Bisnis.com, JAKARTA — Owner & Managing Director Spentera Group, Thomas Gregory, meyakini manajemen perbankan dan perusahaan keuangan tetap akan menyiapkan dana untuk pertahanan digital lantaran anggaran keamanan siber memiliki sifat krusial dan bukan lagi sebuah pilihan.
Thomas berpendapat dampak kerugian dari serangan siber pada sektor jasa keuangan bersifat langsung. Keberadaan celah business logic, seperti manipulasi limit atau saldo, memberikan efek kerugian finansial nyata jika sampai kebobolan.
Nilai kehilangan tersebut diestimasi jauh lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran (spending) untuk kebutuhan pengujian keamanan siber.
Di sisi lain, aturan ketat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) terkait regulasi finansial mewajibkan kepemilikan sistem keamanan yang kuat, sehingga alokasi anggaran untuk cybersecurity harus tetap tersedia.
Oleh sebab itu, dia optimistis solusi Wolvesight yang diluncurkan perusahaan akan tetap digandrungi oleh perusahaan finansial di tengah rencana sejumlah perusahaan keuangan yang merevisi kembali prioritas belanja IT, termasuk perihal solusi keamanan siber.
“Kehadiran Wolvesight akan mempercepat proses pengujian dan mampu meng-cover aplikasi-aplikasi yang belum sempat dilakukan uji keamanan akibat antrean pengujian yang menumpuk yang tidak dapat dilakukan secara bersamaan,” kata Thomas kepada Bisnis, Jumat (5/6/2026).
Wolvesight merupakan sebuah platform aplikasi inovasi cyber security berbasis artificial intelligence (AI) karya anak bangsa. Platform ini membantu sektor industri, perbankan, keuangan digital, fintech, asuransi, dan perusahaan strategis lainnya dalam melakukan penetration testing serta mendeteksi celah keamanan dari alur bisnis aplikasi.
Thomas menyampaikan platform ini hadir untuk mengatasi kendala operasional yang selama ini dihadapi industri. Kerentanan terbesar dalam sistem keuangan digital tidak selalu berasal dari kode program yang jebol, melainkan dari alur transaksi, persetujuan, dan otorisasi yang tidak cukup kuat.
Selama ini, pengujian pada bagian tersebut masih sangat manual dan dapat memakan waktu berminggu-minggu. Target awal Wolvesight saat ini adalah membangun kepercayaan (trust) dan edukasi pasar melalui beberapa perusahaan yang menjadi early adopters.
“Wolvesight secara jangka panjang juga akan fokus pada edukasi untuk reshaping bisnis penetration testing. Jika dulu pentest sangat bergantung pada keahlian (expertise) orang secara manual, ke depan kita ingin mengombinasikan keduanya (AI dan manusia) agar prosesnya jauh lebih efisien dan akurat,” kata Thomas.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan keamanan siber kini menjadi fondasi utama yang harus diperkuat agar transformasi digital Indonesia dapat berjalan secara berkelanjutan, aman, dan inklusif sesuai visi Presiden Prabowo Subianto pada World Governments Summit 2025.
Teuku menilai Wolvesight menjadi bukti kemampuan Indonesia menghadirkan solusi digital inovatif yang kompetitif. Berbeda dari vulnerability scanner konvensional yang mendeteksi celah teknis seperti SQL Injection atau Cross-Site Scripting (XSS), Wolvesight dirancang khusus menguji keamanan alur bisnis.
Celah ini rawan disalahgunakan pelaku untuk memanipulasi nominal transaksi atau melakukan bypass persetujuan berjenjang. Melalui pendekatan multi-agent AI, platform ini bekerja otonom menyusun skenario serangan dan simulasi eksploitasi secara terkontrol, dengan validasi akhir yang tetap dikawal oleh senior pentester berpengalaman di sektor perbankan.