Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno Marsudi menegaskan investasi di sektor air menjadi elemen krusial untuk ... [336] url asal
tanpa pembiayaan yang memadai, target akses air dan sanitasi sulit dicapai
Jakarta (ANTARA) - Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno Marsudi menegaskan investasi di sektor air menjadi elemen krusial untuk mendukung pembangunan berkelanjutan, seiring besarnya kebutuhan pendanaan global dan dampak ekonomi yang dihasilkan.
Dalam acara "Water Town Hall Meeting" di Jakarta, Selasa, Retno mengatakan kebutuhan pendanaan global untuk sektor air dan sanitasi diperkirakan mencapai sekitar 600 miliar dolar AS per tahun, sementara kesenjangan pendanaan untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) tujuan keenam masih berada di kisaran 131–140 miliar dolar AS per tahun.
“Kebutuhan pendanaan sektor air dan sanitasi sangat besar. Ini menjadi tantangan bersama, karena tanpa pembiayaan yang memadai, target akses air dan sanitasi sulit dicapai,” kata Retno.
Ia menekankan investasi di sektor air tidak dapat dipandang semata sebagai biaya, melainkan sebagai investasi pembangunan yang memberikan manfaat ekonomi, sosial dan kesehatan masyarakat.
Retno mengutip kajian Bank Dunia yang menunjukkan setiap 1 dolar AS investasi di sektor air dapat menghasilkan pengembalian ekonomi sekitar 6,8 dolar AS.
“Ini menunjukkan bahwa investasi air memiliki return yang tinggi, baik dalam bentuk peningkatan produktivitas, pengurangan biaya kesehatan, maupun stabilitas sosial,” ujarnya.
Retno juga merujuk analisis World Resources Institute (WRI) yang memperkirakan penyediaan akses air bagi seluruh populasi dunia membutuhkan alokasi sekitar 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) global, atau setara sekitar 0,29 dolar AS per orang per hari.
Menurut Retno, tantangan pembiayaan sektor air semakin kompleks karena air berperan sebagai penghubung lintas sektor, mulai dari pertanian, energi, kesehatan, hingga industri.
Secara global, sektor pertanian tercatat menyerap sekitar 72 persen penggunaan air tawar, sehingga pengelolaan dan pembiayaan air berimplikasi langsung terhadap ketahanan pangan dan ekonomi.
“Air adalah enabler bagi banyak sektor. Karena itu, pendekatan pembiayaan sektor air juga harus lintas sektor dan kolaboratif,” ungkapnya.
Ia menilai forum seperti "Water Town Hall Meeting" penting untuk mendorong dialog antara pemerintah, pelaku usaha, lembaga keuangan, akademisi, dan mitra internasional dalam memperkuat skema pembiayaan air yang berkelanjutan dan berkeadilan.
IHSG pada Tahun Kuda Api 2026 diperkirakan volatil pada paruh pertama, meski begitu, sejumlah sektor seperti kayu, tanah, air & api dinilai berpotensi menguat. [832] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Awal 2026 atau Tahun Kuda Api diperkirakan menjadi periode menantang sekaligus penuh peluang bagi pasar modal Indonesia. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan volatil pada paruh pertama tahun ini, namun sejumlah sektor saham dinilai tetap berpotensi mencetak cuan.
Founder Feng Shui Consulting Indonesia, Yulius Fang, menerangkan bahwa pada tahun Kuda Api 2026 kondisi pasar modal Tanah Air akan cenderung volatil hingga paruh pertama tahun ini.
Dalam pendekatannya, Yulius menilai Tahun Kuda Api membawa dua energi sekaligus: optimisme terhadap peluang pasar, tetapi juga kecenderungan investor menjadi tidak sabar terhadap hasil. Karena itu, periode ini justru dinilai krusial untuk memperkuat disiplin pengelolaan aset.
“Tahun ini adalah tahun ketidakstabilan dan tantangan. Jadi atur cashflow, jangan semua all in. Tahun ini bukan tentang kecepatan, tapi tentang kestabilan,” katanya dalam acara BRI Danareksa Outlook 2026, Jumat (13/2/2026).
Beranjak dari gambaran umum tersebut, Yulius kemudian menguraikan sektor-sektor yang dinilai berpotensi menonjol. Ia menilai sektor dengan elemen kayu, tanah, air, dan api berpeluang bergerak menguat, sementara sektor dengan elemen logam diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar.
Analogi yang digunakan mengacu pada sifat elemen itu sendiri. Dalam Tahun Kuda Api, unsur api dianggap dominan sehingga berpotensi “membakar” logam. Konsekuensinya, sektor seperti otomotif, elektronik, komputer, dan mesin dinilai bakal menghadapi tantangan serius sepanjang tahun.
“Pada saat sebuah pasar mengalami ketidakseimbangan, tahun ini contohnya, api kuat akan membakar logam. Jadi lini bisnis logam akan sangat terpengaruh tahun ini. Tantangan harus bisa dihadapi dengan ketahanan atau strategi,” ujarnya.
