Bisnis.com, SEMARANG— Perdana Menteri Hungaria Viktor Orbán dilaporkan lengser dari jabatannya setelah 16 tahun berkuasa, usai kalah dalam pemilihan umum yang menunjukkan hasil bahwa partai oposisi Tisza memenangkan 98,94% suara yang telah dihitung.
Dilansir dari laman Time, kekalahan Viktor Orbán ini terjadi setelah hampir setengah dari suara yang telah dihitung pada hari Minggu (12/04/2026) menunjukkan bahwa partai Tisza diproyeksikan memenangkan 135 dari 199 kursi di parlemen. Sementara itu, untuk partai Fidesz yang berkuasa pada pimpinan Orbán diketahui akan mendapatkan 57 kursi berdasarkan kedudukan saat ini.
“Hasil pemilu belum final, tetapi situasinya dapat dipahami dan jelas. Tanggung jawab dan kemungkinan untuk memerintah tidak diberikan kepada kami. Saya telah mengucapkan selamat kepada pemenang,” tutur Orbán di kantor kampanye Fidesz, dikutip Senin (13/04/2026).
Berdasarkan hasil pemilihan suara hingga Minggu malam tersebut, pemimpin partai Tisza Péter Magyar disebut akan menggantikan posisi Viktor Orbán setelah 16 tahun menjabat sebagai Perdana Menteri Hungaria sejak tahun 2010. Tak hanya itu, hasil pemilihan umum Perdana Menteri ini juga menunjukkan bahwa ketertinggalan partai Orbán dari Tisza menjadi penanda pergeseran politik yang mengejutkan di negara Eropa tersebut.
Sebagai lawan dari Orbán, Magyar diketahui telah menyebutkan janji bahwa dirinya akan memperbaiki ketegangan hubungan antara Hungaria dan Uni Eropa, memberantas korupsi, dan menyalurkan dana ke layanan publik yang telah lama diabaikan. Lebih lanjut, setelah melihat hasil pemilihan umum, Magyar menuturkan bahwa pemilih Tisza telah menulis ulang sejarah Hungaria.
“Saudara-saudaraku warga Hungaria, kita telah berhasil! Malam ini, kebenaran menang atas kebohongan. Hari ini, kita menang karena orang Hungaria tidak bertanya apa yang bisa dilakukan tanah air mereka untuk mereka, melainkan bertanya apa yang bisa mereka lakukan untuk tanah air mereka. Kalian telah menemukan jawabannya. Dan kalian telah melakukannya,” kata Magyar, dikutip dari laman The Guardian, Selasa (16/04/2026).
Pemilihan umum Perdana Menteri Hungaria ini disebut telah menjadi sorotan dunia sebagai ujian ketangguhan gerakan MAGA dan kelompok sayap kanan global, yang banyak di antaranya telah lama menganggap Orbán sebagai panutan dan berusaha meniru strateginya.
Beberapa hari sebelum pemilihan, wakil presiden AS JD Vance telah melakukan perjalanan ke Budapest dan mengatakan bahwa dirinya datang untuk membantu Orbán. Tak hanya Vance, presiden AS Donald Trump juga telah berulang kali mendukung Orbán.
Sebelumnya, Orbán telah dikenal sebagai sosok yang menampilkan dirinya sebagai pendukung “demokrasi non-liberal” yang menjadi ikon sayap kanan ekstrem global dan sekutu Presiden Donald Trump.
Selain itu, mendapat dukungan dari Vance dan Trump, Orbán juga telah mendapatkan dukungan dari para pemimpin sayap kanan dan sayap kanan ekstrem, mulai dari Marine Le Pen dari Prancis, Giorgia Meloni dari Italia, hingga Benjamin Netanyahu dari Israel.
Namun, setelah kekalahan Orbán ini, baik Trump maupun Vance belum memberikan komentar apapun. Sementara Meloni yang sebelumnya memberikan dukungan untuk Orbán terlihat memberikan selamat kepada Magyar pada Minggu malam. Dalam ucapannya, Melon menjanjikan kerja sama berkelanjutan dari negaranya dan mendoakan kesuksesannya.
“Saya berterima kasih kepada teman saya Viktor Orbán atas kolaborasi yang intens selama bertahun-tahun, dan saya tahu bahwa dia akan terus melayani bangsanya, juga dari pihak oposisi,” kata Meloni.
Di sisi lain, menanggapi kemenangan Magyar atas Orbán, para pemimpin dari seluruh Eropa menyambut baik hasil tersebut. Presiden Komisi Eropa Ursula Von Der Leyen menuliskan dalam akun media sosial X bahwa Hungaria merebut kembali jalannya menuju Eropa.
“Hungaria telah memilih Eropa. Eropa selalu memilih Hungaria. Sebuah negara merebut kembali jalannya menuju Eropa. Uni Eropa semakin kuat,” tulis Ursula.
Selanjutnya, Perdana Menteri Polandia, Donald Tusk, menyambut Magyar dengan sindiran terhadap Orbán. “Bersatu kembali! Kemenangan gemilang, teman-teman! Orang Rusia, pulanglah!,” tulis Donald di akun media sosial.
Selain itu, Presiden Prancis, Emmanuel Macron mengatakan bahwa dirinya telah berbicara dengan Magyar untuk mengucapkan selamat kepadanya. Sementara itu, Kanselir Jerman, Friedrich Merz menuturkan bahwa dirinya “menantikan” untuk bekerja sama dengan Magyar.