Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump berencana menggelar pertemuan kedua dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada waktu dan tempat yang belum ditentukan, dengan tujuan mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina.
Melansir Bloomberg pada Jumat (17/10/2025) Trump dan Putin sepakat untuk bertemu di Budapest setelah melakukan pembicaraan telepon selama dua jam pada Kamis (16/10/2025) waktu setempat. Sebelumnya, keduanya telah bertemu di Alaska pada Agustus, namun pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan.
“Saya yakin kemajuan besar telah dicapai melalui percakapan hari ini,” tulis Trump di media sosial.
Dia menambahkan keduanya akan melihat apakah keduanya dapat mengakhiri perang ‘tanpa kemuliaan’ antara Rusia dan Ukraina.
Penasihat kebijakan luar negeri Kremlin Yuri Ushakov mengonfirmasi bahwa Putin dan Trump membahas rencana KTT di Budapest. Dalam pernyataannya kepada wartawan, Ushakov menyebut pembicaraan berlangsung terbuka dan substantif, dengan Trump yang mengusulkan lokasi tersebut.
Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban langsung menanggapi di platform X dengan mengatakan kesiapannya sebagai tuan rumah pertemuan itu. Orban kemudian mengaku telah berbicara dengan Trump melalui telepon untuk mempersiapkan pertemuan itu.
Sebelum KTT berlangsung, AS dan Rusia akan menggelar pembicaraan tingkat tinggi pekan depan, dengan delegasi AS dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Trump mengatakan lokasi pertemuan masih dibahas. Ushakov menambahkan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Rubio akan melakukan panggilan dalam beberapa hari ke depan.
Menurut Trump, kedua pemimpin juga membahas potensi kerja sama perdagangan AS-Rusia jika perang berakhir.
Langkah terbaru tersebut menunjukkan bahwa Trump masih membuka peluang diplomasi sebelum mengambil tindakan yang lebih keras terhadap Moskow, meski upaya sebelumnya belum membuahkan hasil nyata.
Bertemu Zelensky di Washington
Percakapan dengan Putin terjadi sehari sebelum Trump dijadwalkan bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Gedung Putih. Zelensky selama ini mendesak AS agar menjual rudal jarak jauh Tomahawk, yang mampu menjangkau target lebih dalam di wilayah Rusia.
Zelensky menilai serangan semacam itu akan menekan Putin untuk duduk di meja perundingan. Trump sendiri sebelumnya juga menyinggung kemungkinan membuka akses Ukraina terhadap Tomahawk sebagai bentuk tekanan tambahan.
Trump mengatakan akan membagikan hasil pembicaraannya dengan Putin kepada Zelensky. Ushakov mengonfirmasi bahwa isu pengiriman rudal Tomahawk ke Ukraina turut dibahas, dan Trump berjanji mempertimbangkan pandangan Putin dalam pertemuannya dengan Zelensky.
Namun, serangan udara besar-besaran Rusia ke Ukraina yang terjadi jelang panggilan telepon Trump-Putin dinilai mencerminkan sikap Moskow yang tidak serius terhadap upaya damai.
“Serangan itu merupakan pukulan langsung terhadap upaya perdamaian yang dipimpin Presiden Trump,” ujar Duta Besar Ukraina untuk AS Olga Stefanishyna.
Fokus Akhiri Dua Konflik Besar
Trump kini memusatkan perhatian pada kampanye militer Rusia di Ukraina, setelah sebelumnya sukses menengahi gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Mengakhiri perang di Gaza dan Ukraina merupakan janji utama dalam kampanye 2024 Trump.
Didorong oleh keberhasilannya di Timur Tengah, Trump yakin bisa mencapai hasil serupa di Eropa Timur. Meski begitu, sejumlah pengamat menilai Trump terlalu mudah percaya pada janji Putin, yang hingga kini menunjukkan sedikit tanda kompromi.
“Saya percaya keberhasilan di Timur Tengah akan membantu negosiasi kita untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina,” tulis Trump di media sosial.
Rudal Tomahawk termasuk senjata tercanggih milik AS dan akan memungkinkan Ukraina memperluas jangkauan serangan terhadap target Rusia. “Kalau perang ini tak juga berakhir, mungkin saya akan kirimkan Tomahawk,” ujar Trump baru-baru ini.
Meski pernah berjanji bisa mengakhiri perang pada hari pertamanya kembali menjabat, Trump sejauh ini belum berhasil. Putin tetap melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina menjelang musim dingin, dengan lebih dari setengah produksi gas domestik Ukraina hancur akibat serangan pada Oktober.
Dalam pertemuan Jumat besok — yang akan menjadi tatap muka keempat antara Trump dan Zelensky tahun ini — presiden Ukraina diperkirakan akan kembali meminta bantuan pertahanan udara, senjata jarak jauh, serta dukungan energi, termasuk kerja sama produksi drone dan akses jaringan pipa minyak Ukraina.
Zelensky juga akan kembali mendesak pengetatan sanksi terhadap Rusia, langkah yang sejauh ini masih dihindari Trump.
Sementara itu, Pemimpin Mayoritas Senat AS John Thune mengatakan siap menggelar pemungutan suara atas rancangan undang-undang yang akan menjatuhkan sanksi terhadap negara-negara yang masih berdagang dengan Rusia dalam waktu dekat.
Trump disebut terus mendorong sekutunya agar mengurangi impor minyak Rusia yang menjadi sumber pendanaan utama Moskow. Trump mengklaim India telah menyetujui langkah tersebut, namun Kementerian Luar Negeri India menyatakan tidak mengetahui adanya pembicaraan semacam itu.
Hubungan antara Trump dan Zelensky yang sempat menegang pada awal tahun kini mulai membaik, seiring meningkatnya frustrasi Trump terhadap Putin.
Zelensky juga dijadwalkan bertemu anggota Kongres dan pejabat militer AS, serta perwakilan sektor energi atas dorongan Trump.