Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Amerika Serikat (AS) akan mengumumkan putaran baru sanksi besar terhadap Rusia, sehari setelah Presiden Donald Trump menunda rencana pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin di tengah meningkatnya ketegangan perang di Ukraina.
“Kami akan mengumumkan peningkatan signifikan dalam sanksi terhadap Rusia, baik setelah penutupan pasar sore ini atau besok pagi,” ujar Menteri Keuangan AS, Scott Bessent kepada wartawan di Gedung Putih, sebagaimana dilansir dari Bloomberg, Kamis (23/10/2025).
Meski demikian, Bessent tidak memperinci secara detail bentuk sanksi baru tersebut. Pernyataan Bessent menandai perubahan sikap terbaru dari Gedung Putih yang dalam beberapa pekan terakhir berganti nada antara ancaman keras terhadap Rusia dan pendekatan yang lebih lunak.
Usai berbicara lewat telepon dengan Putin pekan lalu, Trump sempat menyampaikan keyakinannya bahwa Rusia ingin mengakhiri perang dengan Ukraina dan bahkan mengumumkan rencana untuk menggelar pertemuan puncak baru dalam beberapa minggu ke depan.
Namun, Trump juga bersikap ambigu terhadap rencana Senat AS yang mendorong pengetatan sanksi terhadap Rusia dan menolak berkomitmen mengirimkan rudal Tomahawk ke Ukraina.
Pada Selasa (22/10/2025), Gedung Putih memastikan tidak ada rencana pertemuan Trump–Putin dalam waktu dekat, serta membatalkan agenda pertemuan antara Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menlu Rusia Sergei Lavrov.
Di Ukraina, Rusia kembali melancarkan serangan drone dan rudal pada Rabu dini hari yang menewaskan sedikitnya tujuh warga sipil, termasuk anak-anak. Serangan itu menargetkan infrastruktur energi Ukraina, sementara Kyiv membalas dengan menyerang kilang minyak Rusia menggunakan rudal jarak jauh Storm Shadow buatan Inggris.
Serangan balasan tersebut dilaporkan terjadi setelah pemerintahan Trump mencabut pembatasan atas penggunaan rudal jarak jauh oleh Ukraina.
Menurut laporan The Wall Street Journal, keputusan itu diambil sebelum kunjungan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy ke Washington pekan lalu, di mana dia meminta tambahan bantuan militer termasuk pengiriman rudal Tomahawk.
Belum jelas jenis sanksi baru yang akan diumumkan AS dan sejauh mana langkah tersebut dapat mengubah strategi Putin setelah lebih dari tiga tahun perang dan berbagai putaran sanksi serta pembatasan ekspor yang telah dikenakan terhadap ekonomi dan militer Rusia.
Sebelumnya, Pemimpin Mayoritas Senat John Thune mengatakan dia dapat mengajukan rancangan undang-undang sanksi baru terhadap Rusia setelah pertemuan Trump–Putin resmi ditunda.
AS juga disebut tengah mengoordinasikan waktu pengumuman dengan Uni Eropa, yang dijadwalkan merilis paket sanksi tambahan pada Kamis (24/10/2025).
Paket sanksi Uni Eropa mencakup larangan impor gas alam cair (LNG) Rusia mulai Januari 2027, atau satu tahun lebih cepat dari rencana semula, serta menargetkan sejumlah bank Rusia, lembaga keuangan Asia Tengah, dan bursa kripto.
Trump sebelumnya beberapa kali mengancam akan memberlakukan hukuman baru terhadap Rusia, tetapi sebagian besar ditunda. Kesabarannya disebut mulai menipis setelah pertemuan dengan Putin di Alaska belum menghasilkan kemajuan berarti. “Saya tidak ingin mengadakan pertemuan yang sia-sia. Saya ingin melihat hasilnya, kalau tidak, percuma saja," ujar Trump
Trump mengatakan masih berharap tercapainya gencatan senjata, tetapi mengakui bahwa peluang penyelesaian cepat konflik tampak semakin kecil.