#30 tag 24jam
Mr.Vet Buktikan Produk Hewan Peliharaan Asia Mampu Bersaing di Panggung Global
Industri makanan hewan peliharaan Asia kembali mencatatkan pencapaian penting di tingkat internasional. [517] url asal
#makanan-hewan-peliharaan #inovasi #asia-tenggara #prestasi-global #industri-makanan
Orlando: Industri makanan hewan peliharaan Asia kembali mencatatkan pencapaian penting di tingkat internasional.Dalam ajang Global Pet Expo 2026 di Orlando, Amerika Serikat, merek asal Asia Tenggara, Mr.Vet, berhasil meraih Orange Dot Award untuk kategori Bioteknologi berkat inovasi yang dikembangkan pada lini produknya.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu pengakuan internasional terhadap perkembangan teknologi nutrisi hewan peliharaan yang kini semakin berkembang di kawasan Asia. Orange Dot Award sendiri dikenal sebagai penghargaan yang menilai inovasi, keamanan produk, serta penerapan sains dalam industri pet care.
Keberhasilan Mr.Vet menunjukkan produsen dari Asia tidak lagi hanya menjadi pasar konsumen, tetapi juga mulai tampil sebagai pengembang teknologi kesehatan hewan yang mampu bersaing dengan merek-merek global.
Fokus utama yang mendapat perhatian juri adalah pendekatan yang diterapkan perusahaan dalam konsep precision healthcare atau perawatan kesehatan presisi. Konsep ini mengedepankan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang lebih spesifik sesuai kondisi kesehatan dan karakteristik hewan peliharaan.
Melalui lini produk T-Series, Mr.Vet menawarkan berbagai formula yang dirancang untuk kebutuhan berbeda, mulai dari kesehatan pencernaan, perawatan kulit dan bulu, kesehatan saluran kemih, hingga kebutuhan khusus kucing yang hidup di dalam ruangan.
Salah satu teknologi yang menjadi andalan perusahaan adalah metode pengeringan suhu rendah atau freeze-drying. Teknologi ini dikembangkan untuk menjaga kandungan nutrisi penting dalam bahan baku agar tidak rusak selama proses produksi.
Berbeda dengan metode pemanasan konvensional yang berpotensi mengurangi kualitas beberapa senyawa aktif, proses tersebut memungkinkan protein, vitamin, mineral, dan komponen nutrisi lainnya tetap terjaga sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal oleh hewan peliharaan.
Tidak hanya mendapat pengakuan dari kalangan industri, performa bisnis Mr.Vet juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat di pasar Asia Tenggara. Berdasarkan kajian pasar yang dilakukan lembaga riset Frost & Sullivan, perusahaan dinilai berhasil membangun posisi yang kuat di tengah meningkatnya permintaan terhadap produk makanan hewan premium dan berbasis sains.
Tren ini sejalan dengan perubahan perilaku pemilik hewan peliharaan yang kini semakin memperhatikan kualitas nutrisi dan aspek kesehatan jangka panjang. Hewan peliharaan tidak lagi dipandang sekadar sebagai penjaga rumah atau teman bermain, melainkan sebagai bagian dari keluarga yang membutuhkan perawatan lebih komprehensif.
Selain Mr.Vet, grup perusahaan yang sama juga mencatat prestasi melalui merek Bite of Wild yang memperoleh penghargaan pada kategori Nutrisi. Pengakuan tersebut diberikan atas pengembangan formula makanan yang menyesuaikan kebutuhan biologis alami hewan peliharaan, khususnya yang memiliki karakteristik karnivora.
Co-founder perusahaan, Steve Bui, mengatakan bahwa penghargaan yang diraih menjadi motivasi untuk terus menghadirkan inovasi berbasis penelitian dan teknologi. Menurutnya, perkembangan industri hewan peliharaan saat ini menuntut perusahaan untuk tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga solusi kesehatan yang lebih terukur dan efektif.
Pencapaian dua penghargaan internasional dalam satu ajang tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa industri pet care Asia tengah memasuki fase baru. Inovasi berbasis riset, teknologi nutrisi, dan pendekatan kesehatan presisi diperkirakan akan menjadi faktor utama yang membentuk persaingan industri dalam beberapa tahun mendatang.
Dengan meningkatnya jumlah pemilik hewan peliharaan serta kesadaran terhadap kesehatan hewan, pasar pet care di Asia diprediksi terus berkembang. Dalam kondisi tersebut, keberhasilan Mr.Vet menjadi contoh bagaimana inovasi lokal dapat memperoleh pengakuan global dan membuka peluang lebih besar bagi produk-produk Asia untuk bersaing di pasar internasional.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)
Bapanas: Produksi beras RI tertinggi di Asia Tenggara, ke-4 di dunia
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengutip data Badan Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) mengatakan Indonesia menjadi produsen beras terbesar ... [687] url asal
Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengutip data Badan Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) mengatakan Indonesia menjadi produsen beras terbesar dengan produksi tertinggi di Asia Tenggara dan menempati peringkat keempat dunia di bawah India, Tiongkok dan Bangladesh pada 2025.
"FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh," kata Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Akan tetapi, menurut dia, dari empat besar dunia tersebut, hanya China dan Indonesia yang diproyeksikan akan mengalami perkembangan produksi beras yang positif.
Sementara itu, jika dibandingkan antara perkiraan produksi beras periode 2025/2026 dengan 2024/2025, Indonesia menjadi negara dengan kenaikan produksi paling tinggi di antara negara-negara produsen utama dunia.
Kenaikan produksi beras Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 4 juta ton, jauh melampaui India sebesar 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, dan Bangladesh 1,1 juta ton.
Ia mengatakan perkembangan sektor perberasan Indonesia kembali memperoleh pengakuan dari FAO. Selain mengumumkan perkembangan produksi beras Indonesia, FAO juga melaporkan Indonesia mengalami peningkatan stok beras dan turut pula berhasil menjaga kestabilan harga di tingkat petani.
Dalam Food Outlook edisi Juni 2026, FAO melaporkan peningkatan stok beras di Indonesia menjadi salah satu faktor dalam menjaga stok cadangan beras dunia. Organisasi pangan itu juga memperkirakan stok beras dunia pada akhir 2026/2027 dapat mencapai 213,8 juta ton, yang merupakan rekor tertinggi kedua dalam 10 tahun terakhir.
Amran memastikan stok cadangan beras pemerintah (CBP) secara nasional yang dikelola Perum Bulog masih berada lebih dari 5 juta ton. Ia juga memastikan Indonesia tidak akan ada lagi impor beras konsumsi.
"Stok (CBP) kita per hari ini bulan Juni, berada pada sekitar 5,2 juta ton sampai dengan hari ini dan stok kita aman. Tapi yang terpenting, (sejak) tahun 2025 tidak ada keluar izin impor beras medium (sampai sekarang)," katanya.
Ia bahkan meminta kepada pihak yang masih meragukan melimpahnya stok CBP agar melihat langsung ke gudang-gudang Bulog yang ada di berbagai daerah. Hal itu juga untuk membuktikan optimisme pemerintah yang besar terkait ketersediaan beras untuk kebutuhan dalam negeri.
"Kapasitas (gudang) Bulog hanya 3 juta ton. Tapi stok kita 5,2 juta ton. Artinya Bulog hari ini menyewa gudang (kapasitas) 2,2 juta ton. (Jadi untuk) yang belum yakin, silakan ke gudang Bulog seluruh Indonesia," kata Amran lagi.
Terkait stok beras, FAO memberikan proyeksi closing stocks dalam Food Outlook Juni 2026 yang memperkirakan stok beras Indonesia dapat mencapai 7,5 juta ton pada periode 2025/2026 dan juga bisa lebih besar lagi hingga 7,8 juta ton pada periode 2026/2027. Peluang Indonesia sebagai eksportir beras dinilai semakin terbuka lebar.
"Dan satu lagi, beras bukan lagi penyumbang inflasi utama. Ini sudah dua tahun berturut-turut," ujar dia.
Adapun tingkat inflasi beras Indonesia secara bulanan sudah melandai dalam dua tahun terakhir. Inflasi beras yang terakhir cukup tinggi, menurut dia, pernah terjadi pada Mei 2024 di 3,59 persen.
