Indonesia kemungkinan besar akan memosisikan satelit sebagai kepanjangan tangan menara pemancar atau BTS melalui skema transparent network.
"Kami ingin mengubah ekosistem ini menjadi lebih segar, agile, dan inovatif, sekaligus mempertemukan dunia kampus dengan industri agar talenta muda memperoleh ruang lebih besar," pungkas Risdianto.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – PT Telkom Satelit Indonesia atau Telkomsat mendorong penguatan industri satelit nasional melalui forum Rapat Anggota Luar Biasa Asosiasi Satelit Indonesia. Forum ini juga menjadi ajang transisi kepengurusan baru sekaligus penegasan arah strategis industri di tengah perubahan teknologi dan regulasi.
Direktur Pengembangan Telkomsat, Anggoro Kurnianto Widiawan mengatakan, forum tersebut menjadi momentum penting bagi ASSI dalam melanjutkan konsolidasi organisasi dan menetapkan arah strategis ke depan. Dalam RALB tersebut, ASSI resmi memasuki periode kepengurusan 2026–2029 dengan kepemimpinan dilanjutkan oleh Risdianto Yuli Hermansyah, yang juga menjabat sebagai VP Corporate Planning & Business Development Telkomsat.
“Penetapan kepemimpinan baru ini mencerminkan kepercayaan anggota terhadap kapasitas kepemimpinan yang diharapkan mampu menjaga kesinambungan program sekaligus menjawab tantangan industri satelit yang semakin dinamis,” ujar Anggoro dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Anggoro yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Umum ASSI periode 2022–2026 menyampaikan apresiasi atas dukungan seluruh anggota selama masa kepengurusan. Anggoro menegaskan, dalam tiga tahun terakhir ASSI menghadapi dinamika industri yang semakin kompleks, mulai dari isu regulasi, perkembangan teknologi LEO dan non-GEO, hingga konvergensi antara satelit dan nondatelit.
“Dalam beberapa tahun terakhir, kita menghadapi berbagai dinamika industri, baik dari sisi regulasi, perkembangan teknologi LEO maupun konvergensi satelit dan nonsatelit,” lanjut Anggoro.
ASSI, ucap Anggoro, berkomitmen menjadi interface bagi anggota untuk melakukan positioning bersama, mendorong kolaborasi, serta memperkuat kemandirian industri satelit nasional. Anggoro juga menekankan pentingnya penguatan kapasitas nasional melalui pengembangan talenta muda, transparansi tata kelola organisasi, serta menjaga kedaulatan teknologi ruang angkasa Indonesia di tengah kompetisi global.
Ketua Umum ASSI periode 2026–2029, Risdianto Yuli Hermansyah menegaskan, amanah kepemimpinan tersebut memerlukan kerja sama seluruh anggota agar industri satelit nasional dapat berkontribusi lebih besar bagi Indonesia. Risdianto menilai, amanah ini merupakan tanggung jawab besar yang memerlukan partisipasi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.
“ASSI harus menjadi ruang sinergi seluruh pelaku industri, tidak hanya untuk memperkuat kemandirian teknologi dan bersikap adaptif terhadap perkembangan global, tetapi juga menjaga kesinambungan industri sehingga pelaku usaha satelit di Indonesia tetap relevan dan kompetitif,” ujar Risdianto.
Risdianto optimistis, dengan penguatan industri dalam negeri dan kolaborasi seluruh ekosistem, industri satelit dapat menjadi pilar strategis menuju Indonesia Emas 2045. Risdianto menambahkan, keterlibatan Telkomsat dalam kepengurusan ASSI merupakan komitmen perusahaan untuk berkontribusi dalam pengembangan industri satelit dan antariksa nasional.
“Melalui peran ini, Telkomsat berupaya mendorong sinergi, tata kelola industri yang berkelanjutan, serta penguatan posisi Indonesia dalam ekosistem satelit dan antariksa di sektor regional maupun global,” kata Risdianto.
Industri satelit nasional tertekan kurs rupiah dan dominasi Starlink. PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) fokus pada produk lokal dan pengembangan satelit baru untuk bersaing. [72] url asal
Bisnis.com, JAKARTA— Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) memberi tekanan terhadap industri satelit nasional. Tingginya ketergantungan pada komponen impor membuat biaya pengembangan bisnis satelit ikut meningkat. Perusahaan satelit dalam negeri pun mulai berfokus pada produk dalam negeri.
Direktur Utama PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Adi Rahman Adiwoso mengakui tekanan kurs cukup berat bagi industri satelit, terutama karena banyak peralatan masih didatangkan dari luar negeri.