#30 tag 24jam
Perang Data Bikin Tegang: BI Rate, Transaksi Berjalan-Kabar Genting AS
Pengumuman BI-Rate serta kebijakan AS akan menjadi penggerak pasar domestik pada minggu ini [3,323] url asal
#rupiah #ihsg #yield-sbn #pasar-saham #bank-indonesia #suku-bunga #investasi #volatilitas-pasar #ekonomi-indonesia #laporan-pasar #newsletter #dolar-as
(CNBC Indonesia - Research) 15/11/25 19:04
v/40050/
- Pasar keuangan Indonesia dan rupiah melemah sementara harga SBN nyaris stagnan
- Wall Street ditutup bervariasi menunggu rapor Nvidia dan data ekonomi AS
- Pengumuman BI-Rate serta kebijakan AS akan menjadi penggerak pasar domestik pada minggu ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar di Indonesia bergerak beragam pada akhir pekan lalu. Penguatan dapat dilihat pada nilai tukar rupiah, imbal hasil obligasi stagnan tetapi di lain sisi bursa saham melemah pasar Jumat (14/11/2025)
Pasar keuangan Indonesia diproyeksikan akan mengalami volatilitas pada hari ini hingga satu pekan ke depan. Selengkapnya mengenai sentimen pasar hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melandai di 8.370,43 (-0,02%) pada perdagangan Jumat pekan lalu (14/11/2025) dengan total market cap menyentuh angka Rp 3.591 triliun pada penutupan pasar.
Terjadi net foreign sell sebesar Rp 73,42 milyar. Pasar saham Indonesia pada saat ini ditopang besar oleh investor domestik hingga kurang lebih 76% dari saham keseluruhan pasar dikuasai oleh investor dalam negeri.
Terdapat 480 saham mengalami pelemahan, 241 saham mengalami penguatan, dan 245 saham tidak bergerak dengan nilai transaksi mencapai Rp 20,82 triliun pada Jumat (14/11/2025).
Pasar ditopang oleh kinerja saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang beberapa hari ke belakang tengah rally sampai dengan double digit persen akibat dari sisi indikator, serta adanya sentimen selesainya akuisisi BUMI dalam akuisisi perusahaan pertambangan emas dan tembaga di Australia bernama Wolfram senilai hampir 100% dengan nilai transaksi mencapai hampir Rp 700 milyar.
Selain itu PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) +70 (+15.91%), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) +50 (+0,6%), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) +150 (+5,19%), dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) +525 (+3,70%) menjadi saham dengan nilai transaksi tertinggi pada Jumat (14/11/2025)
Kemudian DSSA, MORA, dan TLKM menjadi tiga perusahaan tertinggi penggerak naiknya IHSG, sementara AMMN, BREN, dan BRMS menjadi tiga perusahaan dengan penggerak turunnya IHSG hingga penutupan pasar pada sore hari.
Beralih ke pasar rupiah, mata uang ditutup ditutup di Rp16.690/US$ atau mengalami penguatan sebesar 0,18%.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia mengalami kenaikan tipis bahkan hampir stagnan ke angka 6.1196% dari hari sebelumnya yang ditutup pada level 6,1123%.
Stagnasi pada imbal hasil ini diakibatkan oleh adanya investor yang masih wait and see dan menentukan arah kebijakan dan data penting yang akan keluar pada beberapa waktu mendatang.
Berdasarkan hasil dari perdagangan pasar saham di Wall Street pada Jumat (14/11/2025), masing-masing ditutup bervariasi.
Nasdaq ditutup pada level 22.900 naik sebesar 30,23 poin (+0,13%). Sementara S&P 500 ditutup sedikit melemah sebesar 0,05% ke level 6.734,11.
Sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) menjadi index yang tertekan pada penutupan pasar mengalami penurunan sebesar -0,65% ke level 47.147 bahkan tidak pernah menyentuh area hijau pada waktu perdagangan.
Sesi perdagangan terakhir ini diwarnai oleh kehati-hatian investor yang menimbang ulang ekspektasi mereka terhadap pemotongan suku bunga The Fed lebih lanjut di bulan Desember. Terhentinya rilis data ekonomi penting seperti inflasi dan ketenagakerjaan akibat penutupan pemerintahan (government shutdown) yang terjadi sebelumnya, membuat bank sentral AS kekurangan data acuan untuk mengambil keputusan.
Data Index yang bervariasi ini mengindikasikan adanya kebingungan dalam pasar walaupun pada saat ini Fear and Greed Index pada pasar saham di Amerika masih berada pada level 20-an (Extreme Fear) selama beberapa minggu ini.
Hal ini dipacu oleh adanya ketakutan pada AI Bubble yang semakin hari semakin nyata dirasakan oleh pasar akibat valuasi perusahaan-perusahaan AI di AS yang semakin tidak terkendali akibat pergerakan harga sahamnya yang ekspansif.
Di tengah kebimbangan pasar ini, dua berita besar dari Washington dan Omaha menyita perhatian investor.
Pertama, dari sisi kebijakan, Presiden Donald Trump secara mengejutkan menandatangani perintah eksekutif pada Jumat untuk memotong atau menghapus apa yang disebutnya tarif "resiprokal" pada berbagai komoditas impor, terutama bahan pangan.
Langkah ini mencakup produk-produk utama seperti daging sapi, kopi, pisang, tomat, dan berbagai buah-buahan tropis.
Ini juga merupakan sebuah pengakuan implisit bahwa kebijakan tarifnya selama ini turut berkontribusi pada kenaikan harga, sebuah sentimen yang santer terdengar pasca-kemenangan Demokrat dalam pemilihan sela (off-year elections) baru-baru ini di mana isu ekonomi menjadi faktor penentu.
Kedua, dari jagat korporasi, investor legendaris Warren Buffett kembali membuat gebrakan. Dalam laporan terbarunya, Berkshire Hathaway mengungkap kepemilikan saham baru senilai US$ 4,3 miliar di Alphabet, induk perusahaan Google.
Ini adalah taruhan besar yang mengejutkan, mengingat Buffett secara historis dikenal menghindari saham-saham teknologi yang tumbuh cepat, meski Apple telah lama menjadi portofolio terbesarnya.
Banyak analis meyakini langkah ini didorong oleh manajer investasinya, Todd Combs dan Ted Weschler, yang lebih terbuka pada sektor teknologi.
Pada saat yang sama, Berkshire juga terlihat kembali memangkas kepemilikan sahamnya di Apple, meskipun raksasa iPhone itu masih menjadi investasi terbesarnya. Langkah ini menjadi sorotan karena diambil menjelang akhir era kepemimpinan Buffett selama 60 tahun di Berkshire.
Kembali ke pasar, dengan sentimen yang masih rapuh, investor kini mencari katalis baru. Laporan pendapatan dari raksasa teknologi menjadi fokus utama minggu depan.
Pasar tengah menyoroti laporan keuangan Nvidia sebagai pemantik potensial yang akan dipublikasikan pada Rabu (19/11/2025) mendatang.
Dengan saham Nvidia yang berhasil pulih dari tekanan jual pada hari Jumat, laporan yang kuat dari raksasa AI ini diyakini dapat menjadi pemicu yang dibutuhkan pasar untuk memulai reli yang lebih luas, dan menarik sektor teknologi keluar dari bayang-bayang kekhawatiran valuasi.
Namun potensi eskalasi geopolitik kian memanas antara Jepang dan juga China akibat perkataan yang dilontarkan oleh PM Sanae Takaichi pada akhir pekan lalu, dibahas pada halaman selanjutnya.
Fokus utama pasar domestik pekan ini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) dan juga ucapan PM Jepang Takaichi yang berpotensi meningkatkan tensi geopolitik di lautan China.
Dari Amerika Serikat, keputusan Trump membatalkan tarif impor sejumlah komoditas pertanian menjadi kabar positif. Berikut sejumlah sentimen pasar pekan depan:
Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) September 2025
Bank Indonesia akan mengumumkan data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode September pada hari ini, Senin (17/11/2025).
Sebagai catatan, pada Agustus 2025 utang luar negeri tumbuh melambat. Posisi ULN Indonesia pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$ 431,9 miliar , atau secara tahunan tumbuh 2,0% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 4,2% (yoy) pada Juli 2025.
Perkembangan ini terutama bersumber dari melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi pertumbuhan ULN sektor swasta.
Posisi ULN pemerintah pada Agustus 2025 tercatat sebesar US$213,9 miliar dolar AS, tumbuh sebesar 6,7% (yoy), atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan 9,0% (yoy) pada Juli 2025.
Posisi ULN swasta tercatat sebesar US$194,2 miliar dolar, atau mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,1% (yoy) pada Agustus 2025, lebih besar dibandingkan kontraksi bulan sebelumnya sebesar 0,2% (yoy)
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI)
Bank Indonesia akan menggelar RDG pada Selasa dan Rabu pekan ini (18-19/11/2025) dan akan mengumumkan kebijakan pada Rabu.
Berbeda dengan RDG-RDG sebelumnya yang sarat akan tekanan eksternal, pertemuan kali ini digelar di tengah lanskap makroekonomi global yang secara signifikan lebih menguntungkan bagi aset emerging markets, termasuk Indonesia.
Narasinya telah bergeser 180 derajat. Pertanyaan pasar kini bukan lagi "apakah BI akan menaikkan suku bunga untuk bertahan?" melainkan "seberapa besar ruang kebijakan yang kini dimiliki BI di tengah sinyal pivot The Fed, yang akan menghentikan reducing balance sheetnya pada Desember mendatang?"
Ini adalah inti dari perubahan paradigma pasar. Bank Indonesia saat ini mempertahankan BI Rate di level 4,75%. Di seberang Pasifik, Federal Reserve AS (The Fed) memiliki suku bunga acuan (Fed Funds Rate) pada rentang 3,75% - 4,00%.
Secara matematis, ini menempatkan Indonesia pada posisi interest rate differential (spread) positif yang atraktif sebesar 75 hingga 100 basis poin (bps). Skenario ini secara fundamental sangat menguntungkan.
Spread positif yang solid ini berfungsi sebagai insentif kuat bagi capital inflow ke instrumen SBN (Surat Berharga Negara) dan menjadi 'jangkar' alami untuk stabilitas, bahkan potensi apresiasi, nilai tukar Rupiah ke depan apabila Bi-Rate tetap ditahan pada level saat ini.
Posisi superior ini memberikan kemewahan bagi BI untuk tidak perlu reaktif terhadap kebijakan The Fed dan dapat lebih fokus pada mandat stabilitas domestik, apabila kondisi pasar tetap berjalan sesuai dengan rencana.
Dari sisi domestik, data-data terbaru justru memberi BI justifikasi untuk tetap prudent (hati-hati). Pertumbuhan Kredit (Loan Growth) per Oktober tercatat melambat ke level 7,7% (YoY).
Moderasi ini mengindikasikan bahwa transmisi kebijakan moneter BI-pasca kenaikan terakhir ke 4,75%-sudah berjalan efektif dan mulai mendinginkan permintaan kredit di sektor riil, sehingga mengurangi risiko overheating.
Rilis FOMC, Sinyal 'Pivot' The Fed Semakin Kuat?
Bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan merilis risalah Federal Open Market Committee (FOMC) pada Kamis (20/11/2025). Rilis ini akan menjadi pegangan bagi pelaku pasar mengenai arah kebijakan The Fed ke depan.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan pasar kini terbelah (split) dalam memproyeksikan langkah The Fed.
Meskipun 55,6% pelaku pasar masih berekspektasi The Fed akan menahan (hold) suku bunga, porsi yang signifikan 44,4% justru telah melakukan pricing-in atas skenario pemangkasan suku bunga (rate cut).
Chairman The Fed Jerome Powell bulan lalu mengatakan pemangkasan Desember belum pasti. Namun, data ekonomi menunjukkan pemburukan.
Pasar meyakini The Fed akan segera melakukan berbagai cara untuk menghindari hard landing ekonomi imbas dari kebijakan pada masa Covid beberapa tahun ke belakang.
