Bisnis.com, SEMARANG – Pertemuan tingkat tinggi 10 provinsi yang tergabung dalam Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD-MPU) di Kota Semarang resmi menyepakati perluasan sektor kolaborasi strategis.
Dalam rapat kerja tersebut, disepakati tiga klaster kerja sama baru yang mencakup ketahanan energi, proyek giant sea wall di lima provinsi, dan pengelolaan sampah terpadu.
Kesepuluh anggota FKD-MPU itu meliputi Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
"Saya berharap sekembalinya teman-teman ke wilayah masing-masing, segera membahas implikasi dari hasil rapat kerja ini. Outputnya adalah kita bisa melakukan eksplorasi wilayah dan kolaborasi antardaerah," kata Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, pada Selasa (12/5/2026).
Tiga klaster kerja yang disepakati tersebut melengkapi enam klaster kerja sama yang telah ditandatangani oleh para gubernur pada Juni 2025 silam. Fokus kerja sama sebelumnya meliputi ketahanan pangan, pariwisata, kebencanaan, ketertiban umum, kesejahteraan sosial, serta Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).
Ekspansi klaster ini menandai pergeseran arah kebijakan daerah yang kini lebih menekankan pada keberlanjutan sumber daya dan mitigasi dampak lingkungan jangka panjang.
Urgensi kolaborasi ini semakin mendesak mengingat fluktuasi harga energi di pasar internasional. Luthfi menyoroti dampak geopolitik global yang menyebabkan tingginya harga minyak dunia, yang pada gilirannya menekan beban subsidi domestik.
Oleh karena itu, percepatan produksi Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui sinergi lintas provinsi menjadi prioritas utama guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Selain energi, isu pengelolaan sampah juga menjadi sorotan utama dalam rapat kerja kali ini. Forum sepakat untuk mendukung target nasional zero sampah yang dicanangkan pemerintah pusat.
Dengan mengadopsi praktik terbaik dari daerah-daerah yang telah berhasil, sepuluh provinsi ini menargetkan pencapaian zero sampah pada tahun 2028, lebih cepat dari target nasional tahun 2029.
"Persoalan sampah ini menjadi prioritas Presiden melalui zero waste 2029. Kita harus berupaya bisa zero sampah tahun 2028 dengan mereplikasi praktik terbaik yang sudah ada di beberapa daerah," jelas Luthfi.
Adapun di sektor pangan, forum FKD-MPU telah menggelar pertemuan 12 Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dari seluruh provinsi anggota. Dalam pertemuan itu, DKI Jakarta mengusulkan pembentukan dashboard pangan yang akan berfungsi memantau ketersediaan stok dan stabilitas harga secara real-time.
Langkah ini diproyeksikan akan berujung pada pembentukan jaringan BUMD pangan yang kuat, bahkan memunculkan wacana pembentukan holding pangan lintas daerah di masa depan untuk menjamin kedaulatan pangan nasional.
Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, dalam arahannya menyebutkan bahwa sepuluh provinsi yang tergabung dalam FKD-MPU memiliki peran krusial bagi ekonomi Indonesia.
Provinsi-provinsi ini secara akumulatif berkontribusi sebesar 62% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Kontribusi tersebut menjadikan efektivitas rencana aksi di wilayah ini sebagai barometer stabilitas ekonomi pusat.
"Energi ini menjadi pekerjaan rumah bersama, Presiden telah memberikan arahan agar harga BBM subsidi tetap stabil sampai akhir tahun ini. Juga percepatan transformasi ke kendaraan elektrik, kalau bisa semua gubernur mulai memakai kendaraan listrik," kata Bima Arya.
Direktur Eksekutif Sekretariat Bersama MPU, Suhajar Diantoro, menjelaskan bahwa rencana aksi untuk bidang baru ini akan segera disusun secara mendetail.
Pada Juni 2026 mendatang, kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait akan berkumpul untuk merumuskan teknis pelaksanaan. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa kesepakatan di tingkat gubernur dapat terimplementasi secara efektif di lapangan.