Bisnis.com, JAKARTA — Emiten properti pengembang Balikpapan Superblock, PT Wulandari Bangun Laksana Tbk. (BSBK) merancang sejumlah langkah ekspansi pada 2026. Salah satunya pengembangan apartemen premium bertajuk The Sapphire.
BSBK mengelola kawasan properti terpadu seluas 14 hektare (Ha) di tepi pantai yang mengusung konsep one stop living. Kawasan ini mengintegrasikan fungsi komersial, hunian, hingga perhotelan dalam satu area.
Di segmen komersial, portofolio perseroan mencakup PAM Tower, eWalk Mall Balikpapan, serta Pentacity Shopping Venue. Sementara itu, pada sektor rekreasi dan perhotelan, BSBK mengoperasikan Pantai BSB, Grand Jaya Hotel, Astara Hotel, dan Pentacity Hotel Balikpapan.
Adapun, di sektor hunian, perseroan memiliki Ruby Tower Apartment dan Pentapolis Residence. BSBK juga tengah mengembangkan proyek Apartemen The Sapphire dan Sepinggan Mansion. Di sisi lain, untuk menguatkan integrasi Kawasan, BSBK membangun Jembatan Penghubung Kelurahan Damai Bahagia.
Direktur BSBK Tjia Daniel Wirawan menyampaikan dalam 2 tahun ke depan, fokus pengembangan perseroan ialah penyelesaian Apartemen The Sapphire dan proyek jembatan penghubung.
"Ini apartemen premium, lokasinya di tepi laut, dan kami menawarkan semi furnished," ujarnya dalam acara Paparan Publik, Jumat (24/4/2026).
Di sisi lain, perseroan akan memacu pendapatan berulang dari bisnis mal, yang okupansinya telah mencapai 99% pada 2025.
Daniel menuturkan, BSBK menargetkan porsi anchor tenant mencapai sekitar 50% dari total area sewa guna menjaga stabilitas trafik pengunjung. Sementara itu, segmen food and beverage dibatasi maksimal 25%, dengan sisanya diisi tenant kategori fesyen, aksesori, mainan anak, wellness, hingga jam tangan.
Selain itu, BSBK akan memperkuat strategi pemasaran melalui penyelenggaraan sedikitnya empat event tematik setiap tahun, seperti perayaan Natal dan Tahun Baru, Imlek, Ramadan, hingga liburan sekolah. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan kunjungan sekaligus mendorong tingkat hunian kawasan.
BSBK juga akan menggulirkan berbagai program belanja untuk menarik minat konsumen, mulai dari diskon khusus, undian berhadiah, hingga program poin loyalitas guna meningkatkan kunjungan ulang.
Di sisi operasional, BSBK akan mengoptimalkan pemanfaatan area luar ruang untuk kegiatan seperti karnaval, bazar, food street, dan pameran.
Penambahan titik media promosi di kawasan juga disiapkan untuk meningkatkan eksposur tenant. Pada saat yang sama, efisiensi biaya operasional, termasuk pengelolaan utilitas dan layanan kawasan, turut menjadi perhatian.
Untuk menunjang kenyamanan pengunjung, perseroan juga berencana meningkatkan kapasitas area parkir di kawasan Balikpapan Superblock.
Pada 2025, sektor real estate masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait perubahan regulasi perizinan pasca implementasi Undang-Undang Cipta Kerja. Salah satunya terkait Nomor Induk Berusaha (NIB) untuk sektor real estate dengan kode 68111 yang belum tercantum dalam lampiran PP 5/2021.
Selain itu, layanan Konfirmasi Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) dinilai masih menghadapi kendala karena belum adanya Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK), khususnya di daerah yang belum memiliki Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) atau peta digital. Regulasi terkait persetujuan lingkungan dalam Permen LHK 4/2021 juga dinilai belum sepenuhnya selaras dengan PP 64/2016.
Di tengah tantangan tersebut, pengembangan ibu kota negara di Kalimantan Timur menjadi katalis positif bagi kawasan Balikpapan Superblock. Perseroan menilai peningkatan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat berpotensi mendorong lonjakan pengunjung, baik dari dalam maupun luar kota.
Kondisi tersebut tercermin dari meningkatnya kepadatan di kawasan, termasuk ketersediaan area parkir dan lalu lintas yang semakin padat.
“Hal ini sekaligus menjadi dasar bagi perseroan untuk mempercepat peningkatan kapasitas parkir dan optimalisasi infrastruktur kawasan guna mengakomodasi pertumbuhan kunjungan,” ujarnya.
Dari sisi kinerja, BSBK mencatatkan hasil yang relatif positif pada 2025 meskipun laba menurun. Berdasarkan laporan keuangan audit, total aset perseroan mencapai Rp2,91 triliun atau tumbuh sekitar 1,42% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2,87 triliun.
Liabilitas tercatat sebesar Rp746,57 miliar atau menurun sekitar 3,74% dari Rp775,59 miliar pada 2024. Sementara itu, total ekuitas meningkat 3,33% menjadi Rp2,16 triliun dari Rp2,09 triliun.
Dari sisi top line, pendapatan perseroan naik 3,53% menjadi Rp374,20 miliar dibandingkan Rp361,49 miliar pada tahun sebelumnya. Namun, laba perseroan mengalami penurunan menjadi Rp69,66 miliar pada 2025, dibandingkan laba 2024 sebesar Rp349,58 miliar.