Bagi Indonesia, sinyal dovish The Fed adalah katalis bullish primer, yang berpotensi menekan Indeks Dolar (DXY) dan membuka ruang penguatan Rupiah lebih lanjut. Namun tetap harus waspada terhadap adanya ancam di mana The Fed yang akan mempertahankan suku bunganya pada FOMC mendatang.
Data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjalan
Pada Kamis (21/11), Bank Indonesia mengumumkan data NPI dan Transaksi Berjalan kuartal III-2025. Data ini sangat penting dan ditunggu pelaku pasar dan publik karena menjadi cerminan seberapa kekuatan fundamental Indonesia di tengah tekanan eksternal.
Sebagai catatan, NPI Kembali mengalami defisit pada kuartal II-2025. Defisit dipicu derasnya arus keluar modal asing di saham dan obligasi. Kondisi ini membuat defisit neraca transaksi finansial membengkak.
Data Bank Indonesia mencatat defisit NPI pada kuartal II-2025 tercatat mencapai US$6,74 miliar,sekaligus menjadi defisit yang tertinggi sejak kuartal II-2023.
Bila dibandingkan dengan periode kuartal pertama tahun ini, terjadi kenaikan defisit yang sangat besar, dimana pada kuartal I-2025 defisit NPI tercatat sebesar US$800 juta. Artinya terjadi kenaikan deficit NPI sebesar US$5,94 miliar.
Transaksi berjalan membukukan defisit sebesar US$3,01 miliar pada kuartal II-2025 atau 0,8% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut adalah yang tertinggi sejak kuartal I-2020 yang tercatat sebesar US$3,36 miliar.
Defisit pada transaksi berjalan ditengarai oleh meningkatnya defisit pada pendapatan primer, yang tercatat defisit sebesar US$35,87 miliar di kuartal II-2025, naik dari defisit di periode sebelumnya yakni US$9,04 miliar.
Kondisi ni diperparah dengan menurunnya surplus pada neraca perdagangan barang. Pada kuartal II- 2025, tercatat surplus US$10,6 milia turun dibandingkan periode sebelumnya yang tercatat surplus US$13 miliar.
Perkembangan Uang Beredar Oktober 2025
Bank Indonesia akan mengumumkan data uang beredar pada Oktober 2025 pada Jumat (21/11/2025). Data ini akan menjadi pegangan seberapa besar belanja masyarakat di awal kuartal IV-22025.
Data ini juga menjadi indikator penting bagi likuiditas perbankan dan permintaan kredit. Kenaikan likuiditas dapat mendukung aktivitas ekonomi, namun pasar juga mempertimbangkan implikasinya terhadap inflasi dan strategi kebijakan BI ke depan.
Sebagai catatan, uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2025 tumbuh lebih tinggi.Pertumbuhan M2 pada September 2025 sebesar 8,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 sebesar 7,6% (yoy) sehingga tercatat Rp9.771,3 triliun. Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,7% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,2% (yoy).
Faktor Penopang Kebijakan Akomodatif China
People's Bank of China (PBoC) akan mengumumkan kebijakan moneter pada Kamis (20/11/2025). PBoC diperkirakan akan menahan Loan Prime Rate (LPR) 1 tahun di level 3,0%.
Kebijakan moneter China yang tetap akomodatif ini krusial untuk menjaga harga komoditas global. Bagi Indonesia, ini membantu menjaga floor price untuk ekspor andalan (batu bara, CPO, nikel), yang pada gilirannya menopang surplus neraca perdagangan dan memberi fondasi kuat bagi stabilitas Rupiah.
Di lain sisi, China saat ini memfokuskan kebijakannya pada penjagaan nilai tukar CNY seperti yang terjadi pada pekan sebelumnya di mana CNY ditekan untuk tetap berada di level rendah guna meningkatkan ketergantungan dagang dan stabilitas akibat tarif yang kian ditetapkan oleh Amerika.
Stagflasi Jepang dan Ancaman Repatriasi Yen
Jepang akan mengumumkan sejumlah data penting mulai dari pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 pada hari ini, Senin (17/11/2025), neraca perdagangan Oktober pada Rabu (19/11/2025) dan inflasi pada Jumat (21/11/2025).
ata ekonomi Jepang menunjukkan dilema stagflasi yang sempurna. Pertumbuhan melambat sementara inflasi tinggi.
Ini menempatkan Bank of Japan (BoJ) dalam posisi terjepit. Risiko terbesarnya adalah jika BoJ terpaksa mengorbankan pertumbuhan dan mulai menormalisasi suku bunga negatifnya untuk memerangi inflasi. Jika ini terjadi, 'pesta' Yen Carry Trade akan berakhir.
Ini berpotensi memicu repatriasi modal (capital outflow) besar-besaran dari investor Jepang-salah satu pemegang SBN terbesar-yang menarik dana mereka kembali ke Yen. Ini adalah risiko eksternal utama yang kini menggantikan The Fed.
Foto: Foto kolase PM Jepang, Sanae Takaichi dan Presiden China, Xi Jinping. (CNBC Indonesia) |
Hancurnya Hubungan Jepang dan China
Seluruh rencana di atas dapat berubah karena satu perbuatan yang dilakukan oleh PM Baru Jepang Sanae Takaichi yang baru menjabat beberapa waktu ini. Suatu perkataan krusial baru saja dilontarkan pada akhir pekan lalu.
Takaichi mengucapkan sinyal buruk terkait potensi naiknya tensi geopolitik di Taiwan ini menjadikan suatu ancaman besar bagi perekonomian dunia. Hal ini membentuk suatu kekhawatiran di pasar akibat respon balik oleh China untuk rakyatnya tidak datang ke Jepang terlebih dahulu.
Hal ini mampu membentuk suatu gangguan supply chain di kawasan Taiwan, terutama TSMC yang merupakan perusahaan pembuat semi-conductor terbesar di dunia. Gangguan ini berpotensi menghilangkan momentum rally AI yang sekarang tengah terjadi pada Wall Street.
Diproyeksikan penutupan pasar saham di Amerika pada pagi esok hari nanti akan berisi pelemahan terutama ditopang oleh sektor teknologi dan juga AI.
Selain itu, konflik ini juga mengganggu potensi pendapatan perusahaan-perusahaan AI yang berada di Amerika sehingga forecast investasi juga akan berubah dan terganggu dalam waktu dekat apabila hal ini tidak berkepanjangan.
Tensi geopolitik ini sangat krusial bagi Amerika dan China karena masa depan dunia dan AI sangat bergantung pada produksi chip yang dibuat oleh TSMC yang memiliki weight market share terbesar di dunia.
Data Ekonomi Amerika
Dengan berakhirnya shutdown pemerintahan terpanjang dalam sejarah Amerika Serikat, berbagai lembaga statistik utama kini mengumumkan rencana untuk menerbitkan jadwal terbaru bagi rilis data ekonomi yang tertunda.
Namun ketidakpastian masih ada, karena beberapa laporan kunci kemungkinan pada akhirnya dibatalkan jika lembaga terkait tidak dapat menyelesaikannya akibat terganggunya proses pengumpulan data. Meski begitu, serangkaian indikator swasta dan regional tetap akan memberikan sedikit gambaran mengenai kondisi ekonomi AS.
Penjualan rumah existing diperkirakan tidak banyak berubah pada Oktober. Indeks Pasar Perumahan NAHB diperkirakan turun sedikit, sementara Indeks Manufaktur Empire State New York kemungkinan melemah lebih lanjut.
Data lain mencakup S&P Global Flash PMI, laporan pekerjaan mingguan ADP, pembacaan akhir Sentimen Konsumen Michigan, serta survei manufaktur Fed Philadelphia dan Kansas. Dari sisi laba perusahaan, beberapa perusahaan besar yang akan melaporkan kinerjanya minggu depan termasuk Nvidia dan Walmart.
Trump Berikan Pengecualian Tarif
Presiden Donald Trump pada hari Jumat mengecualikan sejumlah impor pertanian utama seperti kopi, kakao, pisang, dan produk daging sapi tertentu dari tarif tinggi yang ia berlakukan.
Langkah ini diambil saat Trump menghadapi tekanan politik akibat tingginya harga di toko bahan makanan AS. Sejumlah distributor daging sapi, kopi, cokelat, dan bahan pangan umum lainnya telah menaikkan harga sejak tarif Trump diberlakukan tahun ini, menambah tekanan pada anggaran rumah tangga yang sudah terpukul oleh inflasi tertinggi dalam beberapa dekade terakhir.
Tindakan Trump pada Jumat itu juga mengecualikan berbagai jenis buah, termasuk tomat, alpukat, kelapa, jeruk, dan nanas. Selain kopi, penurunan tarif juga mencakup teh hitam dan hijau, serta rempah-rempah seperti kayu manis dan pala.
Langkah ini menandai perubahan sikap bagi Trump, yang sebelumnya bersikeras bahwa tarif diperlukan untuk melindungi bisnis dan pekerja AS. Ia mengklaim bahwa konsumen AS pada akhirnya tidak akan menanggung beban tarif yang lebih tinggi tersebut.
Pengecualian tarif ini muncul hanya sehari setelah Trump mencapai kerangka kesepakatan dagang dengan empat negara Amerika Latin-termasuk tarif 10% untuk sebagian besar barang dari Argentina, Guatemala, dan El Salvador, serta 15% untuk barang dari Ekuador. Kebijakan ini juga menghapus bea masuk untuk produk yang tidak ditanam atau diproduksi dalam jumlah cukup di AS, seperti pisang dan kopi.
Harga pangan yang terus naik telah membebani rumah tangga AS selama beberapa tahun terakhir. Data Indeks Harga Konsumen menunjukkan harga bahan makanan di rumah meningkat sekitar 2,7% secara tahunan pada September. (Data terbaru tertunda akibat shutdown pemerintah).
Pengecualian tarif ini bertujuan membantu meredam kenaikan harga bahan makanan, meskipun para ahli memperingatkan bahwa faktor lain seperti kekurangan pasokan global juga memengaruhi harga, terutama untuk kopi dan daging sapi.
Dalam setahun terakhir, AS telah memberlakukan tarif tinggi terhadap pemasok utama termasuk Brasil, Australia, Selandia Baru, dan Uruguay. Brasil-produsen daging sapi terbesar kedua di dunia-menghadapi tarif efektif yang mencapai lebih dari 75%, sehingga menurunkan volume impor ke AS pada saat populasi ternak di negara tersebut berada di level terendah dalam hampir 75 tahun.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- GDP Growth Jepang
- Industrial Production Jepang
- FDI YoY China
Pertemuan Menteri Perdagangan dengan Menteri UMKM dengan agenda pembahasan "Isu Thrifting" di Gedung Utama, Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat.
Press conference Orange Forum 2025 "From The South To The Future: Financing Global Sustainability Through Inclusion" di Main Hall BEI, Jakarta Selatan.
National Seminar & FEB UI Tax Clinic Launch - Reinventing Tax Compliance: From Enforcement to Cooperative Comliance di Auditorium FEB UI, Depok, Jawa Barat. Turut hadir Direktur Jenderal Pajak dan Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan.
13th US-Indonesia Investment Summit dengan tema "Turning Headwinds into Opportunities: Unlocking Investment Potential to Power Indonesia's Growth" di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Konferensi pers Indonesia AI Day for Higher Education bertema "Experience The Shift: From Traditional to Tech-Driven Education" di Meeting Room MX Center, Gedung Indosat, Jakarta Pusat. Narasumber: Director & Chief Business Officer Indosat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Tera Data Indonusa Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim Adi Sarana Armada Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Prima Globalindo Logistik Tbk
- Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk
- Tanggal Cum Dividen Tunai Interim PT Adaro Andalan Indonesia Tbk
- Tanggal pembayaran dividen tunai interims Darya Varia Laboratoria Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
CNBC INDONESIA RESEARCH
Too Much Risk! Awas, Guncangan Voting Shutdown-Ambruknya Harga Minyak
Voting shutdown, data inflasi AS dan harga minyak akan menjadi penggerak pasar hari ini [2,927] url asal
#newsletter #ihsg #rupiah #pasar-keuangan #nilai-tukar-rupiah #investasi #saham #kapitalisasi-pasar #perdagangan-saham #bank-indonesia #volatilitas-pasar #dolar-as
(CNBC Indonesia - Research) 12/11/25 14:38
v/36977/
- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam kemarin. Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
- Wall Street bergerak beragam, Dow Jones pesta dan rekor
- Voting shutdown, data inflasi AS dan harga minyak akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Tanah Air ditutup beragam kemarin. Pasar saham menguat sementara rupiah melemah.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan bangkit pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona hijau pada perdagangan kemarin Rabu (12/11/2025). Indeks ditutup naik 0,26% atau 22,06 poin ke level 8.388,57. Sebanyak 343 saham naik, 323 turun, dan 147 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 22,3 triliun, melibatkan 51,3 miliar dalam 2,6 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun naik menjadi Rp 15.303 triliun.
Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 1,23 triliun.
Mengutip Refinitiv, konsumer non-primer naik paling kencang, yakni 1,41%. Kemudian diikuti oleh teknologi (1,32%) dan properti (0,85%).
Saham yang menjadi penopang utama adalah emiten Prajogo Pangestu, yaitu Barito Pacific (BRPT) yang berkontribusi 15,61 indeks poin. BRPT pada perdagangan kemarin naik 7,08% ke level 3.780.
Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (12/11/2025).
Melansir Refintiv, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,09% ke level Rp16.695/US$. Rupiah bergerak di rentang level Rp16.680 - Rp16.725/US$ pada perdagangan hari ini.
Pelemahan rupiah ini terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar AS (DXY). Indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia tersebut pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat walau hanya tipis 0,06% di posisi 99.505.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah kehati-hatian pelaku pasar global menjelang pemungutan suara di DPR AS (House of Representatives) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (12/11/2025) sore waktu AS.
Voting tersebut akan menentukan apakah government shutdown terpanjang dalam sejarah AS yang telah berlangsung sejak 1 Oktober 2025 akhirnya berakhir atau justru berlanjut.
Ketidakpastian ini membuat investor cenderung menahan posisi di aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah, dan memperkuat permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) melandai tipis ke 6,15% pada perdagangan kemarin, dari 6,16% pada hari sebelumnya. Melandainya imbal hasil menandai harga SBN tengah naik karena diburu investor.
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street pesta pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari nanti. Wall Street optimistis menjelang kemungkinan berakhirnya shutdown pemerintahan AS yang memecahkan rekor terpanjang dalam sejarah.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatat penutupan rekor pertamanya di atas level 48.000 melanjutkan reli dari sesi sebelumnya.
Indeks Dow Jones yang berisi 30 saham unggulan naik 326,86 poin atau 0,68% menjadi 48.254,82, sekaligus mencetak rekor tertinggi intraday baru.
Sementara itu, S&P 500 nyaris tak bergerak dan ditutup naik tipis 0,06% ke 6.850,92, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,26% menjadi 23.406,46.
Investor memantau perkembangan di Washington, karena pemerintah federal tampak siap dibuka kembali pada akhir pekan ini.
Senat AS pada Senin malam telah meloloskan rancangan undang-undang pendanaan (spending bill) yang kini diteruskan ke Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) untuk pemungutan suara final.
Pemimpin Mayoritas DPR AS Steve Scalise (R-Louisiana) mengatakan kepada CNBC pada Rabu bahwa voting kemungkinan dilakukan sekitar pukul 7 malam waktu Washington D.C. (07.00 WIB Kamis pagi).
"Kita sedang berada dalam penutupan terpanjang sepanjang sejarah. Fokus saat ini adalah mengakhiri shutdown secepatnya. Setelah ketentuan pembukaan kembali ditetapkan, barulah mungkin kita perlu khawatir soal perpanjangan pendanaan hingga Januari," ujar Josh Chastant, manajer portofolio investasi publik di GuideStone Funds, kepada CNBC International.
Dia menambahkan bahwa pelaku pasar akan menyambut baik kembalinya rilis data ekonomi, mengingat ada tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja.
Menurut Chastant, pasar kini memperlihatkan reaksi "terbelah" seiring investor bersiap menyambut berakhirnya shutdown yang telah memasuki hari ke-43. Optimisme terhadap pembukaan kembali pemerintahan terlihat dari penguatan saham-saham sektor keuangan.
Kinerja Dow Jones didukung oleh saham-saham perbankan besar seperti Goldman Sachs, JPMorgan Chase, dan American Express, yang semuanya mencetak rekor tertinggi baru. Saham Caterpillar, yang sensitif terhadap kondisi ekonomi riil, juga menguat.
Saham bank lainnya seperti Morgan Stanley, Wells Fargo, dan Bank of America turut mencetak level tertinggi baru. Indeks Financial Select SPDR Fund (XLF), yang melacak sektor keuangan di S&P 500, naik hampir 1%.
Di luar sektor keuangan, saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) kembali menunjukkan volatilitas tinggi bulan ini.
Investor masih berhati-hati karena valuasi sektor teknologi dinilai sudah sangat mahal setelah lonjakan besar baru-baru ini. Saham Advanced Micro Devices (AMD) melonjak 9%, namun Oracle dan Palantir Technologies justru melemah.
"Permintaan dan penerapan AI nyata adanya. Laporan laba perusahaan teknologi sejauh ini cukup kuat, jadi kami tidak melihat adanya gelembung, hanya saja valuasinya memang sudah tinggi," ujar Chastant kepada CNBC.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen yang diperkirakan menggerakkan saham, rupiah, hingga SBN. Dari luar negeri, sentimen terbesar akan datang dari voting shutdown dan inflasi AS.
Dari dalam negeri, sejumlah isu di DPR bisa menjadi sentimen pasar hari ini.
Voting Shutdown
DPR Amerika Serikat berencana memulai pemungutan suara pada Rabu untuk membahas rancangan undang-undang yang telah disetujui Senat guna membuka kembali pemerintahan federal, menurut pemberitahuan dari Majority Whip Tom Emmer.
Pemungutan suara tersebut dijadwalkan sekitar pukul 7 sore waktu Washington D.C. (ET) atau 07.00 Waktu Indonesia Barat (WB). Diperkirakan akan ada beberapa sesi voting pada hari yang sama.
Voting tersebut nantinya akan menentukan apakah penutupan terpanjang sejarah AS, yang telah berlangsung sejak 1 Oktober 2025 akhirnya berakhir atau justru masih akan berlanjut.
Penutupan pemerintahan AS ini yang telah berlangsung selama lebih dari 43 hari telah menimbulkan dampak yang luas khususnya bagi perekonomian AS. Mulai dari gaji pegawai pemerintahan yang belum terbayarkan, gangguan penerbangan, hingga tidak terbitnya data-data indikator ekonomi vital.
Seluruh mata penjuru dunia akan menanti hasil dari voting tersebut yang pada akhirnya akan ada dua skenario.
Skenario pertama adalah voting berhasil menyetujui pendanaan untuk pemerintahan bisa berjalan lagi setidaknya hingga 30 Januari 2026. Kemudian, ada skenario kedua yakni apabila voting untuk pendanaan ini masih gagal otomatis, pemerintahan AS ini akan kembali melanjutkan penutupannya hingga waktu yang tidak diketahui.
Penutupan pemerintahan AS selama lebih dari enam minggu membuat publikasi data ekonomi penting seperti inflasi, tenaga kerja, dan penjualan ritel terhenti total. Kondisi ini membuat The Federal Reserve (The Fed) kehilangan panduan utama untuk membaca kondisi ekonomi terkini menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 9-10 Desember 2025.
Ketua The Fed Jerome Powell bahkan mengibaratkan situasi ini seperti "driving in the fog," menandakan bahwa bank sentral harus berhati-hati dalam mengambil keputusan di tengah kabut ketidakpastian.
Shutdown juga memukul sektor layanan publik. Lebih dari 5.500 penerbangan telah dibatalkan karena kekurangan petugas pengatur lalu lintas udara yang disebabkan oleh gaji yang belum diterima.
Menurut Tourism Economics, penutupan selama enam minggu berpotensi mengurangi belanja perjalanan sebesar US$2,6 miliar, dengan dampak lanjutan terhadap hotel, restoran, dan transportasi darat.
Tekanan terhadap ekonomi riil makin terasa menjelang akhir shutdown. Sentimen konsumen AS anjlok ke titik terendah dalam 3,5 tahun pada awal November, mencerminkan penurunan keyakinan rumah tangga menjelang musim liburan. Para ekonom turut memperingatkan, semakin lama shutdown berlangsung, semakin besar risiko pelemahan konsumsi dan PDB kuartal IV-2025.
Program bantuan sosial seperti Supplemental Nutrition Assistance Program (SNAP) yangn mana memberikan bantuan pangan bagi keluarga berpendapatan rendah di seluruh AS dan program sosial Women Infant and Children (WIC) yang menyediakan bantuan nutrisi khusus bagi ibu hamil, hingg anak-anak di bawah usia lima tahun juga terdampak.
DPR dan Pemerintah Bahas Ulang 29 Isu Krusial dalam RKUHAP
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah kembali membedah 29 isu penting dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP). Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan draf aturan dengan berbagai masukan masyarakat yang dinilai perlu diakomodasi dalam sistem hukum pidana Indonesia.
Pembahasan RKUHAP berlangsung dalam rapat Panitia Kerja (Panja) Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (12/11/2025). Rapat tersebut dipimpin oleh Ketua Komisi III DPR Habiburokhman dan dihadiri oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Omar Sharif Hiariej bersama jajaran pemerintah.
Agenda pembahasan akan berlanjut pada Kamis (13/11/2025) dengan fokus pada sejumlah materi yang masih terbuka, seperti ketentuan penyitaan, mekanisme bantuan hukum, serta ganti kerugian bagi pihak yang dirugikan dalam proses hukum. Pemerintah menilai beberapa aspek tersebut perlu dijabarkan lebih rinci agar memiliki dasar hukum yang jelas dan dapat diterapkan secara konsisten.
Secara keseluruhan, DPR dan pemerintah telah menghimpun lebih dari 40 masukan publik yang kemudian dikelompokkan dalam beberapa klaster.
Isu yang paling banyak disorot mencakup perlindungan terhadap penyandang disabilitas dan kelompok rentan, termasuk anak, perempuan, dan ibu hamil. Dalam draf yang dibahas, posisi dan hak kelompok tersebut akan dijamin setara, baik dalam proses pemeriksaan maupun pembuktian di pengadilan.
Panja juga menyepakati pentingnya keterbukaan dalam proses penyidikan. Seluruh tahapan pemeriksaan nantinya wajib terekam melalui kamera pengawas, sementara tersangka berhak didampingi advokat sejak awal pemeriksaan. Pendekatan ini diharapkan meningkatkan transparansi dan mencegah potensi pelanggaran hukum dalam proses penyelidikan.
Selain itu, mekanisme keadilan restoratif (restorative justice) menjadi salah satu fokus utama. Prinsip ini diusulkan untuk diterapkan di setiap tahap proses hukum guna menyeimbangkan kepentingan hukum dengan pemulihan hubungan sosial antara pelaku dan korban. Pemerintah dan DPR masih menyempurnakan rumusan final agar implementasinya memiliki dasar hukum yang kuat.
Dalam pembahasan lain, DPR dan pemerintah juga telah menyepakati posisi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) sebagai penyidik utama.
Ketentuan ini mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 20/PUU-XXI/2023, yang menegaskan bahwa Polri memegang fungsi koordinasi dan pengawasan terhadap Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS).
Meski sejumlah isu telah disepakati, pembahasan mengenai pelaksanaan penyitaan masih berlanjut dan dijadwalkan dibahas kembali dalam rapat berikutnya. DPR memastikan bahwa seluruh klaster masalah akan dibahas secara menyeluruh sebelum RKUHAP dibawa ke tahap pengambilan keputusan.
Berdasarkan hasil kajian sementara, terdapat 29 klaster utama yang menjadi fokus pembahasan, mulai dari perlindungan kelompok rentan, hak bantuan hukum, mekanisme penyitaan, pemblokiran aset, hingga pelaksanaan keadilan restoratif.
DPR menilai seluruh isu ini perlu difinalisasi dengan melibatkan pandangan masyarakat agar RKUHAP yang baru benar-benar mencerminkan prinsip keadilan dan transparansi dalam hukum acara pidana Indonesia.
