Bisnis.com, JAKARTA — Pasar pergudangan, logistik, dan kawasan industri diprediksi bakal menjadi yang paling menjanjikan pada tahun ini dibandingkan dengan segmen bisnis di sektor properti lainnya.
Konsultan Properti Colliers Indonesia mencatat hal itu terjadi seiring dengan tingginya permintaan pasar yang belum mampu diimbangi secara maksimal oleh ketersediaan pasokan strategis.
Head of Research Colliers Indonesia, Ferry Salanto menjelaskan bahwa sektor industri, khususnya pergudangan, telah melewati fase krusial dalam siklus properti dan kini berada dalam posisi pertumbuhan yang solid. Hal ini didorong oleh kebutuhan mendesak para pelaku usaha terhadap fasilitas distribusi yang efisien.
"Pasar industri dan terutama dari sisi warehouse permintaannya cukup tinggi, sedangkan stok yang kita miliki masih terbatas. Khusus untuk pergudangan atau distribution hub, permintaan paling kuat datang untuk lokasi yang memiliki kedekatan akses dengan jalan tol serta pusat kota guna menekan waktu distribusi," ujar Ferry dalam Media Briefing, Rabu (7/1/2026).
Dia mencontohkan, di Jawa Timur, pasar kawasan industri dan logistik khususnya di Surabaya menunjukkan resiliensi tinggi meski permintaan lahan bergerak lebih lambat akibat ketidakpastian ekonomi eksternal.
Adapun saat ini, okupansi gudang modern di Surabaya dan sekitarnya terus mendaki sejak 2022 dan kini berada di kisaran 95%, mendekati kapasitas penuh. Sejalan dengan tingginya keterhunian, rata-rata harga sewa gudang modern meningkat stabil menuju level Rp68.000 per meter persegi.
Sementara untuk lahan industri, harga lahan di wilayah Selatan Surabaya terpantau lebih tinggi dibandingkan wilayah Barat, dengan rentang harga menyentuh angka Rp3 juta hingga Rp3,5 juta per meter persegi.
Segmen kedua yang diprediksi akan berada dalam tren positif yakni retail. Di mana, Sepanjang 2025 pasar retail menunjukkan performa yang konsisten. Di tambah dengan pertumbuhan pasokan yang terbatas menjadikan okupansinya tetap berada di level tinggi.
Berbeda dengan sektor logistik dan retail yang diproyeksi melesat, sektor perkantoran (office) dinilai masih memerlukan waktu untuk pulih sepenuhnya. Meski demikian, Ferry melihat adanya sinyal positif yang mulai muncul pada tahun ini.
Menurutnya, fundamental sektor perkantoran mulai membaik karena pertumbuhan pasokan yang sangat terkendali atau teregulasi. Tanpa adanya ekspansi gedung baru secara besar-besaran, momentum pada 2026 diharapkan dapat menjaga keseimbangan supply dan demand.
"Fokusnya sekarang bukan agresivitas, tapi paling tidak sudah mulai ada momentum perbaikan karena sisi supply sudah sangat teregulasi. Kami tidak berharap pertumbuhan yang terlalu agresif tahun ini, tapi arahnya sudah lebih positif," jelasnya.
Pihaknya mencatat tingkat hunian perkantoran di kawasan CBD Jakarta pada kuartal IV/2025 tembus 75,8%. Sedangkan, rata-rata okupansi gedung perkantoran di luar CBD Jakarta bertahan di level 70%.
Tak jauh berbeda, di segmen residensial vertikal, juga masih dibayang-bayangi tantangan seiring pengembang semakin realistis dan tidak lagi melakukan spekulasi pembangunan secara masif.
Suplai apartemen juga diproyeksi belum akan meningkat signifikan sejalan dengan adanya pengetatan pembiayaan yang dilakukan perbankan dalam mengucurkan kredit konstruksi untuk proyek apartemen baru.
Strategi pengembang saat ini lebih difokuskan pada upaya menghabiskan sisa stok unit yang ada (inventory clearing) atau sekadar melanjutkan proyek yang sudah berjalan.
Di sisi lain, sektor perhotelan juga masih harus dipacu untuk mulai melakukan diversifikasi pasar guna mengurangi ketergantungan pada belanja pemerintah (government spending).
"Hotel harus bisa mendiversifikasi pasarnya, tidak lagi tergantung sepenuhnya oleh pemerintah, tetapi lebih menggarap pasar turis domestik dan korporasi. Mengingat suplai juga relatif tidak lagi jor-joran, masih ada peluang besar untuk berkembang di tahun-tahun mendatang," pungkas Ferry.