#30 tag 24jam
RUPST Temas setujui bagikan dividen Rp228 miliar
Perusahaan jasa transportasi laut PT Temas Tbk (TMAS) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) menyepakati pembagian dividen sebesar Rp228 miliar untuk ... [511] url asal
#pt-temas-tbk #tmas #temas #pelabuhan #jasa-angkutan-laut #pt-temas
Kualitas layanan dan keselamatan armada tetap menjadi prioritas perseroan mengacu pada standar industri pelayaran nasional maupun internasional
Jakarta (ANTARA) - Perusahaan jasa transportasi laut PT Temas Tbk (TMAS) dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) menyepakati pembagian dividen sebesar Rp228 miliar untuk tahun buku 2025.
Dividen perseroan setara Rp4 per lembar saham atau sekitar 40 persen dari laba bersih yang sebesar Rp553 miliar untuk tahun buku 2025.
“Untuk tahun buku 2025, besaran dividen telah mendapat persetujuan,” ujar Direktur Utama TMAS Ricky Effendi dalam Paparan Publik usai penyelenggaraan RUPST di Jakarta, Selasa.
Ricky mengatakan perseroan optimistis dalam meneruskan pilar strategi yang telah dicanangkan untuk tahun 2026, dengan berbagai langkah strategis seperti penambahan/peremajaan armada baru dan pengembangan kapal ramah lingkungan akan terus dilanjutkan.
Selama 2025, perseroan telah menambah netto sebanyak tujuh kapal baru, yang mendorong peningkatan kapasitas angkutan sebesar 17 persen, sehingga armada kini mencapai 57 unit kapal dengan kapasitas angkut 28.542 TEUs dan bobot mati 464.701 DWT.
“Selain itu, rata-rata usia kapal juga semakin membaik, dari 15 tahun pada 2023 menjadi 14 tahun pada 2024 dan turun menjadi 13 tahun pada 2025,” ujar Ricky.
Dalam kesempatan sama, Direktur Business Development TMAS Ganny Zheng memastikan perseroan akan terus terus memperkuat ekspansi bisnis di tengah pertumbuhan industri angkutan kontainer nasional.
Untuk mendukung pengembangan kapasitas operasional, perseroan menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp2,5 triliun pada tahun 2026.
“Sebagian besar capex akan dialokasikan untuk pembelian kapal baru guna meningkatkan kapasitas angkutan, peremajaan armada, pengadaan alat penunjang kegiatan pelabuhan, serta pembangunan infrastruktur pelabuhan,” ujar Ganny.
Memasuki tahun 2026, perseroan berkomitmen melanjutkan ekspansi armada sebagai bagian dari strategi skalabilitas operasional, dengan fokus utama meningkatkan kapasitas layanan sekaligus menjaga efisiensi dan daya saing perusahaan.
“Perseroan juga tengah mempersiapkan operasional pabrik LNG yang ditargetkan mulai beroperasi pada semester II-2026. Selain itu, kami terus memperluas layanan logistik terintegrasi serta melanjutkan kerja sama BOT dengan PT Pelindo Terminal Petikemas untuk perluasan dermaga di Tanjung Priok dari 340 meter menjadi 485 meter sebagai fondasi kapasitas jangka panjang,” ujar Ganny.
Untuk tahun 2026, perseroan menargetkan pendapatan jasa sebesar Rp5,53 triliun atau tumbuh lebih dari 27 persen dibandingkan realisasi pendapatan tahun 2025 yang mencapai Rp4,34 triliun.
Untuk mendukung target tersebut, perseroan akan mengoptimalkan ekspansi kapasitas yang telah dijalankan bertransformasi menjadi mesin-mesin pertumbuhan, salah satunya dengan pembukaan rute baru dan meningkatkan load factor setiap kapal.
“Kualitas layanan dan keselamatan armada tetap menjadi prioritas perseroan mengacu pada standar industri pelayaran nasional maupun internasional,” ujar Ganny.
Terkait perkembangan geopolitik global, Ganny memastikan perseroan tetap mawas diri dan senantiasa akan terus mencermati, termasuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Meski konflik tersebut tidak berdampak langsung terhadap bisnis perseroan, namun kondisi geopolitik internasional menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi volatilitas harga bahan bakar dan dinamika rantai pasok global.
