Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah perubahan perilaku membaca generasi muda dan ketatnya persaingan dengan konten digital, pelaku industri buku mulai mencari cara baru untuk menjangkau pembaca.
Salah satu strategi yang kini semakin diandalkan adalah festival literasi, yang dinilai mampu menjadi ruang pertemuan langsung antara penerbit, penulis, dan pembaca, terutama kalangan generasi Z.
Asisten Manajer Mizan Media Utama, Abdul Ajid, mengatakan pola distribusi penjualan buku saat ini umumnya terbagi dalam tiga jalur utama. Pertama, penjualan secara offline yang mencakup toko buku modern maupun toko buku tradisional sebagai kanal distribusi konvensional.
Kedua, penjualan juga dilakukan melalui kanal online, seperti marketplace, situs web resmi, live streaming, hingga platform digital lainnya. Adapun jalur ketiga dilakukan lewat berbagai event, mulai dari pasar buku hingga festival literasi.
Menurutnya, tren festival buku di Indonesia belakangan telah berkembang pesat, ditandai dengan hadirnya sejumlah agenda rutin seperti Indonesia International Book Fair, Big Bad Wolf, Patjarmerah dan berbagai acara sejenis lainnya.
"Sekarang ini dari event serapannya paling tinggi. Kedua baru offline. Kemudian, ketiga online," kata Abdul.
Menurut Abdul, penjualan buku melalui event memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pasar penerbitan. Festival literasi maupun pasar buku disebut mampu mendongkrak penjualan sekitar 30–50 persen karena menghadirkan kanal distribusi baru yang dapat menjangkau segmen pembaca lebih luas.
Dia menilai kondisi ini berbeda dengan toko buku atau marketplace yang bersifat permanen dan cenderung memiliki pola trafik pengunjung yang relatif sama. Sementara itu, event literasi kini semakin berkembang menjadi tujuan baru masyarakat di berbagai daerah, sehingga membuka peluang lebih besar untuk memperluas pasar buku.
"Kalau di toko fisik, umumnya dominasinya masih dari pengunjung tetap ya, terus marketplace ramainya periodik ketika tanggal kembar atau PO buku baru. Namun, event ini bisa menjangkau audiens yang sebelumnya belum terbiasa datang ke toko buku," imbuhnya.
Menurut Abdul, penjualan buku melalui event memiliki daya tarik tersendiri karena menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan kanal penjualan lain. Festival literasi tidak hanya berfungsi sebagai tempat membeli buku, tetapi juga menghadirkan beragam aktivitas, seperti bedah buku, talk show, hingga diskusi yang memberikan nilai tambah bagi pengunjung, terutama kalangan Gen Z dan milenial.
Selain itu, event juga membuka ruang interaksi langsung antara pembaca dan penulis. Berbagai kegiatan komunitas, seperti book party atau sesi membaca bersama, dinilai semakin memperkuat ketertarikan generasi muda terhadap literasi.
Abdul menilai kehidupan sosial Gen Z sangat dekat dengan komunitas, terlihat dari tumbuhnya berbagai komunitas baca seperti Jakarta Book Party, Bogor Book Party, hingga Banten Book Party yang kini bermunculan di berbagai daerah. Melihat tren tersebut, penerbit dan toko buku disebut terus menyesuaikan strategi agar dapat membentuk preferensi membaca baru yang lebih relevan dengan kebiasaan generasi masa kini.
"Di event itu penerbit kayak ber-experience. Bahkan di beberapa lokasi ada yang bergabung dengan musik, membaca dan musik. Konsep-konsep baru event ini cukup menarik," imbuhnya.