Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah diminta menggeser orientasi dari kuantitas ke kualitas dalam menggelontorkan APBN untuk stimulus ekonomiIdulfitri 2026.
Seperti diketahui, pemerintah berencana menggelontorkan stimulus ekonomi berupa diskon transportasi hingga bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat pada liburan Idulfitri tahun ini. Harapannya, momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2025 lalu saat Natal dan Tahun Baru berlanjut ke kuartal I/2026.
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 sebesar 5,39% year on year (YoY), yang ikut mengakselerasi pertumbuhan sepanjang tahun 5,11% (YoY), patut dicatat sebagai capaian tertinggi pascapandemi.
Namun, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurrahman mengatakan lonjakan pertumbuhan di akhir tahun ini dinilai perlu dibaca secara proporsional. Sebab, pertumbuhan pada tiga bulan terakhir 2025 itu pada dasarnya mencerminkan kombinasi faktor musiman yang kuat konsumsi akhir tahun, realisasi belanja pemerintah yang menumpuk di penghujung tahun, serta efek basis rendah di beberapa sektor.
"Artinya, pertumbuhan tinggi tersebut bukan sepenuhnya sinyal akselerasi struktural, melainkan puncak siklus jangka pendek. Jika pemerintah mencoba 'memaksa' momentum ini berlanjut ke kuartal I/2026 melalui stimulus besar-besaran, risikonya adalah kebijakan menjadi pro-siklus, bukan penyeimbang siklus," terang Rizal, dikutip Minggu (8/2/2026).
Rizal memaparkan bahwa tantangan utama dalam memacu pertumbuhan pada kuartal I/2026 berbeda dengan kuarta IV/2025. Hal tersebut lantaran pola historis yang menunjukkan pelemahan musiman akibat normalisasi konsumsi pascalibur dan keterbatasan belanja pemerintah di awal tahun.
Stimulus, lanjutnya, boleh dipertimbangkan tetapi bukan dalam skema agresif untuk mengejar angka pertumbuhan semata. Menurut Rizal, apabila stimulus difokuskan hanya untuk menjaga headline growth, dampaknya cenderung dangkal dan cepat habis, sementara beban fiskalnya bersifat permanen.
Ekonom lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) itu berpesan, kebijakan fiskal seharusnya berfungsi sebagai shock absorber, bukan growth accelerator jangka pendek. Kuncinya, bagi Rizal, adalah untuk pemerintah menggeser orientasi stimulus dari pengeluaran besar (kuantitas) ke tepat sasaran (kualitas).
"Pemerintah tidak perlu mengulang pola injeksi luas, melainkan mengarahkan belanja pada titik-titik dengan efek multiplier tinggi dan leakage rendah, seperti perlindungan daya beli kelompok bawah, percepatan belanja kementerian/lembaga yang sudah siap eksekusi, dan dukungan selektif ke sektor padat karya yang sedang melemah. Dengan pendekatan ini, efek ke PDB tetap ada, tetapi tekanan terhadap defisit dan pembiayaan bisa lebih terkendali," paparnya.
Dengan demikian, dia memandang opsi yang lebih rasional adalah menjaga pertumbuhan di kisaran yang sehat sambil memastikan ruang fiskal tetap lentur untuk menghadapi risiko global dan domestik.
Siapkan stimulus
Pada pemberitaan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV/2025 sebesar 5,39% (YoY). Pertumbuhan ini merupakan pertumbuhan pada kuartal IV tertinggi sejak pascapandemi. Namun, sepanjang tahun ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% (YoY).
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa kinerja pertumbuhan ekonomi 2025, khususnya pada akhir tahun lalu, menunjukkan efektivitas stimulus yang digelontorkan pemerintah. Pemerintah pun akan menggelontorkan stimulus serupa pada kuartal I/2026 untuk menjaga momentum libur Natal dan Tahun Baru.
"Jadi program yang digelontorkan pemerintah itu membuahkan hasil di kuartal keempat. Nah, dengan hal tersebut maka pemerintah juga mendorong di kuartal pertama [2026]," terang Airlangga kepada wartawan di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Kamis (5/2/2026).
Airlangga menyebut stimulus yang akan disiapkan serupa dengan yang digelontorkan pada Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Misalnya, diskon tiket transportasi, bantuan sosial serta kebijakan program work from anywhere (WFA).
Menko Perekonomian sejak 2019 itu mengatakan pemerintah bakal fokus memanfaatkan momentum mobilitas masyarakat guna memacu pertumbuhan ekonomi.
"Karena di bulan Desember mobilitas itu mendorong konsumsi dan ini suatu hal yang bisa kami tarik pelajaran dari sana,".
Apabila dibandingkan dengan 2024, terang Airlangga, pertumbuhan ekonomi 2025 banyak didorong oleh peran pemerintah. Selain stimulus-stimulus yang sebelumnya disebutkan, pemerintah turut membebaskan sejumlah pajak guna memberi keleluasaan ke pemerintah.
Contohnya, insentif pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) untuk sektor properti, transportasi (untuk pesawat), serta pembebasan pajak penghasilan (PPh) dengan gaji di bawah Rp10 juta.
Politisi Partai Golkar itu juga memerinci lebih lanjut sederet insentif yang rencananya digulirkan. Salah satunya adalah untuk transportasi.
Pemerintah menyiapkan diskon sebesar 30% untuk tiket kereta api maupun kapal, serta pesawat hingga 18%. Pajak Pertambahan Nilai ditanggung pemerintah atau PPN DTP untuk tiket pesawat juga rencananya dinaikkan dari tahun lalu dari hanya sebesar 6% ke 100%.
"Diskon tiket real-nya nanti sekitar 17%-18% dengan PPN ditanggung pemerintah. Kalau yang lalu di Natal kan 6% yang ditanggung, tetapi kalau yang kali ini full," katanya.