Pada tahun 2025, TMAS mencatatkan total pendapatan jasa sebesar Rp4,34 triliun, dengan laba bersih tercatat sebesar Rp553 miliar.
Total aset perseroan tercatat meningkat menjadi Rp5,29 triliun pada akhir 2025, yang mencerminkan solidnya posisi keuangan Perseroan dan besarnya potensi pertumbuhan ke depan.
Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Hasil RUPS TMAS Bagi Dividen Rp228 Miliar, Setara 40% Laba
Emiten pelayaran PT Temas Tbk. (TMAS) membagikan dividen Rp228 miliar atau 40% dari laba 2025. [458] url asal
#dividen-tmas #rups-tmas #dividen-temas-tbk #laba-bersih-temas #pendapatan-jasa-tmas #armada-kapal-tmas #strategi-ekspansi-tmas #kapasitas-angkut-tmas #pelayaran-domestik-indonesia #jaringan-layanan-tm
(Bisnis.Com - Market) 02/06/26 11:34
v/237339/
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pelayaran dan jasa transportasi laut PT Temas Tbk. (TMAS) memutuskan membagikan dividen tunai sebesar Rp228 miliar atau Rp4 per saham kepada pemegang saham untuk tahun buku 2025.
Nilai dividen tersebut setara sekitar 40% dari laba bersih perseroan pada 2025. Keputusan pembagian dividen telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Selasa (2/6/2026).
Direktur Utama Temas Ricky Effendi mengatakan perseroan memiliki kebijakan untuk membagikan dividen kas kepada pemegang saham sekurang-kurangnya satu kali dalam setahun.
"Sesuai kebijakan perseroan, rasio pembayaran dividen terhadap laba bersih tahun berjalan adalah 30% apabila laba bersih melebihi Rp30 miliar. Untuk tahun buku 2025, besaran dividen telah mendapat persetujuan RUPST," ujarnya dalam paparan publik usai RUPST, Selasa (2/6/2026).
Di tengah tantangan industri pelayaran, TMAS membukukan pendapatan jasa sebesar Rp4,34 triliun pada 2025, naik tipis 0,1% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh peningkatan pendapatan domestik yang mencapai Rp4,13 triliun atau tumbuh 2,5% dibandingkan Rp4,03 triliun pada 2024.
Sementara itu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp553 miliar pada 2025, turun 23,3% dibandingkan Rp722 miliar pada tahun sebelumnya.
Ricky menjelaskan penurunan laba terutama dipengaruhi oleh tidak adanya laba pelepasan aset tetap yang signifikan seperti yang tercatat pada 2024. Selain itu, volatilitas harga bahan bakar bunker turut menekan margin kotor perseroan yang turun menjadi Rp797 miliar dari Rp900 miliar pada tahun sebelumnya.
Meski demikian, posisi keuangan perseroan tetap menunjukkan penguatan. Total aset TMAS meningkat 19,9% menjadi Rp5,29 triliun pada akhir 2025, dibandingkan Rp4,41 triliun pada akhir 2024.
Ricky mengatakan perseroan optimistis menghadapi 2026 dengan melanjutkan berbagai strategi ekspansi dan modernisasi armada. Menurutnya, sepanjang 2025 TMAS menambah secara neto tujuh armada kapal baru yang mendorong peningkatan kapasitas angkut sebesar 17%.
"Menghadapi tahun 2026, perseroan optimistis dalam meneruskan pilar strategi yang telah dicanangkan. Berbagai langkah strategis seperti penambahan dan peremajaan armada baru serta pengembangan kapal ramah lingkungan terus dilanjutkan," katanya.
Hingga akhir 2025, TMAS mengoperasikan 57 unit kapal dengan kapasitas angkut mencapai 28.542 TEUs dan bobot mati (deadweight tonnage/DWT) sebesar 464.701 ton. Perseroan juga memiliki lebih dari 40.000 unit peti kemas yang mendukung operasional logistik nasional.
Selain memperbesar kapasitas, kualitas armada juga terus ditingkatkan. Rata-rata usia kapal berhasil ditekan dari 15 tahun pada 2023 menjadi 14 tahun pada 2024 dan kembali turun menjadi 13 tahun pada 2025.