Inflasi AS
Pada Kamis malam waktu Indonesia, seluruh pasar keuangan global akan menahan napas menanti angkaConsumer Price Index(CPI) Amerika Serikat (AS) untuk Oktober. Angka ini akan menjadi kunci arah kebijakan The Federal Reserve (The Fed), pergerakan Dolar AS, Rupiah, IHSG, SBN, hingga harga emas dan Bitcoin.
Pada September lalu, inflasi AS mendingin lebih cepat dari ekspektasi. Inflasi inti (Core CPI) melandai ke 3,0% (yoy), dan inflasi utama (Headline CPI) juga di 3,0%. Untuk Oktober, konsensus pasar memperkirakan inflasi tetap stabil di 3,0% untuk kedua indikator tersebut.
Pasar kini menanti dua kemungkinan besar yang akan menentukan arah pergerakan aset global
Jika CPI Oktober berada di 3,0% atau bahkan turun ke 2,9%, terutama pada inflasi inti, pasar akan merespons dengan euforia.
Ini menegaskan bahwa siklus kenaikan suku bunga The Fed telah selesai. Jerome Powell akan mendapat "lampu hijau" untuk mulai bersikap dovish.
Dampaknya: indeks Dolar AS (DXY) kemungkinan melemah tajam, imbal hasil (yield) US Treasury turun, dan selera risiko (risk-on sentiment) meningkat. Aset berisiko seperti saham (termasuk IHSG), mata uang emerging market seperti Rupiah, serta komoditas seperti emas berpotensi menguat signifikan.
Sebaliknya, jika inflasi justru naik misalnyacore CPImenanjak ke 3,1% atau 3,2% yoy - pasar akan langsung panik.
NarasipivotThe Fed akan runtuh. Ekspektasi akan beralih ke potensi kenaikan suku bunga tambahan pada Desember. Imbasnya: Dolar AS menguat tajam, yield Treasury naik, dan Rupiah berpotensi kembali tertekan ke kisaran Rp16.500-17.000 per dolar AS. IHSG dan pasar obligasi pemerintah (SBN) bisa terpuruk.
Bank Indonesia (BI) terus menurunkan volume penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan likuiditas di sistem perekonomian Indonesia.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, penurunan volume penerbitan SRBI itu telah turun dari awal 2025 mencapai kisaran Rp 916,9 triliun, menjadi tersisa Rp 705,8 triliun saat ini.
"Sehingga kami telah memberikan ekspansi likuiditas dari sisi moneter dengan penurunan SRBI sebesar Rp211,2 triliun," ucap Perry saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Rabu (12/11/2025).
Meski penerbitan SRBI terus dikurangi untuk menjaga likuditas sistem perekonomian domestik, BI tetap memastikan instrumen kebijakan moneter itu ke depannya akan terus dipertahankan.
"SRBI ini adalah instrumen moneter yang tentunya masih akan terus diperlukan. Operasi moneter itu kan menarik likuiditas dari sistem apabila diperlukan, dan melakukan tambahan likuiditas ke sistem apabila kebijakan kita ekspansif," ucap Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya saat di Bukittinggi pada akhir Oktober 2025.
Namun, saat ini, posisi instrumen moneter SRBI terus diturunkan BI untuk mengimbangi aksi ekspansi likuiditas yang dilakukan oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Harga Minyak Ambruk
Harga minyak mentah WTI (West Texas Intermediate) berjangka turun lebih dari 4% ke sekitar US$58,49 per barel pada Rabu, menyentuh level terendah dalam tiga minggu setelah sebelumnya mencatat kenaikan tiga sesi berturut-turut. Penurunan tajam ini terjadi setelah OPEC merevisi proyeksi pasokan globalnya dan kini memperkirakan akan terjadi surplus pasokan pada kuartal III.
Sepanjang tahun ini, harga minyak sudah jeblok 18%.
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) kini memperkirakan pasokan global melebihi permintaan sekitar 500.000 barel per hari, berbalik arah dari perkiraan sebelumnya yang menunjukkan defisit pasokan. Revisi ini mencerminkan produksi AS yang lebih kuat dari perkiraan serta kenaikan output di negara-negara OPEC sendiri.
Badan Informasi Energi AS (U.S. Energy Information Administration - EIA) dijadwalkan merilis laporan bulanan pada Rabu malam waktu setempat, disusul oleh laporan prospek energi dari Badan Energi Internasional (IEA) pada Kamis. IEA baru-baru ini melunakkan pandangannya terhadap puncak permintaan minyak, dan kini memperkirakan bahwa konsumsi global bisa terus meningkat hingga tahun 2050.
Harga minyak dunia memang melemah sepanjang tahun ini di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan, seiring OPEC+ mulai memulihkan kapasitas produksinya dan produsen non-anggota meningkatkan aktivitas pengeboran.
Namun demikian, sanksi AS terhadap perusahaan minyak besar Rusia yang terlibat dalam konflik Ukraina mulai menunjukkan dampak nyata. Salah satunya, Lukoil dilaporkan menyatakan force majeure (keadaan kahar) pada salah satu ladang minyaknya di Irak.
Di satu sisi, ambruknya harga minyak bisa menjadi kabar baik karena bisa menekan impor BBM. Namun, jatuhnya harga minyak juga akan berdampak besar terhadap sejumlah emiten minyak di Tanah Air seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), hingga PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- US Inflation Rate / Inflasi AS YoY
Rapat Dengar Pendapat Komisi VII DPR dengan Dirjen IKMA Kementerian Perindustrian dan asosiasi-asosiasi di ruang rapat Komisi VII DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Rapat Dengar Pendapat Komisi V DPR dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman di ruang rapat Komisi V DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Rapat Kerja Komisi IX DPR dengan antara lain Menteri Kesehatan dan Direktur Utama BPJS Kesehatan di ruang rapat Komisi IX DPR, Senayan, Kota Jakarta Pusat
Pemaparan laporan e-Conomy SEA 2025 yang akan digelar di kantor Google Indonesia, Gedung Pacific Century Place Lantai 43, Kota Jakarta Selatan.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
Tanggal ex Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
RUPS PT Nanotech Indonesia Global Tbk
RUPS PT Lovina Beach Brewery Tbk.
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Avia Avian Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim Baramulti Suksessarana Tbk
Tanggal ex Dividen Tunai Interim Indo Tambangraya Megah Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Tera Data Indonusa Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim Adi Sarana Armada Tbk
Tanggal ex Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim PT Prima Globalindo Logistik Tbk.
Tanggal ex Dividen Saham Asuransi Ramayana Tbk
Tanggal akhir perdagangan hmetd PT PT Bukit Uluwatu Villa Tbk
Tanggal akhir perdagangan hmetd PT PT Bukit Uluwatu Villa Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CEO Bank Besar ASEAN Wanti-Wanti Investor, Waspada Gejolak Ini!
CEO DBS, Tan Su Shan, peringatkan investor tentang volatilitas pasar global. Ia sarankan diversifikasi portofolio. [389] url asal
#ceo-bank #investasi #volatilitas-pasar #saham-teknologi #koreksi-pasar #diversifikasi-portofolio #risiko-investasi #ekonomi-global #singapura #pasar-keuangan
(CNBC Indonesia - Market) 08/11/25 15:44
v/32419/
Jakarta, CNBC Indonesia - CEO bank terbesar di Asia Tenggara, Tan Su Shan, memperingatkan para investor untuk bersiap menghadapi gejolak pasar keuangan global di tengah valuasi saham Amerika Serikat (AS) yang kian tinggi. Ia menilai volatilitas akan menjadi tema besar dalam beberapa waktu ke depan.
"Kami telah melihat banyak volatilitas di pasar, bisa di ekuitas, suku bunga, atau valuta asing," ujar CEO DBS tersebut, seperti dikutip CNBC International, Sabtu (8/11/2025). "Saya memperkirakan volatilitas ini akan terus berlanjut."
Tan, yang menggantikan Piyush Gupta sebagai CEO DBS pada Maret lalu, menyoroti kekhawatiran investor terhadap valuasi tinggi saham-saham teknologi besar AS, yang dikenal sebagai Magnificent Seven, yakni Amazon, Alphabet, Meta, Apple, Microsoft, Nvidia, dan Tesla.
"Misalnya, ada triliunan dolar yang terikat pada tujuh saham itu. Dengan konsentrasi seperti itu, tak terelakkan akan muncul pertanyaan: 'Kapan gelembung ini akan pecah?'" tegas Tan.
Dalam forum Global Financial Leaders' Investment Summit di Hong Kong pekan ini, para pemimpin industri keuangan dunia juga menyoroti potensi koreksi pasar. CEO Morgan Stanley, Ted Pick, bahkan memperkirakan penurunan sebesar 10%-20% dalam 12 hingga 24 bulan mendatang.
Namun, Tan melihat koreksi sebagai hal positif. "Terus terang, koreksi akan sehat," ujarnya, seraya menyinggung bahwa pergerakan seperti itu merupakan bagian alami dari dinamika pasar.
Peringatan Tan sejalan dengan pandangan Dana Moneter Internasional (IMF) serta sejumlah gubernur bank sentral dunia, termasuk Jerome Powell (The Fed) dan Andrew Bailey (Bank of England), yang menyoroti risiko dari harga saham yang terlalu tinggi.
Lebih jauh, Tan menyarankan investor untuk memperkuat strategi diversifikasi, terutama di tengah ketidakpastian global.
"Baik dalam portofolio, rantai pasokan, maupun distribusi permintaan, diversifikasi saja," katanya.
Selain itu, ia juga menilai Asia, khususnya Singapura, akan menjadi tujuan investasi yang menarik ke depan.
"Kami memiliki supremasi hukum, sistem keuangan yang transparan dan terbuka, serta stabilitas politik. Singapura adalah tempat yang baik untuk berinvestasi dan mempertimbangkan diversifikasi," pungkasnya.
(tfa/haa)
[Gambas:Video CNBC]
Bursa Asia Jatuh Terseret Sektor Teknologi AI
Bursa Asia melemah mengikuti penurunan Wall Street, dipicu jatuhnya saham AI. [371] url asal
#saham-ai #bursa-asia #penurunan-wall-street #indeks-nikkei-225 #pasar-saham #investasi #data-perdagangan-china #ekspor-dan-impor #volatilitas-pasar
(CNBC Indonesia - Market) 07/11/25 08:04
v/30616/
Jakarta, CNBC Indonesia — Bursa Asia dibuka melemah mengikuti penurunan Wall Street yang disebabkan oleh saham kecerdasan buatan atau AI yang merosot hari ini, Jumat (7/11/2025). Para investor sepertinya cemas karena valuasi yang sudah cukup tinggi di sektor tersebut.
Indeks acuan Nikkei 225 Jepang anjlok 1,38% pada pembukaan perdagangan yang dipicu oleh kejatuhan saham-saham terkait dengan AI.
Sedangkan indeks Topix turun 0,5%. Lalu indeks Kospi Korea Selatan turun 0,46%, sementara indeks Kosdaq yang berkapitalisasi kecil turun 0,92%.
Sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,27%. Futures untuk Indeks Hang Seng Hong Kong menunjukkan pembukaan yang lebih rendah, diperdagangkan pada 26.436, dibandingkan dengan penutupan indeks sebelumnya di 26.485,9.
Mengutip CNBC Internasional, saham-saham perusahaan-perusahaan AI raksasa jatuh pada hari Kamis di Amerika Serikat. Penurunan terbesar terjadi pada Nvidia, Microsoft, Palantir Technologies, Broadcom dan Advanced Micro Devices.
Selain itu, para investor di Asia juga mengamati data perdagangan China bulan Oktober yang akan dirilis hari ini. Para ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan ekspor akan melambat menjadi 3% secara tahunan. Angka tersebut turun dari lonjakan 8,3% di bulan September, sementara impor diperkirakan turun menjadi 3,2% dari 7,4%.
Hal ini terjadi karena lemahnya permintaan domestik terus membebani akibat kemerosotan perumahan yang berkepanjangan, meningkatnya ketidakamanan pekerjaan, dan pengurangan langkah-langkah stimulus yang berfokus pada konsumsi.
