Bisnis.com, JAKARTA — Porsi saham PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) di PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI) akan menyusut drastis usai aksi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue GMFI.
Berdasarkan prospektus, dalam rights issue itu, GMFI akan menawarkan sebanyak-banyaknya 90,05 miliar saham baru Seri B dengan nilai nominal Rp25 setiap saham. PMHMETD ini akan digelar mulai 22 Desember 2025 sampai 6 Januari 2026.
Dalam aksi rights issue itu, PT Angkasa Pura Indonesia (API) akan berpartisipasi dengan menyetorkan aset berupa lahan atau inbreng kepada GMFI. Manajemen GMFI menyampaikan API bakal berpartisipasi dalam aksi korporasi tersebut dengan menyetorkan lahan seluas 972.123 meter persegi di kompleks GMF, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang.
Skema ini dilakukan dengan pengalihan HMETD milik GIAA selaku induk GMFI kepada API melalui perjanjian jual beli HMETD. Selanjutnya, Angkasa Pura akan melaksanakan rights issue tersebut dengan mekanisme setoran inbreng aset.
Lebih jauh, aksi ini berpotensi meningkatkan aset tetap GMFI. Namun, aksi rights issue itu juga akan memberikan dampak terhadap pergeseran kepemilikan di GMFI.
Setelah rencana PMHMETD dilaksanakan, Angkasa Pura akan memiliki sejumlah saham di GMFI. Adapun, GIAA sebagai pemegang saham utama akan mengalihkan HMETD yang akan diperolehnya berdasarkan proporsi kepemilikan sahamnya kepada API.
Sebelum rights issue, Angkasa Pura tak memiliki saham di GMFI. Kemudian, setelah rights issue, porsi kepemilikan saham Angkasa Pura di GMFI akan menjadi 64,33%.
GIAA sebelumnya memiliki porsi kepemilikan saham di GMFI sebanyak 66,96% untuk saham Seri A. Setelah rights issue, kepemilikan saham Seri A GIAA di GMFI menjadi tinggal 19,71%. Garuda Indonesia juga memiliki saham Seri B 24,2% di GMFI. Setelah rights issue, kepemilikan saham Seri B GIAA di GMFI menjadi tinggal 7,12%.
Chief Operating Officer Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria mengatakan aksi penambahan modal melalui inbreng aset mampu mendorong kinerja GMFI. Sementara itu, untuk nasib GIAA, Dony memastikan GMFI tetap masuk ke dalam ekosistem GIAA.
Selain itu, meskipun dalam rights issue porsi saham GIAA merosot siginifikan, menurut Dony keuangan GMFI tetap terkonsolidasi ke Garuda Indonesia.
“Tidak dikonsolidasi ke Angkasa Pura. GMF itu ekosistem Garuda. Di dalam kesepakatan, kontrolnya di Garuda, jadi konsolidasinya ke Garuda. GMF menjadi bagian dari ekosistem Garuda,” ujar Dony dalam konferensi pers Garuda Indonesia pada Kamis (13/11/2025).
Adapun, dalam laporan keuangannya, GMFI telah mencetak laba bersih, setidaknya sampai semester I/2025 sebesar US$8,75 juta, meski turun 34,15% secara tahunan (year on year/YoY), dibandingkan laba bersih semester I/2024 sebesar US$13,3 juta.
Penurunan laba GMFI sejalan dengan pendapatan yang susut 17,33% YoY menjadi US$178,95 juta per semester I/2025, dari US$216,47 juta.
Di sisi lain, GMFI masih berkutat dengan ekuitas negatif, di mana liabilitas melebihi jumlah asetnya. GMFI mencatatkan total aset sebesar US$409,98 juta dengan liabilitas sebesar US$658,98 juta. Alhasil, ekuitas GMFI minus US$248,99 juta.