Setelah itu, ia mengatakan inflasi beras lebih stabil. Inflasi beras sempat berfluktuasi pada Juli 2025, tapi hanya 1,35 persen saja. Terbaru, inflasi beras di Mei 2026 berada di 0,38 persen.
Meskipun inflasi beras cukup rendah sampai saat ini, namun tidak menjadikan kondisi petani Indonesia tertekan. FAO dalam laporan terbarunya tersebut mengemukakan harga produsen yang stabil di beberapa negara berhasil mendorong keinginan petani untuk lebih memilih menanam padi dibandingkan tanaman lain.
FAO menyebut hal itu terjadi di Indonesia, Korea Selatan, Pakistan dan Filipina. Kondisi ideal tersebut tentu punya andil positif terhadap peningkatan panen, namun di sisi lain terdapat negara yang dilaporkan organisasi PBB itu mengalami penurunan produksi beras, antara lain Kamboja, India, Myanmar, Nepal, Sri Lanka dan Thailand.
Adapun indeks harga petani padi Indonesia sendiri dalam data Badan Pusat Statistik (BPS) mencerminkan tren yang progresif. Indeks harga yang diterima petani padi pada Mei 2026 pun berada di 147,97 dan merupakan yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir.
Begitu pula, indeks Nilai Tukar Petani (NTP) Tanaman Pangan yang pada Mei berada di 113,79 dan menjadi indeks tertinggi di tahun 2026 ini.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Asia Tenggara Jadi Medan Persaingan Industri Aplikasi, TikTok Andalkan AI dan Konten Native
Asia Tenggara menjadi kontributor terbesar dengan porsi 32% dari total unduhan global dan tumbuh 220% YoY. Menjadikannya pasar menjanjikan bagi aplikasi. [510] url asal
#aplikasi #mini-drama #mini-game #asia-tenggara #tiktok #tiktok-games #pasar-aplikasi #persaingan #data #digital
(Bisnis.Com - Teknologi) 19/06/26 12:58
v/254973/
Bisnis, JAKARTA — Asia Tenggara kian menjadi medan perebutan pasar industri aplikasi global seiring melonjaknya konsumsi konten digital, pertumbuhan industri gim, serta ledakan popularitas drama pendek berbasis mobile.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, TikTok mengandalkan teknologi kecerdasan artifisial (AI) dan pengalaman native di dalam platform untuk menarik pengembang aplikasi memperluas bisnisnya di kawasan.
Potensi pasar Asia Tenggara menjadi semakin menarik di tengah pertumbuhan ekonomi aplikasi global yang masih kuat. Berdasarkan data Sensor Tower, konsumen dunia mengunduh 149 miliar aplikasi sepanjang 2025 dengan nilai transaksi dalam aplikasi mencapai US$167 miliar.
Salah satu pertumbuhan tercepat terjadi pada kategori short drama atau drama pendek. Pada kuartal I/2026, unduhan global kategori tersebut melonjak 140% secara tahunan.
Asia Tenggara menjadi kontributor terbesar dengan porsi 32% terhadap total unduhan global dan mencatat pertumbuhan mencapai 220% secara tahunan.
Pengguna di kawasan ini bahkan menghabiskan hampir 40 menit per hari untuk menikmati konten drama pendek yang dirancang khusus untuk perangkat mobile.
Selain drama pendek, industri gim juga terus menjadi magnet pertumbuhan ekonomi digital kawasan. Berdasarkan laporan Boston Consulting Group (BCG), nilai industri gim global diproyeksikan mencapai sekitar US$350 miliar pada 2030.
Melihat peluang tersebut, TikTok mulai memperluas perannya dari sekadar platform distribusi konten menjadi ekosistem yang menghubungkan proses penemuan pengguna, keterlibatan, hingga monetisasi dalam satu platform.
General Manager Global Business Solutions Southeast Asia and Japan TikTok Yuke (Ray) Hu mengatakan industri aplikasi saat ini memasuki fase baru setelah teknologi AI membuat proses pengembangan aplikasi menjadi semakin mudah dan cepat.
"Industri aplikasi kini memasuki fase pertumbuhan baru seiring dengan kehadiran solusi AI yang semakin memudahkan pembuatan aplikasi dan menurunkan hambatan dalam proses pengembangannya," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (19/6/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat persaingan bergeser. Tantangan terbesar bukan lagi membangun aplikasi, melainkan mendapatkan perhatian pengguna dan mempertahankan keterlibatan mereka.
Oleh karena itu, TikTok memperkenalkan sejumlah solusi baru yang memungkinkan pengembang menghadirkan pengalaman langsung di dalam platform.
Dalam TikTok Apps Summit 2026 yang mempertemukan lebih dari 150 pengambil keputusan perusahaan aplikasi dan gim dari enam negara Asia Tenggara di Singapura, TikTok memperlihatkan fitur Mini Dramas dan Mini Games, menjadi salah satu andalannya dalam mempertahankan retensi penonton.
Oengguna dapat menemukan, menonton, memainkan, hingga melakukan transaksi tanpa harus meninggalkan aplikasi TikTok.
Perusahaan juga meluncurkan TikTok Growth Max, solusi iklan otomatis berbasis AI yang dirancang untuk membantu pengembang meningkatkan akuisisi pengguna, memperkuat keterlibatan, hingga mendorong konversi.
TikTok turut mengintegrasikan model video AI Dreamina Seedance 2.0 ke dalam platform Symphony untuk mempercepat proses pembuatan materi promosi berbasis AI.
Di sisi lain, perusahaan melihat peluang ekspansi global semakin terbuka bagi pengembang aplikasi Asia Tenggara.
Berdasarkan data internal TikTok, penerbit aplikasi yang melakukan ekspansi ke luar Asia Tenggara mencatat pertumbuhan pendapatan dua kali lebih tinggi dibandingkan perusahaan yang hanya beroperasi di pasar regional.
Kondisi tersebut mendorong persaingan antarplatform untuk menjadi mitra pertumbuhan bagi pengembang aplikasi yang ingin memperluas pasar.
TikTok menilai kemampuan mengubah perhatian pengguna menjadi aktivitas ekonomi akan menjadi faktor pembeda utama dalam persaingan industri aplikasi ke depan.
"Kesuksesan saat ini datang dari kemampuan untuk mengubah relevansi budaya yang muncul secara instan menjadi nilai jangka panjang," kata Yuke.
Perkuat Kolaborasi Kampus, MNC University Inisiasi Konsorsium Perguruan Tinggi ASEAN
MNC University mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih kuat antarperguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara. Hal ini diwujudkan melalui pembentukan ASEAN Higher... | Halaman Lengkap [348] url asal
#mnc-university #asean #perguruan-tinggi #perguruan-tinggi-swasta #asia-tenggara
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/06/26 19:15
v/253767/
JAKARTA - MNC University mendorong lahirnya kolaborasi yang lebih kuat antarperguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara . Hal ini diwujudkan melalui pembentukan ASEAN Higher Education International Consortium.Langkah ini dinilai penting untuk membantu perguruan tinggi menghadapi tantangan pendidikan tinggi yang semakin kompleks di era global. Rektor MNC University Dendi Pratama menjelaskan hal tersebut dalam Seminar Internasional Bridging ASEAN Member States Through Higher Education pada Kamis (18/6/2026) di Auditorium MNC University.
Forum tersebut dihadiri perwakilan 18 perguruan tinggi dari Indonesia, Kamboja, dan Timor Leste yang terdiri dari universitas, institut, sekolah tinggi, hingga politeknik. Menurut Dendi, selama ini banyak perguruan tinggi yang lebih fokus pada persoalan penerimaan mahasiswa baru dibandingkan strategi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas institusi.
“Sering kali kita berdiskusi mengenai penerimaan mahasiswa baru, penurunan mahasiswa baru, atau berbagai kesulitan yang dihadapi kampus. Namun kita lupa membahas isu yang tidak kalah penting, yaitu bagaimana mengembangkan kampus, meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat daya saing institusi, dan menginternasionalisasikan perguruan tinggi,” ujarnya.
Sementara menurutnya, tantangan yang dihadapi kampus saat ini tidak lagi sederhana. Selain tuntutan peningkatan mutu akademik, perguruan tinggi juga dituntut memperkuat tata kelola.
Selain itu kampus juga dituntut memenuhi berbagai indikator kinerja, hingga membangun jejaring internasional. Karena itu, kolaborasi antarkampus dinilai menjadi kebutuhan strategis.