Futures AS naik tipis di awal jam-jam Asia setelah aksi jual teknologi pada hari Kamis.
Semalam, Dow Jones Industrial Average turun 398,70 poin, atau 0,84%, menjadi ditutup pada 46.912,30. S&P 500 diperdagangkan turun 1,12%, menjadi menetap di 6.720,32, sementara Nasdaq Composite anjlok 1,9% dan berakhir di 23.053,99.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
IHSG Hari Ini Cetak Rekor ATH, Lompat Nyaris 1% Tembus 8.318
IHSG mencetak rekor penutupan tertinggi baru di level 8.318,93, didorong oleh kenaikan saham blue chip. [563] url asal
#rekor-ath #ihsg #pasar-saham #investasi #ekonomi-indonesia #blue-chip #transaksi-saham #msci #pertumbuhan-ekonomi #volatilitas-pasar
(CNBC Indonesia - Market) 05/11/25 16:25
v/28643/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba melesat kencang pada akhir perdagangan sesi pertama, Rabu (5/11/2025). Indeks yang pada awal perdagangan dibuka di zona merah malah berakhir lompat 0,93% atau menguat 76,61 poin ke level 8.318,93.
Ini merupakan rekor penutupan perdagangan tertinggi baru (all time high/ATH) yang dicatatkan oleh indeks acuan bursa saham domestik.
Sebanyak 284 saham turun, 357 naik, dan 168 tidak bergerak. Nilai transaksi hari ini mencapai Rp 18,51 triliun, melibatkan 35,26 miliar saham dalam 2,2 juta kali transaksi.
Nyaris seluruh sektor perdagangan bergerak di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh utilitas, barang baku dan konsumer non-primer. Adapun sektor energi menjadi satu-satunya yang mengalami koreksi hari ini.
Emiten blue chip berkapitalisasi besar tercatat menjadi penopang IHSG dalam mencatatkan rekor penutupan tertinggi baru hari ini. Kenaikan saham Barito Renewables Energy (BREN) tercatat menyumbang paling besar ke IHSG atau sebanyak 20,02 indeks poin.
Selanjutnya ada GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) yang melesat 8,77% ke Rp 62 per saham dengan kontribusi 10,78 indeks poin. Emiten lainnya yang ikut menopang kinerja IHSG termasuk BRMS, AMMN dan TLKM.
Adapun pelaku pasar modal di Tanah Air mencerna dengan seksama rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2025 yang diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Lonjakan dolar AS juga mesti diwaspadai karena bisa membuat rupiah semakin tertekan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada ekonomi kuartal III-2025 mencapai 5,04% secara tahunan (year on year/yoy) dan 1,43% (qtq). Moh. Edy Mahmud, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, menuturkan pertumbuhan 5,04% ini lebih tinggi dibandingkan kuartal III-2025 sebesar 4,95%.
Selain itu, pelaku pasar ini juga mencermati pengumuman tinjauan reguler (index review) MSCI untuk periode November 2025.
Perubahan konstituen yang diumumkan akan mulai berlaku efektif pada 25 November 2025 mendatang, dan biasanya menimbulkan periode volatilitas tinggi menjelang implementasi.
Dalam tinjauan kali ini, sejumlah saham Indonesia disebut berpotensi mengalami perubahan posisi dalam indeks MSCI.
Beberapa emiten domestik yang dinilai berpeluang masuk atau naik kelas antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), setelah keduanya diperkirakan telah memenuhi syarat free float dan likuiditas.
Sebaliknya, sejumlah saham disebut berisiko keluar atau diturunkan kelas, seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Masuknya saham ke dalam indeks MSCI biasanya mendorong aliran dana asing (foreign inflow) karena banyak dana indeks dan exchange-traded fund (ETF) global yang mereplikasi konstituen MSCI.
Namun sebaliknya, keluarnya saham dari indeks dapat menimbulkan tekanan jual akibat penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global.
Periode antara pengumuman hingga tanggal efektif pada 25 November 2025 mendatang, diperkirakan akan menjadi momen yang cukup dinamis bagi IHSG, terutama bagi saham-saham dengan kapitalisasi besar yang menjadi kandidat perubahan.
Jika terdapat lebih banyak saham besar yang keluar atau turun kelas, sentimen pasar bisa tertekan, dan menjadi salah satu pemicu koreksi IHSG dalam jangka pendek.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
IHSG Sesi 1 Ditutup Naik 0,26%, Tiba-tiba Balik Arah ke Zona Hijau
IHSG berbalik arah ke zona hijau, naik 0,26% di akhir sesi pertama. Pelaku pasar menanti rilis pertumbuhan ekonomi dan tinjauan MSCI. [586] url asal
#pasar-saham #ihsg #investasi #indeks-msci #arus-modal #sektor-perdagangan #pertumbuhan-ekonomi #volatilitas-pasar #saham-indonesia #analisis-pasar
(CNBC Indonesia - Market) 05/11/25 12:14
v/28243/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiba-tiba balik arah ke zona hijau pada akhir perdagangan sesi pertama, Rabu (5/11/2025). Indeks yang sebelumnya dibuka di zona merah berakhir naik 0,26% atau menguat 21,22 poin ke level 8.263,13.
Sebanyak 266 saham turun, 349 naik, dan 192 tidak bergerak. Nilai transaksi hingga jeda makan siang mencapai Rp 9,57 triliun, melibatkan 22,32 miliar saham dalam 1,29 juta kali transaksi.
Mayoritas sektor perdagangan bergerak di zona hijau dengan penguatan terbesar dicatatkan oleh utilitas, teknologi dan konsumer non-primer. Adapun sektor properti, energi mencatatkan koreksi paling dalam hari ini.
Emiten konglomerat tercatat menjadi pemberat utama pergerakan IHSG hari ini. Perusahaan tambang Grup Sinar Mas, Dian Swastatika Sentosa (DSSA), tercatat menjadi pemberat utama kinerja IHSG hari ini.
Lalu diikuti oleh emiten tambang batu bara Baya Resources (BYAN) dan emiten properti Hermanto Tanoko, Jaya Sukses Makmur Sentosa (RISE)..
Sementara itu pasar modal di kawasan kompak berada di zona merah pagi ini.
Mengutip CNBC, S&P/ASX 200 Australia mengawali hari dengan penurunan 0,19%.
Nikkei 225 Jepang melemah 0,25%, sementara Topix melemah 0,26%. Kospi Korea Selatan melemah 1,9% dan Kosdaq berkapitalisasi kecil melemah 0,95%.
Indeks berjangka Hang Seng Hong Kong mencatatkan pembukaan yang sedikit lebih rendah di level 25.917 dibandingkan penutupan terakhir indeks di level 25.952,4.
Adapun pelaku pasar modal di Tanah Air menanti dengan seksama rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2025 yang akan diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Data ini akan berpengaruh pada pergerakan pasar keuangan Tanah Air.
Lonjakan dolar AS juga mesti diwaspadai karena bisa membuat rupiah semakin tertekan.
Selain itu, pelaku pasar hari ini juga perlu mencermati pengumuman tinjauan reguler (index review) MSCI untuk periode November 2025.
Perubahan konstituen yang diumumkan akan mulai berlaku efektif pada 25 November 2025 mendatang, dan biasanya menimbulkan periode volatilitas tinggi menjelang implementasi.
Dalam tinjauan kali ini, sejumlah saham Indonesia disebut berpotensi mengalami perubahan posisi dalam indeks MSCI.
Beberapa emiten domestik yang dinilai berpeluang masuk atau naik kelas antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), setelah keduanya diperkirakan telah memenuhi syarat free float dan likuiditas.
Sebaliknya, sejumlah saham disebut berisiko keluar atau diturunkan kelas, seperti PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
Masuknya saham ke dalam indeks MSCI biasanya mendorong aliran dana asing (foreign inflow) karena banyak dana indeks dan exchange-traded fund (ETF) global yang mereplikasi konstituen MSCI.
Namun sebaliknya, keluarnya saham dari indeks dapat menimbulkan tekanan jual akibat penyesuaian portofolio oleh manajer investasi global.
Periode antara pengumuman hingga tanggal efektif pada 25 November 2025 mendatang, diperkirakan akan menjadi momen yang cukup dinamis bagi IHSG, terutama bagi saham-saham dengan kapitalisasi besar yang menjadi kandidat perubahan.
Jika terdapat lebih banyak saham besar yang keluar atau turun kelas, sentimen pasar bisa tertekan, dan menjadi salah satu pemicu koreksi IHSG dalam jangka pendek.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Investor Legendaris AS 'Pasang Taruhan' Jumbo di Saham AI
Investor legendaris Michael Burry berinvestasi besar dalam put options untuk Palantir dan NVIDIA, menunjukkan keyakinan bahwa harga saham akan turun. [429] url asal
#michael-burry #scion-asset-management #opsi-jual #palantir-technologies #nvidia #investasi #pasar-saham #volatilitas-pasar #gelembung-ai #strategi-investasi
(CNBC Indonesia - Market) 04/11/25 15:27
v/27157/
Jakarta, CNBC Indonesia - Investor legendaris Michael Burry kembali membuat langkah berani melalui portofolio hedge fund-nya, Scion Asset Management. Berdasarkan dokumen regulasi terbaru, Burry tercatat menaruh lima juta opsi jual (put options) pada Palantir Technologies Inc. (PLTR) dan satu juta opsi jual pada NVIDIA Corp. (NVDA).
Untuk diketahui, Put option adalah kontrak derivatif yang memberi hak (bukan kewajiban) kepada pemegangnya untuk menjual suatu aset (seperti saham) pada harga tertentu (strike price) dalam jangka waktu tertentu. Dengan kata lain, ketika Michael Burry membeli jutaan put options atas Palantir dan Nvidia, itu artinya ia bertaruh bahwa harga saham kedua perusahaan itu akan turun.
Melansir Benzinga, posisi bearish besar Burry terhadap Palantir memiliki nilai pasar mencapai US$912,1 juta, sementara opsi jual Nvidia bernilai US$186,58 juta, menurut data dari Whale Wisdom. Selain itu, laporan tersebut juga menunjukkan adanya sejumlah perubahan signifikan lain dalam portofolio Scion.
Tak hanya itu, Burry juga kembali aktif di platform X dengan unggahan yang menyinggung fenomena "gelembung AI" dan film Star Wars. "These aren't the charts you are looking for. You can go about your business," tulisnya dalam postingan tersebut.
Grafik yang diunggah Burry menampilkan pertumbuhan segmen Cloud milik Alphabet, Amazon, dan Microsoft pada periode 2018 hingga 2022 dibandingkan kondisi saat ini. Grafik lain memperlihatkan jejaring kerja sama AI antara Nvidia, OpenAI, Oracle Corp. (ORCL), serta perusahaan teknologi besar lainnya, sementara grafik ketiga menunjukkan belanja modal AI yang sejajar dengan pengeluaran teknologi pada masa gelembung dot-com 1999-2000.
Dalam laporan 13F terbaru, Scion juga menambah 50.000 saham Lululemon Athletica Inc., membuka posisi baru sebanyak 125.000 saham di Molina Healthcare Inc., serta 480.000 saham di SLM Corp. Selain itu, Burry membeli 2,5 juta opsi beli (call options) pada Halliburton Co. dan enam juta opsi beli pada Pfizer Inc.
Adapun Scion menutup posisinya di beberapa emiten besar seperti Estee Lauder Companies Inc., Regeneron Pharmaceuticals Inc., MercadoLibre Inc., dan UnitedHealth Group Inc.. Langkah ini menunjukkan rotasi strategi investasi Burry di tengah meningkatnya volatilitas pasar global pasca pemangkasan suku bunga The Fed.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
IHSG Melesat 1,16% OTW Dekati Level 8.300
IHSG melonjak 1,16% ke 8.258,83 pada 3 November 2025. Sektor utilitas dan konsumer non-primer memimpin penguatan. Data ekonomi penting akan dirilis pekan ini. [472] url asal
#pasar-modal #ihsg #ekonomi-indonesia #saham #kapitalisasi-pasar #indeks-msci #data-ekonomi #investasi #volatilitas-pasar #sektor-saham
(CNBC Indonesia - Market) 03/11/25 12:06
v/25234/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat signifikan hari ini, Senin (3/11/2025). Indeks menguat 1,16% atau naik 94,96 poin ke level 8.258,83 pada penutupan perdagangan sesi pertama.
