Bisnis, JAKARTA — Korban bencana banjir dan longsor di wilayah tengah Aceh menghadapi kesulitan pasokan makanan meski pemerintah telah memulai penyaluran logistik ke wilayah terdampak via udara. Tersambungnya akses darat dibutuhkan segera.
Wilayah seperti Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah masih kekurangan bantuan bahan makanan meski bencana telah lewat dua pekan. Tiga wilayah ini terisolasi akibat terputusnya jalan penghubung antardaerah.
Warga Desa Pondok Baru, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah, Tasya menyebutkan bahwa pasokan bahan pokok di daerah tersebut nyaris kosong.
Terakhir kali masyarakat sekitar mendapat bantuan berupa dua liter beras per KK pada akhir pekan kemarin. Pun begitu, tidak semua keluarga mendapat logistik tersebut.
Dia berharap bantuan melalui udara segera masuk ke seluruh wilayah terdampak. Sebab, sejauh ini wilayah tengah Aceh termasuk Bener Meriah masih terisolasi akibat lumpuhnya akses jalan yang terdampak banjir dan longsor.
"Bantuan lain belum terlihat apapun. Bahan pokok memang sudah habis total di pasaran," katanya kepada Bisnis, Senin (8/12/2025).
Senada, warga Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Aulia menceritakan bahwa dalam beberapa hari terakhir, kebutuhan pangan makin berkurang. Bahkan, pedagang beberapa pasar utama di daerah itu tidak lagi berjualan.
Dia menyebutkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, warga yang telah kehabisan logistik mengambil paksa bahan pangan pokok yang masih tersedia di ritel modern.
Warga kini mulai menyiapkan ubi dan kentang di rumah masing-masing sebagai bahan pokok terakhir bila beras habis.
"Keadaan tidak berubah sejak banjir longsor. Warga sudah banyak yang kesulitan, logistik habis, penjarahan di mana-mana. Bantuan yang diturunkan pakai helikopter bahkan tidak tepat sasaran penyalurannya," katanya.
Dia bersama masyarakat lain menuntut agar pemerintah mempercepat perbaikan akses utama menuju kabupaten/kota lainnya agar bantuan logistik dapat disalurkan melalui jalur darat terutama jalan KKA.
Jalan ini merupakan salah satu urat nadi yang menghubungkan antara kabupaten di dataran tinggi Gayo dengan wilayah utara Aceh. Dirinya juga mengharap agar Pemda Bener Meriah dan Aceh Tengah dapat bekerja sama menyelesaikan perbaikan jalan yang terputus.
"Kami hanya mengharapkan agar akses jalan KKA dapat diselesaikan segera agar bantuan mudah masuk. Kami mengharapkan bantuan segera agar masalah ini cepat diatasi," tuturnya.
Pemerintah Aceh Fokus Perbaikan Jalan
Sementara itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyebutkan bahwa akses jalan KKA menjadi salah satu prioritas pemerintah. Hal ini disampaikan saat memimpin rapat koordinasi penanganan bencana Hidrometeorologi Aceh, di Posko Lanud Sultan Iskandar Muda, Jumat (5/12/2025).
Mualem menilai bahwa jalur tersebut menjadi akses vital yang menghubungkan wilayah tengah Aceh dengan utara Aceh. Dia meminta Dinas PUPR dan instansi terkait segera melakukan percepatan pembenahan.
“Kalau [akses jalan wilayah] Juli agak kewalahan, karena ada jembatan putus. Lebih cepat dikerjakan di KKA. PUPR harus cepat benahi,” ujarnya.
Data per 8 Desember 2025, sedikitnya 389 orang meninggal dunia akibat banjir dan longsor di Aceh dengan 57 orang masih berstatus hilang.
Adapun, bencana ini terjadi di tiga provinsi sekaligus yakni Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Khusus di Serambi Mekkah, 18 kabupaten kota terdampak bencana tersebut dengan 1,92 juta jiwa terdampak.
Peristiwa tersebut ikut merusak 205 unit perkantoran, 209 unit rumah ibadah, 279 sekolah, 15 pesantren dan 145 fasilitas kesehatan. Sementara kerusakan jalan terjadi di 416 titik dan 332 unit jembatan.
Selain itu, banjir dan longsor ikut menghancurkan 156.404 unit rumah, 56.274 ekor hewan mati, 89.286 hektare sawah diterjang lumpur, 14.800 hektare ikut hancur dan merusak 40.328 hektare tambak.