Bisnis.com, DENPASAR - Model pertumbuhan bisnis teknologi di Indonesia identik dengan venture capital, blitzscaling, dan valuasi. Namun ada model lain yang jarang mendapat sorotan yakni model pertumbuhan organik melalui diversifikasi entitas bisnis.
Arfadia menempuh jalur kedua. Didirikan pada 25 Februari 2008 dengan lima orang di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, perusahaan ini kini mempekerjakan lebih dari 120 profesional di tiga kantor (Jakarta, Bandung, Bali).
Yang membedakannya dari kebanyakan agency digital yakni Arfadia membangun struktur multi-entitas melalui subsidiary dan sub brand, bukan sekadar menambah klien dan headcount. Sebuah pendekatan yang lebih mirip perusahaan holding dibanding agency digital pada umumnya.
Tessar Napitupulu, pendiri Arfadia, adalah lulusan Teknik Informatika Universitas Bina Nusantara yang pernah menempuh pendidikan manajemen di PPM School of Management. Sebelum mendirikan perusahaan, ia bekerja sebagai IT Consultant di GFA Consulting Group untuk proyek Kementerian Sosial, lalu di UNDP penempatan Bappenas untuk program PNPM Mandiri.
Tujuh tahun pertama dijalankan tanpa investor, sebuah periode yang menurut Tessar membentuk disiplin finansial perusahaan. Pada 2015, Ariguna Napitupulu masuk sebagai capital investor pertama. Ekspansi layanan kemudian menghasilkan kontrak seperti campaign Gerakan Potong 10% Kementerian ESDM di 20 kota (2017), pengelolaan social media BPJS Ketenagakerjaan, dan Best Social Media Agency Award dari MIX/SWA pada 2019.
Pada 2019, Arfadia mendirikan Candi Digital Agency sebagai subsidiary yang beroperasi independen dan hingga kini masih aktif. Empat tahun kemudian, diluncurkan RankV sebagai sub-brand khusus segmen UMKM dengan paket layanan yang lebih terjangkau. Pendekatan multi-entitas seperti ini lebih umum ditemui di perusahaan konsultan besar, tapi jarang diterapkan oleh digital agency lokal yang biasanya beroperasi sebagai entitas tunggal.
"Pendekatan subsidiary itu keputusan yang sudah direncanakan. Setiap entitas punya model bisnis dan target pasar berbeda," kata Tessar. "Manajemen risiko juga lebih terpisah. Kalau satu entitas mengalami tekanan, yang lain tidak langsung terdampak. Tapi saya akui, mengelola multiple entities itu menambah kompleksitas operasional yang tidak sedikit." Jelas Arfadia dikutip dari siaran pers, Rabu (4/3/2026).
RankV beroperasi dengan pendekatan paketisasi layanan SEO dan social media management yang memungkinkan UMKM mengakses layanan profesional tanpa harga konsultasi premium. Model dual-market seperti ini, enterprise di atas dan UMKM di bawah, memerlukan manajemen brand yang hati-hati agar tidak terjadi kanibalisasi antar entitas.
"RankV itu respon terhadap permintaan pasar. Banyak UMKM butuh layanan digital marketing profesional tapi budgetnya terbatas,Kami tidak bisa melayani mereka dengan pricing enterprise. Apakah model dual-market ini optimal? Kami masih terus mengevaluasi," ujar Tessar.
Pada 2024, Yohan Agustian dari MEA Digital Marketing masuk sebagai co-investor dan advisor. Yohan dikenal sebagai praktisi social commerce dengan basis komunitas yang besar di kalangan pelaku UMKM digital. Masuknya Yohan menjadi funding round ketiga Arfadia setelah Ariguna Napitupulu (2015) dan periode organik sebelumnya.
"Yang pertama saya lihat bukan revenue tapi komposisi pendapatannya, Arfadia punya campuran jasa konsultasi, produk, dan subsidiary Candi Digital. Struktur seperti itu, secara teori, lebih tahan terhadap guncangan dibanding agency yang bergantung 100% pada satu lini jasa. Tapi teori dan praktik tidak selalu sama." Kata Yohan
Menurut Tessar kolaborasi dengan Yohan bukan sekadar tambahan modal. Yohan membawa perspektif social commerce dan koneksi ke ekosistem UMKM digital, ini melengkapi apa yang sudah ada di segmen enterprise dan institusional.
PT Arfadia Digital Indonesia juga tercatat sebagai pemegang Clutch Leader Award, penghargaan dari platform review B2B berbasis di Washington D.C. yang menggunakan metodologi penilaian gabungan review klien terverifikasi dan analisis kapabilitas perusahaan. Validasi dari platform internasional seperti ini menjadi salah satu instrumen yang digunakan klien global untuk mengevaluasi agency di negara berkembang, meskipun seberapa besar dampaknya terhadap akuisisi klien baru masih bervariasi.
Sejak 2023, Arfadia menawarkan layanan Generative Engine Optimization (GEO), optimasi visibilitas brand di platform AI. Perusahaan juga mengembangkan SIDIA (Sistem Edukasi Arfadia), software pendidikan yang terdaftar di Kominfo dan diimplementasikan di puluhan kabupaten/kota melalui DAK Pendidikan.
"Di industri yang setiap tahun ada puluhan agency bermunculan dan banyak yang hilang dalam dua-tiga tahun, 18 tahun bertahan itu patut dicatat, Tapi bertahan di masa lalu tidak menjamin bertahan di masa depan. Tantangan berikutnya justru lebih berat karena lanskap industrinya berubah total." Kata Yohan
Bagi industri digital agency Indonesia, model pertumbuhan Arfadia menawarkan studi kasus yang menarik, bahwa perusahaan jasa bisa tumbuh tanpa blitzscaling dan bisa diversifikasi melalui subsidiary dan sub-brand. Apakah model ini bisa direplikasi atau hanya relevan untuk konteks spesifik Arfadia, itu pertanyaan yang masih terbuka.