“Tantangan yang kita hadapi tidak akan menjadi lebih ringan apabila dihadapi sendiri-sendiri. Oleh karena itu kolaborasi bukan lagi sekadar pilihan, tetapi kebutuhan strategis bagi keberlanjutan dan kemajuan perguruan tinggi,” katanya.
Dendi menjelaskan, konsorsium yang dideklarasikan hari ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi perguruan tinggi ASEAN. Baik dalam bidang pendidikan, penelitian, inovasi, hingga mobilitas mahasiswa dan dosen.
Ia juga mengingatkan agar kerja sama antarkampus tidak berhenti pada seremoni penandatanganan nota kesepahaman atau MoU semata. Ia berharap berharap konsorsium tersebut mampu menciptakan pertukaran mahasiswa, pertukaran dosen, penelitian bersama, pengembangan kurikulum, program gelar ganda (double degree), dan lainnya.
“Sering kali kita berkumpul hanya untuk menandatangani MoU. Setelah itu kembali ke kampus masing-masing dan lupa dengan kerja sama yang pernah dibuat,” ujarnya.
Ia berharap pertemuan ini juga menjadi titik awal lahirnya berbagai program kolaboratif. Harapannya dapat memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, dosen, institusi pendidikan, serta masyarakat ASEAN secara luas.
IEA: Cuaca Makin Panas, AC Jadi Mesin Baru Konsumsi Energi Asia Tenggara
Pendingin ruangan atau air conditioner (AC) perlahan menjelma menjadi salah satu mesin baru konsumsi energi di Asia Tenggara. [1,158] url asal
#asia-tenggara #ac #pendingin-ruangan #gelombang-panas #ac-rumah #peralatan-listrik #kebutuhan-listrik
(Kompas.com - Money) 18/06/26 11:22
v/253077/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pendingin ruangan atau air conditioner (AC) perlahan menjelma menjadi salah satu mesin baru konsumsi energi di Asia Tenggara.
Kenaikan suhu udara, semakin seringnya gelombang panas, serta meningkatnya pendapatan masyarakat membuat penggunaan AC melonjak dalam satu dekade terakhir.
Laporan Southeast Asia Energy Outlook 2026 yang dirilis International Energy Agency (IEA) menunjukkan, stok AC rumah tangga di Asia Tenggara telah meningkat dua kali lipat sejak 2015 dan diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat lagi hingga 2035.
Shutterstock/M-Production Ilustrasi AC.Kebutuhan pendinginan ruang pun menjadi salah satu pendorong utama lonjakan konsumsi listrik kawasan.
Fenomena tersebut terjadi di tengah perubahan besar dalam sistem energi Asia Tenggara.
Kawasan ini menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia dan menyumbang sekitar 4 persen produk domestik bruto (PDB) global pada 2024.
Sejak 2015, Asia Tenggara menyumbang 10 persen pertumbuhan permintaan energi dunia. Total permintaan energi kawasan kini 40 persen lebih tinggi dibandingkan 2015 dengan laju pertumbuhan rata-rata 4 persen per tahun.
Namun, pertumbuhan kebutuhan listrik jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan energi secara keseluruhan.
IEA mencatat, konsumsi listrik Asia Tenggara tumbuh rata-rata 6 persen per tahun sejak 2015, hampir dua kali lipat rata-rata global dan jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total kebutuhan energi kawasan yang sebesar 4 persen per tahun.
Saat ini, konsumsi listrik di Asia Tenggara telah melampaui 1.300 terawatt hour (TWh) dan menyumbang lebih dari seperlima konsumsi energi final kawasan.
SHUTTERSTOCK/JITTAWIT21 Ilustrasi listrik, token listrik. Pemerintah pastikan tidak ada lagi program diskon listtik pada 2025.Kelas menengah tumbuh, peralatan listrik ikut melonjak
Lonjakan kebutuhan listrik tidak hanya dipicu industri atau transportasi. Justru, konsumsi listrik terkonsentrasi di sektor bangunan, terutama rumah tangga.
IEA menyebutkan, kenaikan pendapatan dan pertumbuhan jumlah penduduk mendorong kepemilikan berbagai peralatan rumah tangga.
Sejak 2015, jumlah lemari pendingin alias kulkas dan freezer meningkat 40 persen menjadi hampir 120 juta unit, sementara kepemilikan mesin cuci naik 50 persen menjadi 90 juta unit.
Akibatnya, konsumsi listrik dari peralatan rumah tangga mencapai sekitar 200 TWh per tahun atau hampir 60 persen lebih tinggi dibandingkan 2015.
Di antara berbagai perangkat tersebut, AC menjadi yang pertumbuhannya paling mencolok.
Laporan IEA menunjukkan, kepemilikan AC rumah tangga di Asia Tenggara telah meningkat dua kali lipat sejak 2015. Bahkan, hingga 2035, jumlah AC diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat dibandingkan level saat ini.
Permintaan pendinginan yang semakin tinggi sejalan dengan meningkatnya urbanisasi dan pendapatan masyarakat.
Sektor bangunan secara keseluruhan mengonsumsi energi sebesar 4,5 exajoule (EJ) pada 2024. Selain dipengaruhi pertumbuhan pendapatan dan urbanisasi, konsumsi energi di sektor ini juga terdorong oleh perluasan akses listrik dan bahan bakar memasak yang lebih bersih.
Akses listrik di Asia Tenggara meningkat dari 86 persen pada 2015 menjadi 97 persen saat ini. Dalam periode yang sama, akses terhadap bahan bakar memasak bersih juga naik dari 63 persen menjadi 83 persen.
Perubahan pola konsumsi energi rumah tangga itu membuat listrik menjadi sumber energi utama di sektor bangunan.
PIXABAY/MICHAEL SCHWARZENBERGER Ilustrasi listrik.Permintaan listrik di Asia Tenggara tumbuh dua kali lebih cepat
Perubahan pola konsumsi rumah tangga terjadi bersamaan dengan transformasi energi yang lebih besar di Asia Tenggara.
Listrik kini menjadi bagian yang semakin penting dari masa depan energi kawasan. Permintaan listrik bahkan tumbuh dua kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan kebutuhan energi secara keseluruhan.
Dalam satu dekade ke depan saja, kenaikan permintaan listrik Asia Tenggara diperkirakan setara dengan total produksi listrik Jepang saat ini.
IEA menyebutkan, listrik saat ini menyumbang hampir seperempat konsumsi energi final kawasan dan akan terus meningkat hingga 2050 dalam berbagai skenario.
Selain untuk kebutuhan rumah tangga, sumber pertumbuhan baru juga mulai bermunculan. Permintaan listrik dari pusat data atau data center tumbuh cepat di sejumlah negara Asia Tenggara sehingga membutuhkan investasi besar dalam pembangkit listrik, jaringan transmisi, dan fleksibilitas sistem kelistrikan.
Di sektor industri, tingkat elektrifikasi Asia Tenggara bahkan telah sebanding dengan Uni Eropa. Sementara itu, penggunaan kendaraan listrik juga mulai meningkat.
Penjualan kendaraan listrik di Asia Tenggara lebih dari dua kali lipat pada 2025 menjadi sekitar setengah juta unit atau hampir 20 persen dari total penjualan kendaraan.
Di Vietnam, penjualan mobil listrik meningkat lebih dari dua kali lipat antara 2024 dan 2025 menjadi hampir 180.000 unit.
Namun, di antara berbagai sumber pertumbuhan tersebut, kebutuhan pendinginan tetap menjadi salah satu faktor utama yang membentuk permintaan listrik kawasan.
SHUTTERSTOCK/FIZKES Mengetahui apa yang terjadi apabila kulit tidak dapat mengeluarkan keringat sangat penting karena bisa berbahaya, bahkan mengancam nyawa.Gelombang panas dan pendinginan ruang
IEA menilai, meningkatnya kebutuhan pendinginan ruang berkaitan erat dengan makin seringnya gelombang panas di Asia Tenggara.
Dalam laporannya, IEA menyebutkan pendinginan ruang menjadi penggunaan listrik yang tumbuh paling cepat di sektor bangunan. Stok AC rumah tangga diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat pada 2035.
Kondisi ini mendorong pemerintah di kawasan untuk memperkuat standar efisiensi energi.