Sebanyak 345 saham naik, 288 turun, dan 175 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 9,12 triliun, melibatkan 13,86 miliar saham dalam 1,28 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali menembus Rp 15.000 triliun.
Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona penguatan. Utilitas dan konsumer non-primer memimpin dengan kenaikan masing-masing 2,99% dan 1,35%. Hanya sektor properti dan kesehatan yang melemah.
Sementara itu, saham milik Prajogo Pangestu, Barito Renewables Energy (BREN) menguat 6,63% ke level 9.250 menjelang pengumuman indeks MSCI. BREN menjadi penopang utama IHSG pagi ini dengan bobot 21,91 indeks poin.
Kemudian ada sejumlah emiten lain yang ikut jadi penopang IHSG termasuk TLKM, BRPT, BBRI dan ASII.
Memasuki pekan pertama November, pelaku pasar akan mencermati sederet rilis data ekonomi penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Dari domestik, fokus utama akan tertuju pada inflasi Oktober, PMI manufaktur, neraca dagang, serta pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (5/11/2025).
Rangkaian data tersebut akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah pemulihan ekonomi nasional menjelang akhir tahun. Selain itu, data ini juga akan menjadi acuan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan langkah kebijakan moneter pada sisa 2025.
Adapun terdapat beberapa sentimen yang dapat mempengaruhi volatilitas pergerakan IHSG di sepanjang November.
MSCI akan mengumumkan bahwa tinjauan reguler (Index Review) untuk November 2025 pada 5 November 2025. Perubahan konstituen yang diumumkan akan mulai berlaku efektif pada 25 November 2025. Sehingga, periode menjelang pengumuman dan dekat hari efektif bisa menjadi momen volatilitas bagi saham-saham yang menjadi kandidat masuk/keluar indeks.
Beberapa saham Indonesia yang disebut sebagai kandidat kuat untuk masuk indeks atau naik kelas dalam periode November 2025, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang diperkirakan telah memenuhi beberapa syarat free float dan likuiditas untuk masuk indeks MSCI. Kemudian PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga disebut akan masuk.
Sementara itu, ada saham yang disebut berisiko keluar atau turun kelas dalam indeks MSCI, yakni PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makulah Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), hingga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
Ini Penyebab IHSG Lompat 1% ke Level 8.250
Saham BREN menjadi penopang utama penguatan IHSG pagi ini. [516] url asal
#ihsg #pasar-saham #investasi #ekonomi-indonesia #analisis-saham #volatilitas-pasar #data-ekonomi #indeks-msci #pertumbuhan-ekonomi
(CNBC Indonesia - Market) 03/11/25 09:32
v/24984/
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka pagi ini, Senin (3/11/2025) di zona hijau. Indeks dibuka naik 0,5% dan melanjutkan penguatan hingga terbang lebih dari 1% ke level 8.250 pada 10 menit perdagangan awal.
Sebanyak 332 saham naik, 233 turun, dan 390 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 1,93 triliun, melibatkan 2,51 miliar saham dalam 238.300 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali menembus Rp 15.000 triliun.
Mengutip Refinitiv, nyaris seluruh sektor berada di zona penguatan. Utilitas dan konsumer non-primer memimpin dengan kenaikan masing-masing 2,99% dan 1,35%. Hanya sektor properti yang melemah, turun 0,78%.
Sementara itu, saham milik Prajogo Pangestu, Barito Renewables Energy (BREN) menguat 7,78% ke level 9.350 menjelang pengumuman indeks MSCI. BREN menjadi penopang utama IHSG pagi ini dengan bobot 20,96 indeks poin.
Kemudian emiten grup Sinar Mas, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) membalikkan keadaan setelah koreksi dalam sepanjang pekan lalu. Pagi ini DSSA naik 1,71% ke level 86.025. DSSA menyumbang 10,70 indeks poin.
Selain itu, emiten bank pelat merah BBRI masih melanjutkan penguatan. BBRI menembus level 4.000 dengan kenaikan lebih dari 1% pagi ini. BBRI bertengger di urutan ketiga top movers dengan bobot 8,28 indeks poin.
Memasuki pekan pertama November, pelaku pasar akan mencermati sederet rilis data ekonomi penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Dari domestik, fokus utama akan tertuju pada inflasi Oktober, PMI manufaktur, neraca dagang, serta pertumbuhan ekonomi kuartal III-2025 yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (5/11/2025).
Rangkaian data tersebut akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah pemulihan ekonomi nasional menjelang akhir tahun. Selain itu, data ini juga akan menjadi acuan bagi Bank Indonesia (BI) dalam menentukan langkah kebijakan moneter pada sisa 2025.
Adapun terdapat beberapa sentimen yang dapat mempengaruhi volatilitas pergerakan IHSG di sepanjang November.
MSCI akan mengumumkan bahwa tinjauan reguler (Index Review) untuk November 2025 pada 5 November 2025. Perubahan konstituen yang diumumkan akan mulai berlaku efektif pada 25 November 2025. Sehingga, periode menjelang pengumuman dan dekat hari efektif bisa menjadi momen volatilitas bagi saham-saham yang menjadi kandidat masuk/keluar indeks.
Beberapa saham Indonesia yang disebut sebagai kandidat kuat untuk masuk indeks atau naik kelas dalam periode November 2025, yakni PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang diperkirakan telah memenuhi beberapa syarat free float dan likuiditas untuk masuk indeks MSCI. Kemudian PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga disebut akan masuk.
Sementara itu, ada saham yang disebut berisiko keluar atau turun kelas dalam indeks MSCI, yakni PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), PT Indofood CBP Sukses Makulah Tbk (ICBP), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), hingga PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
IHSG Masuk Lagi ke Zona Merah, Ditutup Turun 0,25%
IHSG ditutup turun 0,25% di level 8.163,88. Sebanyak 389 saham turun. [378] url asal
#ihsg #indeks-harga-saham-gabungan #pasar-saham #investasi #volatilitas-pasar #saham-indonesia #sektor-saham #analisis-pasar #transaksi-saham
(CNBC Indonesia - Market) 31/10/25 16:35
v/23090/
Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup akhir pekan ini di zona merah. Indeks turun 0,25% atau 20,18 poin ke level 8.163,88.
Sebanyak 389 saham turun, 287 naik, dan 279 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 19,15 triliun, melibatkan 27,52 miliar saham dalam 1,96 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kembali terkikis menjadi Rp 14.857 triliun.
Sepanjang hari ini, volatilitas IHSG masih terbilang tinggi. Pagi tadi, indeks dibuka naik 0,29% dan sempat menyentuh 8.215,55 atau naik 0,38%.
Mengutip Refinitiv, mayoritas sektor berada di zona merah. Bahan baku turun paling dalam, yakni 0,83% dan diikuti oleh properti (-0,7%) serta energi (-0,67%).
Hanya ada tiga sektor yang bertahan di zona hijau, yaitu utilitas (0,84%), teknologi (0,79%), dan konsumer primer (0,09%).
Sementara itu lima saham menjadi pemberat utama adalah Bank Mandiri (BMRI) -7,03 indeks poin, Dian Swastatika Sentosa (DSSA) -7,03 indeks poin, Barito Pacific (BRPT) -5,62 indeks poin, Astra International (ASII) -5,57 indeks poin, dan Telkom Indonesia (TLKM) -4,58 indeks poin. Saham-saham ini tercatat turun lebih dari 1% hingga 2%.
Di tengah koreksi IHSG, BRI (BBRI) melesat naik 1,79% ke level 3.980. Saham bank BUMN ini menjadi penopang utama indeks agar tidak jatuh dalam. BBRI mencatat bobot 11,59 indeks poin pada perdagangan hari ini.
Adapun dengan koreksi hari ini, IHSG tercatat kontraksi 1,3% sepanjang pekan ini.
Sebagai informasi, IHSG mengawali pekan ini dengan koreksi dalam. Indeks sempat anjlok lebih dari 3,5% pada Senin (27/10/2025) dan meninggalkan level 8.000
Hal tersebut seiring dengan informasi yang beredar mengenai perubahan aturan free float indeks MSCI. Saham-saham milik Prajogo Pangestu terdampak paling besar.
IHSG sempat rebound pada 29-30 Oktober 2025. Pada dua hari itu IHSG masing-masing naik 0,91% dan 0,22%.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
Trump-Jinping Damai, Dunia Masih Was-Was Kabar Genting dari China-AS
Pertemuan Xi Jinping, data PCE Amerika serta keputusan The Fed akan menjadi penggerak pasar hari ini [3,504] url asal
#newsletter #ihsg #rupiah #investasi #kinerja-keuangan #volatilitas-pasar #federal-reserve #suku-bunga #dolar-as #obligasi-indonesia #saham
(CNBC Indonesia - Research) 30/10/25 21:59
v/22283/
- Pasar keuangan Indonesia bergerak beragam, IHSG menguat sementara rupiah melemah
- Wall Street ambruk berjamaah
- Pertemuan Xi Jinping, data PCE Amerika serta keputusan The Fed akan menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan berjalan tak senada, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali mencatatkan penguatan, sementara pergerakan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) justru lagi-lagi melemah. Musim rilis kinerja keuangan menjadi booster bagi pasar saham.
Pasar saham diperkirakan akan kembali volatile seiring dengan respon terhadap hasil laporan keuangan beberapa emiten big caps hingga penantian data-data ekonomi dari AS hingga China. Selengkapnya mengenai sentimen dan proyeksi pasar hari ini dapat dibaca pada halaman 3 pada artikel ini. Dan para investor juga dapat mengintip agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini baik dalam negeri dan luar negeri pada halaman 4.
Pada perdagangan Kamis (30/10/2025), IHSG ditutup menguat 0,22% di level 8.184,06. Penutupan ini menjadi kenaikan IHSG selama dua hari beruntun, dan pada perdagangan intraday IHSG sempat menyentuh level psikologis 8.200 sebelum akhirnya kembali ke level 8.100.
Nilai transaksi mencapai Rp 21,81 triliun, melibatkan 36,17 miliar saham dalam 2,28 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkerek menjadi Rp 14.957 triliun.
Mengutip data Refinitiv, energi menjadi sektor yang naik paling kencang dengan penguatan 2,31%. Kemudian diikuti oleh konsumer non primer dan finansial yang masing-masing 1,89% dan 0,47%.
Tercatat, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi pendorong utama IHSG dengan kontribusi 19,25indeks poin. Kemudian diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 13,18 indeks poin.
Kemudian PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) naik 7,14% ke level Rp 60 per saham dan menyumbang 8,61 indeks poin.
Sebagai informasi, volatilitas pergerakan IHSG masih terbilang tinggi. Pagi kemarin, indeks dibuka menguat 0,12% lalu berbalik arah ke zona merah sebelum balik lagi ke zona hijau jelang penutupan perdagangan.
Sementara itu, Pasar Asia-Pasifik bergerak bervariasi pada perdagangan Kamis (30/10/2025), setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember belum menjadi "kesimpulan pasti".
The Fed diketahui telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sesuai ekspektasi, membawa kisaran suku bunga menjadi 3,75%-4% pada Rabu kemarin.
Sementara itu, investor juga mencermati pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang menjadi pertemuan tatap muka pertama keduanya di masa jabatan kedua Trump.
Selain itu, pasar Korea Selatan juga menjadi perhatian setelah penasihat kebijakan utama Seoul, Kim Yong-beom, dilaporkan merilis rincian kesepakatan dagang dengan Washington.
Berdasarkan laporan media lokal, Korea Selatan akan menanamkan investasi sebesar US$200 miliar di AS dengan batas tahunan US$20 miliar. Sementara itu, sisa dari komitmen total senilai US$350 miliar yang diumumkan awal tahun ini akan dialokasikan untuk kerja sama di sektor perkapalan.
