Bisnis.com, JAKARTA — Industri Kecil dan Menengah (IKM) konveksi menghadapi tantangan serius menjelang Ramadan dan Idul Fitri 2026 ketika momen puncak permintaan busana di pasar domestik. Lonjakan pesanan yang biasanya menjadi peluang peningkatan omzet justru terhambat oleh minimnya tenaga kerja penjahit yang terampil.
Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman mengatakan pelaku usaha konveksi skala kecil dan menengah saat ini kesulitan menjaga kapasitas produksi. Menurut dia, persoalan utama bukan pada permintaan, melainkan ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni di bidang menjahit.
“Krisis [penjahit] sudah mulai 2 bulan terakhir. Masih butuh kisaran 50% dari SDM yang tersedia saat ini secara keseluruhan, mengingat mesin-mesin jahit di pelaku usaha hanya terisi separuh,” kata Nandi kepada Bisnis, Jumat (30/1/2026).
Dia menjelaskan bahwa kebutuhan pasar terhadap produk fesyen muslim, seragam, dan busana keluarga meningkat signifikan setiap menjelang Lebaran. Namun, banyak pelaku usaha tidak mampu menerima seluruh pesanan karena keterbatasan tenaga produksi.
“Kami kesulitan mencari penjahit yang memiliki keterampilan dan pengalaman yang memadai untuk memenuhi standar kualitas yang tinggi,” tuturnya.
Nandi menilai kondisi ini dipicu oleh beberapa faktor struktural yang sudah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Profesi penjahit dinilai semakin kurang diminati generasi muda, sementara program pelatihan belum mampu mengejar kebutuhan industri.
Selain persoalan tenaga kerja, pelaku IKM konveksi juga menghadapi keterbatasan modal untuk memperbesar skala produksi. Mereka berharap ada keberpihakan kebijakan agar usaha kecil dapat berkembang dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.
“Kami memerlukan akses yang lebih mudah ke sumber permodalan yang dapat membantu kami meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi permintaan pasar,” terangnya.
Dukungan peningkatan keterampilan juga dinilai mendesak agar kualitas produk lokal mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif. Pelatihan teknis dan pendidikan vokasi disebut sebagai solusi jangka menengah hingga panjang.
Di sisi lain, IKM konveksi turut menyoroti maraknya produk impor ilegal yang dijual dengan harga sangat murah. Praktik ini dianggap merusak harga pasar dan melemahkan posisi produsen dalam negeri.
“Barang-barang impor ilegal ini tidak hanya merusak pasar domestik, tetapi juga merugikan kami sebagai pelaku IKM konveksi yang berusaha keras untuk memenuhi permintaan pasar,” jelasnya.
Dia menambahkan, pengawasan yang lebih ketat diperlukan agar persaingan usaha berjalan adil. Tanpa penindakan tegas, pelaku IKM akan semakin tertekan di tengah kenaikan biaya produksi.
Meski menghadapi berbagai kendala, pelaku IKM tetap optimistis industri konveksi bisa tumbuh apabila didukung kebijakan yang tepat. Mereka meyakini peningkatan permintaan saat Ramadan bisa berdampak langsung pada kesejahteraan pekerja.
“Namun, kami memerlukan dukungan dari pemerintah untuk meningkatkan daya saing kami dan mengatasi tantangan yang kami hadapi. Kami juga meminta pemerintah untuk memberikan insentif yang menarik bagi penjahit, seperti subsidi upah, asuransi kesehatan, dan program pensiun,” terangnya.
Dia pun berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk memperkuat daya saing IKM konveksi nasional. Kolaborasi dinilai penting agar sektor ini mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri sekaligus membuka lebih banyak lapangan kerja.