IEA mencatat, standar kinerja yang lebih ketat untuk AC telah meningkatkan efisiensi rata-rata AC rumah tangga sekitar 40 persen sejak 2015.
Meski demikian, masih terdapat potensi besar untuk meningkatkan efisiensi energi di kawasan. Selain AC, langkah seperti elektrifikasi transportasi dan penerapan standar efisiensi kendaraan niaga juga dinilai dapat menahan laju pertumbuhan kebutuhan energi di masa depan.
Sistem energi Asia Tenggara masih bergantung pada bahan bakar fosil
Di tengah melonjaknya kebutuhan listrik, sistem energi Asia Tenggara masih didominasi bahan bakar fosil.
IEA mencatat, total permintaan energi kawasan meningkat 40 persen sejak 2015 dan lebih dari 70 persen tambahan kebutuhan energi dipenuhi oleh bahan bakar fosil. Batu bara menjadi sumber energi utama dengan pertumbuhan tercepat, yakni rata-rata 8 persen per tahun.
Pangsa batu bara dalam bauran energi naik dari 20 persen pada 2015 menjadi 30 persen pada 2024.
Energi terbarukan tumbuh lebih cepat dibandingkan sumber energi lain selain batu bara, yakni rata-rata 7 persen per tahun. Pembangkit listrik tenaga surya dan angin mencatat pertumbuhan sekitar 35 persen per tahun, meskipun masih berangkat dari basis yang rendah.
SHUTTERSTOCK/SMALL SMILES Ilustrasi batu bara.Pada 2024, kapasitas energi terbarukan Asia Tenggara mencapai 120 gigawatt (GW). Dalam skenario kebijakan saat ini, kapasitas tersebut diperkirakan hampir tiga kali lipat pada 2035.
Jika seluruh target yang telah diumumkan pemerintah tercapai, kapasitas energi terbarukan bahkan bisa meningkat lima kali lipat.
Meski demikian, permintaan energi yang terus meningkat membuat tantangan penyediaan listrik semakin besar.
IEA memperkirakan, jaringan transmisi dan distribusi listrik di Asia Tenggara perlu meningkat lebih dari dua kali lipat hingga 2050 untuk memenuhi permintaan yang terus tumbuh dan mengatasi variabilitas pasokan listrik.
Investasi pada jaringan listrik dan penyimpanan energi juga perlu meningkat, dari 13 miliar dollar AS saat ini menjadi sekitar 50 miliar dollar AS pada 2050 apabila target-target yang telah diumumkan pemerintah dapat tercapai.
Di tengah perubahan tersebut, AC dan kebutuhan pendinginan ruang diperkirakan tetap menjadi salah satu penentu arah konsumsi energi Asia Tenggara.
Seiring bertambahnya kelas menengah, urbanisasi, dan meningkatnya suhu udara, pendingin ruangan tidak lagi sekadar perangkat rumah tangga, melainkan telah menjadi salah satu penggerak utama permintaan listrik di kawasan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
ASEAN Haus Energi, Konsumsinya Diproyeksikan Terus Melonjak
Asia Tenggara kini diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan permintaan energi terbesar di dunia. [1,268] url asal
#asia-tenggara #batu-bara #indepth #transisi-energi #energi #konsumsi-energi #permintaan-energi
(Kompas.com - Money) 18/06/26 10:01
v/252974/
JAKARTA, KOMPAS.com - Asia Tenggara tengah memasuki babak baru dalam peta energi global.
Kawasan yang hanya menyumbang sekitar 4 persen produk domestik bruto (PDB) dunia itu kini diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan permintaan energi terbesar di dunia.
Laporan Southeast Asia Energy Outlook 2026 dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan, Asia Tenggara akan menyumbang hampir 20 persen pertumbuhan permintaan energi global hingga 2035 berdasarkan kebijakan yang berlaku saat ini.
SHUTTERSTOCK Ilustrasi energiKawasan ini dihuni sekitar 9 persen populasi dunia, tetapi pertumbuhan kebutuhan energinya melaju jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata global.
Pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, peningkatan pendapatan masyarakat, industrialisasi, urbanisasi, serta berkembangnya sektor transportasi dan kelistrikan menjadi pendorong utama lonjakan kebutuhan energi tersebut.
Bahkan, IEA memperkirakan pada 2050 kebutuhan energi Asia Tenggara akan mencapai lebih dari tiga kali konsumsi energi Jepang saat ini.
Kondisi tersebut membuat kawasan ASEAN semakin strategis, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan besar terkait ketahanan energi dan kemampuan memenuhi kebutuhan yang terus meningkat.
Permintaan energi Asia Tenggara melonjak dalam satu dekade
Laju kenaikan kebutuhan energi Asia Tenggara sebenarnya sudah terlihat dalam satu dekade terakhir.
magnific ilustrasi listrikIEA mencatat, total permintaan energi kawasan pada 2024 meningkat 40 persen dibandingkan 2015.
Rata-rata pertumbuhan permintaan energi mencapai 4 persen per tahun, menjadikan Asia Tenggara sebagai salah satu kawasan dengan pertumbuhan energi tercepat di dunia.
Pertumbuhan ekonomi menjadi fondasi utama lonjakan tersebut.
Dalam 10 tahun terakhir, ekonomi kawasan tumbuh rata-rata 4 persen per tahun, meskipun sempat menghadapi berbagai tantangan global seperti pandemi Covid-19, gejolak geopolitik, dan disrupsi pasar energi.
Kenaikan kebutuhan energi itu didorong oleh ekspansi sektor industri, transportasi, dan pembangkit listrik.
Sejak 2015, Asia Tenggara telah menyumbang sekitar 10 persen pertumbuhan permintaan energi global. Hampir seluruh sumber energi mengalami kenaikan penggunaan, kecuali biomassa tradisional.
Namun, bahan bakar fosil masih mendominasi pemenuhan kebutuhan energi tersebut.
IEA mencatat, lebih dari 70 persen tambahan permintaan energi sejak 2015 dipenuhi oleh bahan bakar fosil. Akibatnya, emisi karbon dari sektor energi juga meningkat rata-rata 4 persen per tahun selama periode yang sama.
Batu bara masih mendominasi
Di tengah semakin banyaknya pembahasan mengenai transisi energi, batu bara justru masih menjadi sumber energi dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara.
Permintaan batu bara meningkat rata-rata 8 persen per tahun sejak 2015. Pangsa batu bara dalam bauran energi kawasan naik dari 20 persen pada 2015 menjadi sekitar 30 persen pada 2024.
SHUTTERSTOCK/SMALL SMILES Ilustrasi batu bara.Indonesia menjadi pemain utama dalam pasar batu bara kawasan. Negara ini menguasai hampir 90 persen produksi batu bara Asia Tenggara.
Sementara itu, Vietnam juga mencatatkan peningkatan konsumsi batu bara seiring ekspansi sektor pembangkit listrik.
Selain batu bara, konsumsi minyak dan gas alam juga terus meningkat.
Permintaan minyak tumbuh rata-rata 1,5 persen per tahun sejak 2015 hingga mencapai sekitar 5 juta barrel per hari (bph) pada 2024. Indonesia, Malaysia, dan Thailand masih menjadi produsen minyak utama di kawasan.
Namun, produksi minyak regional terus menurun. Dibandingkan puncaknya pada 1990-an, produksi minyak Asia Tenggara turun sekitar 40 persen.
Akibatnya, impor minyak mentah meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan 2015, sehingga membuat kawasan semakin rentan terhadap fluktuasi harga dan risiko gangguan pasokan global.
Gas alam juga masih memainkan peran penting.
Saat ini gas menyumbang sekitar seperlima bauran energi Asia Tenggara. Kawasan ini sebelumnya dikenal sebagai eksportir besar gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG), dengan Indonesia dan Malaysia sebagai pemasok utama dunia.
Namun, sejak 2015 produksi gas sedikit menurun, sedangkan permintaan terus tumbuh sekitar 1 persen per tahun. Kondisi itu membuat keseimbangan perdagangan energi kawasan semakin ketat.
Industri menjadi mesin utama konsumsi energi
Shutterstock Ilustrasi listrik.Jika ditelisik lebih jauh, sektor industri merupakan penyerap energi terbesar di Asia Tenggara.
IEA mencatat, industri mengonsumsi sekitar 45 persen total energi final kawasan. Sejak 2015, konsumsi energi sektor ini meningkat 35 persen hingga mencapai 9 exajoule (EJ) pada 2024.