Beralih ke rupiah, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Kamis (30/10/2025) melemah ke posisi Rp16.635/US$1 atau terdepresiasi 0,15%. Angka ini sekaligus menjadi level penutupan terlemah di sepanjang Oktober 2025.
Pelemahan rupiah pada perdagangan kemarin terjadi setelah rilis hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pada Kamis (30/10/2025) dini hari waktu Indonesia.
Dalam keputusan terbarunya, The Fed kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00%. Langkah ini seharusnya menekan kekuatan dolar AS. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, dolar AS menguat di pasar global setelah pernyataan dari Gubernur The Fed Jerome Powell.
Powell menegaskan bahwa peluang pemangkasan suku bunga lanjutan pada Desember semakin kecil, dan meminta pasar untuk tidak berasumsi bahwa pelonggaran moneter akan terus berlanjut hingga akhir tahun.
Pernyataan tersebut segera mengubah ekspektasi pelaku pasar. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember turun menjadi sekitar 62%, dari sebelumnya 85% sebelum keputusan FOMC diumumkan.
Adapun dari pasar obligasi Indonesia, pada perdagangan Kamis (30/10/2025) imbal hasil obligasi tenor 10 tahun naik 0,05% di level 5,9339%. Sebagai informasi, imbal hasil obligasi yang menguat menandakan bahwa para pelaku pasar sedang membuang surat berharga negara (SBN). Begitu pun sebaliknya, imbal hasil obligasi yang melemah menandakan bahwa para pelaku pasar sedang kembali mengumpulkan surat berharga negara (SBN).
Pasar saham Amerika Serikat (AS) Wall Street ambles berjamaah usai beberapa saham Megacaps kompak anjlok.
Pada perdagangan Kamis (30/10/2025), Dow Jones melemah 0,23% di level 47.521,81. Begitu juga dengan S&P 500 terkoreksi 1% di level 6.822,11 dan Nasdaq terdepresiasi 1,58% 23.581,14.
S&P 500 dan Nasdaq Composite melemah pada perdagangan Kamis, disebabkan Meta dan Microsoft melemah di tengah kekhawatiran lonjakan belanja AI, sementara investor juga mencerna nada yang lebih agresif dari The Federal Reserve (The Fed) AS.
Saham Meta (META.O) anjlok sekitar 11% dan diperkirakan akan mengalami penurunan persentase terbesar dalam tiga tahun setelah perusahaan media sosial tersebut memperkirakan belanja modal yang jauh lebih besar tahun depan, berkat investasi dalam kecerdasan buatan.
Microsoft (MSFT.O) merosot 3% setelah raksasa teknologi tersebut melaporkan rekor belanja modal hampir US$35 miliar untuk kuartal fiskal pertama dan memperingatkan bahwa belanja modal akan meningkat tahun ini.
Hasil tersebut menyusul pengumuman The Federal Reserve pada hari Rabu tentang pemotongan suku bunga seperempat poin yang telah lama diantisipasi, tetapi menimbulkan keraguan tentang langkah kebijakan di masa mendatang ketika Ketua Jerome Powell mengatakan bahwa pemotongan suku bunga lagi pada bulan Desember bukanlah kesimpulan yang sudah pasti.
Hal ini menyebabkan para pelaku pasar mengurangi kemungkinan pemotongan suku bunga lagi pada bulan Desember menjadi sekitar 70%, turun dari lebih dari 90% di awal pekan.
Pasar hari Kamis setidaknya sebagian merupakan warisan dari kemarin, menurut Jack McIntyre, manajer portofolio di Brandywine Global, menambahkan bahwa masuk akal bagi The Fed untuk mengatakan bahwa pelonggaran moneter di bulan Desember belum sepenuhnya selesai.
"Mereka tidak ingin terlalu bergantung pada pasar," ujar McIntyre, menambahkan bahwa kenaikan dolar dan imbal hasil Treasury merupakan faktor-faktor yang menyebabkan pelemahan ekuitas pada hari Kamis.
Dan meskipun investor kecewa dengan beberapa laporan pendapatan hari itu, The Fed harus mempertimbangkan musim pelaporan yang relatif kuat ketika memutuskan apakah penurunan suku bunga lebih lanjut diperlukan.
"Jika Anda mengukur ekonomi berdasarkan pendapatan kuartal ketiga, ekonomi masih berjalan baik," katanya.
Kemunduran S&P dan Nasdaq pada hari Kamis terjadi setelah tiga indeks utama tersebut mencapai rekor tertinggi dalam empat sesi terakhir, didorong oleh pendapatan kuartalan yang kuat dan meningkatnya ekspektasi akan kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Optimisme seputar AI juga menjadi pendorong utama kenaikan saham AS tahun ini, dengan perusahaan-perusahaan teknologi teratas secara kolektif menyumbang 35% bobot S&P 500.
Pemimpin chip AI, Nvidia (NVDA.O), turun 1,6% pada hari Kamis, tetapi telah memberikan dorongan ekstra pada pasar pada hari Rabu, ketika menjadi perusahaan publik pertama yang kapitalisasi pasarnya melampaui US$5 triliun.
Fokus investor akan tertuju pada hasil dari sesama anggota "Magnificent Seven", Apple (AAPL.O) dan Amazon (AMZN.O), yang akan dirilis setelah bel penutupan perdagangan.
Induk perusahaan Google, Alphabet (GOOGL.O), naik 3% pada hari Kamis karena pertumbuhan yang stabil dalam bisnis periklanan dan komputasi awan mendorong hasil yang lebih baik dari perkiraan.
Sementara itu, perjanjian perdagangan yang sangat dinantikan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping tampaknya tidak banyak membantu mendorong saham pada hari itu.
Trump setuju untuk mencabut beberapa tarif impor China dengan imbalan Beijing melanjutkan pembelian kedelai, menjaga kelancaran ekspor tanah jarang, dan menindak perdagangan gelap fentanil.
"Ketika Anda menerima kabar baik dan pasar tidak bereaksi, itu menandakan bahwa fentanil mungkin sudah didiskon," ujar McIntyre.
Saham distributor obat Cardinal Health (CAH.N) naik 13% setelah menaikkan proyeksi laba tahunan yang disesuaikan.
Saham Chipotle Mexican Grill (CMG.N) anjlok 17% setelah jaringan burrito tersebut memangkas proyeksi penjualan tahunannya, yang mengakibatkan tarif dan inflasi menekan margin keuntungan.
Saham yang turun jumlahnya lebih banyak daripada yang naik dengan rasio 1,48 banding 1 di NYSE, di mana terdapat 142 harga tertinggi baru dan 138 harga terendah baru.
Di Nasdaq, 1.832 saham naik dan 2.752 saham turun karena saham yang turun jumlahnya lebih banyak daripada yang naik dengan rasio 1,5 banding 1. S&P 500 mencatat 34 titik tertinggi baru dalam 52 minggu dan 32 titik terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 79 titik tertinggi baru dan 159 titik terendah baru.
Pelaku pasar perlu mencermati sejumlah sentimen, terutama yang datang dari luar negeri.
Pasar saham kembali optimis dengan menguat selama dua hari beruntun. Musim rilis kinerja keuangan menjadi salah satu pendorong penguatan IHSG. Selain itu kabar baik juga datang dari pemimpin besar dunia Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan.
Bank BRI Cetak Laba Rp41,23 T
Bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) secara konsolidasi membukukan laba bersih periode berjalan senilai Rp41,23 triliun pada akhir kuartal III-2025. Perolehan itu turun 9,10% secara tahunan atau year on year (yoy), dari sebesar Rp45,36 triliun pada periode yang sama setahun sebelumnya.
Mengutip laporan keuangan BRI yang dipublikasikan di media massa, pendapatan bunga bersih BRI dalam sembilan bulan pertama tercatat sebesar Rp110,99 triliun, naik tipis 2,9% yoy dari setahun sebelumnya Rp107,86 triliun.
Pada fungsi intermediasi, penyaluran kredit BRI yang tercatat sebesar Rp1.438,11 triliun, tumbuh 6,26% yoy pada periode yang berakhir 30 September 2025. Dari jumlah tersebut, kredit UMKM tercatat sebesar Rp1.150,73 triliun, dengan komposisi sebesar 80,02% terhadap total portofolio kredit.
Seiring dengan pertumbuhan tersebut, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross naik jadi 3,29% dan NPL net sebesar 1,04%. BRI mencatatkan NPL coverage sebesar 183,09%.
Pada penghimpunan dana, BRI berhasil mencatatkan total dana pihak ketiga sebesar Rp1.474,78 triliun pada kuartal III-2025, tumbuh 8,24% yoy. Komposisi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) sebesar 67,65%.
Dengan begitu, rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) BRI sebesar 87,05% per sembilan bulan pertama tahun ini.
Aset BRI pun menjadi sebesar Rp2.123,45 triliun pada kuartal III-2025.
CIMB Niaga Cetak Laba Rp5,33 T
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) menutup kuartal III-2025 dengan kinerja gemilang. Bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp5,33 triliun, tumbuh 2,92% secara tahunan (YOY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp5,18 triliun.
Pertumbuhan laba tersebut mencerminkan ketahanan dan efektivitas strategi bisnis CIMB Niaga di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, peningkatan laba terutama didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar 0,7% (yoy) menjadi Rp10,08 triliun.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit CIMB Niaga menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan 4,6% (yoy) menjadi Rp228,7 triliun.
Pertumbuhan ini didorong oleh seluruh lini bisnis, dengan segmen UKM mencatat peningkatan tertinggi sebesar 5,7% (yoy), diikuti Perbankan Korporat yang naik 5,4%, serta Perbankan Konsumer yang tumbuh 4,3%.
Khusus pada segmen ritel, Kredit Pemilikan Mobil (KPM) menjadi bintang utama dengan lonjakan 18,7% (yoy), menunjukkan meningkatnya daya beli dan kepercayaan masyarakat terhadap pembiayaan kendaraan bermotor.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun mencapai Rp278 triliun, meningkat 8,6% (yoy). Komposisi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) menjadi kontributor utama dengan nilai Rp188,8 triliun, tumbuh 10,6% (yoy).
Peningkatan CASA menunjukkan keberhasilan bank dalam memperkuat basis nasabah ritel dan digital banking, yang turut menekan biaya dana (cost of fund) dan memperbaiki profitabilitas.
CIMB Niaga juga terus menjaga posisi keuangan yang solid. Rasio kecukupan modal (CAR) tercatat sebesar 24,7%, sementara loan to deposit ratio (LDR) berada di level 81,1%, mencerminkan keseimbangan yang sehat antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana.
Dengan total aset konsolidasian mencapai Rp369,5 triliun per 30 September 2025, CIMB Niaga semakin mengukuhkan posisinya sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia.
BRIS Tembus Laba Rp5,57 T
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) telah mencetak laba sebesar Rp5,57 triliun sepanjang hingga kuartal III-2025. Perolehan laba itu naik 9,03% secara tahunan (yoy) dari sebesar Rp5,1 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di media massa, perolehan laba tersebut tidak terlepas dari pendapatan dari penyaluran dana yang naik 15,24% yoy menjadi Rp22,23 triliun pada akhir September 2025. Bagi hasil untuk investasi ikut terkerek 18,12% yoy menjadi Rp6,89 triliun. Alhasil, pendapatan setelah distribusi bagi hasil tercatat naik 14% yoy menjadi Rp15,34 triliun.
Pada fungsi intermediasi, bank syariah terbesar RI itu tercatat telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp300,27 triliun, meningkat 12,7% yoy sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini.
Seiring dengan peningkatan tersebut, kualitas pembiayaan semakin membaik dengan non performing financing (NPF) gross menjadi sebesar 1,84%, dari sebelumnya 1,97%. Sedangkan NPF net sebesar 0,55% dari sebelumnya 0,56%.
Pada pendanaan, BSI mencatatkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 15,65% yoy menjadi Rp348,38 triliun hingga kuartal III-2025.
Perbandingan pembiayaan terhadap simpanan alias financing to deposit ratio (FDR) BSI menyusut menjadi 86,3% dari sebelumnya 88,6%.
Total aset BSI pun kali ini naik 1,94% yoy menjadi Rp416,57 triliun dari periode akhir 2024.