Saat ini, jaringan layanan TMAS menjangkau 68 pelabuhan yang tersebar dari wilayah barat hingga timur Indonesia, memperkuat posisi perseroan sebagai salah satu operator pelayaran domestik terintegrasi di Tanah Air.
Ecosperity Week 2026 di Singapura, Menko AHY Ungkap Kunci Ketahanan dan Infrastruktur Berkelanjutan Asia
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menghadiri Ecosperity Week 2026 yang diselenggarakan Temasek... | Halaman Lengkap [519] url asal
#agus-harimurti-yudhoyono-ahy #pembangunan-berkelanjutan #temasek #pembangunan-infrastruktur #menko-infrastruktur-dan-pembangunan-kewilayahan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 19/05/26 22:38
v/225556/
SINGAPURA - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menghadiri Ecosperity Week 2026 yang diselenggarakan Temasek di Singapura pada 18-19 Mei 2026. Dalam forum internasional tersebut, Menko AHY menyampaikan pesan kunci mengenai pentingnya memperkuat ketahanan kawasan dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Asia di tengah tantangan perubahan iklim, tekanan geopolitik, serta kebutuhan pembangunan yang semakin kompleks.Kehadiran Menko AHY pada forum global ini merupakan undangan langsung dari Chairman Temasek, Teo Chee Hean, sebagai bentuk apresiasi terhadap peran strategis Indonesia dalam agenda pembangunan berkelanjutan dan penguatan ketahanan kawasan Asia.
Ecosperity Week merupakan forum tahunan unggulan Temasek yang mempertemukan para pengambil kebijakan, investor, inovator, serta pemimpin sektor publik dan swasta dari berbagai negara untuk membahas solusi nyata menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, forum ini dihadiri sekitar 4.000 peserta, baik secara langsung maupun virtual.
Menko AHY Paparkan Empat Prioritas Pembangunan Infrastruktur di 2025
Forum tahun ini turut menghadirkan sejumlah tokoh dan pemimpin global dari sektor investasi, keuangan, teknologi, energi, keberlanjutan, dan infrastruktur, di antaranya Chairman Temasek Teo Chee Hean, Chairman Rio Tinto Dominic Barton, Chair of the UN High-Level Expert Group on Net-Zero Commitments Catherine McKenna, Director Potsdam Institute for Climate Impact Research Prof. Dr. Johan Rockström, Chairman India Temasek sekaligus mantan CEO DBS Piyush Gupta, Chairman Surbana Jurong Chaly Mah, serta perwakilan berbagai institusi global seperti BlackRock, Google, DBS, Amundi, BloombergNEF, dan World Bank Group.

Rangkaian agenda Menko AHY dimulai pada Minggu (18/5/2026) dengan menghadiri Opening Dinner Ecosperity Week 2026 yang mempertemukan para pemimpin dunia usaha, investor, pemerintah, dan tokoh global dalam forum networking strategis.
Selanjutnya pada Senin (19/5/2026), Menko AHY dijadwalkan melakukan courtesy meeting dengan Chairman Temasek, Teo Chee Hean, guna membahas peluang kerja sama strategis di bidang pembangunan infrastruktur berkelanjutan, ketahanan kawasan pesisir, konektivitas, serta penguatan kemitraan investasi Indonesia–Singapura.
Menko AHY dan Angela Tanoesoedibjo Tegaskan Pentingnya Peran Media dalam Pembangunan
Usai pertemuan tersebut, Menko AHY akan memberikan keynote address pada sesi utama Innovation Day Plenary Ecosperity Week 2026 di Marina Bay Sands Convention Centre, Singapura, dengan tema “From Coastlines to Common Ground: Building a Resilient and Sustainable Asia.”
Dalam pidatonya, Menko AHY akan menyoroti pentingnya kolaborasi lintas negara untuk membangun infrastruktur yang tangguh, hijau, inklusif, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia dinilai memiliki pengalaman dan perspektif strategis dalam pembangunan kawasan pesisir, konektivitas antarpulau, ketahanan pangan, air, dan energi, hingga pengembangan infrastruktur yang resilien terhadap perubahan iklim.
Kehadiran Menko AHY dalam forum ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu mitra penting dalam percakapan global mengenai masa depan pembangunan berkelanjutan di Asia.
