Bisnis.com, JAKARTA – PT Fore Kopi Indonesia Tbk. (FORE) bersiap menjalan strategi menghadapi volatilitas harga komoditas kopi sebagai salah satu bahan baku utama perseroan.
Direktur Strategi dan Pengembangan Perusahaan Fore Kopi Indonesia Fahmi Rachmattulah, menerangkan saat ini perseroan menggunakan sepenuhnya komoditas kopi dalam negeri sebagai bahan baku. Beberapa daerah yang menjadi pemasok kopi Fore antara lain Bali dan Gayo.
”Flukuasi berpengaruh pasti ada karena beans itu walaupun lokal, itu kan komoditas. Jadi kalau komoditas itu ikut harga dari luar negeri. Itu pasti ada [fluktuasi harga],” katanya kepada Bisnis, Rabu (25/2/2026).
Meskipun begitu, Fahmi menyebut bahwa pihaknya telah melakukan upaya untuk memitigasi ketidakpastian harga komoditas global ke depan. Fore, bersama sejumlah supplier-nya menjalankan kontrak panen (contract farming) untuk memastikan harga komoditas dapat diprediksi di tengah fluktuasi harga.
Upaya itu telah dilakukan setiap tahunnya, dengan Fore terlebih dahulu mengontrak sejumlah besar volume kopi dengan harga yang telah disepakati kedua belah pihak.
”Jadi kami sudah melakukan kontrak. Misalnya untuk tahun 2026, kemarin di 2025 kami sudah kontrak sama beberapa supplier. Kami akan ambil volumenya sekian, di volume itu sudah di-lock juga harganya. Jadi sepanjang tahun kami bisa meminimalisir fluktuasi harga,” katanya.
Upaya tersebut telah dirasa cukup oleh Fore untuk menahan gejolak harga pasar. Fahmi menegaskan bahwa secara jangka pendek, pihaknya belum memiliki rencana untuk membeli dan mengelola lahan perkebunan kopi tersendiri.
Kendati berpotensi menekan cost saat harga komoditas kopi tengah berfluktuasi, tetapi membeli dan mengelola lahan dinilai berada pada dimensi skill set yang berbeda. Dus, Fore membutuhkan tim khusus untuk melakukan hal tersebut.
”Kalau short term, tidak. Itu clear. Jadi kalau setahun sampai dua tahun, jawabannya belum ada rencana. Kalau long term, kami masih wait and see. Kalau pertanyaannya 10—20 tahun lagi bagaimana? Kami lihat nanti,” tegasnya.
Dalam laporan tahunan 2024, manajemen FORE juga menegaskan hal serupa, bahwa dalam rangka menghadapi fluktuasi harga bahan baku, manajemen berupaya menjalin kerja sama jangka panjang dengan vendor dan mengamankan kotrak harga dengan supplier. Hal itu dilakukan guna memastikan profitabilitas perusahaan.
”Itu secara paper kelihatannya benar. Tapi, misalnya kita pertanian punya sendiri, itu skillset-nya beda dengan yang kita running bisnis sekarang. Sedangkan kita punya expertise saat ini adalah untuk menjalankan bisnis coffee shop-nya ini,” kata Fahmi.
Pasalnya, laporan terbaru dari Climate Central berjudul More Coffee-Harming Heat Due to Carbon Pollution, menyebut bahwa krisis iklim telah berdampak kepada pasokan kopi global. Gelombang panas telah mendorong lebih mahal harga biji kopi lantaran pemangkasan produksi terjadi.
Indonesia berkontribusi sebesar 6% dalam pasokan kopi secara internasional. Tetapi pada 2025, terdapat rata-rata 129 hari dengan suhu panas yang merusak tanaman kopi, dengan tambahan 73 hari akibat perubahan iklim. Kondisi ini mengganggu produksi kopi sehingga terjadi inflasi harga 15%.
Harga kopi global sendiri telah melonjak 45,89% dari US$2,63 per kg (sekitar Rp44.239 per kg) pada 2023 menjadi US$4,86 per kg (Rp81.751 per kg) pada 2025.
--
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.