Sebaliknya, sektor berelemen air disebut memiliki peluang lebih besar. Kategori ini mencakup bisnis konsumer, pariwisata, transportasi, perikanan, perkapalan, media online, hingga jasa laundry.
Adapun elemen kayu meliputi industri tekstil dan fashion, layanan kesehatan, kehutanan dan perkebunan, percetakan, hingga logistik. Sementara itu, elemen tanah mencakup properti, infrastruktur, konstruksi, perbankan, serta asuransi tradisional—semuanya diramal berpotensi tampil lebih kuat dibanding sektor lain.
“Saham dan kripto akan berpotensi koreksi. Tetapi kripto sendiri saya tidak berpikir akan ada bullish. Kemudian emas berpotensi masih meningkat,” kata Yulius.
Gambaran astrologis tersebut muncul di tengah kondisi pasar yang memang sedang bergerak fluktuatif. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia pada Jumat (13/2/2026), IHSG tercatat parkir di level 8.212,27 atau turun 0,64% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 8.170,59 hingga 8.251,99.
Nilai transaksi mencapai Rp23,37 triliun dengan volume 45,79 miliar saham. Sebanyak 429 saham melemah, 282 menguat, dan 247 stagnan, komposisi yang mencerminkan sentimen pasar cenderung negatif sekaligus selektif.
Kondisi ini, dalam pandangan Yulius, sejalan dengan karakter energi Tahun Kuda Api yang identik dengan dinamika cepat dan ketidakseimbangan jangka pendek. Karena itu, ia kembali menegaskan bahwa volatilitas masih berpotensi mendominasi pergerakan IHSG setidaknya hingga pertengahan tahun.
IHSG
Sementara itu, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menilai kinerja pasar saham Indonesia masih berpeluang positif pada Tahun Kuda Api 2026. Bahkan, Mirae Asset menargetkan IHSG dapat mencapai level 10.500.
Menurutnya, peluang tersebut ditopang oleh harapan stabilitas makroekonomi serta perbaikan kinerja emiten. Mirae Asset memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh hingga 5,3% pada 2026.
“Terdapat pemulihan ekonomi lebih cepat sejak kuartal IV/2025, juga kuartal I/2026 yang diakselerasi oleh tren musiman seperti Ramadan dan Lebaran. Ini kemudian mendorong PDB yang lebih tinggi serta performa emiten,” ujarnya dalam paparan outlook Desember 2025.
Target itu juga ditopang proyeksi kebijakan moneter global yang lebih longgar. Ia memperkirakan Federal Reserve masih memiliki ruang menurunkan suku bunga setidaknya dua kali pada 2026, yang pada gilirannya membuka peluang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuannya.
Selain faktor likuiditas global, pertumbuhan kredit domestik juga dinilai menjadi katalis penting. Mirae Asset memproyeksikan kredit dapat tumbuh hingga 10% pada 2026. Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan eksternal berupa fluktuasi nilai tukar rupiah yang dapat memengaruhi pergerakan pasar saham.
Senada dengan itu, Senior Research Analyst Mirae Asset, Muhammad Farras Farhan, menyebut penguatan IHSG berpotensi didorong saham sektor perbankan dan konglomerasi. Menurutnya, kombinasi pertumbuhan ekonomi dan tren penguatan saham grup besar masih akan menjadi penopang utama indeks.
Dari sisi pilihan saham, Mirae Asset menilai sejumlah emiten memiliki prospek menarik pada 2026. Saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) diproyeksikan memiliki lintasan pertumbuhan laba per saham (EPS) paling kuat dengan valuasi relatif menarik, sehingga masuk kategori pilihan utama berpotensi tinggi.
Di sisi lain, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dinilai tetap menarik namun berisiko lebih tinggi. Saham ini sempat mencatat lonjakan EPS hingga 1.008% sebelum turun 75%, mencerminkan volatilitas besar sekaligus risiko normalisasi laba akibat valuasi yang dinilai terlalu tinggi serta penurunan return on equity (ROE).
Untuk profil lebih defensif, Mirae Asset menyoroti PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) yang dinilai menawarkan pertumbuhan EPS stabil dan ROE kuat secara konsisten.
Adapun PT XL Axiata Tbk. (EXCL) dipandang memiliki peluang pemulihan karena valuasinya masih relatif murah, meski saat ini EPS dan ROE masih lemah.
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bisnis.com, JAKARTA — Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria memastikan akan segera menyesuaikan jabatannya sebagai Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) setelah resmi dilantik oleh Presiden RI Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Menjawab pertanyaan awak media terkait statusnya di IPB, Arif menegaskan bahwa dirinya akan melepaskan jabatan tersebut sesuai aturan internal kampus.