Partisipasi Indonesia dalam Ecosperity Week 2026 juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam mendorong pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan, ketahanan, dan pemerataan pembangunan. Sejalan dengan visi pembangunan nasional, infrastruktur dipandang sebagai fondasi penting untuk memperkuat daya saing bangsa sekaligus memastikan tidak ada wilayah yang tertinggal.
Selain menjadi ajang pertukaran gagasan dan pengalaman global, keikutsertaan Menko AHY dalam Ecosperity Week 2026 diharapkan dapat memperluas peluang kerja sama internasional dan menarik investasi berkualitas guna mendukung agenda pembangunan Indonesia ke depan.
TMAS Bergerak di Bidang Apa? Ini Deretan Bisnis dan Pemilik Perusahaannya
Perusahaan ini didirikan pada 1987 dengan nama PT Tempuran Emas oleh Harto Khusumo, Wong Chau Lin, dan Koentojo. [434] url asal
#tmas #saham-tmas #temas #angkutan-laut #tmas-bergerak-di-bidang-apa
(IDX-Channel - Market News) 02/01/26 17:30
v/91670/
IDXChannel—TMAS bergerak di bidang apa? PT Temas Tbk (TMAS) tercatat sebagai emiten transportasi dan logistik, TMAS adalah perusahaan perkapalan yang menjalankan bisnis angkutan laut.
Melansir laman resmi TMAS (2/1/2026), perusahaan ini didirikan pada 1987 dengan nama PT Tempuran Emas oleh Harto Khusumo, Wong Chau Lin, dan Koentojo. Awalnya Temas menyediakan layanan peti kemas angkutan laut dengan armada sewaan.
Namun seiring perkembangan usahanya, perseroan berhasil menambah armadanya sendiri. Enam belas tahun setelah beroperasi, perseroan mencatatkan sahamnya secara perdana di Bursa Efek Indonesia.
Perseroan kini menyediakan tiga solusi transportasi dan logistik. Yakni solusi pelabuhan, solusi pengiriman, dan solusi depot. Solusi pelabuhan untuk layanan bongkar muat, penerimaan dan pengiriman peti, pergudangan serta distribusi, dan lain-lain.
Layanan pelabuhan diberikan oleh salah satu anak usaha perseroan, yakni PT Temas Port. Lalu solusi pengiriman menyediakan layanan pengiriman barang lewat peti kemas dan jalur laut, dilayani oleh PT Temas Shipping.
Layanan angkutan laut perseroan saat ini didukung oleh 51 kapal yang telah bersertifikat ISM, serta lebih dari 42.000 unit peti kemas. TMAS juga memiliki 60 pelabuhan terhubung dalam jaringan logistiknya.
Solusi depot menyediakan layanan pengelolaan peti kemas, ditangani oleh PT Temas Depot. Perseroan memiliki 10 depot di Jakarta, Surabaya, Makasar, Bitung, dan Belawan untuk melayani kebutuhan konsumen untuk penyimpanan, pergudangan, trucking peti kosong, dan sebagainya.
TMAS menerima angkutan barang dengan aneka jenis. Mulai dari kendaraan bermotor, barang kebutuhan pokok, bahan bangunan, barang elektronik, obat-obatan, makanan dan minuman, dan sebagainya.
Saat ini, perseroan memiliki tujuh entitas anak yang menangani seluruh lini bisnis perusahaan. Dari anak usaha itu, TMAS memiliki delapan entitas anak lainnya dengan kepemilikan tidak langsung.
TMAS Bergerak di Bidang Apa? Informasi Kepemilikan Sahamnya
TMAS mencatatkan sahamnya secara perdana di bursa pada 2003 dengan melepas 55 juta saham di harga penawaran Rp550 per saham. Dari IPO ini perseroan mengantongi Rp30,25 miliar.
Sesuai laporan bulanan registrasi pemegang efek, per 30 November 2025 pengendali saham TMAS adalah PT Temas Lestari dan Harto Khusumo dengan kepemilikan masing-masing sebanyak 47,73 miliar dan 12,32 juta saham.
Jumlah kepemilikan itu setara dengan 83,66 persen dan 0,022 persen. Sementara masyarakat (non-warkat) tercatat memiliki 8,48 miliar saham, atau setara dengan 14,87 persen dari total saham terdaftar.
