PT FREEPORT Indonesia (PTFI) memperkirakan pendapatan hingga akhir 2025 hanya mencapai US$ 8,511 miliar atau sekitar Rp 142 triliun. Angka ini setara 82 persen dari target dalam RKAB 2025 yang sebesar US$ 10,4 miliar.
Direktur Utama PTFI, Tony Wenas, menyatakan kegagalan mencapai target ini disebabkan oleh produksi tembaga yang turun sekitar 30 persen dan produksi konsentrat emas yang turun sekitar 50 persen. “Meski produksi tembaga berkurang 30 persen dan emas berkurang 50 persen, kami bisa memperoleh penjualan sekitar US$ 8,5 miliar atau hanya turun 18 persen dari target RKAB,” ujar Tony dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Senin, 24 November 2025.
Tony mengatakan penurunan produksi itu dipicu oleh insiden kebakaran unit produksi pada Oktober 2024 yang memaksa smelter berhenti sampai Mei 2025 dan longsoran material basah pada 8 September 2025 di Grasberg Block Cave yang menghentikan produksi tambang bawah tanah.
Tonye mengatakan, dalam RKAB 2025, volume penjualan tembaga ditargetkan sekitar 770 ribu ton. Namun realisasinya hanya sekitar 537 ribu ton hingga akhir tahun. Adapun untuk emas, target produksi dalam RKAB adalah 67 ton. Namun akibat insiden produksi emas hanya tercapai sekitar 34 ton atau setengah dari target.
Meskipun produksi tembaga turun 30 persen dan emas anjlok 50 persen dibanding rencana, Tony mengatakan pendapatan Freeport justru terbantu oleh melonjaknya harga komoditas. Dalam RKAB 2025, harga tembaga diasumsikan US$3,75 per pound. Saat ini, harga sudah mencapai US$4,46 per pound.
“Dengan kenaikan harga tersebut, pendapatan tembaga masih bisa tumbuh 19 persen di atas rencana meski produksinya hanya 70 persen,” ujar Tony. Harga emas juga berada di atas proyeksi US$1.900 per troy ounce sehingga ikut memperkuat pendapatan.
Sebelumnya, Freeport McMoRan selaku induk perusahaan PTFI menargetkan operasi tambang bawah tanah Grasberg Block Cave kembali berjalan normal pada kuartal II 2026. Perusahaan saat ini mempercepat proses pemulihan setelah insiden yang sempat menghentikan sebagian aktivitas.
“Tim kami berkomitmen memulihkan produksi berskala besar dan berbiaya rendah di Grasberg secara aman, efisien, dan bertanggung jawab. Kami telah memasukkan pelajaran dari insiden tragis baru-baru ini ke dalam rencana ke depan dan menerapkan sejumlah inisiatif untuk mengatasi kondisi yang memicu insiden tersebut,” kata Presiden dan CEO Freeport Kathleen Quirk dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 19 November 2025.
Sebelumnya, PTFI telah kembali memproduksi bijih dari tambang bawah tanah Deep Mill Level Zone dan Big Gossan sejak akhir Oktober 2025. Kedua area tersebut tidak terdampak insiden dan menjadi tumpuan produksi sementara.
Quirk memperkirakan produksi tembaga dan emas PTFI pada 2026 tidak jauh berbeda dari proyeksi 2025. Sepanjang tahun itu, PTFI menargetkan produksi sekitar 1 miliar pon tembaga dan 0,9 juta ons emas.
Produksi diperkirakan terus meningkat sepanjang 2026 dan 2027. Untuk periode 2027 hingga 2029, rata-rata produksi tahunan ditargetkan mencapai 1,6 miliar pon tembaga dan 1,3 juta ons emas.
Quirk menambahkan perusahaan menjadwalkan konferensi bersama analis sekuritas hari ini pukul 10.00 waktu Eastern. Dalam agenda tersebut, manajemen akan memaparkan perkembangan penanganan insiden, rencana operasi ke depan, serta pembaruan bisnis global FCX. Siaran langsung dan materi presentasi tersedia melalui fcx.com, sementara rekamannya dapat diakses hingga 19 Desember 2025.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan telah menyelesaikan proses evaluasi dan menerbitkan izin operasi untuk dua lokasi tersebut. Meski longsor tidak berdampak langsung pada DMLZ dan Big Gossan, Freeport memilih menghentikan seluruh kegiatan demi keselamatan pekerja. “Sekarang blok DMLZ dan Big Gossan sudah beroperasi,” kata Tri kepada wartawan di kompleks DPR, Kamis, 13 November 2025.
Menurut Tri, produksi dari dua tambang itu akan mengalir ke smelter Freeport di Gresik, Jawa Timur. Fasilitas pengolahan emas tersebut sempat kekurangan pasokan setelah seluruh kegiatan penambangan dihentikan.
Ia mengakui volume dari DMLZ dan Big Gossan belum mencukupi kebutuhan penuh smelter. Namun hal itu memberi angin segar bagi keberlanjutan program hilirisasi.
Longsor di tambang bawah tanah GBC terjadi pada Senin, 8 September 2025. Insiden ini menewaskan tujuh pekerja dan membuat produksi terhenti hampir satu bulan. Pencarian korban berlangsung selama 27 hari sebelum perusahaan mulai memulihkan operasi secara bertahap.
Freeport memproduksi bijih konsentrat rata-rata pada 2024 mencapai 208.356 ton per hari, mencakup tembaga, emas, dan perak. Adapun GBC merupakan kontributor terbesar dengan produksi konsentrat sekitar 133.800 ton per hari atau 64 persen dari total kapasitas. Sementara blok DMLZ memproduksi sekitar 64.900 ton per hari dan Big Gossan sekitar 8.000 ton per hari.