“Ya, status rektor harus. Sampai hari ini kan masih, belum diperhentikan. Salah satu aturan yang ada di IPB, saya harus melepas jabatan rektor di IPB. Itu yang karena tugas di sini,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah dirinya akan mundur dari jabatan rektor, Arif membenarkan.
“Ya, harus diganti,” katanya singkat.
Dalam kesempatan yang sama, Arif juga menegaskan komitmennya untuk mendukung arahan Presiden Prabowo dalam memperkuat riset di tiga sektor utama, yakni pangan, energi, dan air.
Dia menilai bidang pangan menjadi salah satu area strategis yang akan menjadi fokus utama riset BRIN.
“Kan pangan banyak sekali ya mulai dari on farm hingga off farm. Jadi dari mulai soal benih, soal pupuk, soal teknik budidaya, soal pascapanen, soal pengolahan, banyak sekali. Soal pangan saja sudah luas sekali. Sekarang presiden meminta pangan, ya kita harus kawal,” tutur Arif.
Terkait proyek dan lokasi prioritas riset yang akan dijalankan BRIN, Arif menjelaskan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan kementerian teknis, termasuk Kementerian Pertanian, untuk mempercepat upaya swasembada nasional.
“Iya ke situ, makanya kita gandeng kementerian teknisnya, kementan kan harus segera swasembada,” ujarnya.
Namun, dia menegaskan bahwa rincian proyek dan lokasi prioritas masih dalam tahap pemetaan internal.
“Belum, saya baru tahu ini kan dilantik. Itu kira-kira arahnya ke sana, dan suatu saat akan kami sampaikan setelah kami memetakan di dalam internal dulu,” kata Arif.
META Grup Salim meraih pendapatan Rp216 miliar hingga Q3 2025, didukung bisnis tol. Proyek JORR-E Cikunir-Ulujami senilai Rp21 triliun sedang dipersiapkan. [423] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten Grup Salim PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META) mencetak pendapatan senilai Rp216 miliar sampai dengan kuartal III/2025, yang ditopang oleh bisnis jalan tol.
Head of Corporate Communication & CSR META Indah D.P. Pertiwi mengungkapkan bahwa kinerja perusahaan tetap stabil dan resilien di tengah dinamika ekonomi dan tantangan di berbagai sektor bisnis.
“Kami berupaya menjaga keseimbangan antara profitabilitas, keberlanjutan, dan inovasi. Fokus kami bukan hanya pada pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga pada pembangunan fondasi jangka panjang yang kuat bagi perusahaan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (1/11/2025).
Secara konsolidasi, NI Group membukukan pendapatan senilai Rp216 miliar, dengan EBITDA mencapai Rp58,8 miliar, atau hanya turun tipis 2,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/YoY).
Sektor jalan tol melalui MUN tetap menjadi kontributor utama, mencatat pertumbuhan kinerja laba inti (core income) sebesar 71,7%, didorong oleh peningkatan traffic dan kontribusi dari portofolio Transjawa (Investasi di PT Jasamarga Transjawa Tol/PT JTT).
Sektor air menunjukkan pertumbuhan positif dengan kenaikan volume penjualan sebesar 3,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Peningkatan ini didukung oleh ekspansi area penjualan baru di PT SCTK Serang dan penyesuaian tarif 10% di PT DCC Medan sejak Maret 2025.
Sementara itu, sektor energi tercatat negatif, dengan volume sebesar -7,9% YoY, yang dipengaruhi oleh curah hujan tinggi di Pontianak yang mengganggu distribusi feedstock. PT RPSL, serta beberapa penyesuaian teknis pada operasional PT IME.
Meski demikian, pengendalian biaya operasional (OPEX) yang efektif membantu menjaga stabilitas EBITDA Grup.
Dari sisi keuangan, arus kas bersih meningkat senilai Rp26,19 miliar yang terutama disebabkan oleh penerimaan dividen dari entitas asosiasi MUN, sejumlah Rp53,80 miliar.
Total aset tumbuh 0,7% YoY menjadi Rp4,64 triliun, sementara total liabilitas turun dari Rp574,81 miliar menjadi Rp523,88 miliar, dan ekuitas meningkat menjadi Rp4,12 triliun per 30 September 2025, menunjukkan fundamental keuangan yang kuat.
Hasil perhitungan rasio covenant keuangan menunjukkan posisi likuiditas dan struktur modal yang sehat, current ratio 1,90x, mengindikasikan aset lancar cukup untuk menutupi kewajiban lancar. Kemudian debt to equity ratio 0,13x, mencerminkan struktur modal yang konservatif.
Ke depan, Indah mengungkapkan bahwa NI Group tetap optimistis terhadap prospek bisnisnya.
Saat ini, perusahaan tengah mempersiapkan Proyek Jalan Tol JORR-E Cikunir–Ulujami sepanjang 21 km dengan total investasi sebesar Rp21 triliun. Proyek ini diharapkan meningkatkan konektivitas antar wilayah sekaligus mengurai kemacetan di wilayah tersebut.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.