Pertumbuhan industri yang pesat didorong oleh ekspansi manufaktur, termasuk logam non-ferrous seperti aluminium dan nikel.
Produksi aluminium kawasan meningkat dua kali lipat sejak 2015 menjadi 4 juta ton pada 2024. Sementara itu, permintaan energi untuk logam non-ferrous, khususnya nikel, melonjak enam kali lipat.
Indonesia menjadi motor utama pertumbuhan tersebut. Negara ini menyumbang sekitar 90 persen kenaikan permintaan energi untuk sektor logam non-ferrous dan menghasilkan hampir 20 persen produksi aluminium Asia Tenggara.
Di Vietnam, peningkatan permintaan energi ditopang oleh industri semen, besi dan baja, serta sektor manufaktur seperti tekstil, makanan, dan tembakau.
Ekspansi industri ini menyebabkan konsumsi batu bara di sektor industri melonjak hampir 90 persen dalam satu dekade, sedangkan konsumsi listrik meningkat sekitar 75 persen. Permintaan gas alam juga naik 45 persen.
Jalanan ASEAN semakin haus minyak
Selain industri, sektor transportasi menjadi penyumbang utama kenaikan permintaan minyak.
Energi yang dikonsumsi sektor transportasi meningkat 30 persen dalam satu dekade menjadi hampir 6,5 EJ pada 2024. Sekitar separuh dari konsumsi minyak Asia Tenggara yang mencapai 5 juta barel per hari digunakan untuk transportasi jalan raya.
Pertumbuhan ekonomi dan manufaktur membuat aktivitas angkutan barang meningkat tajam.
Aktivitas angkutan truk berat tumbuh 55 persen sejak 2015. Pada 2024, total aktivitas angkutan jalan raya di kawasan mencapai hampir 2,5 triliun ton-kilometer.
canva.com Ilustrasi bensin.Meningkatnya pendapatan masyarakat juga mendorong kepemilikan kendaraan pribadi.
Jumlah mobil meningkat dari 60 unit per 1.000 penduduk pada 2015 menjadi 80 unit pada 2024. Di sisi lain, Asia Tenggara juga memiliki armada kendaraan roda dua dan roda tiga terbesar di dunia, yang menyumbang sekitar setengah perjalanan penumpang pada 2024.
Meski kendaraan listrik mulai berkembang, minyak masih mendominasi sektor transportasi.
IEA mencatat, 75 persen pertumbuhan kebutuhan energi transportasi sejak 2015 masih dipenuhi oleh minyak. Sisanya terutama berasal dari bioenergi, yang didorong oleh pesatnya penggunaan biodiesel di Indonesia.
Listrik tumbuh dua kali lebih cepat
Di tengah dominasi bahan bakar fosil, listrik menjadi bentuk energi yang pertumbuhannya paling cepat di Asia Tenggara.
Permintaan listrik kawasan tumbuh rata-rata 6 persen per tahun sejak 2015. Angka ini hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total permintaan energi yang sebesar 4 persen per tahun.
Total kebutuhan listrik kini telah melampaui 1.300 terawatt hour (TWh) dan menyumbang lebih dari seperlima konsumsi energi final kawasan. Tingkat elektrifikasi juga terus meningkat.
Vietnam dan Brunei Darussalam menjadi negara dengan porsi konsumsi listrik tertinggi, yakni sekitar 30 persen dari total konsumsi energi final.
Meningkatnya penggunaan peralatan rumah tangga menjadi salah satu penyebab utama lonjakan kebutuhan listrik.
Sejak 2015, jumlah lemari pendingin dan freezer meningkat 40 persen hingga mendekati 120 juta unit. Kepemilikan mesin cuci naik 50 persen menjadi sekitar 90 juta unit.
Shutterstock/JR-stock Ilustrasi AC di kamar tidur.Konsumsi listrik untuk peralatan rumah tangga kini mencapai sekitar 200 TWh per tahun, atau meningkat hampir 60 persen dibandingkan satu dekade lalu.
Selain itu, pendingin ruangan atau AC menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru.
Laporan IEA menunjukkan stok AC rumah tangga di Asia Tenggara telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2015. Bahkan, jumlahnya diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat lagi hingga 2035.
Kenaikan kebutuhan listrik tidak hanya berasal dari rumah tangga.
IEA menyebutkan, pusat data atau data center juga mulai menjadi sumber permintaan listrik baru di sejumlah negara Asia Tenggara. Bersamaan dengan itu, elektrifikasi industri terus berkembang dan tingkat penggunaan listrik di sektor industri kawasan kini sudah sebanding dengan Uni Eropa.
Bagi IEA, ledakan permintaan energi di Asia Tenggara menunjukkan posisi kawasan yang semakin penting dalam peta energi dunia.
Namun, laporan IEA itu juga menegaskan kawasan kini menghadapi tantangan besar untuk memastikan pasokan energi tetap aman, terjangkau, dan mampu memenuhi kebutuhan yang terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi yang masih akan berlangsung dalam beberapa dekade ke depan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
ilustrasi rupiah dan dolar.
Nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang negara tetangga di kawasan Asia Tenggara sejak awal 2026. [257] url asal
#rupiah #dolar-singapura #ringgit #bath #nilai-tukar #kurs #mata-uang #asia-tenggara #garuda #sgd #baht-thailand #ringgit-malaysia #amerika #serikat #keok #pelemahan #as #penutupan #rupiah-keok-l
(CNN Indonesia - Ekonomi) 17/06/26 20:10
v/252566/
Nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap sejumlah mata uang negara tetangga di kawasan Asia Tenggara, seperti dolar Singapura hingga bath Thailand.
Hal itu sejalan dengan tren pelemahan mata uang Garuda terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak awal tahun.
Berdasarkan data TradingView hingga Rabu (17/6), kurs dolar AS terhadap rupiah berada di level Rp17.745 per dolar AS atau menunjukkan pelemahan rupiah sebesar 6,16 persen dibandingkan posisi akhir 2025.
Sepanjang tahun ini, rupiah sempat mencatat level terkuatnya di Rp16.690 per dolar AS pada 1 Januari 2026. Namun, tekanan terhadap mata uang Garuda terus berlanjut hingga menyentuh level terlemah tahun ini di Rp18.180 per dolar AS pada 8 Juni 2026.
Di Asia Tenggara, pelemahan rupiah paling besar terjadi terhadap dolar Singapura, disusul ringgit Malaysia dan baht Thailand.
Berikut rincian pergerakan rupiah terhadap tiga mata uang negara tetangga:
Rupiah melemah 6,59 persen terhadap dolar Singapura sepanjang YTD 2026.
Pelemahan tersebut tercermin dari kurs rupiah terhadap dolar Singapura yang melemah dari Rp12.999,995 per SGD pada 31 Desember 2025 menjadi Rp13.838,728 per SGD pada 17 Juni 2026.
Rupiah melemah 6,06 persen terhadap ringgit Malaysia sepanjang tahun berjalan 2026. Kurs rupiah terhadap ringgit Malaysia turun dari Rp4.119,5 per MYR pada posisi penutupan perdagangan 31 Desember 2025 menjadi Rp4.360,9 per MYR pada 17 Juni 2026.
Rupiah melemah 2,73 persen terhadap baht Thailand sepanjang YTD 2026. Kurs rupiah terhadap baht Thailand terdepresiasi dari Rp530,78 per THB pada 31 Desember 2025 menjadi Rp544,95 per THB pada 17 Juni 2026.
Posisi Fiskal ASEAN+3 Secara Umum Tetap Tangguh Meskipun Muncul Tekanan Fiskal
AMRO hari ini merilis Buletin Fiskal Triwulanan ASEAN+3 perdana, sebuah pembaruan triwulanan untuk Laporan Kebijakan Fiskal ASEAN+3 (AFPR). [425] url asal
#asia-tenggara #fiskal-indonesia #kelonggaran-fiskal #kekuatan-fiskal #ekonomi-global
Singapura: AMRO hari ini merilis Buletin Fiskal Triwulanan ASEAN+3 perdana, sebuah pembaruan triwulanan untuk Laporan Kebijakan Fiskal ASEAN+3 (AFPR).Buletin ini menemukan bahwa posisi fiskal kawasan ini secara umum tetap tangguh pada kuartal pertama tahun 2026, meskipun muncul tekanan pengeluaran dan kondisi pembiayaan yang lebih ketat menyusul eskalasi konflik Timur Tengah.
