Bisnis.com, JAKARTA — Produsen baja lapis nasional, PT Tata Metal Lestari, berhasil menembus pasar Amerika Serikat dan Eropa di tengah ketatnya hambatan dagang global dan meningkatnya standar emisi karbon internasional.
Perseroan pada hari ini melepas ekspor baja lapis ke Amerika Serikat dan Polandia dari fasilitas produksinya di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Pelepasan ekspor itu dinilai menjadi tonggak penting bagi industri baja nasional karena untuk pertama kalinya produk baja lapis Indonesia memperoleh compliance certificate Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa.
“Untuk pertama kalinya, baja lapis Indonesia mendapatkan Pre-Validation Report atau CBAM,” ujar VP Operations Tata Metal Lestari Stephanus Koeswandi saat melepas ekspor baja lapis, Jumat (22/5/2026).
Industri baja Indonesia sebelumnya disebut memperoleh default value emisi karbon sebesar 8,2 tCO2 per ton produk dalam skema CBAM Uni Eropa. Namun, melalui proses verifikasi awal, Tata Metal Lestari mampu mencatatkan angka emisi sekitar 2,2 tCO2 per ton produk, setara dengan standar industri baja di Jepang dan negara maju lainnya.
Capaian itu membuka peluang lebih besar bagi produk baja nasional untuk masuk ke pasar Eropa yang kini menerapkan standar pelaporan emisi karbon secara ketat terhadap produk manufaktur impor.
Selain itu, produk ekspor TML juga menggunakan 100% baja substrat hasil proses melt and pour dalam negeri yang dipasok PT Krakatau Steel Tbk. Penggunaan bahan baku domestik tersebut dinilai memperkuat tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekaligus memenuhi tuntutan traceability pasar internasional, khususnya Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Dengan ini, lanjut Stephanus, TML ingin menunjukkan bahwa industri nasional masih memiliki peluang untuk ekspor di Tengah diberlakukannya kebijakan tarif Section 232 dan anti circumvention Amerika Serikat serta dinamika ekonomi global.
“Amerika menuduh kita menggunakan baja dari Vietnam maupun China. Tapi ini bisa kita buktikan bahwa hari ini, baja Indonesia 100% yang diproduksi di Indonesia, yang akan masuk ke Amerika. Bukan baja yang menggunakan circumvention,” tegasnya.
Adapun produk yang diekspor TML meliputi baja lapis aluminium seng (BJLAS) bermerek Nexalume, baja lapis seng (BJLS) Nexium, dan baja lapis warna Nexcolor.
Stephanus menyebut, pemilihan AS dan Eropa sebagai tujuan ekspor bukan tanpa alasan. Kedua pasar tersebut terbilang paling sulit ditembus pelaku industri baja global.
Oleh karena itu, bila baja nasional berhasil diekspor ke dua benua tersebut, pasar-pasar lain akan menjadi lebih mudah. “Tapi ini juga tidak terlepas karena adanya dinamika politik dan dinamika geopolitik yang banjirnya produk-produk impor, khususnya di Asia Tenggara yang membuat kita juga tidak bisa mengekspor ke dalam Asia Tenggara ini sendiri,” tambahnya.
Dengan dinamika tersebut, TML katanya tahun ini fokus untuk menyuplai baja lapis di Uni Eropa. Adapun sejak pecah perang Amerika Serikat dan Iran dalam tiga bulan terakhir, nilai ekspor perusahaan ke sejumlah negara pada tahun ini tercatat sekitar US$3,6 juta.
Angka tersebut terbilang turun dibandingkan periode ang sama tahun lalu senilai US$10 juta. “Dengan US$3,6 juta ini sudah cukup baik,” sebut Stephanus.
Ekspor ke Polandia sekaligus memperluas penetrasi pasar Eropa bagi Tata Metal Lestari. Sebelumnya, perusahaan telah mengekspor produk ke Amerika Serikat, Australia, Asia Tenggara, hingga Amerika Latin.
Sebagai bagian dari Tatalogam Group, Tata Metal Lestari diketahui memiliki fasilitas produksi di Cikarang dan Purwakarta dengan total kapasitas mencapai 345.000 metrik ton per tahun. Selain mengantongi berbagai sertifikasi nasional dan internasional, perusahaan juga menjalankan sejumlah inisiatif keberlanjutan seperti Environmental Product Declaration (EPD), pelaporan ESG, pelaporan CDP, hingga sertifikasi industri hijau.
Sementara itu, Direktur Komersial PT Krakatau Steel (KRAS) Hernowo mengatakan, kesinambungan ekspor menjadi penting untuk menjaga keberlangsungan industri baja nasional dari sektor hulu hingga hilir. Terlebih TML mampu meraih angka emisi sekitar 2,2 tCO2 per ton produk, pada verifikasi awal .
“Ini tentunya effort yang luar biasa, pengalamannya pasti sangat penting buat kita di industri baja. Saya apresiasi kemampuan ekspor Tata Metal masih terus berlangsung di tengah hambatan perdagangan yang semakin besar,” katanya.
Hernowo menambahkan Krakatau Steel akan terus mendukung pasokan bahan baku bagi industri baja antara, termasuk Tata Metal Lestari, guna mendukung target pengembangan industri steel making nasional hingga 1,5 juta ton per tahun.
Perseroan katanya ingin meningkatkan konsumsi baja nasional per kapita yang saat ini masih mencapai 65 kg per orang per tahun. Sementara negara tetangga seperti Malaysia sudah 150 kg ton per kapita per orang per tahun.
“Jadi di Asia Tenggara, konsumsi baja kita itu paling rendah hari ini. Padahal konsumsi baja adalah salah satu indikator kemajuan sebuah bangsa,” tegasnya.