Adapun penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham TMAS, atau pemilik perusahaan, adalah Harto Khusumo selaku salah satu pendiri perusahaan. Dia juga kini menjabat sebagai komisaris utama perusahaan.
Pada perdagangan Jumat 2 Januari 2026, TMAS ditutup di harga Rp164 per saham, naik 17,99 persen dari pembukaan. Sepanjang 2025, saham ini mencatatkan penurunan tipis sebesar 3,60 per saham.
Itulah informasi singkat tentang TMAS bergerak di bidang apa.
(Nadya Kurnia)
Gencar Terbitkan Obligasi, Raksasa SWF Dunia Masuki Babak Baru
SWF dulu mengandalkan suntikan modal dari pemerintah tetapi kini aktif mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk lewat penerbitan obligasi. [2,115] url asal
#manajemen-kekayaan #sovereign-wealth-fund #pendanaan-alternatif #investasi #temasek-holdings #diversifikasi-aset #pasar-obligasi #ekonomi-global #obligasi #swf
(CNBC Indonesia - Research) 07/09/25 19:06
v/39987/
Jakarta, CNBC Indonesia- Sovereign Wealth Fund (SWF) terus berevolusi mengikuti kebutuhan jaman. Jika dulu hanya mengandalkan suntikan modal dari pemerintah, kini sejumlah SWF mulai aktif mencari sumber pendanaan alternatif, termasuk lewat penerbitan obligasi.
Istilah "sovereign wealth fund" baru diciptakan pada tahun 2005, namun dana kekayaan negara telah ada setidaknya sejak tahun 1950-an. Pada bentuk awalnya, SWF sering dimulai sebagai dana stabilisasi komoditas.
Kuwait Investment Authority (KIA) yang didirikan pada 1953 merupakan salah satu SWF awal yang digunakan untuk mengelola kekayaan minyak Kuwait yang saat itu sedang berkembang pesat.
KIA didirikan untuk mengelola surplus pendapatan minyak dan mempersiapkan negara menghadapi era pasca-minyak. Dana ini menggunakan pendapatan dari ekspor minyak untuk diinvestasikan ke luar negeri, dengan tujuan mendiversifikasi ekonomi Kuwait dan melindungi generasi mendatang.
Sejak lahir pada 1950an, SWF sudah berkembang pesat. SWF kini berperan dalam diversifikasi aset, peningkatan imbal hasil cadangan devisa, hingga pembiayaan masa depan.
Jika pada tahun 2000, SWF mengelola aset senilai US$ 1,2 triliun, tetapi jumlah itu melonjak lebih dari 11 kali lipat menjadi US$12-13 triliun per pertengahan 2025.
SWF Melebarkan Strategi Pendanaan
Seiring perkembangan jaman dan kebutuhan, SWF pun melebarkan strategi pendanaan. Bila dulu sumber pendanaan SWF berasal dari pendapatan sumber daya alam tetapi kini banyak yang memanfaatkan obligasi sebagai salah satu instrumennya.
Pembiayaan melalui obligasi ini memungkinkan dana tumbuh lebih besar dan meningkatkan kapasitas investasinya, sehingga SWF lebih fleksibel dalam melakukan ekspansi portofolio.
Temasek Holdings (Singapura) menjadi salah satu yang pertama kali aktif menerbitkan obligasi melalui Global Medium Term Note (GMTN) Programme sejak 2005. Temasek menggunakan instrumen obligasi ini untuk mendiversifikasi pendanaan, bukan hanya mengandalkan modal pemerintah.
Setelah Temasek, barulah disusul SWF lain seperti Mubadala (UAE) yang menerbitkan obligasi pada akhir 2000-an.
Pendanaan dengan bond memungkinkan SWF memperoleh modal tambahan di luar pemerintah. Partisipasi SWF di pasar obligasi baik sebagai penerbit maupun investo rmendorong pertumbuhan dan pendalaman pasar obligasi domestik.
Kehadiran SWF memberikan benchmark serta meningkatkan kepercayaan investor lain, sehingga pasar keuangan lokal menjadi lebih likuid, stabil, dan mampu menyediakan sumber pendanaan alternatif bagi sektor publik maupun swasta.
Beirkut beberapa SWF yang aktif menerbitkan obligasi:
Temasek Singapura
Temasek adalah lembaga investasi milik pemerintah Singapura yang telah berdiri sejak 1974.