Hasil pendapatan kuartal pertama secara umum tetap kuat di seluruh kawasan, dengan sebagian besar ekonomi mencatat pertumbuhan pendapatan positif sepanjang tahun, didukung oleh penerimaan pajak berbasis pendapatan dan konsumsi yang kuat.
Namun, pendapatan terkait sumber daya menurun di antara eksportir minyak, menunjukkan manfaat pendapatan dari harga komoditas yang lebih tinggi belum sepenuhnya terwujud.
Sementara itu, tekanan pengeluaran mulai meningkat, terutama di negara-negara dengan rezim subsidi bahan bakar yang luas, sementara imbal hasil obligasi pemerintah regional jangka 10 tahun naik setelah pecahnya konflik pada Februari 2026.
“Keuangan publik ASEAN+3 tetap tangguh pada kuartal pertama. Namun, tanda-tanda awal tekanan mulai muncul,” kata Wakil Direktur AMRO Abdurohman (Pengawasan Fungsional dan Penelitian).
“Biaya energi dan subsidi yang lebih tinggi, bersama dengan biaya fiskal dari langkah-langkah kebijakan yang baru diperkenalkan, diperkirakan akan membebani posisi fiskal. Pada saat yang sama, kondisi pembiayaan yang lebih ketat meningkatkan risiko penurunan prospek fiskal. Dampak fiskal diperkirakan akan menjadi lebih jelas pada hasil fiskal kuartal kedua.” tambah dia.
Langkah-langkah fiskal telah menjadi inti dari respons pemerintah ASEAN+3 terhadap konflik tersebut.
Sejak awal konflik, total 59 langkah fiskal langsung dan 15 langkah kuasi-fiskal telah diperkenalkan, dengan semua negara menerapkan setidaknya satu langkah. Dukungan terutama difokuskan pada pembatasan dampak kenaikan harga energi, mengurangi tekanan biaya hidup, dan mendukung sektor-sektor yang paling terdampak oleh kenaikan biaya bahan bakar dan input.
Sebagian besar negara mengandalkan subsidi bahan bakar dan mekanisme stabilisasi harga yang ada untuk membatasi dampak penuh kenaikan biaya energi. Lebih dari dua pertiga dari langkah-langkah tersebut bersifat terbuka dan tidak memiliki tanggal berakhir yang telah ditentukan sebelumnya, sehingga meningkatkan risiko biaya fiskal yang terus meningkat dan berkelanjutan jika guncangan tersebut terbukti berkepanjangan.
“Dukungan fiskal di seluruh wilayah telah tepat waktu dan responsif, tetapi seiring perkembangan kondisi, kebijakan perlu dikalibrasi ulang dengan cermat untuk menyeimbangkan dukungan jangka pendek dengan keberlanjutan fiskal jangka menengah,” tambah Abdurohman.
“Otoritas negara anggota harus memprioritaskan langkah-langkah yang tepat sasaran dan sementara. Komunikasi yang jelas dan strategi fiskal jangka menengah yang kredibel akan sangat penting untuk menstabilkan ekspektasi dan menahan peningkatan risiko fiskal.”
Detail lebih lanjut tersedia dalam edisi Juni 2026 dari Buletin Fiskal Triwulanan. Pembaruan berikutnya dijadwalkan akan dirilis pada September 2026.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)
IEA: Ketergantungan Timur Tengah Jadi Titik Lemah Energi Asia Tenggara
Gangguan pasokan minyak dan gas melalui Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah membuka kerentanan struktural sektor energi di Asia Tenggara. [1,150] url asal
#asia-tenggara #selat-hormuz #ketahanan-energi #listrik #impor-energi
(Kompas.com - Money) 17/06/26 13:32
v/252057/
JAKARTA, KOMPAS.com - Gangguan pasokan minyak dan gas melalui Selat Hormuz akibat konflik di Timur Tengah membuka kerentanan struktural sektor energi di Asia Tenggara.
Kawasan yang selama ini bergantung pada impor energi dari Timur Tengah menghadapi risiko pasokan dan lonjakan biaya yang semakin besar seiring pertumbuhan kebutuhan energi.
Hal itu terungkap dalam laporan Southeast Asia Energy Outlook 2026 yang dirilis International Energy Agency (IEA) pada Selasa (16/6/2026) waktu setempat.
Freepik Ilustrasi minyak bumi.IEA menilai, pemerintah negara-negara Asia Tenggara telah mengambil langkah untuk memperkuat ketahanan energi. Namun, dibutuhkan upaya yang lebih berani dan kerja sama regional yang lebih kuat karena permintaan energi kawasan diperkirakan terus meningkat pesat.
Laporan ini mengulas perkembangan energi di 11 negara anggota ASEAN, sekaligus memproyeksikan arah sektor energi hingga beberapa dekade ke depan.
IEA menilai, isu ketahanan energi kini menjadi agenda utama di Asia Tenggara dan berbagai negara lain.
Karena itu, laporan tahun ini tidak hanya melihat kondisi energi sebelum krisis yang dipicu konflik Timur Tengah, tetapi juga mengkaji implikasi krisis tersebut terhadap prioritas kebijakan dan strategi investasi di masa depan.
Ketergantungan pada Timur Tengah jadi titik lemah Asia Tenggara
Laporan IEA tersebut menunjukkan besarnya ketergantungan Asia Tenggara terhadap energi dari Timur Tengah.
SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.Sebanyak 60 persen impor minyak mentah kawasan berasal dari Timur Tengah. Selain itu, hampir separuh produk minyak yang diolah maupun dikonsumsi di Asia Tenggara juga bersumber dari minyak mentah kawasan tersebut.
Akibatnya, penghentian hampir total pengiriman energi melalui Selat Hormuz berdampak luas bagi negara-negara Asia Tenggara.
Gangguan itu memicu kelangkaan bahan baku petrokimia, produk kimia, hingga liquefied petroleum gas (LPG) yang banyak digunakan rumah tangga untuk memasak.
Dalam jangka pendek, pemerintah di kawasan saat ini berfokus mengendalikan dampak langsung krisis dengan menerapkan langkah darurat untuk menekan konsumsi energi.
Beberapa kebijakan yang dilakukan antara lain mendorong masyarakat bekerja dari rumah serta meningkatkan penggunaan transportasi umum.
Namun, IEA menilai langkah jangka pendek saja tidak cukup.
Berdasarkan proyeksi sebelum krisis, Asia Tenggara perlu mengatasi kerentanan yang lebih mendasar dalam sistem energinya. Sebab, tagihan impor energi kawasan diperkirakan mencapai 160 miliar dollar AS pada tahun ini.
Angka tersebut diproyeksikan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang dan berpotensi mencapai 400 miliar dollar AS atau sekitar 5 persen dari total perekonomian kawasan pada pertengahan abad ini apabila kebijakan yang berlaku saat ini tidak berubah.
Diversifikasi energi jadi prioritas
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan, Asia Tenggara merupakan kawasan penting yang akan membentuk tren energi global pada masa depan.
Menurut dia, kawasan ini diperkirakan menyumbang 20 persen pertumbuhan permintaan energi dunia dalam satu dekade mendatang, terbesar kedua setelah India.
SHUTTERSTOCK/GOLDEN DAYZ Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah."Asia Tenggara adalah kawasan penting yang membentuk tren energi global dan diperkirakan akan menyumbang 20 persen dari pertumbuhan permintaan energi dunia selama dekade berikutnya, kedua setelah India. Krisis energi telah mengungkap kelemahan struktural di sektor energinya yang perlu ditangani dengan cepat dan tegas," kata Birol.
Ia menambahkan, diversifikasi sumber energi dan jalur pasokan kini menjadi prioritas utama.
"Diversifikasi sumber energi dan jalur pasokan kini menjadi prioritas utama, dengan penerapan berbagai bahan bakar dan teknologi, elektrifikasi, dan efisiensi sebagai pengungkit penting untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan. Kerja sama regional yang lebih kuat juga akan memberikan manfaat besar," ujarnya.
Menurut Birol, IEA akan terus mendukung negara-negara Asia Tenggara dalam menyesuaikan strategi energinya.
