Bisnis.com, JAKARTA -
Memasuki tahun 2026, para pelaku industri ternak ayam (petelur dan pedaging) dihadapkan pada dua realitas yang berseberangan. Di satu sisi, ekspansi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang luar biasa cepat menjanjikan pasar yang baik. Permintaan telur dan daging ayam akan lumintu atau berkesinambungan. Ini akan menjaga stabilitas harga di tingkat peternak agar tidak jatuh. MBG telah menjangkau penerima manfaat sebanyak 55,1 juta orang. Pada Mei 2026 MBG diproyeksikan melayani semua penerima manfaat: 82,9 juta orang.
Di sisi lain, per 1 Januari 2026 ada regulasi baru: impor bungkil kedelai (soybean meal/SBM) hanya lewat BUMN: PT Berdikari. Semula impor sepenuhnya diserahkan ke pasar. Bungkil kedelai adalah salah satu bahan baku penting pakan ternak, selain jagung. Bungkil kedelai menjadi sumber protein nabati berkualitas tinggi dan menyediakan asam amino esensial lengkap buat unggas, ikan atau ternak ruminansia. Dalam formulasi pakan ternak, bungkil kedelai menyumbang 21%, jagung 42,5%, sisanya bahan baku lain.
Jika jagung dari produksi domestik, bungkil kedelai sepenuhnya impor. Dari 32,75% porsi bahan baku pakan ternak asal impor, porsi kedelai paling besar. Sebaliknya, dari 67,25% porsi bahan baku pakan ternak asal domestik, pangsa jagung tertinggi (Utomo, 2025). Impor bungkil kedelai sekitar 5 juta ton per tahun senilai tak kurang Rp35 triliun. Karena porsi biaya pakan ternak 70% dari total biaya, harga bahan baku pakan ternak menjadi isu amat sensitif. Tinggi-rendahnya bahan baku pakan akan memengaruhi harga pakan, yang pada akhirnya bakal menentukan daya saing hasil produk ternak.
Sejauh ini pemerintah belum menjelaskan ke publik ihwal alasan pengalihan impor bungkil kedelai ke BUMN. Isu yang beredar, pemerintah perlu memastikan stabilitas pasokan dan harga SBM seiring peningkatan kebutuhan telur dan daging ayam untuk MBG. Jika ini alasannya, pertanyaan yang relevan adalah: Apakah selama ini ada masalah stabilitas pasokan dan harga SBM? Kalau tidak ada masalah, pengalihan itu tidak valid dan justru membawa industri perunggasan masuk dalam lorong ketidakpastian baru.
Pertama, kebijakan yang mendadak. Diputuskan pada 19 Desember 2025, beleid ini diberlakukan mulai 1 Januari 2026. Sementara PT Berdikari tidak siap mengeksekusi penugasan baru. Bisa dimaklumi, selain tak terbiasa mengimpor SBM, PT Berdikari tidak memiliki sumber daya dan infrastruktur pendukung: gudang, trucking, dan lainnya. Kedua, kebijakan tak berbasiskan bukti (evidence-based policy). Sebagai hal baru, beleid anyar perlu di-asesmen dan uji coba. Namun, ini diberlakukan tanpa itu semua. Dampaknya, dari 25 Desember 2025 hingga 9 Januari 2026 SBM mengalami kelangkaan dan harga naik Rp1.000 per kg.
Ketiga, harga SBM dipastikan akan lebih mahal. Ini terjadi karena PT Berdikari tidak siap berjualan langsung ke peternak atau pabrik pakan. PT Berdikari mendatangkan SBM hingga di pelabuhan, dari pelabuhan ke gudang di-handle importir lama. Ini berarti titik distribusi bertambah satu yang bermakna tambahan margin baru.
Ini membuat harga SBM lebih mahal apabila dibandingkan dengan rantai pasok sebelumnya. Apa artinya? Negara lewat penugasan ini telah melegalkan rente ekonomi (baru). Dampaknya, harga telur dan daging ayam akan mahal, yang pada akhirnya akan ditanggung konsumen.
Sejatinya tidak perlu ada kekhawatiran pasokan telur dan daging ayam untuk MBG tidak terjamin kepastiannya. Demikian pula harganya. Produksi kedua komoditas sumber protein itu lebih dari cukup, bahkan berlebih. Telur ayam misalnya, produksi 2025 sekitar 6,52 juta ton atau 104 miliar butir. Dengan kebutuhan konsumsi 6,22 juta ton, ada surplus 0,3 juta ton. Jika MBG melayani 82,9 juta orang dengan asumsi telur diberikan dua kali seminggu, kebutuhan setahun sekitar 460.000 ton. Ada defisit. Dalam jangka pendek, ini bisa diatasi dengan memperpanjang usia produktif ayam petelur dari 80 jadi 90 pekan.
Demikian pula pasokan daging ayam. Produksi pada 2025 mencapai 4,25 juta ton. Dengan kebutuhan konsumsi sekitar 3,87 juta ton, ada surplus 380.000 ton. Jika menu daging ayam diberikan dua kali seminggu ketika MBG melayani 82,9 juta sasaran, kebutuhan setahun sekitar 464.000 ton. Surplus tak cukup. Dalam jangka pendek, kebutuhan daging ayam bisa dipenuhi dengan memperpanjang usia ayam peliharaan yang berarti akan menambah bobot karkas. Bahwa harga telur dan daging ayam sempat naik, yang diyakini karena permintaan MBG, ini tidak valid jadi alasan mengalihkan impor SBM ke BUMN.
Industri perunggasan adalah penyedia protein yang terjangkau dan melimpah bagi rakyat. Dengan harga ramah kantong, tingkat partisipasi konsumsi telur sekitar 92,77% dan daging ayam 66,1%, tertinggi di antara produk unggas.
Subsektor peternakan telah berkontribusi 12%—14% dari penyerapan tenaga kerja sektor pertanian. Kapitalisasi industri ini lebih Rp500 triliun. Subsektor perunggasan adalah pilar ekonomi penting. Seharusnya negara membuat kebijakan yang memungkinkan efisiensi dan dayang saing meningkat. Bukan sebaliknya: membuka rente ekonomi yang mengancam industri ini mundur.