Temasek awalnya ditugaskan mengelola aset strategis Singapura di sektor transportasi, telekomunikasi, dan keuangan, sebelum berkembang menjadi lembaga investasi global dengan portofolio yang terdiversifikasi.
Temasek pertama kali menerbitkan surat utang pada 21 September 2005 senilai US$1,75 miliar dengan tenor 10 tahun dan kupon 4,5%. Penerbitan perdana ini bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pendanaan investasi, melainkan juga untuk membangun rekam jejak kredit langsung di pasar global serta memperluas basis investor..
Melansir dari situs resmi Temasek, hingga 31 Maret 2025, Temasek memiliki total outstanding senilai US$20,2 miliar untuk Temasek Bonds dan US$0,4 miliar untuk Euro Commercial Paper (ECP). Obligasi tersebut memiliki rata-rata jatuh tempo tertimbang lebih dari 18 tahun, sementara ECP di atas dua bulan. Temasek hingga kini berhasil mempertahankan peringkat kredit AAA dari S&P dan Moody's.
Adapun penerbitan terakhir dilakukan pada 20 Agustus 2025 yang terdiri dari surat utang senilai US$750 juta fixed rate tenor 2 tahun dengan kupon 3,75%, dan US$750 juta floating rate tenor 2 tahun dengan acuan SOFR + 38 basis poin. Strategi dual-tranche ini dinilai memberikan fleksibilitas pendanaan sekaligus mengantisipasi volatilitas pasar global.
Khazanah Malaysia
Khazanah Nasional Berhad adalah lembaga investasi milik pemerintah Malaysia yang telah berperan penting dalam mengelola aset strategis nasional sejak berdiri pada 1994.
Saat itu, Khazanah diberi mandat untuk memegang peran sebagai kustodian aset komersial pemerintah sekaligus berinvestasi di sektor strategis khususnya sektor yang berteknologi tinggi.
Memasuki 2004, Khazanah mulai menempuh strategi investasi yang lebih luas dan aktif, dengan meningkatkan kinerja portofolio inti sekaligus membidik peluang di sektor ekonomi baru maupun kawasan internasional.
Khazanah mulai menerbitkan surat utang senilai US$414,5 juta dengan tenor 5 tahun dan kupon 1,95% pada 2004. Instrumen tersebut berbentuk exchangeable notes yang dapat ditukar dengan saham PLUS Expressway Berhad. Penerbitan perdana ini menjadi pijakan penting bagi Khazanah dalam membangun rekam jejak kredit global sekaligus mendiversifikasi sumber pendanaan.
Sejak saat itu, Khazanah rutin menerbitkan obligasi dan sukuk baik di pasar domestik maupun internasional.
Sejumlah inovasi pun dihadirkan, mulai dari exchangeable sukuk berbasis saham IHH Healthcare pada 2013, hingga Sukuk SRI pada 2015 dan 2017 yang menjadi pionir penawaran ritel di Malaysia. Sukuk SRI tersebut bahkan mengusung konsep impact investing, memungkinkan masyarakat ikut berinvestasi sambil mendukung program pendidikan nasional.
Secara total, sejak 2004 hingga 2025, Khazanah telah menerbitkan lebih dari 10 seri surat utang dalam berbagai denominasi mata uang, termasuk dolar AS, dolar Singapura, dan ringgit. Nilai penerbitan mencapai miliaran dolar AS, dengan tenor bervariasi dari jangka pendek hingga panjang.
Adapun penerbitan terbaru pada 2024, Khazanah kembali menembus pasar internasional dengan dua seri obligasi senilai total US$1 miliar. Rinciannya, US$500 juta tenor 5 tahun kupon 4,484% dan US$500 juta tenor 10 tahun kupon 4,759%.
Dana segar dari penerbitan ini digunakan untuk memperkuat likuiditas sekaligus memperluas basis pendanaan, sejalan dengan mandat Khazanah dalam mendukung pembangunan ekonomi Malaysia dan memperkuat posisinya di pasar keuangan global.
PIF Arab Saudi
Public Investment Fund (PIF) berdiri pada 1971 dengan mandat mendirikan perusahaan-perusahaan penting bagi perekonomian Arab Saudi. Banyak di antaranya kemudian berkembang menjadi "national champions" yang menopang industrialisasi dan modernisasi ekonomi Kerajaan.