"IEA, yang meluncurkan Pusat Kerja Sama Regional pertamanya di Singapura tahun lalu, akan terus mendukung negara-negara di seluruh kawasan saat mereka menyesuaikan strategi mereka – dengan pembuatan kebijakan yang cermat dan seimbang sebagai kunci untuk meningkatkan keamanan, keterjangkauan, dan keberlanjutan energi," kata dia.
Energi terbarukan dan batu bara berpotensi menguat
Laporan IEA menunjukkan, preferensi terhadap sumber energi yang tersedia di dalam negeri mulai menguat di Asia Tenggara.
Namun, pilihan strategi masing-masing negara berbeda-beda.
Sebagian negara dapat memilih mengembangkan cadangan minyak dan gas domestik yang belum dimanfaatkan. Meski demikian, IEA melihat arus investasi yang lebih besar justru mengarah pada pilihan energi lain.
Dalam skenario kebijakan yang berlaku saat ini, kapasitas pembangkit energi terbarukan diperkirakan hampir tiga kali lipat dalam satu dekade ke depan.
SHUTTERSTOCK/DIYANA DIMITROVA Ilustrasi panel surya, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).Tanda-tanda percepatan juga mulai terlihat, terutama pada energi surya.
Filipina, misalnya, menjadi tujuan terbesar kedua ekspor panel surya asal China pada kuartal I 2026. Nilai impornya tercatat sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, batu bara yang masih memegang peranan besar dalam sistem energi Asia Tenggara juga berpotensi memperoleh dukungan tambahan seiring meningkatnya perhatian terhadap isu ketahanan energi.
Sementara itu, energi nuklir dipandang sebagai opsi diversifikasi jangka panjang.
Minat terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir mulai meningkat di sejumlah negara Asia Tenggara. Namun, perannya di masa depan akan sangat bergantung pada percepatan implementasi dan kemampuan memangkas waktu pembangunan yang selama ini relatif panjang.
Permintaan listrik meningkat pesat
Listrik diperkirakan akan menjadi pusat sistem energi Asia Tenggara pada masa depan.
IEA mencatat, pertumbuhan permintaan listrik saat ini sudah mencapai dua kali lipat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan konsumsi energi secara keseluruhan.
Hingga 2050, kebutuhan listrik diperkirakan terus meningkat dalam seluruh skenario yang dianalisis IEA.
Bahkan, dalam satu dekade ke depan saja, tambahan kebutuhan listrik di Asia Tenggara diproyeksikan setara dengan total produksi listrik Jepang saat ini.
Peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan penduduk dan ekonomi yang memicu berkembangnya industri ringan.
Selain itu, kebutuhan pendingin ruangan alias AC juga terus meningkat.
Shutterstock/Butsaya Ilustrasi AC.IEA memperkirakan jumlah pendingin udara rumah tangga di Asia Tenggara akan meningkat tiga kali lipat pada 2035.
Permintaan listrik juga didorong oleh semakin banyaknya penggunaan kendaraan listrik.
Saat ini, satu dari lima mobil yang dijual di Asia Tenggara merupakan kendaraan listrik.
Laporan tersebut juga mencatat adanya indikasi dukungan kebijakan tambahan untuk kendaraan listrik sebagai respons terhadap krisis energi yang sedang berlangsung.
Efisiensi dan kerja sama regional dinilai penting
Di tengah lonjakan kebutuhan energi, IEA menilai efisiensi energi menjadi salah satu solusi yang paling efektif untuk meningkatkan ketahanan energi.
Kebijakan efisiensi tidak hanya membantu kawasan menghadapi krisis saat ini, tetapi juga memperkuat sistem energi dalam jangka panjang.
Selain itu, IEA menekankan pentingnya respons regional yang lebih terkoordinasi untuk menghadapi tantangan energi.
Kerja sama tersebut dinilai dapat memberikan manfaat besar, baik di sektor ketenagalistrikan maupun keamanan pasokan minyak dan strategi industri.
Salah satu proyek yang disoroti adalah ASEAN Power Grid, yaitu jaringan listrik regional yang menghubungkan negara-negara ASEAN.
Menurut IEA, proyek tersebut berpotensi memberikan penghematan biaya sekaligus meningkatkan keamanan pasokan listrik di kawasan.
Sementara di sektor minyak dan industri, dialog yang lebih intensif antarnegara juga dinilai dapat membantu masing-masing negara memanfaatkan keunggulan yang dimiliki.
Dengan permintaan energi yang terus tumbuh dan ketergantungan impor yang masih tinggi, laporan IEA menunjukkan penguatan ketahanan energi, diversifikasi sumber pasokan, efisiensi, dan kerja sama regional menjadi isu yang akan semakin menentukan arah sektor energi Asia Tenggara pada dekade-dekade mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
PT Angkasa Pura (InJourney) kedatangan penumpang memadati Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, Kamis (26/3).
InJourney Airports berkomitmen menjaga keamanan bandara dengan personel Avsec, respons cepat insiden di Terminal 3 jaga kenyamanan pengguna jasa. [282] url asal
#injourney-airports #aviation-security #keamanan-bandara #bandara-soekarno-hatta #penanganan-insiden #arie-ahsanurrohim #bandara-soekarno-hatta #terminal-3 #asia-tenggara #angkasa-pura-indonesia
(CNN Indonesia - Ekonomi) 16/06/26 15:40
v/251365/
PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports berkomitmen menjaga keamanan dan pelayanan bagi seluruh pengguna jasa bandara. Perusahaan menempatkan sejumlah personel keamanan, termasuk Aviation Security (Avsec), di seluruh area terminal penumpang.
Langkah ini diambil untuk memastikan situasi bandara selalu kondusif serta mengantisipasi segala bentuk gangguan keamanan. Salah satu implementasinya terlihat saat petugas merespons insiden di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta baru-baru ini.
Corporate Secretary Group Head InJourney Airports, Arie Ahsanurrohim, menjelaskan bahwa personel Avsec yang berjaga di terminal langsung bergerak menangani situasi tersebut.
"Pada Senin malam, 15 Juni 2026, petugas Avsec merespons cepat adanya kejadian perselisihan dua orang di area check in Terminal 3 yang memicu keributan serta berpotensi mengancam keamanan dan keselamatan pengguna jasa bandara lainnya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (16/5).
Penanganan dilakukan sesuai standar operasional yang berlaku. Petugas segera mendatangi lokasi, mengendalikan situasi, dan memisahkan kedua pihak yang terlibat.
Koordinasi dengan pihak terkait juga dilakukan guna memastikan kondisi di terminal tetap aman, tertib, dan kondusif tanpa mengganggu aktivitas penerbangan maupun kenyamanan pengguna jasa lainnya.
Asst. Deputy Communication & Legal Bandara Soekarno-Hatta, Yudistiawan, mengatakan kedua pihak yang berselisih kemudian dibawa ke Pos Polisi Terminal 3 untuk mediasi dan pemeriksaan lebih lanjut.
"Berkat penanganan cepat petugas Avsec, situasi di area Terminal 3 terjaga aman, tertib, dan kondusif. Operasional pelayanan kepada pengguna jasa tetap berjalan normal tanpa adanya gangguan terhadap fasilitas maupun aktivitas penerbangan," tegas dia.
Insiden ini tidak berdampak pada operasional bandara secara keseluruhan. Seluruh layanan penumpang tetap berjalan seperti biasa selama dan setelah penanganan berlangsung.
Bandara Soekarno-Hatta menegaskan akan terus menerapkan prosedur keamanan sesuai standar yang berlaku. Respons cepat dan koordinasi antarunit menjadi kunci dalam menjaga ketertiban di salah satu bandara tersibuk di Asia Tenggara ini.
Pemerintah Mau Sulap 'Segitiga' Singapura, Johor, dan Riau (Sijori) Jadi Pusat Data Center
Indonesia-Singapura membahas pengembangan kawasan Sijori sebagai hub data center regional, didukung ekspansi Nongsa Digital Park dan investasi ekonomi digital. [591] url asal
#data-center #pusat-data #sijori #data-center-indonesia #data-center-singapura #singapura-johor-riau #nongsa-digital-park #kek-nongsa #batam-data-center #pusat-data-asia-tenggara #ekonomi-digital #inve
(Bisnis.Com - Ekonomi) 11/06/26 06:12
v/246615/
Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia dan Singapura tengah membahas rencana pengembangan kawasan segitiga Singapura, Johor dan Riau alias Sijori sebagai pusat dari data center.