Deal Antara Trump dengan Xi Jinping
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan dengan Presiden China Xi Jinping di sela-sela KTT APEC di Korea Selatan, Kamis (30/10/2025). Hal ini dilakukan saat tensi kedua negara terus bereskalasi.
Trump mengeklaim perselisihan mengenai pasokan mineral logam tanah jarang telah terselesaikan dan China setuju untuk melanjutkan pembelian kedelai AS, dalam langkah yang meredakan ketegangan perang dagang yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.
Pertemuan tatap muka pertama antara kedua pemimpin sejak 2019 ini sangat penting, terutama karena adanya ancaman Trump untuk mengenakan tarif 100% pada barang-barang China jika tidak ada kesepakatan.
Berikut sejumlah hal yang disepakati kedua pemimpin negara.
1. Fentanil
Trump mengatakan ia telah mencapai kesepakatan di mana Presiden Xi Jinping setuju untuk "bekerja sangat keras" mencegah produksi dan aliran opioid sintetis mematikan, fentanil, ke AS. Fentanil merupakan masalah utama bagi AS, dan Washington telah menerapkan tarif 20% pada barang-barang China karena dugaan kegagalan Beijing menghentikan perdagangan obat ilegal ini.
Sebagai imbalan atas kerja sama China, AS setuju untuk mengurangi tarif yang terkait dengan fentanil dari 20% menjadi 10%. Trump menyatakan keyakinannya terhadap upaya China.
2. Kedelai
China setuju untuk melanjutkan pembelian produk pertanian AS, terutama kedelai, dalam jumlah besar ("tremendous amounts"). Impor kedelai China dari AS telah terhenti sejak Mei sebagai tindakan balasan atas tarif AS sebelumnya, yang sangat merugikan petani Amerika.
Komitmen pembelian dalam skala besar ini dipandang sebagai 'jalan keluar' bagi para petani AS yang telah menanggung kerugian, dan merupakan salah satu konsesi utama dari pihak China.
3. Tarif Perdagangan
Sebagai bagian dari kerangka kesepakatan satu tahun ini, AS setuju untuk mengurangi tarif pada barang-barang China. Secara keseluruhan, Trump setuju untuk menurunkan tarif rata-rata AS yang dikenakan pada barang-barang China dari 57% menjadi 47%.
Pengurangan ini bertujuan untuk mencegah tarif yang lebih tinggi yang diancamkan Trump sebelumnya, serta menstabilkan ekspektasi pasar. Presiden China Xi Jinping mengonfirmasi adanya kemajuan diplomatik ini.
4. Logam Tanah Jarang
Sengketa mengenai mineral kritis dan rare earths diklaim telah terselesaikan. China setuju untuk menunda kontrol ekspor ketat terhadap material rare earths yang diumumkan pada awal bulan ini. Keputusan China ini akan meredakan kekhawatiran global mengenai gangguan rantai pasokan yang vital.
Aktivitas Pabrik China Diperkirakan Turun
Pada Jumat (31/10/2025), terdapat data PMI Manufaktur China. Dimana, aktivitas pabrik China kemungkinan menyusut untuk bulan ketujuh pada bulan Oktober, menggarisbawahi perlunya stimulus lebih lanjut untuk meningkatkan permintaan domestik, karena upaya produsen untuk melepas barang ke luar negeri hanya mengekspor perang harga yang membebani mereka di dalam negeri.
Jajak pendapat Reuters terhadap 28 ekonom memperkirakan indeks manajer pembelian (PMI) resmi akan turun menjadi 49,6 dari 49,8 pada bulan September, tetap di bawah ambang batas 50 poin yang memisahkan pertumbuhan dari kontraksi. Data tersebut akan dirilis pada hari Jumat.
Kemerosotan yang berkepanjangan ini terjadi ketika produsen berjuang untuk mencapai pemulihan yang berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir sejak pandemi Covid dan perang dagang yang merugikan dengan Presiden AS Donald Trump memaksa pemilik pabrik untuk menyerah pada pasar konsumen terbesar dunia.
Produsen juga mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan di pasar-pasar baru, dengan eksportir semakin banyak menjual dengan kerugian di Eropa, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi China melambat menjadi 4,8% pada kuartal ketiga, laju terlemahnya dalam setahun. Meskipun hal ini membuat ekonomi terbesar kedua di dunia ini tetap berada di jalur yang tepat untuk mencapai targetnya sekitar 5% tahun ini, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang ketergantungan Beijing pada permintaan eksternal di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan.
Partai Komunis yang berkuasa berjanji untuk meningkatkan konsumsi domestik setelah pertemuan tertutup selama empat hari pekan lalu yang menguraikan tujuan ekonomi dan kebijakan untuk lima tahun ke depan, sekaligus menekankan upaya untuk memperkuat sistem industrinya yang luas.
Namun, para analis mempertanyakan apakah Beijing mengusulkan sesuatu yang baru atau kembali pada strategi lamanya, yaitu menyalurkan sumber daya ke perusahaan-perusahaan besar sambil mengabaikan produsen dan rumah tangga swasta.
Beberapa analis yakin Beijing tidak membutuhkan stimulus lebih lanjut tahun ini, sementara yang lain melihat percepatan investasi infrastruktur sebagai cara untuk memastikan perekonomian tetap sesuai target pada kuartal keempat.
Hal itu tidak banyak meredakan kekhawatiran jangka panjang atas kemampuan Beijing untuk menyeimbangkan kembali perekonomian di mana konsumsi rumah tangga tertinggal sekitar 20 poin persentase dari PDB dibandingkan rata-rata global.
PCE AS September
Pada akhir pekan Jumat (31/10/2025), juga terdapat data indeks harga PCE atau pengeluaran konsumen pribadi warga AS periode September.
Sebelumnya, inflasi inti sedikit berubah pada bulan Agustus, menurut alat prakiraan utama Federal Reserve, yang kemungkinan akan membuat bank sentral tetap pada jalur penurunan suku bunga ke depannya.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi mencatat kenaikan 0,3% untuk bulan tersebut, menjadikan tingkat inflasi tahunan utama di 2,7%, Departemen Perdagangan melaporkan pada hari Jumat.
Tidak termasuk makanan dan energi, tingkat harga inti PCE yang lebih ketat adalah 2,9% secara tahunan setelah naik 0,2% untuk bulan tersebut.
Tingkat inflasi tahunan utama sedikit meningkat dari 2,6% pada bulan Juli, sementara tingkat inflasi inti tetap sama.
Semua angka tersebut sejalan dengan perkiraan konsensus Dow Jones. Angka pengeluaran dan pendapatan sedikit lebih tinggi dari perkiraan.
Pendapatan pribadi meningkat 0,4% untuk bulan tersebut, sementara pengeluaran konsumsi pribadi meningkat dengan kecepatan 0,6%. Keduanya 0,1 poin persentase di atas perkiraan masing-masing.
Meskipun The Fed menargetkan inflasi sebesar 2%, angka-angka tersebut kemungkinan besar tidak akan mengubah arah bagi para pembuat kebijakan yang pekan lalu mengindikasikan bahwa mereka melihat dua penurunan poin persentase kuartal lagi sebelum akhir tahun.
Berikut sejumlah agenda ekonomi dalam dan luar negeri pada hari ini:
- PMI Manufaktur China Oktober 2025
- PCE AS September 2025
Laporan perkembangan program dan capaian kinerja satu tahun pembangunan infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) dan Global Anti-Scam Alliance (GASA) meluncurkan GASA State
of Scams 2025 Indonesia Report. Laporan komprehensif ini mengulas secara mendalam skala, dampak, dan tren terbaru penipuan digital yang terus berkembang, sekaligus menyoroti ancamannya terhadap jutaan konsumen di IndonesiaPeluncuran Program Dana Santunan Kesehatan Pensiun (DSKP) dari DPLK PertaLife
Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia & Indonesia Fintech Summit & Expo (FEKDI x IFSE)
Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) menggelar Coffee Morning with Danantara Indonesia Bersama Rohan Hafas, Managing Director, Stakeholder Management and Communications Danantara Indonesia
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- RUPS PT Palma Serasih Tbk (PSGO)
- RUPS PT Pratama Widya Tbk (PTPM)
- RUPS Goodyear Indonesia Tbk (GDYR)
- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim Astra International Tbk
- Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim Plaza Indonesia Realty Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
IHSG Lanjutkan Rebound, Menguat 0,12% ke Level 8.184
IHSG kembali ke zona hijau dengan penguatan 0,22% pada 8.184,06. Sektor energi memimpin kenaikan, sementara pasar Asia-Pasifik bergerak bervariasi. [528] url asal
#pasar-saham #ihsg #investasi #indeks-harga-saham #perdagangan-saham #kapitalisasi-pasar #sektor-energi #volatilitas-pasar #suku-bunga #berita-ekonomi
(CNBC Indonesia - Market) 30/10/25 16:25
v/21800/
Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya kembali ke zona hijau pada akhir perdagangan hari ini, Kamis (30/10/2025).
IHSG yang sempat terjerumus di zona merah pada perdagangan intraday sesi kedua, akhirnya ditutup menguat 0,22% atau naik 17,84 poin ke 8.184,06.
Nilai transaksi mencapai Rp 21,81 triliun, melibatkan 36,17 miliar saham dalam 2,28 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkerek menjadi Rp 14.957 triliun.
Mengutip data Refinitiv, energi menjadi sektor yang naik paling kencang dengan penguatan 2,31%. Kemudian diikuti oleh konsumer non primer dan finansial yang masing-masing 1,89% dan 0,47%.
Tercatat, DSSA menjadi pendorong utama IHSG dengan kontribusi 19,25indeks poin. Kemudian diikuti oleh Bank Mandiri (BMRI) 13,18 indeks poin.
Kemudian GOTO naik 7,14% ke level Rp 60 per saham dan menyumbang 8,61 indeks poin.
Sebagai informasi, volatilitas pergerakan IHSG masih terbilang tinggi. Pagi tadi indeks dibuka menguat 0,12% lalu berbalik arah ke zona merah sebelum balik lagi ke zona hijau jelang penutupan perdagangan.
Sementara itu, Pasar Asia-Pasifik bergerak bervariasi pada perdagangan Kamis (30/10/2025), setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember belum menjadi "kesimpulan pasti".
The Fed diketahui telah memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sesuai ekspektasi, membawa kisaran suku bunga menjadi 3,75%-4% pada Rabu kemarin.
Di Asia, investor akan mencermati pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang menjadi pertemuan tatap muka pertama keduanya di masa jabatan kedua Trump. Selain itu, pasar Korea Selatan juga menjadi perhatian setelah penasihat kebijakan utama Seoul, Kim Yong-beom, dilaporkan merilis rincian kesepakatan dagang dengan Washington.
Berdasarkan laporan media lokal, Korea Selatan akan menanamkan investasi sebesar US$200 miliar di AS dengan batas tahunan US$20 miliar. Sementara itu, sisa dari komitmen total senilai US$350 miliar yang diumumkan awal tahun ini akan dialokasikan untuk kerja sama di sektor perkapalan.
Indeks Kospi dibuka menguat 1,37% dengan dorongan dari saham otomotif dan perkapalan. Di sisi lain, indeks small-cap Kosdaq turun tipis 0,1%.
Di Jepang, Nikkei 225 bergerak sedikit di bawah garis datar. Sementara itu, indeks Topix naik 0,1%.
Di Australia, indeks S&P/ASX 200 dibuka turun 0,29%. Sementara itu, indeks Hang Seng di Hong Kong diperkirakan menguat setelah kembali dibuka pasca libur, dengan kontrak berjangka HSI berada di level 26.598, lebih tinggi dari penutupan terakhir 26.346,14.
Dari Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 0,2% ke posisi 47.632,00 setelah sempat mencapai rekor tertinggi di awal sesi. Indeks S&P 500 juga terkoreksi tipis ke 6.890,59, sedangkan Nasdaq Composite naik 0,55% menembus rekor baru di 23.958,47 berkat kenaikan saham Nvidia.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)
Foto: Foto kolase PM Jepang, Sanae Takaichi dan Presiden China, Xi Jinping. (CNBC Indonesia)