Momentum besar terjadi pada Maret 2015, ketika Dewan Menteri Saudi menerbitkan Resolusi 270 yang menempatkan PIF di bawah Council of Economic and Development Affairs (CEDA) dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebagai ketua.
Sejak saat itu, PIF bertransformasi menjadi mesin penggerak utama Vision 2030, dengan peran yang lebih mandiri dan strategi lebih jelas untuk menciptakan perubahan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
Dalam perjalanannya, PIF juga masuk ke pasar utang internasional untuk mendukung ekspansi investasinya.
Penerbitan obligasi perdana dilakukan pada Oktober 2022, berupa green bond global senilai US$3 miliar yang terbagi dalam tiga bondyang masing-masing senilai US$1,25 miliar tenor 5 tahun, US$1,25 miliar tenor 10 tahun, dan US$500 juta tenor 100 tahun.
Penerbitan ini menjadi tonggak sejarah karena sekaligus menjadikan PIF sebagai sovereign wealth fund pertama di dunia yang menerbitkan green bond dengan tenor 100 tahun. Dana hasil penerbitan diarahkan untuk mendukung proyek hijau dan keberlanjutan, termasuk energi terbarukan dan pembangunan giga-project seperti NEOM.
Sejak debut itu, PIF terus aktif mengakses pasar global, menerbitkan berbagai instrumen termasuk sukuk, obligasi konvensional, hingga obligasi berdenominasi sterling. Sepanjang 2024 saja, total penerbitan PIF hampir menembus US$10 miliar, menunjukkan kepercayaan investor internasional terhadap kekuatan fundamental Saudi.
Adapun penerbitan terbaru dilakukan pada April 2025, ketika PIF meluncurkan sukuk internasional senilai US$1,25 miliar dengan tenor 7 tahun melalui struktur Wakala.
Instrumen ini disambut luar biasa oleh investor dengan permintaan lebih dari 6 kali lipat. Dana hasil penerbitan digunakan untuk mendiversifikasi basis pendanaan sekaligus mendukung pembiayaan proyek-proyek strategis berkelanjutan yang sejalan dengan agenda Vision 2030.
Turkey Wealth Fund (Turkiye)
Turkey Wealth Fund (TWF) didirikan pada 26 Agustus 2016 sebagai Sovereign Wealth Fund (SWF) milik Pemerintah Turkiye. TWF lebih berfokus untuk mengelola aset strategis negara dan meningkatkan nilai aset melalui investasi domestik & internasional. TWF juga berfungsi sebagai Menjadi "stabilisator" ekonomi Turki, terutama ketika terjadi guncangan pasar atau defisit.
TWF adalah dana investasi milik negara yang memanfaatkan aset milik publik untuk investasi strategis, dan menerbitkan obligasi untuk mengumpulkan modal terutama untuk refinancing dan investasi yang memperkuat infrastruktur ekonomi dan pasar keuangan Turki.
TWF memegang kepemilikan besar saham-saham dalam berbagai sektor, dengan porsi terbesar di sektor perbankan sebanyak 72,97% dari total kepemilikan. Bank-bank yang sahamnya dimiliki oleh TWF seperti Ziraat Bank, Halkbank, dan Vakıfbank.
Selain perbankan, TWF juga memiliki porsi saham di sektor telekomunikasi, minyak dan gas seperti Turkish Petroleum (TPAO), BOTAŞ (gas), dan Turkish Petroleum Refineries (Tüpraş), sektor transportasi seperti Turkish Airlines (THY), serta sektor infrastruktur.
Tercatat bahwa TWF telah beberapa kali menerbitkan obligasi. Pada Februari 2024, TWF menerbitkan obligasi pertamanya berupa eurobond. Sebagai catatan, eurobond adalah jenis obligasi yang menggunakan mata uang selain mata uang negara penerbit obligasi.
TWF menerbitkan eurobond sebesar US$500 juta dengan jatuh tempo 5 tahun dan tingkat kupon 8,375%. Penerbitan ini sangat sukses dengan tingkat kelebihan permintaan lebih dari 14 kali, menunjukkan kepercayaan kuat dari investor internasional. Selain itu, TWF menerbitkan Sukuk (obligasi syariah) sebesar 750 juta dolar AS pada Oktober 2024, menandai langkah pertama masuknya ke pasar Sukuk global.