Hal ini menjadi salah satu pembahasan antara Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Wakil Perdana Menteri (PM) Singapura Gan Kim Yong pada Pertemuan Tingkat Menteri untuk Enam Kelompok Kerja Ekonomi Bilateral Indonesia dan Singapura ke-16, Selasa (9/6/2026).
Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia juga tengah mendorong ekspansi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, alias Nongsa Digital Park dengan luas mencapai 1.000 hektare (ha). Ekspansi ini diharapkan makin besar seiring dengan wacana menyulap kawasan Sijori sebagai pusat data internasional.
"Bahkan kami sedang berbicara bagaimana mensinergikan Singapura-Johor-Riau untuk menjadi pusat daripada data center. Nah ini juga kami sedang bahas. Ini juga sifatnya strategis, karena global melihat sektor digital ini menjadi pemicu pertumbuhan selanjutnya," terang Airlangga kepada wartawan di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (9/6/2026) malam.
Menurut Airlangga, investasi proyek data center memiliki prospek tinggi karena tidak terdisrupsi perang. Peningkatan tren investasi data center pun terjadi di kawasan Eropa hingga Asean.
Sebagai informasi, pertemuan kerja sama ekonomi bilateral antara Indonesia dan Singapura ini mencakup enam kelompok kerja yaitu kawasan perdagangan bebas alis Free Trade Zone (FTZ) Batam, Bintan dan Karimun (BKK); investasi; ketenagakerjaan; transportasi; pertanian; serta pariwisata.
Untuk kerja sama dengan Singapura di BBK, Airlangga mengungkap nilai investasinya meningkat dari US$4,61 miliar pada 2024 menjadi US$5,71 miliar pada 2025.
"Perkembangan dari Batam Free Trade Zone itu bertambah dari 8 menjadi 22 pulau dan Nongsa Digital Park juga akan terus dikembangkan untuk ekspansi," katanya pada konferensi pers setelah pertemuan tersebut.
Dari sisi investasi, Kendal Industrial Park alias KEK Kendal juga akan diperluas sampai 1.000 hektare. KEK yang berlokasi di Jawa Tengah ini merupakan salah satu kerja sama utama ekonomi antara kedua negara Asean ini.
Masih terkait dengan investasi, keduanya juga akan mendorong investasi energi nonfosil di BKK, serta Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Sulawesi Tengah berkapasitas 200 megawatt (MW) dan fasilitas penyimpanan energi 80 sebesar megawatt per hour (MWh).
Adapun pada sisi tenaga kerja, RI dan Singapura turut melaksanakan program Tech:X dan Youth Mobility Programme. Program ini bertujuan meningkatkan konektivitas talenta digital kedua negara.
Dari segi transportasi, kedua negara juga sudah menjalin kerja sama untuk rute penerbangan, contohnya dari Singapura ke 17 kota di Indonesia. Terbaru, maskapai Scoot merilis merilis penerbangan yang melayani rute Singapura-Belitung dan Singapura-Pontianak.
Selanjutnya, kedua negara juga akan menjalin kerja sama layanan penerbangan antara PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dan Singapore Airlines.
Untuk sektor agribisnis, 13 petani muda di Indonesia mengikuti program pelatihan teknologi pertanian di Singapura pada Juni 2026.
Terakhir, pada sektor pariwisata, kedua negara menyoroti tingginya kunjungan pariwisata antarkedua negara. Sebanyak 2,44 juta orang Indonesia ke Singapura setiap tahunnya, dan sebaliknya 1,5 juta orang Singapura ke Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Wakil PM Singapura Gan Kim Yong menyatakan tetap berkomitmen untuk menjadi mitra yang berharga dan dapat diandalkan oleh Indonesia. Kedua negara pun memastikan rantai pasok tetap berdaya tahan sehingga arus perdagangan tetap berjalan meski di situasi ekstrem saat ini.
Terkait dengan investasi, Wakil PM Gan menyebut Singapura bersama Indonesia akan menyulap kawasan BBK sebagai hub digital. Sementara itu, proyek PLTS 200 MW di Sulawesi Tengah akan digarap oleh kongsi perusahaan kedua negara yakni The Sembcorp dan PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA).
"Ini sedang dalam tahap konstruksi dan ditargetkan selesai tahun depan," jelas Gan.
Dia turut mengungkap bahwa Singapura dan Indonesia tengah mengembangan proyek percontohan konversi biogas ke bioethanol di Sumatra Utara melalui proyek biofuel CRecTech-Pertamina.
KBank Gandeng Ant International, Percepat Pembayaran Lintas Negara dan Pengelolaan Likuiditas di Thailand
KASIKORNBANK (KBank) memperkuat transformasi layanan keuangan digital melalui kerja sama strategis dengan Ant International untuk mengembangkan infrastruktur pembayaran lintas negara. [418] url asal
#perbankan #asia-tenggara #layanan-keuangan-digital #ekonomi-digital
Jakarta: KASIKORNBANK (KBank) memperkuat transformasi layanan keuangan digital melalui kerja sama strategis dengan Ant International untuk mengembangkan infrastruktur pembayaran lintas negara dan manajemen likuiditas yang lebih modern di Thailand.Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang menggabungkan layanan keuangan teregulasi milik KBank dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan solusi fintech dari Ant International.
Melalui kerja sama ini, kedua perusahaan berupaya menghadirkan sistem transaksi lintas negara berbasis dolar AS yang dapat beroperasi secara real-time selama 24 jam sehari dan tujuh hari dalam sepekan. Untuk mendukung proses tersebut, inisiatif ini akan memanfaatkan Blockchain Deposit Accounts dari Kinexys by J.P. Morgan, unit bisnis blockchain yang berada di bawah J.P. Morgan Payments.
Pemanfaatan teknologi blockchain tersebut diharapkan mampu mempercepat perpindahan likuiditas antarnegara, meningkatkan efisiensi transaksi, sekaligus mendukung operasional pembayaran tanpa henti.
Tidak hanya berfokus pada transaksi pembayaran, KBank dan Ant International juga akan menjajaki pengembangan solusi terintegrasi yang mencakup penerimaan pembayaran, proses kliring, hingga penyelesaian transaksi (settlement). Langkah ini diharapkan dapat memperlancar arus kas pelaku usaha dengan proses transaksi yang lebih cepat dan efisien.
Kerja sama terbaru ini merupakan kelanjutan dari hubungan yang telah terjalin sebelumnya antara KBank dan berbagai layanan pembayaran global milik Ant International.
Melalui platform pembayaran digital Alipay+, aplikasi mobile banking KPLUS milik KBank kini telah terhubung dengan jaringan global yang mencakup sekitar 150 juta merchant dan 1,8 miliar akun pengguna di berbagai negara. Selain itu, integrasi dengan Antom juga memperluas fungsi KPLUS sebagai salah satu metode pembayaran yang dapat digunakan melalui Google Pay oleh merchant di Thailand.
Executive Vice President KASIKORNBANK,. Karin Boonlertvanich, mengatakan sistem pembayaran lintas negara saat ini masih menghadapi tantangan berupa infrastruktur yang terfragmentasi sehingga menghambat pergerakan likuiditas.
Menurutnya, integrasi teknologi blockchain ke dalam sistem keuangan yang telah diatur regulator akan membantu menciptakan aliran dana yang lebih transparan, efisien, dan mudah dikembangkan antara jaringan global dan perekonomian lokal.
Sementara itu, General Manager of Platform Tech sekaligus Senior Vice President Ant International, Kelvin Li, menilai adopsi teknologi AI dan blockchain yang aman menjadi faktor penting dalam mendukung kesiapan pasar berkembang menghadapi ekonomi digital global.
Ia mengatakan Ant International berkomitmen mendukung KBank dalam menghadirkan solusi pembayaran yang lebih efisien bagi pelaku usaha di Thailand, terutama usaha kecil dan menengah (UKM), sehingga mereka dapat menjangkau pasar internasional dengan lebih mudah.
Melalui kolaborasi ini, KBank dan Ant International berharap dapat memperkuat fondasi sistem pembayaran global yang lebih terhubung, efisien, dan andal. Kedua perusahaan juga menilai pengembangan infrastruktur keuangan digital akan memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan perdagangan lintas negara di masa depan.
(SAW)
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)