Bisnis.com, PADANG - Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Sumatra Barat menyebutkan perubahan iklim yang melanda di sejumlah wilayah di daerah itu menjadi salah satu penyebab menurunnya produksi cabai merah yang kini berdampak kepada inflasi Ranah Minang pada September 2025.
Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar, Afniwirman mengatakan melihat pada kondisi 2,5 bulan terakhir, cuaca yang terjadi di daerah-daerah sentra tanaman cabai merah di Sumbar mengalami gagal panen, dan kondisi ini diperparah adanya serangan hama.
“Kami telah turun ke lapangan, jadi para petani cabai merah ini mengaku kondisi cuaca yang dihadapi pada 2,5 bulan lalu itu, berada di luar dugaan. Sehingga tanaman cabai yang masih tumbuh itu, tidak bisa menghasilkan buah yang bagus. Parahnya lagi, ada serangan hama,” katanya, Rabu (15/10/2025).
Daerah yang menjadi sentra penghasil cabai merah di Sumbar ini, lanjut Afniwirman, Kabupaten Solok, Agam, Lima Puluh Kota, Padang Panjang, dan Tanah Datar. Sedangkan daerah lain seperti Kabupaten Pesisir Selatan, Solok Selatan, Padang Pariaman, hingga Kota Padang, sebenarnya juga ada kawasan pertanian cabai merah, hanya saja tidak dalam jumlah produksi yang luas.
Menurutnya dari sebaran kawasan pertanian cabai merah ini, sebagian besar mengalami gagal panen. Hal ini lah yang membuat pasokan ke pasar-pasar di dalam daerah di Sumbar menjadi sedikit.
Dia menyebutkan meski pemerintah daerah berupaya menjadi mencari tambahan pasokan cabai merah dari luar daerah seperti Kerinci, Medan, hingga di Pulau Jawa, ternyata juga belum bisa memaksimalkan pasokan cabai merah ke Sumbar.
“Akibat dari kondisi ini, pasokan cabai merah ke Sumbar sangat sedikit, dan membuat harga cabai merah naik signifikan. Situasi ini ternyata memiliki andil membuat Sumbar mengalami inflasi 4,22% (yoy) pada September 2025,” jelasnya.
Dari kondisi itu, kata Afniwirman, Dinas PTPH berupaya menyiapkan sejumlah langkah strategi dan solusi, agar persoalan rendahnya pasokan cabai merah ini bisa diatas dengan baik kedepannya.
Menurutnya mengingat tantangan yang dihadapi petani pada 2,5 bulan terakhir ini adalah soal perubahan cuaca yang berada di luar dugaan, Dinas PTPH menilai perlu menghadirkan inovasi yang dapat menjadi pedoman bagi petani, sehingga petani memiliki pedoman yang memberikan peluang yang bagus untuk mendapatkan hasil panen yang maksimal.
“Soal perubahan cuaca ini memang sulit diterka, karena cuaca ini adalah dorongan perubahan alam. Tapi bukan berarti kondisi ini dibiarkan begitu saja, kami melihat perlu untuk menghadirkan inovasi terkait pembaca perubahan cuaca ini. Kami berencana akan membahas ini bersama Bank Indonesia dan mencari dukungan ke pihak lainnya,” ujar dia.
Kemudian, Afniwirman bilang mengingat Sumbar tidak memiliki kawasan yang tetap sebagai wilayah pertanian cabai merah, perlu juga wilayah pertanian di Ranah Minang ini memiliki sebuah green house.
Dia menyampaikan kehadiran green house bisa membuat pertanian cabai merah lebih tahan dan dapat meningkatkan produktivitas cabai merah di Sumbar.
“Membangun green house ini kami telah menyampaikannya ke DPD RI, agar bisa menarik anggaran APBN untuk membangun sejumlah green house di Sumbar. Soal dimana saja sebaran greenhouse ini, kami telah memiliki pemetaannya,” tegas dia.
Dia menjelaskan green house yang dikenal sebagai bangunan khusus yang berfungsi sebagai tempat bercocok tanam dan membantu tanaman untuk tumbuh optimal sejak pembibitan, penyimpanan hingga proses budidaya, dan hal ini bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produksi cabai merah.
“Kami berharap dengan adanya kajian terkait kondisi yang telah terjadi itu, kedepan persoalan minimnya pasokan cabai merah ke pasar bisa diatasi,” tutupnya.