Selain obligasi, TWF sempat menyepakati pembiayaan murabaha sebesar US$ 150 juta dengan Dubai Islamic Bank (jangka waktu 5 tahun) pada November 2024. TWF juga telah menyelesaikan pembiayaan Murabaha sebesar USD 600 juta melalui konsorsium yang dipimpin Kuwait Finance House pada Agustus 2025.
Mubadala Investment Company
Perusahaan investasi Mubadala adalah sebuah SWF milik pemerintah petrodollar Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang didirikan pada tahun 2017, hasil dari merger Mubadala Development Company dan perusahaan investasi sektor energi milik pemerintah, (International Petroleum Investment Company) IPIC.
Portfolio yang dikelola beragam jenisnya, termasuk teknologi, manufaktur, penerbangan, semikonduktor, energi bersih, infrastruktur, hingga properti. Alokasi portofolio terdiri dari ekuitas swasta (40%), pasar publik (23%), dan infrastruktur/real estate (17%). Mubadala secara aktif berinvestasi di sektor masa depan dan peluang pertumbuhan global.
Mubadala merupakan SWF terbesar kedua di Abu Dhabi, setelah Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dan di atas Abu Dhabi Developmental Holding Company (ADQ). Ketiganya diketahui mengelola aset sebanyak US$1,7 triliun secara total. Pengelolaan investasi oleh Mubadala menghasilkan return tahunan lima tahun sekitar 10,1%.
Mubadala fokus pada diversifikasi ekonomi Abu Dhabi, terlihat dari sektor-sektor seperti kecerdasan buatan (AI), energi bersih, dan manufaktur maju yang menjadi bagian dari portfolio Mubadala.
Mubadala juga mendiversifikasi sumber pendanaan melalui bond. Salah satu penerbitan obligasi pertama oleh Mubadala yang tercatat adalah penerbitan rogram obligasi global pada tahun 2009 senilai US$1,85 miliar sebagai langkah besar untuk mengurangi ketergantungannya pada pendanaan dari pemerintah Abu Dhabi. Sebagian besar obligasi ini dibeli oleh bank-bank AS dan Eropa dengan tenor yang didominasi periode lima dan sepuluh tahun
Sesaat sebelum merger, Mubadala melakukan penjualan obligasi dual-tranche senilai US$1,5 miliar pada April 2017, menandai langkah penting dalam upaya pengumpulan modalnya. Penawaran ini mencakup obligasi tujuh tahun senilai US$850 juta dengan kupon 3% dan obligasi dua belas tahun senilai US$650 juta dengan kupon 3,75%.
Obligasi terbaru yang diterbitkan oleh Mubadala adalah sukuk (obligasi syariah) senilai US$1 miliar dengan tenor 10 tahun dalam denominasi dolar AS. Sukuk yang diterbitkan pada Mei 2025 ini dipatok pada 60 basis poin di atas hasil US Treasury, mengimplikasikan adanya permintaan kuat dari para investor yang tergambar dari pesanan obligasi yang mengalami oversubscribed, yakni mencapai US$4,75 miliar.
Danantara Ikuti Tren Global
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan menerbitkan instrumen pembiayaan strategis berupa surat utang Patriot Bond.
Instrumen ini diketahui akan ditawarkan khusus kepada para konglomerat RI dan tidak tersedia untuk diserap oleh investor ritel. Penyerapan dana Patriot Bond sendiri nantinya akan dilakukan dengan mekanisme private placement.
Adapun total emisi yang akan diterbitkan adalah senilai Rp 50 triliun dan ditawarkan dalam dua tenor berbeda yakni 5 dan 7 tahun. Sementara itu kupon atau imbal hasil yang ditawarkan dikabarkan berada di level 2%.
Secara umum Danantara mengungkapkan penerbitan Patriot Bond ini bertujuan untuk memperkuat kemandirian pembiayaan nasional. Adapun secara lebih spesifik, emisi dari penerbitan surat utang spesial tersebut akan digunakan untuk mendukung proyek transisi energi, yakni pemanfaatan limbah menjadi energi (waste-to-energy). Selain itu Patriot Bond ini juga diharapkan dapat memperluas basis pembiayaan domestik.'=
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)